
Alsya telah meluapkan segalanya tanpa tersisa. Dia benar-benar marah karena rasa kecewa terhadap ayah dari anak-anaknya. Alsya melangkah pergi tanpa menghiraukan Aly yang masih berdiam diri di tempat.
Alsya sudah merasakan bagaimana ketakutannya Fazal saat dia berbicara keras tadi. Fazal bahkan masih memeluknya erat meski Alsya sudah tidak lagi berteriak keras.
"Fazal, sayang... Maafin ummi yaa,." Alsya mengusap-usap lembut punggung fazal untuk menenangkan ketakutan putranya itu.
Dari kejauhan, Alsya melihat sosok yang selama ini telah mengisi hidupnya dan Fazal. Sosok paripurna yang selalu bersedia menjadi penopang semangat dalam hidup Alsya. Pria yang tidak mempermasalahkan keadaan Alsya yang bahkan sudah bukan lagi gadis dan menyandang status janda anak tiga.
Sosok itu tersenyum manis sambil berjalan mendekat membuat Alsya membalasnya dengan senyuman yang sama.
"Aa' ?." Sapa Alsya masih belum mempercayai jika sosok itu ada disini.
"Aku sengaja kesini karena tadi kata Abah kalian lagi kesini." Ujar pria itu seakan menjawab apa yang sedang di pikirkan Alsya.
Mendengar suara itu, Fazal langsung mengangkat wajahnya dan terlihat sangat senang.
"Abi ?!." Pekik Fazal sangat girang dan langsung meminta digendong oleh pria yang dipanggilnya Abi itu.
Dengan senang hati, pria itu mengambil Fazal dari gendongan Alsya. "Anak Abi habis apa ?, Hem ?." Tanya pria itu menciumi pipi bocah yang sudah sangat disayanginya seperti anak sendiri.
Bukannya menjawab, Fazal malah menyusupkan wajahnya di dada bidang pria itu. "Abi... Fazal takut,.. umminya marah-marah..." Rengek Fazal mengadukan ketakutannya.
Pria itu menatap lekat wajah Alsya, seolah bertanya lewat tatapan matanya itu.
"Kami bertemu dengannya, tadi." Jawab Alsya memahami.
"Baiklah, ayo kita pulang ?!."
Layaknya sepasang suami istri mereka berjalan berdampingan dengan pria itu menggendong tubuh mungil Fazal. Mereka masuk ke dalam mobil pria itu karena Alsya tidak melihat lagi mobil Abah begitupun supir pribadi keluarganya.
Alsya masih tidak percaya sebenarnya, jika pria yang dulu dulu tidak dikenalinya sama sekali kini sudah resmi menjadi calon ayah sambung dari putranya. Alsya sangat ingat pertama kali mereka bertemu yaitu di kereta api saat perjalanan menuju ke kota Cirebon. Saat itu mereka bahkan duduk di kursi yang bersebelahan. Dan pertemuan keduanya saat pengajian rutinan di rumah Bu Ningrum yang ternyata merupakan orang tua pria itu.
Sosok itu tidak lain adalah Anand Haikal Ghuinandra, pria keturunan keluarga Ghuinandra dari kota Cirebon, dan memiliki usaha di luar kota atas kerja kerasnya sendiri tanpa melibatkan kekayaan keluarganya yang merupakan salah satu konglomerat nomor sekian di negara ini.
Saat Anand tau bahwa Alsya adalah seorang janda, disaat itulah sikap Anand mulai berbeda dan sangat perhatian terhadap Alsya dan Fazal. Ditambah, Bu Ningrum juga seringkali menjadi penyokong dibelakang Anand untuk selalu mendekati Alsya.
Alsya yang pernah trauma terhadap sebuah pernikahan sempat menolak perhatian Anand yang dirasa mulai berlebihan. Tapi ternyata itu semua tidak membuat Anand berputus asa, Anand malah semakin gencar mendekati Alsya dengan berbagai macam cara dan tentunya itulah yang membuat hati Alsya luluh.
Tepat setelah mereka semakin dekat, tanpa sepengetahuan Alsya, ternyata Anand beserta keluarganya datang menemui Abah untuk meminang Alsya. Saat itu Alsya yang ada di Cirebon hanya di telfon video call selama acara berlangsung dan saat itulah hubungan mereka menjadi lebih dekat. Bahkan Fazal pun mulai memanggil Anand dengan sebutan Abi.
"Loh, a'. Ini bukan jalan menuju rumah Abah ?." Alsya tersadar dari lamunannya saat melihat jalan yang berbeda dari seharusnya jika mereka ke rumah Abah.
Anand tersenyum. "Kita akan mengunjungi pembangunan rumah baru." Jawab Anand santai.
Alsya sedikit bingung. "Rumah siapa ?." Tanyanya penasaran.
__ADS_1
"Yah rumah kita lah sayang."
Deg.
Jantung Alsya seakan langsung berhenti berdetak saat mengetahui fakta itu. Bukan pasal rumahnya, tapi tentang ucapan Anand yang memanggilnya dengan sebutan sayang karena ini untuk pertama kalinya Anand berkata seperti itu.
Alsya segera memalingkan wajahnya ke arah jendela. Dia tidak ingin menunjukkan wajahnya yang pastinya sedang merona pada Anand. Dan tanpa sepengetahuan Alsya, saat ini Anand sedang tersenyum manis dengan mata sesekali melirik ke arah Alsya.
Mereka sampai di bangunan rumah yang masih setengah jadi. Alsya melihat sekelilingnya yang terlihat banyak kuli bangunannya dengan tugasnya masing-masing.
Rumah ini, meski belum selesai pembangunannya, bisa dilihat jika rumah ini sangat besar dan bergaya modern. Alsya mendongak menatap wajah Anand. "Aa'." Panggilnya.
Anand menoleh. "Hemm ?."
"Kenapa ?."
"Apa maksudmu ?."
"Yah kenapa aa melakukan ini semua ?."
Bukannya menjawab pertanyaan Alsya, Anand malah memalingkan wajahnya dari wajah Alsya kemudian melangkah pergi sambil menggendong Fazal
Alsya mendengus kesal. "Dihh, malah pergi ?!." Dengus Alsya semakin kesal tapi juga mengekor di belakang Anand.
Anand berjalan menghampiri arsitek sekaligus penanggung jawab pembangunan rumahnya, yang merupakan salah satu pegawai di perusahaan pusat Ghuinandra yang terletak di Bandung.
"Siang, bagaimana perkembangannya ?."
"Sejauh ini semuanya berjalan dengan lancar, tuan. Dan untuk penyelesaian pembangunannya, bisa diperkirakan akan selesai sebelum waktu yang telah ditentukan."
Anand mengangguk mengiyakan. "Syukurlah, kapanpun tidak masalah, yang penting jangan sampai melewati batas waktunya."
"Baik, tuan. Mari, apakah kalian akan melihat-lihat pembangunannya ?." Tawar orang itu ramah.
Anand menoleh ke arah Alsya. "Kamu ingin melihatnya ?." Tanyanya pada Alsya.
Alsya tampak ragu tapi kemudian mengangguk. Akhirnya dengan dipandu oleh si penanggung jawab mereka berjalan melihat-lihat pembangunannya dan setelah kurang lebih satu jam, Anand mengajak calon keluarga kecilnya pergi dari tempat menuju satu tempat yang hampir saja ditolak Alsya jika Anand tidak memaksa.
"Kamu mau makan apa ?." Tanya Anand tapi tak Alsya malah tidak merespon sama sekali.
"Al." Panggil Anand dengan suara rendah.
Alsya hanya meliriknya sekilas lalu kembali memalingkan wajahnya lagi. "Tidak lapar." Ucapnya datar.
Seperti inilah sikap Alsya yang sekarang. Bersama Anand dia selalu bersikap manja dan sedikit kurang menurut padahal saat dulu bersama Aly, Alsya selalu bersikap lemah lembut dan selalu menurut apapun yang dikatakan Aly. Entah kenapa berbeda, tapi yang jelas saat bersama Aly yang Alsya lakukan itu adalah sebuah ketaatan terhadap sosok suami meski kadang sebenarnya dia tidak cocok dengan apa yang Aly katakan dan singkatnya, sikap Alsya dulu adalah terpaksa.
__ADS_1
Berbeda dengan Anand, saat mereka semakin mengenal, Anand sangat memahami sikap asli Alsya yang aslinya sangat cerewet dan berperan berbanding terbalik dari yang semua orang lihat. Tapi Anand malah menyukai itu semua bahkan saat mereka sudah menjalin sebuah hubungan, Anand mengatakan jika Alsya tidak boleh membohongi diri sendiri lagi, dan menyuruhnya untuk menunjukkan apa yang dia suka dan tidak sukanya.
Sikap Alsya sangat berbeda pada dua orang itu.
"Baiklah, Kalau kamu tidak lapar, aku sama Fazal saja yang makan. Fazal, kamu mau apa nak ?." Anand beralih menatap Fazal yang duduk di pangkuannya.
"Aku mau sosis." Jawab Fazal antusias saat melihat buku menunya ada gambar sosis bakar mayonaise.
"Minumnya juz strawberry ?." Tanya Anand lagi dan Fazal mengangguk antusias karena itu adalah minuman kesukaannya.
Fazal memesan makanan pilihannya juga menambah salah satu makanan yang merupakan kesukaan Alsya. Alsya melirik sekilas saat mendengar makanan kesukaannya disebutkan tapi rupanya Anand terlihat biasa-biasa saja.
Setelah menunggu, akhirnya pesanan datang dan mulai ditata rapi di atas meja. Fazal dengan semangat meminum air putih lalu mulai menusuk sosisnya. Anand juga mulai menikmati makanannya tanpa ada niat sedikitpun menawari Alsya. Sengaja memang !.
Alsya mendengus kesal dan menatap tajam wajah Anand.
"Kenapa ?." Tanya Anand sedang menikmati cumi merahnya, makanan yang sangat disukai Alsya.
"Ihh, nyebelin tau gak ?. Kanapa pesennya cuma satu ?." Rengek Alsya mulai ngambek.
Dia memang tidak lapar dan sedang mengambek karena Anand tadi memaksa untuk mampir ke restoran padahal dia sedang ingin langsung pulang ke rumah. Tapi saat melihat betapa nikmatnya makanan itu, Alsya jadi kepengen dan mendadak perutnya sangat lapar.
"Tadi katanya tidak lapar ?." Tanya Anand sok polos. Padahal dihatinya sedang tertawa puas.
"Nggak, sekarang aku lapar." Ucap Alsya masih mode mengambek.
"Ya udah, sana pesan sendiri."
Alsya menatap jengah wajah calon suaminya itu. "Kok aku sih ?." Sewotnya lagi.
"Yah kan kamu yang lapar, lagian tadi ditawari gak mau.?."
"Sudahlah, sekalian aja tidak usah !." Ujar Alsya akhirnya dengan menyenderkan punggungnya kesal.
Baru saja Alsya menyenderkan punggungnya seorang pelayan restoran datang sambil membawa sebuah nampan yang berisi makanan dan minuman kesukaan Alsya. Alsya spontan menegakkan kembali posisi duduknya dan menatap tajam wajah Anand. Rupanya Anand tidak benar-benar tega. Dia telah memesan makanan untuk Alsya tapi dengan sengaja memintanya sedikit telat untuk diantarkan ke meja.
Alsya tidak ingin menghiraukan tatapan Anand dan juga Fazal. Dia dengan santai menikmati makanannya.
"Ummi tadi katanya nggak lapar ?." Tanya Fazal polos. Sepertinya Fazal tadi terlalu fokus pada makanannya sehingga tidak mendengar bahwa Alsya sudah mengatakan lapar.
Alsya hampir tersedak oleh makanan yang sedang melewati tenggorokannya. Putranya memang tidak tau situasi !. Alsya menatap sinis wajah Anand yang terlihat menahan tawanya.
"Ayo, cepetan dimakan. Jangan ngeliatin aku terus." Ujar Anand tiba-tiba.
Tangan Alsya sudah gatal ingin mencubit lengan Anand, tapi dia tahan karena mereka masih belum menikah.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓