
Setelah selesai mengunjungi makam anak-anaknya, Aly pulang ke apartemennya karena sekarang dia tidak pernah pulang ke rumahnya sebab disana dia akan kembali merasakan kesepian karena tidak ada siapa-siapa.
Sekarang hidup Aly lantang-lantung tak menentu. Aly sudah berubah menjadi orang lain yang menyedihkan.
Tepat saat malam menjelang, Aly keluar dari apartemennya menuju tempat yang bahkan tidak pantas sama sekali untuk dia datangi. Sebuah bangunan megah yang dipenuhi gemerlapan lampu berwarna-warni. Tempat terkutuk yang sangat diharamkan bagi seorang muslim.
Ini bukan pertama bagi Aly mendatangi tempat tersebut. Aly sering kesini setelah dibebaskan dari penjara, bahkan hampir setiap malam. Itu juga yang membuat keluarganya sangat benci terhadap Aly yang sekarang.
Setelah berbulan-bulan hidup di dalam sel tahanan, bukannya menyadarkan tapi malah membuatnya semakin menggila.
Aly masuk dengan santai ke ruangan penuh maksiat itu lalu menduduki kursi di depan meja bartender dan memesan minumannya. Meski Aly sering kesini, tapi Aly tidak pernah berniat untuk selain minum. Jikapun ada wanita yang mendekatinya, Aly akan langsung mengusirnya.
Satu, dua, hingga tiga gelas telah tandas diminum Aly. Dan setelah menghabiskan yang ke lima gelasnya, Aly keluar lagi dari club itu.
Aly masuk kembali ke dalam mobil dan melakukan perjalanan entah kemana karena tanpa arah tujuan. Tapi dia tidak sadar, jika lajunya ternyata menuju salah satu kafe dua puluh empat jam, di pusat kota.
Saat mobil telah berhenti, Aly kembali turun dari mobil dan memasuki bangunan itu. Aly memesan kopi pahit untuk menghilangkan pening di kepalanya karena minum tadi.
"Tuan Aly ?." Sapa seseorang yang sudah ada disampingnya saja.
Aly mendongak melihat wajah wanita itu yang ternyata sekretaris salah satu rekan kerjanya. Aly mengalihkan pandangannya meneliti sekeliling tempat dan ternyata benar, jika dia sedang ada di kafe milik wanita yang masih berdiri disampingnya itu.
"Kamu mabuk ?." Tanya wanita itu karena dia mencium aroma tidak enak dari tubuh Aly.
"Hem." Jawab Aly singkat padat dan jelas.
Wanita itu menggeleng tak percaya dengan keadaan Aly sekarang. Dia sangat tau siapa Aly dan Aly sudah pasti sangat faham akan hukum meminum minuman keras, tapi tetap saja meminumnya.
Wanita itu duduk di kursi yang berhadapan dengan Aly. " Kamu sedang memiliki masalah ?." Tanya wanita itu ragu-ragu karena takut Aly tersinggung.
"Tidak ada. Kamu, ngapain ikut duduk disini ?." Tanya Aly dingin.
"Aku hanya ingin mampir, sudah lama tidak melihatmu."
"Iya,."
"Kemana saja selama ini ?." Tanya wanita itu lagi sudah seperti wartawan saja.
"Tidak kemana-mana, hanya sedang menyingkir dari keramaian."
Wanita itu manggut-manggut mengerti. Suasana mulai hening karena keduanya sedang hanyut dengan pemikiran masing-masing.
"Permisi..." Ujar pelayan yang datang membawakan pesanan Aly lalu meletakkannya di hadapan Aly.
Pelayan itu sedikit terkejut saat melihat wanita yang sedang duduk bersama pelanggannya tapi sesaat kemudian dia menunduk sopan pada wanita itu.
__ADS_1
"Pergilah."
"Baik, Bu."
Aly melirik sekilas lalu fokus pada minumannya.
"Baiklah, selamat menikmati..." Ujar wanita itu lalu bangkit dari duduknya.
Aly hanya mengangguk kemudian kembali fokus pada kopinya lagi. Saat ini dia sedang sangat pusing jadi sekarang sedikit mengirit untuk berbicara.
Setelah selesai menghabiskan kopinya, Aly bangkit membayar lalu pulang ke apartemennya lagi.
Hidup adalah sebuah pilihan memang benar adanya. Karena konsep dalam hidup adalah hitam dan putih, langit dan bumi, api dan air.
••••••••••••••
"Fyzha, kapan kamu akan mengenalkan calon kamu ke mama ?."
"Lain kali kapan lagi ?. Umur kamu sudah sangat dewasa, nak. Kamu sudah seperti perawan Sunti tau gak ?!."
"Mama ihh !!. Enak aja, perawan Sunti !." Sungut Fyzha kesal dengan ucapan Mamanya yang menyamakan dirinya dengan nama itu. Bagaimana tidak ?, Perawan Sunti adalah wanita tua yang tidak pernah menikah dalam sejarah hidupnya, dia tinggal di keraton kasepuhan Cirebon dan akan memunculkan wujudnya saat ada acara tertentu saja di keraton itu.
"Yah, habisnya kamu belum juga menikah, seharusnya di umur kamu yang sekarang ini, kamu itu sudah memiliki tiga anak tau gak ?. "
"Tau lah, ma. Kalau jodoh sudah datang, nanti juga Fyzha menikah." Decak Fyzha sambil melengos pergi.
Ningrum hanya bisa mendengus kesal melihat putrinya itu. Dia bukan tidak tau apa yang selama ini ada dipikiran anaknya itu, yang tidak lain hanyalah berkarya dan sibuk bekerja. Tidak ada keinginan untuk menikah sama sekali.
Daripada meladeni sikap anak satunya itu, Ningrum beralih menghubungi nomor calon menantunya dan mengatakan bahwa dirinya akan menjemput Alsya melakukan fitting baju pengantinnya.
"Kamu mau ikut tidak?." Ningrum menghampiri lagi putrinya.
"Kemana ?." Tanya Fyzha malas.
"Ke butik, hari ini adalah hari terakhir melakukan fitting baju pengantin Anand."
"Hahh, tidak ahh. Aku lagi malas kemana-mana, ma. Titip salam saja untuk calon kakak ipar ku."
__ADS_1
"Ya sudah. Mama berangkat dulu, assalamualaikum."
Fyzha menyalami tangan ibunya. Ningrum berangkat diantar oleh supir pribadinya yang dia bawa langsung dari Cirebon. Yah, semenjak melamar Alsya untuk putranya keluarga besar Ghuinandra memutuskan untuk menetap di Jakarta, di rumah Anand sampai putranya itu resmi menikahi Alsya dan barulah mereka akan kembali ke kota udang lagi.
Perjalanan sampai di rumah orang tua Alsya. Mereka menyambut kedatangannya dengan hangat membuat Ningrum tak habis-habisnya tersenyum.
"Ma,." Alsya menyalami tangan calon mertuanya. "Duduk dulu, ma,." Tawarnya penuh sopan santun.
Ningrum tersenyum." Iya, sayang." Jawabnya sambil mengikuti langkah Alsya untuk duduk di ruang tamu. "Fazal mana, nak ?." Tanya Ningrum karena dia tidak melihat keberadaan bocah kecil kesayangannya itu.
"Oma !!." Fazal berteriak keras sambil berlari menuju Ningrum.
Senyuman Ningrum langsung merekah saat melihat Fazal. Tangan Ningrum membawa Fazal ke atas pangkuannya.
"Oma, kesini ?." Tanya Fazal polos.
"Iya, sayang. Oma mau jemput ummi kamu."
"Emangnya mau kemana semua ?."
"Ummi kamu mau nyobain baju pengantinnya, jadi Oma mau enterin Ummi."
"Fazal ikut !!."
"Tidak, sayang..." Alsya menyahut seruan Fazal. "Fazal di rumah aja yaa, sama aki Abah sama Ani umma. " Ujar Alsya melanjutkan.
Wajah Fazal langsung cemberut masam. "Tapi, Fazal mau ikut ummi... Oma... Fazal boleh ikut, kan..." Rengek Fazal dengan wajah menggemaskan.
Ningrum mengusap lembut kepala cucunya. "Kenapa Fazal tidak boleh ikut, nak ?." Tanyanya pada Alsya.
"Fazal anaknya bosenan, ma. Nanti kalau kelamaan dia pasti merengek meminta pulang." Jawab Alsya.
Ningrum manggut-manggut mengerti. " Fazal,... Bener kata Ummi, sayang. Fazal di rumah aja yaa, nanti kalau Fazal ikut, nanti Fazal capek." Ujar Ningrum memberi pengertian.
Fazal tampak merenung.
"Nggak lama, kok. Nanti kalau ummi udah selesai, ummi langsung pulang." Ucap Ningrum lagi.
Akhirnya Fazal mengangguk patuh. "Tapi, nanti ummi pulangnya sama Abi, kan ?." Tanya Fazal polos.
Ningrum tersenyum. " Iya, nanti ummi pulangnya di antar sama Abi." Jawabnya lirih.
Fazal mengangguk mengiyakan lalu turun dari pangkuan Ningrum, dia mengatakan ingin belajar lagi bersama kakak sepupunya di dalam kamar. Sebelum pergi, Fazal sempat mencium pipi neneknya sebagai salam perpisahan.
Selesai mengambil tasnya, dan pamit kepada Abah dan Umma, Alsya berangkat bersama Ningrum menuju butik yang menjadi langganan keluarga besar Ghuinandra.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓