Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Merajut cinta


__ADS_3

Suara ayam berkokok menandakan bahwa waktu telah menjelang pagi. Alsya menggeliatkan tubuhnya di dalam dekapan hangat tubuh Anand. Saat matanya terbuka, pertama kali yang dilihatnya adalah wajah Anand yang sangat dekat jaraknya dari wajahnya.


Alsya menyunggingkan senyumnya melihat wajah sang suami yang masih tertidur nyenyak. Dia teringat momen saat malam tadi yang membuat keduanya hingga sangat kelelahan.


Tangan Alsya terangkat mengusap wajah suaminya, dari mata terus turun ke hidung lalu pindah ke pipi dan berakhir di bibirnya. Alsya semakin tersenyum lebar sayang mengingat jika bibir itu sudah pernah menyentuhnya.


Mata Anand terbuka. Alsya sedikit terjingkat saat mengetahui jika suaminya sudah bangun dan saat ini dia sedang tersenyum manis menatap wajah Alsya.


"Sudah bangun dari tadi ?." Tanya Anand dengan suara serak khas bangun tidur.


Alsya menggeleng. " Baru." Jawabnya sambil tersipu malu dan menghentikan kegiatannya menjelajahi wajah sang suami.


"Gimana ?." Tanya Anand tiba-tiba. Pertanyaan yang sama sekali tidak dimengerti oleh Alsya karena sangat ambigu.


Alsya mengerjitkan alisnya bingung. "Gimana apanya ?." Tanyanya.


"Itu,."


"Itu apa sih ?."


Anand mendekat ke telinga Alsya. "Masih mau bilang kalau suamimu ini lemah ?." Bisiknya tepat di dekat telinga Alsya.


Wajah Alsya semakin merona mendengar ucapan Anand. Dia langsung menelusupkan wajahnya di dada bidang suaminya.


Anand terkekeh melihat tingkah Alsya yang sedang malu-malu. Dia mendekap erat tubuh mungil istrinya dan mencium kening Alsya dengan penuh perasaan.


"Sudah, mandi yuk ?!." Anand menguraikan pelukannya.


"Ihh, mandi sendiri-sendiri aja."


"Kenapa ?, Enak mandi bareng biar cepat selesai."


"A'." Alsya menatap jengah wajah suaminya.


Anand kembali terkekeh dan tangan nya menarik hidung kecil Alsya.


"Ihh sakit !." Alsya mengadu kesakitan sambil menyingkirkan tangan jail suaminya itu kemudian dia langsung bangkit dari tempat tidur dan berlari ke arah pintu kamar mandi.


Bertepatan dengan Alsya mandi, suara-suara lantunan adzan subuh mulai berkumandang dari berbagai penjuru. Anand yang masih belum mandi dia berniat untuk melihat kamar putranya yang terletak di sebelah kamarnya. Anand segera membenahi pakaiannya lalu keluar dari kamar.


Suasana rumah masih sedikit ramai karena masih banyak sanak saudara yang belum pulang, dan mereka menempati kamar-kamar tamu yang ada di rumah itu dari lantai bawah sampai lantai tiga karena lantai empat dikhususkan untuk ruangan-ruangan khusus seperti tempat gym, ruangan untuk tanaman hidroponik, kolam renang, juga taman bermain untuk anak-anaknya. Kemudian lantai atas di isi dengan dua kamar utama yang satu digunakan Alsya dan Anand dan satunya lagi untuk sang putra, juga terdapat dua ruangan yang dijadikan sebagai ruang kerja Anand dan ruang belajar untuk Fazal.


Yah, sesayang itulah Anand terhadap anak sambungnya karena dari semenjak masa pertumbuhan Fazal dari bayi hingga sekarang selalu dalam pantauannya sehingga dia seakan memiliki ikatan kuat terhadap perkembangan putranya itu.


Tadi malam, Fazal memang tidur lebih awal karena siangnya terlalu kecapean disebabkan acara orang tuanya. Fazal yang sudah dari seminggu yang lalu memiliki baby sitter tadi malam setelah Maghrib sudah tidur ditemani baby sitter nya di kamar.


Di depan pintu kamar sang putra ada Inne, baby sitter Fazal yang baru saja keluar dari kamar Fazal. "Selamat pagi, tuan." Sapanya penuh penghormatan.


"Pagi. Fazal masih tidur ?." Anand bersikap ramah terhadap siapapun.


"Masih, tuan."

__ADS_1


"Baiklah, saya mau masuk ke dalam."


"Iya, silahkan tuan." Inne sedikit menyingkir memberikan jalan pada Anand.


Anand memasuki kamar putranya dengan perlahan. Di tempat tidur, Fazal memang masih tertidur nyenyak, meringkuk lucu sambil memeluk bantal gulingnya.


Anand mendekatinya dan duduk di tepi ranjang milik Fazal. Tangannya mengusap lembut kepala putranya sebentar kemudian dia kembali pergi dari sana dan menitipkan kembali putranya pada sang pengasuh.


Anand masuk kembali ke kamarnya.


"Aa' dari mana ?." Alsya bertanya kepada suaminya.


"Habis ke kamar Fazal, sayang. Sebentar, aku mau mandi dulu nanti kita sholat berjamaah." Ujar Anand bergegas memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri.


"Iya." Alsya menyiapkan perlengkapan sholat miliknya sendiri dan milik suaminya.


Alsya beranjak masuk ke ruangan kecil di dalam kamarnya yang dijadikan tempat suci untuk melakukan sholat. Dia mengambilkan baju kokoh, sarung juga peci di lemari kecil di dalam ruangan tersebut dan meletakkannya di samping Al-Qur'an di meja khusus kemudian dia mulai memakai mukenanya nya dan membentangkan dua sajadah dengan dua shaf.


Sambil menunggu kedatangan sang suami, Alsya duduk tenang di atas sajadahnya sambil memurajaah hapalan Al-Qur'an nya yang masih melekat kuat di ingatan.


Anand keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk yang hanya menutupi sebagian tubuhnya saja dan masuk ke dalam ruangan yang sudah ada Alsya yang sedang menunggunya di sana.


Alsya menghentikan hafalannya dengan takbir dan hamdalah. Kemudian menoleh ke arah kedatangan suaminya, menyambutnya dengan senyuman manisnya.


Anand membalas senyuman itu dengan tak kalah manisnya kemudian melangkah mengambil pakaian yang sudah disiapkan dan memakainya.


Sikap pengertian Alsya yang sangat sempurna di mata Anand itu membuat Anand merasa beruntung karena memiliki istri seperti Alsya. Bidadari dunia dan akhiratnya.


Anand mulai melangkah ke atas bentangan sajadahnya dan mempersiapkan diri untuk menjadi imam istrinya.


Selesai sholat dan menutupnya dengan doa, Anand menoleh ke belakang, menatap wajah istrinya yang semakin membuatnya tergila-gila. Anand mengulurkan tangannya untuk disalami Alsya dan Alsya menyambutnya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.


"Kemarilah, Al." Pinta Anand saat Alsya sudah melepaskan kembali tangannya.


Alsya menurut dan mendekati suaminya. Mereka berhadapan dengan tatapan yang sama-sama meneduhkan.


Anand mengusap lembut pipi istrinya. "Makasih ya." Ujarnya tulus kemudian mengecup kening istrinya.


Alsya tersenyum lalu mengangguk. Dia sudah paham arah untuk ucapan itu yang tidak lain adalah untuk sikap pengertian Alsya yang menyiapkan perlengkapan sholat suaminya.


Mereka selesai dan membenahi kembali perlengkapan sholatnya.


Alsya mematut tubuhnya di dalam cermin untuk merapikan rambutnya dan memakai hijabnya dan Anand pun sama, dia sedang sibuk memakai pakaiannya yang memang sudah disiapkan warnanya selaras dengan pakaian Alsya.


"Sudah selesai, yang ?." Tanya Anand sambil berjalan mendekat ke arah Alsya yang sedang duduk masih membenahi hijabnya.


"Sebentar lagi, A ." Alsya terlihat sibuk menusukkan jarum di kain kerudungnya.


Anand dengan penuh kesabaran menunggu istrinya selesai berdandan kemudian setelah selesai, Anand menggandeng tangan Alsya keluar dari kamar untuk menemui keluarganya di lantai bawah.


"Ehh, A. Aku mau lihat Fazal dulu." Alsya menghentikan langkahnya sebelum sampai di lift.

__ADS_1


Anand ikut berhenti. "Ya sudah, kita bareng ke kamar Fazal." Ujarnya lembut dan masih menggandeng tangan Alsya melangkah menuju pintu kamar Fazal.


Saat masuk, Fazal terlihat sedang di urus oleh Inne. Fazal sepertinya baru mandi dan sekarang sedang memakai pakaiannya yang juga berwarna sama seperti abi dan Ummi nya.


Alsya mendekati putranya dan mengambil alih tugas Inne untuk memakaikan pakaian ke tubuh mungil Fazal.


Anand duduk di tepi ranjang putranya dan memperhatikan dengan seksama apa yang sedang dilakukan oleh istrinya.


"Ummi."


"Iya, nak ?."


"Ummi kok tadi gak ada ?."


Mendengar pertanyaan itu membuat Anand dan Alsya saling memandang. "Kan tadi malam Fazal tidurnya tidak sama Ummi, nak." Anand yang menjawab.


"Ohh." Fazal manggut-manggut mengerti.


Fazal sudah rapi dengan pakaiannya. Anand langsung bangkit dari duduknya kemudian membawa tubuh mungil Fazal ke dalam gendongannya lalu keluar dari kamar. Dan Alsya membuntut di belakangnya.


Mereka memasuki lift untuk turun ke lantai bawah dan setelah sampai, di bawah keluarganya sudah berkumpul di ruang meja makan.


Melihat kehadiran kakak sepupunya yang sedang bermain di halaman samping rumah, Fazal meminta turun dari gendongan Anand untuk menghampiri Rizal, anak dari mbak Nisa.


Anand dan Alsya hanya bisa membiarkannya saja dan meminta Inne untuk mengawasi putranya itu saat bermain.


"Pengantin baru bawaannya pengen di kamar terus ya ?." Celetuk Ningrum menggoda anak dan menantunya yang datang sangat terlambat.


Anand hanya cuek menanggapi tapi berbeda dengan Alsya yang saat ini sedang bergemuruh hebat karena malu.


Umma dan Abah hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah laku pengantin baru itu.


"Gimana kak ?." Celetuk Fyzha membuat semua orang menatap kebingungan ke arahnya.


Fyzha yang ditatap seperti itu malah seperti cuek saja.


"Gimana apanya ?." Mbak Nisa yang bersuara.


"Itu loh, mbak... Ihh, masa pada nggak ngerti sihh ?!." Decak Fyzha mulai kesal sendiri melihat keluarganya yang menatapnya aneh.


"Yah kamu ngomongnya gak jelas !." Sembur Nareena yang juga tidak mengerti apa-apa.


"Yah masa harus dijelaskan ?. Kan kalian sudah pada nikah masa gak faham apa yang terjadi pada malam pertama pengantin baru."


Semua orang langsung tertawa lepas mendengar penuturan Fyzha yang terlihat sangat polos. Tapi berbeda dengan Anand dan Alsya yang saat ini sedang tersenyum kaku karena yang menjadi bahan pembicaraan.


"Sudah-sudah . Iya kita mengerti. Sudahlah, sebaiknya kita mulai sarapan." Aryan mulai bersuara. "Maaf atas kelakuan keluarga kami pak Misbah..." Ujarnya tidak enak hati pada besannya.


Abah tersenyum lalu mengangguk. "Iya tidak apa-apa, mereka tidak bersalah kok. Saya juga cukup terhibur dengan kelakuan mereka." Ucap Abah penuh pengertian.


Aryan mengangguk mengiyakan.

__ADS_1


Acara sarapan bersama dimulai begitupun dengan anak-anak yang sedang bermain yang juga disuapi oleh baby sitter nya masing-masing.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2