Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Perihal Hak


__ADS_3

Keduanya saling menatap dalam dengan tatapan mata yang tak terbaca.


"Lupakan kejadian di rumah sakit." Ucap Affan masih menatap lekat wajah istrinya.


Fyzha langsung menunduk. "Maaf." Ucapnya lirih.


Affin tersenyum tapi senyuman itu tidak bisa disaksikan oleh Fyzha karena Fyzha betah menunduk.


"Lanjutkan masaknya." Titah Affin pada kedua kokinya dan langsung diangguki oleh mereka.


Fyzha hanya pasrah saat Affin menarik tangannya dan membawanya masuk ke kamar. Affin mendudukkan tubuh Fyzha di tepian ranjang kemudian dia sendiri duduk di sampingnya.


"Fin."


"Hem ?."


"Maukah kamu menungguku ?, Eee aku ingin berusaha." Fyzha mengangkat wajahnya.


Affin semakin melebarkan senyumannya lalu mengangguk dan membawa tangan Fyzha ke dekat wajah dan menciumnya penuh perasaan.


"Aku akan menunggumu, sampai kapanpun." Suara Affin sangat lembut begitupun dengan tatapan matanya yang menatap lekat wajah Fyzha.


Fyzha menghambur memeluk erat tubuh Affin.


"Makasih, Fin."


"Sama-sama, sayang." Affin terkekeh kecil di akhir katanya.


✓✓✓✓✓✓✓✓


Hari pekan untuk sepasang suami istri yang baru berdamai. Keduanya sudah sepakat untuk tidak melakukan kegiatan yang diluar urusan pribadi pada Minggu ini.


"Sayang..." Fyzha tersentak kaget karena suara Affin.


Fyzha menoleh ke belakang dimana Affin sedang mendekat ke arahnya. "Iya ?." Jawabnya.


"Kamu tidak ingin kemana-mana ?." Affin semakin mendekat.


Fyzha terdiam sejenak. "Tidak, aku ingin di rumah saja. Apa kamu ingin keluar ?."


"Tidak, aku hanya bertanya saja."


Affin semakin mendekat dan memeluk erat tubuh istrinya dan belakang.


Fyzha langsung tegang mendapati sikap Affin yang baru pertama kali dia rasakan. Ada perasaan hangat juga grogi menerjang tubuh Fyzha.


"Fin."


"Usia pernikahan kita sudah hampir dua bulan." Affin berbisik tepat di samping telinga Fyzha.


Fyzha mengangguk mengiyakan. Dia semakin tidak nyaman dengan posisinya saat ini. Tubuh mereka sangatlah intim membuat Fyzha semakin deg-degan.


"Kapan kita akan melakukannya ?."


Deg.


Tubuh Fyzha semakin menegang. Dia tidak pernah berpikir hal itu sebelumnya.


"Fin, a-aku... Aku belum siap, Fin." Ucap Fyzha kaku.

__ADS_1


Affin langsung membalikkan tubuh Fyzha menjadi berhadapan dengannya. "Berikan alasannya kenapa kamu masih belum siap juga." Pintanya ingin jelas.


Fyzha tampak salah tingkah. "Aku... Tidak ada."


Affin mengerjitkan alisnya heran. "Tidak ada ?." Tanyanya bingung.


Fyzha semakin gelagapan. "Aku, bingung mengucapkannya." Jawabnya tak berani menatap wajah Affin.


"Katakan saja.."


Keduanya berhadapan dengan jarak yang sangat dekat. Bahkan tubuh keduanya saling menempel dan hanya terhalang oleh kain pakaian yang sedang mereka pakai saja.


Tangan Affin semakin memeluk erat pinggang Fyzha.


"Fin !." Pekik Fyzha sangat kaget dengan sikap Affin yang tiba-tiba.


"Katakan, Fy. Aku butuh penjelasan."


"Oke, aku masih takut ." Akhirnya Fyzha bisa menjawabnya.


"Takut ?."


Fyzha memejamkan matanya tak sanggup melihat wajah Affin yang sangat dekat itu. "Iya, aku masih teringat kejadian malam itu." Cicitnya merasa takut akan reaksi Affin.


"Kenapa masih takut ?, Kita sudah menikah dan jikapun sampai kamu hamil, anakmu memiliki seorang ayah."


Keduanya saling menatap satu sama lain. "Bukan itu yang aku takutkan, Fin..." Fyzha kembali memalingkan wajahnya lagi.


"Lalu apa ?."


"Rasa sakitnya, waktu itu kamu membuat tubuh ku terasa remuk semua." Fyzha menunduk tak berani menatap wajah Affin.


"Karena kamu yang menikmati !."


"Memangnya kamu tidak menikmatinya ?."


Kembali. Perdebatan yang tidak ada habisnya memang. Padahal sebelumnya mereka sudah saling berdamai.


Affin sangat menyukai raut wajah Fyzha sekarang. Karena salah tingkah, kedua pipi Fyzha sudah sangat merah merona.


"Kenapa diam ?." Tangan Affin menyentuh dagu Fyzha agar Fyzha menatapnya.


"Fin..."


"Percayalah, ini tidak akan semenyakitkan waktu itu." Ucap Affin meyakinkan.


"Aku tidak bisa percaya ucapanmu."


"Kamu harus percaya."


"Kenapa aku harus percaya dengan ucapan mu ?." Seperti dulu, Fyzha menatap sengit wajah Affin.


Affin sedikit menarik sudut-sudut bibirnya lalu sedikit merunduk. "Karena waktu itu milikmu masih tersegel, dan aku harus berusaha keras untuk membukanya." Ucapnya lirih.


Fyzha membelalakkan matanya mendengar ucapan suaminya itu. Benar-benar sangat aneh di Indra pendengarannya !.


"Jadi kamu mengizinkannya atau aku akan memaksamu ?."


"Itu bukan pilihan !."

__ADS_1


"Tentu saja, kamu cerdas, sayang."


"Aww !."


Dengan sekali hentakan, Affin sudah menghempaskan tubuh Fyzha ke atas tempat tidur.


"Fin !."


"Iya, sayang ?." Affin menatap lekat wajah istrinya.


"Tapi, Fin..."


"Tidak perlu takut."


"Fin ini pemaksaan !." Fyzha mendorong kuat tubuh Affin untuk menyingkirkannya dari atas tubuhnya.


"Baiklah, aku tidak akan memaksamu." Bukan karena berhasil didorong oleh Fyzha tapi Affin memang langsung bangkit dari atas tubuh Fyzha dan duduk di tepi ranjang dengan posisi membelakangi Fyzha. "Tidurlah." Ucapnya dengan suara bernada datar bahkan terkesan dingin.


"Fin." Panggil Fyzha lirih karena merasa bersalah.


"Maaf."


"Tidak, kamu tidak bersalah, kamu hanya menginginkan hakmu dan aku malah masih belum siap." Fyzha ikut duduk dan langsung memeluk tubuh Affin dari belakang. "Maafkan aku..." Cicitnya dengan suara bergetar karena sudah siap menangis.


"Kamu istriku, aku tidak mungkin memaksamu seperti yang dulu pernah aku lakukan..."


"Kamu tidak pernah memaksaku." Fyzha langsung menyela.


Affin membalikkan tubuhnya membuat pelukan Fyzha terlepas tapi dia segera mengganti dengan pelukannya. "Bagaimanapun, kamu yang rugi karena kejadian itu." Ucapnya lembut sambil mengecup kening Fyzha. "Dan, kenapa kamu tidak meminta pertanggungjawaban padaku, setelah kamu tahu kalau kamu hamil anakku ?."


"Tidak, itu murni kesalahanku. Dan kamu hanya bagian kecil dari kesalahan ku yang sangat besar. Aku tidak ingin menyeretmu dalam permasalahan ku."


Affin terdiam sejenak. "Apa itu alasannya kenapa kamu tidak memberitahu kakakmu ketika di rumah sakit ?." Tanyanya kemudian.


"Iya."


"Kamu terlalu baik pada orang lain, sayang."


"Aku hanya melakukan hal yang semestinya."


Keduanya saling terdiam dengan posisi masih saling memeluk satu sama lain.


"Jadi, apa yang membuat kamu sangat frustasi saat itu ?."


Fyzha melepaskan pelukannya dari tubuh Affin. Matanya menatap lekat wajah Affin yang sedang menatapnya dengan tatapan sejuk.


"Sakit hati."


"Kekasihmu?."


"Bukan, lebih tepatnya aku menyukai seseorang yang menyukai orang lain."


"Ditinggal menikah ?."


Fyzha mengangguk. "Untuk pertama kalinya aku jatuh cinta, tapi pria yang aku cintai malah melamar seseorang. Bahkan aku ada disana pada acara lamaran nya."


Affin sedikit terkejut mendengar nya. Dia tidak menyangka jika kisah cinta istrinya itu memiliki kesamaan dengan kisah cintanya.


"Aku baru mengenal apa itu menyukai seorang pria di umurku yang sudah sangat dewasa. Aku memendam perasaan terhadapnya selama beberapa tahun, tapi... Yah, dia memang bukan jodohku, dia akan menikah dengan sepupuku sendiri."

__ADS_1


"Sepupu ?!."


__ADS_2