Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Sepupu luknut


__ADS_3

Seluruh keluarga besar Ghuinandra berkumpul di ruang keluarga untuk membangun kebersamaan yang sudah lama tidak pernah diadakan karena tempat tinggal yang terpisah satu sama lainnya.


Aryan Ghuinandra duduk di kursi ujung sebagai kepala keluarga dan yang lainnya menduduki setiap kursi kosong di sisinya.


"Hadi kemana putrimu ?." Tanya Aryan pada adiknya karena tidak melihat keponakannya.


"Dia baru saja pulang, jadi mungkin masih membersihkan diri." Ningrum yang menjawab.


"Rene apakah putramu tidak datang lagi ?." Kali ini tatapan Aryan menuju ke adik perempuannya.


Rene terdiam dan menunduk. "Dia akan datang sehari sebelum acara pernikahan Anand kak." Ujar Rene sedikit menyesali tingkah laku putranya yang memang susah di atur.


"Malam, semuanya... !." Seorang gadis cantik datang sambil menebarkan senyuman manisnya. Gadis itu duduk disamping sang calon pengantin. "Hai, kak ?, Ciee yang mau married.." dengan tangan jailnya gadis itu menoel-noel bahu kakak sepupunya.


Semua orang yang sudah terbiasa melihat tingkah laku gadis itu hanya bisa menjadi penonton.


"Iri ?, Cari jodoh makanya." Ujar Anand sombong.


"Dihh, baru calon aja udah sombong !. Saksikan yaa, akhir tahun ini aku juga akan naik ke kursi pelaminan !." Ucap gadis itu sengit tak ingin kalah dari sepupunya.


"Baru naik, belum tentu nikah kan ?, Hahaha...!." Anand tertawa lepas mengejek adik sepupunya.


Gadis itu semakin tampak marah dan siap menggeplak bahu Anand namun tidak terjadi karena deheman kepala Ghuinandra.


Semua orang Kembali terdiam, termasuk dengan Anand dan gadis itu.


"Anand, rumah kalian sudah beres ?." Tanya Aryan pada putranya.


"Sudah, pa. Hanya tinggal perabotannya saja yang masih belum tertata rapi."


"Nareena."


"Iya, Om?." Gadis yang duduk di samping Anand langsung menatap wajah kakak dari ayahnya.


"Kemampuan kamu dibutuhkan untuk mengecek rumah Anand."


Nareena tampak menghembuskan nafasnya berat. "Iya, om." Jawabnya malas.


Anand yang melihat itu langsung menoyor jidak adik sepupunya. "Heh, kalau gak ikhlas, sebaiknya gak usah." Ucap Anand pedas.

__ADS_1


"Emang nggak, lagian rumah siapa ?, Masa aku yang mengecek?,." Nareena berucap cuek dan mengedikkan bahu seolah tak perduli dengan ucapannya sendiri.


Semuanya dibuat kesal lagi oleh dua orang itu yang setiap kali dipertemukan selalu membuat kehebohan karena pertengkaran ringannya.


"Ouh, baiklah. Jika ada sesuatu jangan pernah meminta bantuanku lagi !." Ancam Anand menatap sengit wajah adik sepupunya.


"Siapa takut ?, Lagian masih ada Melvin (putra dari Tante Rene) !." Jawab Nareena tak kalah sengitnya.


Keduanya beradu tatapan tajam seolah tak ada dari keduanya yang mau mengalah.


Brakk !!.


Semua tersentak kaget mendengar gebrakan itu yang ternyata dilakukan oleh Aryan.


"Kalian ini kapan tidak membuat kericuhan ?. Anand, kamu sudah dewasa bahkan sudah akan menjadi seorang suami, apa kamu tidak malu masih melakukan hal kekanak-kanakan seperti ini terus ?!." Sentak Aryan sudah sangat kesal dengan kelakuan anak-anaknya.


Anand yang selalu merasa takut terhadap sosok papahnya langsung terdiam, begitupun dengan Nareena yang terlihat tak berkutik lagi.


"Nareena, jadi kamu sebenarnya mau tidak ?." Tanya Aryan pada keponakannya.


"Iya, mau om. Tadi Nareena cuma iseng aja bilang gak mau." Jawab Nareena sedikit takut dengan kakak dari ayahnya itu.


"Kalau begitu, besok kamu akan ke rumah Anand."


"Ehh, om. Besok agenda kegiatanku sangat full sampai sore. Apa tidak bisa di hari libur saja ?." Ujar Nareena karena dia ingat besok agenda kegiatan bosnya sangat padat dan itu semua sangat berkaitan dengan dirinya sebagai seorang sekretaris pribadi.


Nareena melirik ke arah ayahnya yang terlihat sedang tersenyum licik. Yah, ayahnya memang jahat karena membuatnya menjadi orang yang super sibuk.


"Kak, Nareena sekarang menjadi sekretaris di perusahaan orang lain. Kegiatannya mungkin sangat padat." Ujar Hadi memberitahu kakaknya.


"Nareena bekerja di perusahaan lain ?. Kenapa ?, Bukankah dia bisa di tempatkan di perusahaan mu ?." Tanya Aryan karena memang dia baru tahu jika keponakannya bekerja di perusahaan orang lain.


"Untuk melatih mentalnya saja." Jawab Hadi santai dan tanpa beban. Yah, karena bebannya sedang dipikul oleh putri semata wayangnya.


"Kerja dimana?." Kali ini Anand yang bertanya, sebab Anand juga baru mengetahuinya.


"Kepo !." Sentak Nareena tepat di telinga Anand.


Anand bersiap membalas tapi dia takut Aryan pasti menegurnya lagi. Jadi dia akan menyimpan amarahnya untuk nanti terbalaskan.

__ADS_1


"Sesuai di bidangnya. Nareena bekerja di perusahaan properti." Jawab Hadi.


Semua orang manggut-manggut mengerti.


"Rene, kamu terlalu membebaskan anakmu selama ini. Hidupnya juga lebih sering di luar negeri. Bukan apa-apa, hanya saja kehidupan disana sedikit tidak bermoral dan bebas." Aryan menatap wajah adik perempuannya.


Aryan hanyalah tiga bersaudara dengan dua adik satu perempuan dan satunya lagi laki-laki. Dan nasib buruk menimpa kedua adiknya saat itu.


Rene ditinggalkan oleh suaminya yang lebih memilih wanita lain di saat masih Melvin berumur sepuluh tahun, dan dari saat itulah Rene seakan trauma untuk menikah lagi dan memilih untuk membesarkan putranya sendiri.


Hadi juga tak kalah menyedihkan, dia menjadi orang tua tunggal semenjak Nareena berumur tiga tahun karena istrinya meninggal dunia disebabkan penyakit yang mematikan. Maka dari itu, karena merangkap dua peran, didikan Hadi terkadang cukup keras untuk Nareena dan bahkan tidak segan-segan untuk menghukum putrinya jika dia berbuat salah. Hadi juga enggan untuk menikah lagi karena baginya tidak ada cinta kedua selain istrinya yang telah meninggal itu.


"Nanti aku omongkan pada Melvin, kak."


"Hem." Aryan menganggukkan kepalanya.


Obrolan yang lebih berisi tentang nasihat yang diberikan oleh Aryan berhenti dan bergantikan dengan makan malam bersama sebelum kembali pada rutinitasnya masing-masing.


Selesai makan, Anand bangkit dari duduknya dan memilih keluar rumah, tepatnya di ruangan terbuka yang tersaji sebuah kolam renang dan kolam ikan yang terletak beriringan dan hanya dibatasi oleh kursi santai berbahan kayu jati murni.


Anand menyalakan layar ponselnya yang langsung menampilkan sosok wanita cantik yang sedang tertawa lepas. Wanita yang sudah memenjarakan hati dan pikirannya selama setahun lebih ini. Wanita yang akan menjadi bidadari dunia dan akhiratnya kelak.


"Kenapa kamu memilih janda ?."


Anand reflek menoleh dengan tatapan matanya yang setajam silet. Adik sepupu luknutnya kalau ngomong memang tidak pernah disaring dulu.


Di tatap seperti itu rupanya tidak membuatnya takut, Nareena malah seolah biasa saja dan terkesan cuek. "Kenapa ?." Tanyanya pura-pura tidak tahu.


Anand yang sudah terlanjur marah melengoskan wajahnya menghadap ke arah kolam ikan.


"Orang nanya yah dijawab."


"Pertanyaan mu tidak bermutu." Jawab Anand dingin masih dirundung rasa kesal.


"Memangnya apa yang salah dari pertanyaan ku ?,." Nareena bingung sendiri dengan sikap Anand yang terlihat datar dan dingin seperti itu.


"Pertanyaan ku benar kan ?, Kenapa kamu memilih janda?, Beranak satu pul___"


"Nareen !!." Sentak Anand dengan suara menggelegar.

__ADS_1


✓✓✓✓


__ADS_2