
Aly pulang setelah beberapa menit mereka mengobrol ringan. Dan sebelum pulangnya dia sempat menyentuh anak-anaknya sebentar untuk menghilangkan kerinduannya yang selama ini menyiksa bathin dan raganya.
Aly pulang dengan hati yang berkecamuk resah dan perasaan yang entah bisa disebut bagaimana ?. Tapi yang jelas, dia sudah tenang karena putrinya telah ketemu meski masih belum bisa dia ajak pulang ke rumahnya.
Bertepatan saat belok di pertigaan jalan yang masih dekat dengan rumah Anand, Aly berpapasan dengan sebuah mobil yang sangat dikenalnya.
"Bukankah itu Nareena ?. Pasti dia akan mengunjungi rumah sepupunya." Gumam Aly tanpa sadar.
Aly masih fokus pada jalanan beraspal menuju ke rumahnya. Setelah mencoba kembali ke dirinya yang lebih baik lagi, Aly memang tidak pernah lagi kembali ke apartemennya. Dia memilih untuk tinggal lagi di rumahnya yang pernah dikosongkan sebelumnya.
Disana, dia juga pernah tinggal bersama Charyra selama beberapa hari, tapi setelah Charyra memutuskan untuk keluar negeri untuk ikut tinggal bersama Melvin, Aly kembali sendiri di rumahnya yang selalu saja terasa sepi.
Sampai di rumah, Aly segera membersihkan diri.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Setelah kepergian Aly yang baru saja beberapa menit lalu, rumah Anand kembali didatangi oleh tamu yang kini tak di undang.
"Ngapain kesini ?." Tanya Anand sengit.
Yah, mereka memang tidak pernah akur meski hanya sejam saja. Sekalinya bertemu, akan selalu ada kehebohan di antara keduanya tapi setelahnya mereka akan akur dan setelahnya lagi akan terjadi keributan lagi. Terus seperti itu tanpa ada yang mau meleraikan nya.
"Huhh, punya sepupu ngeselinnya tingkat dewa !. Ada tamu itu yah disuruh masuk, bukan di semprot di depan pintu !." Ujar Nareena sambil berjalan menyelonong begitu saja tanpa memperdulikan sang tuan rumah yang masih berdiri di ambang pintu.
Anand jelas langsung mengeluarkan taringnya seperti biasa saat berhadapan dengan Nareena.
"Tanpa disuruh masuk pun, kamu langsung nyelonong aja." Ucap Anand sinis.
"Terserah. Ehh iya, mana kakak ipar ?." Nareena menghempaskan tubuhnya ke sofa ruang beranda. Yah, tamu lucnut yang datang tidak di undang dan bersikap di rumah orang seenaknya saja seperti di rumah sendiri.
"Di kamar."
"Oh, lalu Fazal mana ?."
"Lagi mandi." Anand ikut duduk di sofa yang masih kosong dari kekuasaan adik sepupu lucnutnya.
Jangan ditanya bagaimana raut wajah Anand saat ini, karena yang jelas, setiap kali bertemu dengan Nareena moodnya langsung ambruk begitu saja. Padahal sebenarnya Nareena juga adalah adiknya yang sangat dia sayangi selain Fyzha.
"Kak, mau curhat dong..."
Anand langsung melirik sinis. Panggilan maut jika ada maunya !. "Maaf, bukan Mama Dede yang ngeladenin orang curhat dong !." Ucapnya Anand datar.
"Ihh, ngeselin banget sih !!."
Sebuah bantal sofa berhasil mendarat di wajah Anand karena Anand tidak sempat untuk menghindar. Tapi dia segera mengambilnya kemudian melemparkannya kembali ke arah Nareena. Dan tidak kena karena Nareena lincah menghindarinya.
"Anand !, Sudahlah. Aku datang kesini mau curhat dibilang !." Seru Nareena tidak ingin memperpanjang perdebatan unfaedah mereka.
__ADS_1
Oke, kali ini Anand lagi baik hati jadi dia bisa menjadi teman curhat adiknya itu.
"Oke, mau curhat apa ?." Anand menegakkan kembali posisi duduknya dan menatap serius ke arah Nareena.
"Nah, gitu dong !."
"Iya, cepetan apa ?."
"Ihh, yah bentar dulu lah, orang curhat itu yah harus siapin mental dulu biar lebih dramatis nanti."
"Apaan kaya gitu ?!. Sudah ayo mau curhat apa ?, Kalau lama aku tinggal ke kamar." Ancam Anand menatap tajam wajah adiknya.
"Oke oke, baperan banget sih jadi laki. Pengantin baru memang beda aja, bawaannya pengen di kamar terus berduaan sama istri..." Gumam Nareena dengan ekspresi wajah sangat menyebalkan.
Anand tidak tuli, dan dia mendengar ucapan Nareena. Anand langsung bangkit berdiri kemudian melangkah pergi.
"Anand !, Woyy !, Mau kemana ?!, Aku belum curhat !!." Teriak Nareena melihat Anand yang malah pergi begitu saja.
"Terserah !, Pulang aja sana !!." Anand menjawab tanpa menoleh sedikitpun dan dia langsung memasuki lift menuju ke kamarnya.
"Apa dia sudah pergi ?." Tanya Alsya saat melihat Anand memasuki kamar.
"Iya, sudah dari tadi."
"Lalu, apa Keyya ikut bersamanya ?."
Terlihat Alsya menghela nafas lega.
"Kenapa ?, Kamu kayanya seneng sekali Keyya tidak dibawa Aly ?."
"Tentu saja, aku sudah sangat menyayanginya seperti anakku sendiri."
Anand tersenyum dan mendekati tubuh istrinya kemudian memeluknya erat. "Tapi Aly akan sering kesini nantinya untuk menemui Keyya." Ucapnya tepat di dekat telinga Alsya.
"Kamu mengizinkannya ?."
"Tentu saja, bahkan itu adalah ide ku."
"Tapi nanti dia juga akan sering bertemu dengan Fazal dong...?!."Alsya kembali merajuk dengan wajahnya yang kini berubah masam.
"Sayang, hey. Harus berapa kali aku memberitahumu ?, Aly adalah ayah kandungnya Fazal, wajar jika Aly ingin bertemu dengan anaknya, sayang."
"Tapi, nanti bagaimana kalau dia mengambil anakku lagi seperti yang dulu dia lakukan kepada anak pertamaku ?!."
"Tidak, itu tidak akan pernah terjadi lagi. Fazal tidak akan pernah ikut dengannya karena dia pasti tidak akan mau meninggalkanmu." Ucap Anand selalu sabar menghadapi sikap Alsya yang terlalu over thinking jika bersangkutan dengan Fazal, putranya.
Yah, sebagai ibu yang mengurus anaknya seorang diri dari baru dilahirkan hingga tumbuh menjadi anak yang lucu dan menggemaskan, tentu saja wajar Alsya merasakan ketakutan yang teramat sangat jika haru kehilangan sosok putranya itu.
__ADS_1
"A'...." Alsya memeluk tubuh suaminya.
Anand membalasnya, memeluk tubuh Alsya untuk menenangkannya.
Tok
Tok
Tok
"A'. Ada siapa ?." Tanya Alsya penasaran.
"Pengganggu."
"Pengganggu ?, Maksudnya siapa ?, Mungkin itu adalah pengasuh Fazal atau Keyya. Sebentar, biar aku saja yang menemuinya." Alsya melepaskan pelukannya dan hendak turun dari tempat tidur tapi Anand langsung memeluknya kembali tak membiarkannya turun.
"Sudah biarin, itu bukan pengasuh anak-anak."
"Emangnya aa' tau ?,"
"Iya, tau. Itu pasti Nareen." Jawab Anand sedikit malas.
"Nareena ada disini ?, Kok aa' nggak ngomong-ngomong sih kalau ada tamu ?!."
"Yah emang sengaja, lagian tamu tidak di undang." Jawab Anand begitu santainya.
"Ihh, yah nggak boleh seperti itu, aa' sayang... Sudah ahh, aku mau menemuinya." Alsya kembali mencoba lepas dari pelukan tangan suaminya dan kali ini Anand membiarkannya.
Alsya turun dari ranjang dan bergegas membuka pintu kamar.
"Assalamualaikum, kakak ipar...!." Seru Nareena langsung heboh dan memeluk Alsya tiba-tiba.
"Waalaikumsalam, Nareen." Alsya membalas pelukannya.
"Kakak apa kabar ?, Pasti tersiksa ya hidup bersama Anand ?!, Dia pasti mengurungmu di kamar terus, kan ?!." Cerocos Nareena tanpa jeda.
Anand yang mendengarnya hanya langsung melotot melihat wajah adik sepupunya itu.
Lain lagi dengan Alsya yang hanya tersenyum menanggapi ucapan adik ipar sepupunya itu. "Tidak, Nareen. Aku bahkan sangat bahagia bisa hidup dengan kakak sepupu kamu." Ucap Alsya dengan suara yang selalu melelehkan hati setiap orang yang mendengarnya, termasuk Nareena si bawel tingkat Dewi.
"Oh, syukurlah kak. Ya sudah, yuk ahh turun ?!, Capek berdiri terus ."
"Iya, yuk ?!."
Keduanya berjalan beriringan meninggalkan Anand yang masih di kamar menuju lantai bawah.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓
__ADS_1