Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Perhatian Affin


__ADS_3

Tidur Fyzha sedikit terganggu oleh suara-suara yang berasal dari luar kamar tersebut yang ternyata adalah di meja kerja Affin.


Fyzha duduk sambil mendengarkan percakapan mereka yang membuatnya penasaran. Fyzha sedikit melongok ke celah pintu kamar yang dibuka sedikit dan dia melihat ada Affin juga dua orang asing sedang berbincang serius.


Semua percakapan mereka didengar oleh Fyzha, tanpa terkecuali. Hati Fyzha sangat terusik oleh permintaan wanita tua itu yang meminta Affin untuk menjaga seorang gadis bernama Nadia.


Apakah dia tidak mikir dulu sebelumnya jika pria yang dititipkan nya itu adalah pria yang sudah beristri ?. Apapun alasannya seharusnya dia tidak mengatakan itu, bukan ?. Dia bisa saja membawa Nadia ikut bersamanya pindah, atau mungkin menyuruh orang lain saja. Aneh memang !. Itulah kiranya serantaian ucapan yang bersarang di kepala Fyzha.


Tapi Fyzha juga senang karena Affin tidak langsung mengiyakan dan memilih untuk berunding dulu bersama istrinya, yang tak lain adalah dirinya. Dan ucapan Affin itu sepertinya membuat wanita tua tersebut tidak senang tapi dia tidak bisa berbuat apa-apa.


Affin bukanlah orang yang sering mengambil keputusan tanpa berpikir panjang dulu, itulah yang Fyzha kenal dari sosok pria yang telah menjadi suaminya.


Fyzha kembali ke atas tempat tidur setelah melihat dua tamu Affin tadi keluar lagi.


Fyzha kembali memandangi bingkai foto pernikahan nya dengan Affin. Jika di rumahnya dia sudah terbiasa tapi disini, rasanya ada hal baru yang Fyzha rasakan saat melihat dua wajah yang sedang tersenyum terpaksa di gambar tersebut. Dan itu hanya Fyzha sendiri dan Tuhan nya yang tau.


Suara pintu terbuka membuat Fyzha menoleh.


"Aku kira kamu sudah pulang ?." Affin bertanya sambil mendekat dan duduk di tepi ranjang.


Fyzha sedikit menggeser tubuhnya agar tidak terlalu dekat dengan Affin. "Katanya sebentar tapi malah lebih dari satu jam." Fyzha berucap tanpa menoleh sedikitpun.


Affin memandang wajah Fyzha dengan tatapan bersalah. Dia sudah menduganya bahwa Fyzha pasti marah.


"Maaf, tadi terlalu banyak pasien yang harus aku tangani." Ucapnya tulus masih memandang wajah Fyzha.


"Hmm. Ya sudah, ayo pulang, udah sore." Fyzha bangkit dari duduknya.


Melihat pergerakan Fyzha, Affin segera menarik tangan Fyzha dengan sekali gerakan dan mengakhirkan Fyzha menjadi terduduk di pangkuannya.


Fyzha langsung memberontak ingin bangkit lagi tapi Affin malah menahannya. "Fin, apaan sih ?!, Lepasin gak ?." Sentak Fyzha dengan tatapan sengitnya.


Affin hanya acuh dan bersikap santai masih memeluk erat pinggang istrinya. "Apa kamu tadi kamu mendengar semuanya ?." Tanya Affin membalas tatapan Fyzha.


Fyzha terdiam kemudian mengangguk. Kini tatapannya sudah berubah tak setajam tadi.


"Lalu, apa kamu mengizinkannya ?." Tanya Affin.


"Kamu meminta pendapat ku ?." Fyzha malah balik bertanya.


Affin mengangguk. "Tentu saja, karena kamu istriku."

__ADS_1


"Tapi, hubungan kita..."


"Aku tau, aku hanya tidak ingin kamu salah faham, aku tidak perduli dengan hubungan kita yang seperti ini, aku hanya ingin menempatkan posisi ku yang sebenarnya sebagai seorang suami." Tatapan mata Affin sangat dalam.


Seketika Fyzha seperti tersihir oleh tatapan mata Affin, terlebih pada ucapannya.


"Seperti apa wanita bernama Nadia itu ?."


"Dia seorang gadis, umurnya dua puluh satu tahun."


Fyzha terdiam dengan tatapan kosong memperhatikan dirinya sendiri yang masih dalam posisi duduk di pangkuan Affin. Jika mereka adalah pasangan normal, mungkin posisi seperti ini adalah hal yang sangat romantis.


"Kalau boleh jujur, aku tidak ingin mengizinkanmu." Ucap Fyzha memberi jawabannya.


"Alasannya ?."


Fyzha semakin menunduk bahkan kakinya di ayun-ayunkan seperti anak kecil yang bahagia duduk di pangkuan ayahnya sambil memainkan kakinya. "Entahlah."


"Kamu cemburu ?." Tatapan mata Affin semakin lekat membuat Fyzha mulai salah tingkah.


"Fin... Lepasin tangannya, aku mau turun." bukannya menjawab, Fyzha malah mengalihkan pembicaraan.


"Jawab dulu nanti aku lepaskan."


Affin menarik sudut-sudut bibirnya dan terlihat seulas senyum simpul disana. "Fy, apa kamu mau memulainya dari awal ?, Kita jalani rumah tangga ini dengan semestinya."


"Aku masih belum yakin, Fin."


"Apa yang membuat mu belum yakin ?, Apa kamu memiliki seorang di hatimu ?."


Fyzha tak menyangkal maupun mengiyakan.


Affin mulai mengerti, jika Fyzha memiliki sesuatu di hatinya. Affin mulai melonggarkan pelukannya di pinggang Fyzha.


Fyzha sedikit tertegun saat tiba-tiba Affin langsung melepaskan tangannya. Fyzha menatap wajah Affin dengan perasaan bersalah. "Fin, maaf."


Affin tersenyum meski di matanya terlihat ada kekecewaan yang mendalam. "Tidak apa-apa, kamu berhak menempatkan siapapun di hatimu. Aku tidak akan melarangnya."


Fyzha semakin merasa bersalah. Dia turun dari pangkuan Affin dan duduk di sampingnya. "Aku belum bisa melupakannya, dia orang pertama yang berhasil mengusik hatiku, meski akhirnya aku hanya bisa memendamnya sendiri." Seperti tadi, kaki Fyzha yang menjuntai ke bawah di ayun-ayunkan seperti anak kecil.


"Aku tidak akan melarangmu."

__ADS_1


"Tapi kamu suamiku."


"Aku memang suamimu, tapi aku tidak bisa memaksamu. Jadi, jalani saja dengan semestinya, seperti biasanya." Affin tersenyum seolah dia sedang baik-baik saja padahal hatinya sedang kecewa.


Kisah Affin dan Fyzha sedikit ada kesamaan. Mereka mencintai seseorang yang kini sudah menjadi milik orang lain. Cinta mereka sama-sama tidak sampai pada keinginan, dan berakhir hanya sebagai angan.


Affin putus asa karena cinta hingga berakhir melakukan dosa bersama Fyzha. Begitupun dengan Fyzha yang setelah putus cinta hingga membuatnya seperti kehilangan arah lalu melakukan hal paling bodoh dalam hidupnya bersama Affin. Tapi keduanya tidak tau tentang hal ini, sebab mereka memilih diam.


"Sebaiknya kita pulang, ini sudah sore." Affin berdiri siap untuk keluar.


Fyzha ikut berdiri dan mereka berjalan berdampingan keluar dari ruangan tersebut. Dua-duanya tak ada yang mengeluarkan suara, bahkan ketika disapa oleh beberapa pegawai rumah sakit, mereka hanya menanggapinya dengan anggukan kepala dan tersenyum.


Di perjalanan di dalam mobil pun sama, mereka hanya terdiam di sepanjang perjalanan hingga sampai di rumah.


Fyzha segera masuk ke dalam kamar dan Affin malah menghempaskan tubuhnya di sofa ruang TV.


Tak lama, Fyzha kembali keluar dan langsung menuju ke dapur. Sudah kebiasaannya yang selalu memasak sendiri untuk dimakan mereka berdua. Bukan karena di rumah tidak ada pelayan, hanya saja, Fyzha sendiri yang meminta dibebaskan oleh oleh Affin agar dia bisa memasak sendiri makanannya karena itu juga merupakan kegiatan yang disukainya.


Dari ruang tv, Affin memerhatikan setiap pergerakan Fyzha saat memasak sambil dibantu oleh dua koki di rumahnya.


Selama sebulan ini, Affin memang sering diam-diam memperhatikan Fyzha yang yang sedang memasak, dan dia juga suka oleh cita rasa masakan Fyzha yang sangat cocok di lidahnya, membuatnya tidak ingin memakan masakan luar lagi.


Semakin lama memperhatikan Fyzha semakin membuat Affin tidak nyaman. Affin segera berdiri dan memasuki ruangan dapur untuk melihat Fyzha dari dekat.


Fyzha sedikit terperanjat melihat kedatangan Affin yang sangat tiba-tiba. Tapi, dia juga masih bingung harus bersikap bagaimana setelah kejadian di rumah sakit tadi.


Gerakan Fyzha sangat kaku karena grogi sebab Affin ada disana. Affin yang menyadari itu bersikap tenang-tenang saja bahkan sangat suka karena menjahili Fyzha adalah kegiatan favoritnya.


Affin mendekat ke arah kompor yang diatasnya ada sebuah panci yang sedang memasak sayuran. Affin melongok melihat isinya dan dia sedikit heran melihat sayuran aneh yang baru pertama kali dilihatnya.


"Ini apa, sayang ?." Tanya Affin kembali pada mode absurd nya.


Ceshh


"Aww !!."


Affin langsung berlari menyongsong istrinya mendengar dia menjerit. Affin mengambil jari Fyzha yang terluka karena pisau itu ke bawah guyuran air keran.


Fyzha meringis kesakitan saat lukanya tersiram air. Dia menatap lekat wajah Affin yang terlihat sangat khawatir.


"Kenapa ceroboh banget sih ?." Ucap Affin saat sedang membalut luka di jari Fyzha dengan plester.

__ADS_1


Fyzha hanya terdiam. Jika dia ingin, dia mungkin mengatakan bahwa itu karena ulah Affin yang tiba-tiba memanggilnya dengan sebutan sayang lagi. Padahal saat ini mereka sedang perang dingin. Kan Fyzha sangat kaget, sehingga tanpa sengaja mengiris jarinya sendiri.


Melihat Fyzha yang hanya diam saja dari tadi membuat Affin langsung menghentikan kegiatannya dan malah beralih menatap wajah istrinya.


__ADS_2