
Ada rasa sedikit lega menghampiri hati Aly. Tapi lebih pada cemas karena kini mulailah dia akan melihat istrinya harus berjuang mempertaruhkan nyawanya demi buah hati mereka.
Perjuangan penuh kesakitan dialami oleh Nareena. Tatapan mata Nareena seakan tanpa arah saat sedang berusaha mengeluarkan bayinya hingga satu sosok yang tiba-tiba ada di sampingnya hadir dan tersenyum menenangkannya.
Ibu ?!.
Iya sayang. Ibu menyayangimu.
Apa aku akan mengikutimu, Bu ?.
Tidak. Jangan, nak. Kamu harus menjadi madrasah terbaik untuk anakmu. Jangan kosongkan hati dan pikiran mu, Allah selalu memberikan kasih sayangNya untukmu.
Sosok itu tersenyum manis dan perlahan menghilang dari pandangan mata Nareena. Dan ternyata, pada saat itu juga sang buah hatinya telah berhasil dilahirkan.
Sosok mungil laki-laki yang tampan yang menjadi buah cinta antara ayah dan ibunya.
Suara tangis bayi yang melengking menyadarkan haluan Nareena tentang keberadaan ibunya.
Nareena menatap bayi mungil yang sedang digendong oleh dokter itu lalu beralih menatap wajah suaminya. "Mas."
"Alhamdulillah, sayang. Dia telah lahir."
Nareena langsung menghembuskan nafasnya lega. "Alhamdulillah.." ucapnya lirih.
Seperti yang terjadi pada Fyzha, bayi itu juga diletakkan di atas dada ibunya untuk mengenal suhu ibunya.
Setelah beberapa menit, bayi itu diambil lagi untuk dibersihkan begitu pun dengan Nareena.
✓✓✓✓✓✓✓
Keluarga besar kumpul di rumah utama Ghuinandra. Semua anak cucu Ghuinandra membawa serta keluarganya untuk mengadakan syukuran bersama untuk bayi-bayi yang telah dilahirkan. Yaitu bayinya Anand, Fyzha dan Nareena.
Lalu lalang orang yang datang untuk dalam pengajian, yang mayoritas adalah pegawai di perusahaan pusat Ghuinandra yang dipimpin oleh Anand, ada juga dari Auristella'S Jawelry yang merupakan milik Fyzha, dari perusahaan properti milik Aly dan juga beberapa dokter dan perawat di rumah sakit milik Affin.
Kemeriahan acara yang sangat besar dan mewah. Karena acara syukuran itu juga dipimpin oleh seorang ulama terkemuka yang merupakan salah satu guru Anand saat di pesantrennya yang sering disapa sebagai prof. Saad. Yah, ulama itu didatangkan langsung oleh Anand dari luar negeri.
"Anand,." Panggil prof. Saad pada Anand setelah acara syukuran itu selesai dan beberapa orang yang masih memiliki kesibukan di pekerjakannya sudah kembali lagi pada kegiatannya.
__ADS_1
Anand, Affin, Aly, dan Abah memang tidak pernah sekalipun jauh dari samping Prof. Saad dari sebelum acara berlangsung hingga selesai sekalipun.
Dan kini mereka sedang berkumpul di ruang beranda yang sudah di desain nyaman untuk tempat singgah Prof. Saad bersama pengawal-pengawalnya yang beliau bawa langsung dari negaranya.
Anand langsung bersimpuh di hadapan sang guru. Prof. Saad tersenyum melihat tingkah Anand yang masih sangat menghormatinya sebagai guru agama. Beliau meminta Anand untuk duduk di kursi di sampingnya dan memeluk serta menepuk-nepuk pundaknya.
"Nanti, kalau anakmu sudah besar, jangan lupa bawa mereka ke sana agar bisa mendapatkan ilmu yang sama denganmu."
Anand mengangguk patuh. "Iya, Prof. Saya akan memasukkan salah satu dari mereka di tempat yang sama saat saya belajar agama."
"Pemikiran yang tepat, mereka memang tidak harus belajar di tempat yang sama."
"Iya, Prof."
Prof. Saad menoleh ke arah wajah Affin dan Aly lalu kembali tersenyum. Lalu tatapan matanya berhenti pada Aly. "Bisa bawakan putrimu kesini, nak Aly ?." Tanyanya pada Aly.
Semua orang sejenak bingung pada permintaan Prof. Saad. Tapi, Aly tidak mau mengambil keputusan terlalu lama. Dia langsung bangkit dari duduknya dan melangkah pergi untuk membawa putrinya ke sini.
Aly masuk pada kerumunan para wanita yang sedang kumpul di aula samping rumah karena di sanalah keberadaan putrinya bersama istrinya.
Melihat kedatangan Aly, semua orang disana sempat terkejut karena seharusnya Aly masih ikut menjamu tamu kehormatan dari luar negeri itu.
"Tidak ada apa-apa, sayang. Mas cuma ingin mengajak Keyya bertemu dengan Prof. Saad."
Nareena tersenyum kemudian mengangguk mengiyakan. Nareena langsung mendekati putrinya dan mengatakan bahwa Keyya dipanggil oleh sang ayah.
Keyya mungil berjalan menghampiri Aly. "Ayah."
"Iya, nak. Yuk ikut ayah dulu ?!."
Keyya mengangguk patuh. Aly langsung menggendong tubuh mungil Keyya dan membawanya keluar dari aula dan bergabung lagi bersama orang-orang di ruang beranda.
Keyya sedikit meringsut takut melihat orang-orang yang tidak dikenalnya membuat Prof. Saad tersenyum memaklumi.
"Sini, Keyya sama Abi." Ucap Anand pada putri angkatnya.
Keyya mengangguk lalu berjalan ke arah Anand yang masih duduk di samping Prof. Saad. Anand segera mengangkat tubuh Keyya dan meletakkannya di pangkuan.
__ADS_1
Prof. Saad mengusap lembut kepala Keyya dengan wajahnya yang cerah. "Keyya."
Keyya dengan mata jernihnya memandang wajah tua di sampingnya lalu tersenyum. "He em." Gumamnya seolah menjawab panggilan itu.
Prof. Saad mengulurkan tangannya untuk disalami oleh Keyya dan Keyya menyebutkan dengan senang hati. Meski Keyya masih kecil, tapi Keyya tahu dan mengerti siapa pria yang ada di hadapannya itu.
Setelah selesai salaman, Prof. Saad mengeluarkan sebuah kalung kecil dari saku jubahnya. Kalung rantai berwarna putih dengan bandul batu permata berbentuk bulat, berwarna pink berukuran sangat kecil.
Semua orang yang ada di sana terpaku pada keindahan kalung itu. Tapi, tidak ada yang tahu apa nama batu yang dijadikan sebagai bandul itu. Dan mereka hanya mengerti bahwa itu adalah sebuah permata berlian berwarna pink saja. Warna yang sangat cantik.
Keyya juga tampak terpaku melihat keindahan kalung cantik itu. Apalagi saat Prof. Saad meminta tangannya untuk di ulurkan dan disuruh dibuka.
Kalung cantik itu diletakkan di atas telapak tangan mungil Keyya oleh Prof. Saad. Kemudian Prof. Saad menggenggam tangan Keyya untuk kembali di kepalkan.
"Nanti dijaga ya, kalungnya." Pinta Prof. Saad menatap lekat wajah Keyya.
Keyya mengangguk mengerti. "Iya." Ucapnya patuh.
Semua orang kembali pada kesadarannya dan tersenyum melihat adegan itu.
"Terimakasih, Prof." Ucap Keyya lagi.
Mendengar panggilan itu, Prof. Saad langsung menggeleng. "Panggil Baba."
"Baba ?."
"Iya."
Keyya langsung tersenyum kembali dan mengangguk mengiyakan lagi. "Makasih, Baba."
"Sama-sama."
Tidak susah Prof. Saad berbicara dengan menggunakan bahasa Indonesia karena beliau memang sering berkunjung di Indonesia. Tepatnya di pesantren-pesantren besar di Indonesia untuk melakukan blusukan. Prof. Saad juga memiliki banyak relasi orang Indonesia juga sehingga beliau bisa mengenal baik bahasa Indonesia.
Prof. Saad menoleh pada Aly lagi. "Keyya memiliki sifat istimewa yang akan terlihat di setiap pertumbuhannya."
"Istimewa bagaimana, maksudnya Prof. ?." Tanya Aly masih belum mengerti.
__ADS_1
"Keistimewaan yang diturunkan langsung dari leluhurnya. Keyya memiliki trah pesantren yang sangat melekat di hatinya, sehingga nanti ketika dewasa dia akan memiliki beberapa hal yang tidak dimiliki oleh siapapun." Jelas Prof. Saad.