
Tiga hari berlalu setelah darah Keyya diambil untuk dijadikan sampel pemeriksaan. Hari ini Aly mengajak keluarganya ke rumah sakit.
Setelah dua puluh lima menit perjalanan, akhirnya mobil Aly sampai di di parkiran rumah sakit. Keduanya keluar dengan Aly menggendong tubuh mungil putrinya dan mereka masuk ke dalam bangunan rumah sakit itu.
Saat di lobi, ternyata kedatangan mereka sudah ditunggu oleh Affin sang pemilik rumah sakitnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam, kita langsung menuju ke ruang pemeriksaannya saja ya?."
"Baiklah."
Ketiganya membuntut di belakang Affin kemampuan Affin melangkah. Dan sampai di ruangan khusus dan Affin meminta Nareena untuk menemani putrinya ke dalam sedangkan Aly diajak untuk menuju ke ruang laboratorium.
"Ini hasil dari pemeriksaannya." Affin menyodorkan sebuah amplop putih dengan cap rumah sakitnya.
Aly menerimanya dan langsung membukanya. Deretan tulisan yang sangat membingungkan tertera di kertas yang dia keluarkan dari amplop tersebut. Tapi, satu hal yang dia tau dari tulisan itu. Yaitu nama penyakit yang sedang diderita putrinya.
"Anemia Aplastik, apa itu ?." Tanya Aly tak mengerti.
"Anemia Aplastik adalah salah satu jenis kelainan darah yang disebabkan oleh kegagalan sumsum tulang untuk menghasilkan sel darah. Pada kondisi ini, sumsum tulang tidak dapat memproduksi salah satu atau seluruh sel darah, termasuk sel darah merah, sel darah putih, dan platelet.
Ada dua penyebab anemia Aplastik, yaitu karena turunan dan di dapat.
Dan berdasarkan yang terjadi pada Keyya adalah merupakan penyakit keturunan." Affin menjelaskan.
Aly terasa lemas tak bertenaga mendengar penjelasan itu. Ternyata dugaannya benar jika apa yang dialami putrinya tidak lain karena bawaan dari ibunya. Tapi bagaimana bisa putrinya mengalami penyakit yang begitu serius diusianya yang masih sangat kecil ?!. Aly hanya bisa menjerit di dalam hatinya.
"Ly." Panggilan Affin membuat Aly mendongak.
"Cukuplah menjadi pelindung yang selalu ada untuk putrimu. Dia membutuhkan kehadiran keluarganya agar selalu semangat hidup." Affin menepuk-nepuk pundak Aly berusaha memberikan semangat.
Aly tersenyum kaku lalu mengangguk.
"Allah Maha Kuasa, apapun kehendak Nya, kita hanya bisa menerimanya." Ucap Affin lagi.
Tapi itu ternyata malah membuat hati Aly melemah, matanya mulai berkaca-kaca membayangkan bagaimana keadaan putrinya yang harus mengalami penyakit berbahaya diusia dini. Rasanya Aly tidak sanggup membayangkannya !.
__ADS_1
Affin juga ikut bersedih, tapi dia juga adalah manusia biasa. Dia memang diberi keahlian dalam hal penyakit, tapi niscaya itupun karena atas Kehendak Allah. Affin hanya bisa ikut berdoa saja yang terbaik untuk putri Aly.
"Ly."
"Fin, apa ini semua bisa diatasi ?, Apa ada obatnya ?, Atau apapun itu yang penting tidak menggangu pertumbuhan dan kesehatan Putriku ?!." Pertanyaan beruntun langsung saja diucapkan oleh Aly. Aly benar-benar sedang frustasi.
"Untuk saat ini kami akan memberikan terapi dengan obat-obatan untuk mencegah dan mengobati infeksi, menstimulasi sumsum tulang, ataupun menekan sistem imun untuk mencegah penyakit semakin berat.
Tapi, jika tindakan tersebut masih memerlukan lanjutan, Keyya harus menjalani transfusi darah untuk mempertahankan jumlah sel darah yang cukup untuk mempertahankan tubuh agar tetap sehat." Affin kembali memaparkan.
Aly menghembuskan nafasnya berat. Apakah dia tega melihat putrinya itu melakukan setiap perawatan yang disarankan oleh dokter ?. Rasanya Aly pasti tidak akan tega.
Affin kembali menepuk-nepuk pundak Aly. "Bersabarlah, pasti ada hikmah dibalik semuanya. Kita hanya seorang hamba yang hanya bisa berdoa meminta yang terbaiknya, yang penting kita berusaha dan serahkan semuanya kepada Yang Kuasa." Ucap Affin lagi.
Aly mengangguk.
"Berikan yang terbaik untuk Keyya. Kamu dan Nareena harus benar-benar lebih memperhatikannya."
"Iya, Fin."
"Iya."
Keduanya keluar dari ruang lab. Tapi sebelum melewati pintunya, Affin kembali berkata agar Aly dan Nareena tidak boleh menunjukkan kesedihannya di depan Keyya karena itu akan berpengaruh buruk terhadap kesehatan Keyya.
Saat keduanya sampai di depan pintu yang tadi dimasuki oleh Keyya dan Nareena, ternyata mereka berdua juga keluar dari ruangan tersebut.
Melihat wajah polos putrinya yang sedang digendong oleh sang istri, rasanya Aly tidak sanggup. Dia ingin menangis meluapkan segala kesedihannya. Dia ingin menangisi keadaan putrinya itu. Tapi Aly ingat kata-kata Affin sebelumnya jika dia tidak boleh melakukan itu semua dihadapan Keyya.
Aly tersenyum sambil mengusap lembut pipi putrinya. "Sudah selesai, periksanya ?." Tanya Aly pada putrinya.
Keyya mengangguk lemah. "Sudah." Jawabnya.
Aly kembali tersenyum. Diperhatikannya wajah putrinya yang terlihat pucat dan lemas.
Aly tiba-tiba mengambil alih tubuh mungil Keyya dari gendongan Nareena lalu memeluk tubuh putrinya dengan sangat erat. Bahkan matanya kini sudah berkaca-kaca tapi dia harus menahan tangisnya agar tidak keluar.
Nareena juga ikut berkaca-kaca. Dia yakin jika ada sesuatu yang buruk yang diketahui oleh suaminya itu tentang keadaan Keyya.
__ADS_1
Meski ditahan sekuat tenaga, nyatanya Aly tidak bisa menahan air matanya untuk tidak menetes dan berakhir membasahi kepala putrinya.
Keyya mendongak. "Ayah menangis ?." Tanya Keyya dengan wajah polosnya.
Aly terkesiap dan langsung mengusap air matanya lalu tersenyum. "Ehh, bukan sayang. Mata ayah kena debu." Ucap Aly berbohong.
Keyya menatap lekat wajah ayahnya seolah tak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Aly. Lalu setelah beberapa saat dia kembali menyenderkan kepalanya di pundak Aly. "Ayah..." Panggilnya manja. "Ayah jelek kalau nangis." Ucap Keyya membuat Aly tersentak.
Aly sudah tak kuasa menahan air matanya lagi. Dia memeluk erat tubuh putrinya dan menangis sejadi-jadinya di pelukan sang putri. Nareena juga mulai terisak di tempatnya.
Tak tau kapan datangnya Fyzha, dia sudah ada disamping Nareena dan membawa tubuh sepupunya itu ke dalam pelukannya. Mereka menangis terisak-isak di depan ruangan yang sangat steril itu.
Affin juga mulai berkaca-kaca tapi tidak sampai menangis. Dulu, dia adalah orang yang mungkin paling membenci Aly tapi kini, dia adalah orang yang sangat menyayangkan kisah kehidupan Aly.
Affin baru menyadari jika selama ini ternyata kehidupan seorang Aly sangatlah rumit dan kompleks. Saat masih bersama Alsya Aly dihadapkan dengan amanah yang malah menghancurkan rumah tangganya. Dan bersamaan itu juga dia kehilangan sosok kedua istrinya secara bersamaan dengan kondisi yang berbeda.
Lalu sekarang, setelah dia kembali menemukan kebahagiaannya bersama Nareena dan juga putrinya, Aly kembali dihadapkan pada kenyataan yang bahkan semakin menyakitkan. Putrinya yang bahkan ngomong pun belum terlalu lancar harus memiliki penyakit yang sangat membahayakan.
Suasana tangis yang memilukan itu selesai setelah beberapa menit lamanya.
"Ayo kita pulang ?!,." Ujar Aly kemudian.
Nareena mendekat ke arah suaminya dan Aly langsung mendaratkan kecupannya di puncak kepala istrinya lalu tangan kanannya menggenggam erat tangan Nareena. Sedangkan tangan kirinya masih menggendong tubuh mungil putrinya.
Ketiganya pamit pada Affin dan Fyzha untuk pulang ke rumah.
Sampai di mobil, Nareena meminta Aly agar meletakkan Keyya di pangkuan nya supaya kefokusan Aly ketika menyetir tidak terganggu.
Sepanjang perjalanan menuju rumah hanyalah diisi dengan keheningan.
"Mas, Keyya masih tertidur." Ucap Nareena setelah mereka sampai di halaman rumah.
Aly menoleh melihat wajah putrinya. "Tidak apa-apa, biar aku yang menggendongnya." Aly segera turun dari mobil dan memutar membuka pintu di samping Nareena lalu mengambil alih tubuh putrinya.
Nareena keluar dari mobil dan membuntut di belakang Aly yang masuk ke dalam rumah berlanjut ke kamar Keyya.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓
__ADS_1