Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Acara syukuran


__ADS_3

Rumah kediaman Anand dan Alsya kembali ramai oleh dua keluarga besar. Setelah diberitahukan tentang kehamilan Alsya, mereka mensepakati untuk mengadakan syukuran yang diadakan di rumah Anand sendiri.


Tadi pagi keluarga dari Cirebon datang sekitaran jam sembilan, karena mereka memulai perjalanan dari sebelum waktu subuh. Dan kedua orang tua Alsya datang pada jam sepuluh, disusul dengan Affan dan mbak Nisa.


Setelah dhuhur juga, Fyzha datang bersama sekretarisnya kemudian jam empat sore Nareena datang . Hingga lengkap sudah semuanya hadir disana untuk mengadakan syukuran nanti malam bersama tetangga-tetangganya.


"Aku senang mendengarnya, kak... Akhirnya Anand memiliki keturunan juga." Seperti biasa. Nareena memang paling pintar membuat Anand marah.


Alsya yang sudah sangat memahaminya hanya tersenyum.


"Hehh, kalau ngomong jangan sembarangan !." Sungut Anand melemparkan bantal ke wajah sepupunya.


Nareena berhasil menghindar dan membuat bantal itu tergeletak mengenaskan di lantai. Nareena berjongkok mengambil bantalnya dan meletakkannya di pangkuan.


Saat ini mereka bertiga memang sedang ada di kamarnya Anand dan Alsya. Tidak ada yang selancang Nareena memang, yang masuk ke kamar sepupunya itu padahal di dalam hanya ada mereka berdua. Tidak ada yang tau bukan, apa yang mungkin saja dilakukan oleh sepasang suami istri jika sedang berduaan di kamar ?.


Nareena memang Nareena !.


Dan memang benar, posisi Alsya dan Anand memang sedang sangat intim. Mereka sedang duduk di atas tempat tidur dengan Alsya yang menyenderkan tubuhnya di dalam rengkuhan kedua lengan Anand. Dan tangan Anand yang juga tak henti-hentinya mengusap-usap lembut perut Alsya.


Nareena yang duduk tepat di depan Alsya, memperhatikan wajah cantik kakak ipar sepupunya itu. "Kakak terlihat pucat sekali ?, Apa hamil muda selalu merasakannya ?." Tanya Nareena penasaran.


Nareena yang bertanya tapi Anand juga sependapat. Dia juga penasaran dengan kondisi Alsya yang terlihat sangat mengkhawatirkan karena sering muntah-muntah yang berlebihan, untungnya tidak mogok makan.


"Iya, hal seperti ini memang akan terjadi saat masa kehamilan muda ."


"Dulu kamu pernah merasakan hal seperti ini, sayang ?." Anand bertanya.


Jangan lupakan tangan Anand yang masih telaten mengusap-usap lembut perut Alsya yang terhalangi oleh pakaiannya.


"Pernah, tapi tidak separah sekarang. Bahkan mengandung anak pertamaku malah gak merasakan apapun, dan hanya sering tiba-tiba lemas sekali."


"Anak pertama ?, Memangnya kakak punya anak lagi selain Fazal ?." Jiwa kepo Nareena kembali muncul.

__ADS_1


Anand hanya memutar bola matanya jengah, tapi berbeda dengan Alsya yang tersenyum manis lalu mengangguk. "Iya, tapi dia sudah meninggal karena kecelakaan." Wajah Alsya terlihat sendu.


"Astaghfirullah. Kasihan sekali..."


Alsya kembali tersenyum.


"Tidak apa-apa, lagian sekarang sudah digantikan dengan si kembar." Senyuman Nareena kembali merekah.


"Iya, Alhamdulillah."


"Kamu kapan jadinya ?." Alsya balik bertanya.


Ditanya seperti itu membuat wajah Nareena langsung bersemu merah.


"Belum membuat tanggal ?."


"Alhamdulillah udah kak, insya Allah akhir tahun ini."


"Dua bulan lagi?."


"Semoga lancar ya ?, Dan semoga suamimu nanti menjadi pemimpin yang bertanggung jawab atas keluarganya." Ucap Alsya sangat tulus untuk doanya.


Mendengar ucapan istrinya Anand langsung bereaksi dan menatap lekat wajah istrinya. Dia tau, ada sesuatu dibalik ucapan istrinya itu. Tanpa aba-aba, Anand langsung mencium pipi istrinya sontak perbuatannya itu langsung disambut oleh pekikan Nareena dan Alsya. Terlebih Alsya yang memang sangat kaget.


"A'."


"Nyosor terus...!." Sewot Nareena tidak terima dengan adegan yang membuat jantungnya ketar-ketir karena kaget.


"Istriku sendiri. Apanya yang salah ?." Anand menatap wajah Nareena seakan menantang.


"Dasar tidak tau tempat !. Sudahlah, aku mau keluar aja, kakak aku keluar ya?, Daah...!." Nareena melenggang pergi, dan keluar dari kamar Anand dan Alsya.


Nareena turun ke lantai bawah menggunakan lift rumah. Tiba ketika pintu lift nya terbuka, Nareena segera keluar dari sana dan ternyata dia berpapasan dengan Fyzha."Hai, Fy ?." Sapanya.

__ADS_1


"Hai, Nareen, kamu habis ke kamar Anand ?."


"Iya,."


"Kak Alsya sudah mendingan ?."


"Wajahnya masih pucat, tapi dia sedang istirahat."


Fyzha mengangguk mengerti. "Ya sudah, aku ke kamar dulu ya ?." Ucap Fyzha setelahnya.


"Oh iya, aku juga mau bertemu dengan Tante Rene."


Keduanya berpisah karena beda arah.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Rasa ikhlas melepaskan memang harus Affin lakukan. Alsya sudah bahagia bersama suami barunya. Bahkan malam ini mereka akan mengadakan syukuran atas kehamilan Alsya.


Sekarang Affin hanya perlu mengobati hati. Dia sudah tidak boleh berharap pada sesuatu yang memang bukanlah taqdirnya. Yang harus Affin lakukan saat ini adalah mencari wanita yang akan mengobati sakit hatinya dan mengalihkan perasaannya terhadap Alsya.


Tapi ada satu hal lagi yang harus Affin pastikan. Akhir-akhir ini dia sedang dirundung perasaan bersalah pada seseorang yang bahkan dia tidak mengenalnya.


Seharusnya tidak ada malam itu !. Malam dimana dia telah berbuat seperti seorang pria kurang ajar.


"Tapi gadis itu malah mengancamku ?,.. ishh... Jadi aku harus bagaimana ?," Ceracau Affin bingung sendiri.


Affin mematut wajahnya di cermin. Tangannya menyentuh sudah bibir yang masih sedikit membengkak. "Lumayan juga ilmu bela dirinya..." Gumamnya lirih membayangkan kejadian waktu gadis itu menendangnya.


"Tidak, aku tidak akan melepaskanmu, aku bukan pria brengsek yang lari setelah merusak anak orang." Ucapnya lagi dengan keyakinan tinggi.


Dia tidak tahu ancaman apa yang akan gadis itu berikan nanti, tapi yang jelas, Affin bukanlah pria pengecut yang takut dengan gertakan seorang gadis.


Affin kembali memandang wajahnya sendiri dan dia menyeringai lebar. Affin menyambar kunci mobilnya dan segera keluar dari rumah untuk kembali melanjutkan pencariannya terhadap gadis yang sebulan lalu pernah dia rusak.

__ADS_1


Mata Affin begitu fokus pada jalanan di depan. Dia mencari keberadaan gadis itu di jalan yang sama seperti terakhir mereka bertemu. Sejam berusaha dengan mengitari komplek perumahan tersebut tapi tidak juga dia temukan.


Waktu semakin beranjak malam, Affin memilih menyudahi pencariannya dan pulang ke rumah. Setidaknya masih ada hari-hari ke depan untuk mencarinya lagi.


__ADS_2