Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Doa terbaik ibu


__ADS_3

Keluar dari ruangan itu, sikap Fyzha tiba-tiba berubah. Dia menjadi dingin dan tidak banyak bicara. Bahkan saat mereka kembali ke ruangan Affin untuk mengambil tas Fyzha disana sebelum pulang pun, Fyzha langsung menolak saat Affin menawarkan untuk dia istirahat dulu di sana.


Lalu sekarang, di sepanjang lorong rumah sakit, mereka berdua berjalan berdampingan dengan hanya bertemankan suara derap kaki melangkah.


Affin menarik tangan istrinya. "Sayang, kamu kenapa kok dari tadi diam terus ?." Tanya Affin karena sudah tak tahan ingin tau kenapa sikap istrinya yang tiba-tiba berubah.


"Tidak ada apa-apa." Fyzha menjawab singkat lalu kembali melanjutkan langkahnya.


Affin memilih mengalah dan ikut diam hingga mereka sampai di rumah, barulah dia akan bertanya lagi apa yang membuat Fyzha langsung berubah drastis seperti itu. Padahal, seharusnya Fyzha sangat senang bukan, karena mereka baru saja mendapat kabar bahagia atas kehamilannya ?.


Setelah melakukan perjalanan, mereka akhirnya sampai di rumah. Dan kali ini Affin sudah sangat kesal pada sikap Fyzha yang dadi tadi hanya diam saja.


Affin memeluk tubuh Fyzha sangat erat setelah mereka sampai di dalam kamar. "Katakan, apa yang membuatmu sampai seperti ini ?. Apa... Kamu tidak suka karena kehamilanmu ?." Tanya Affin terdengar sangat lembut.


Fyzha menggeleng dan sekarang air matanya malah meluncur bebas. Affin semakin mengeratkan pelukannya.


"Lalu apa ?. Aku bukan pria peka sayang, aku tidak bisa menebak apa yang sedang kamu pikirkan."


Fyzha semakin terisak-isak. "Aku gak suka... Sudah cukup Nadia yang pernah hampir membuatmu lupa... Aku tidak mau ada lagi..." Rengeknya semakin meraung-raung.


Affin akhirnya mengerti. Dia jadi ingat ucapan temannya tadi di rumah sakit yang berbicara seolah mereka sangatlah dekat. Tidak, mereka hanyalah seorang teman biasa. Tidak lebih.


"Kamu tidak suka kalau aku dan dokter tadi dekat ?."


Fyzha mengangguk.


Affin tersenyum. "Kami hanya teman yang kebetulan pernah kuliah bareng. Kami tidak akan pernah lebih dari teman, dan dia juga sudah memiliki suami sayang..."


Fyzha langsung tertegun dan spontan menatap wajah suaminya tapi tanpa mengatakan apapun.


"Kamu tidak percaya lagi?."


"Kamu tidak berbohong kan ?."


"Demi Allah, aku tidak berbohong. Dia memang sudah memiliki suami dan sekarang dia juga sedang hamil anak ke duanya."


"Dia juga sedang hamil ?."

__ADS_1


"Iya."


Seketika, wajah Fyzha langsung cerah lagi. Fyzha menelusupkan kembali wajahnya di dada Affin. "Aku hanya tidak mau sesuatu yang pernah terjadi pada kak Alsya terjadi juga padaku."


"Astaghfirullah... Tidak akan. Sampai kapanpun aku tidak akan melakukan hal bodoh itu sayang. Istri satu saja tidak pernah habis ngapain mau nambah lagi ?." Affin mengakhiri ucapannya dengan kekehan kecil.


Tangan Fyzha langsung bereaksi mencubit perut Affin.


"Ehh, kok di cubit sih ?." Protes Affin.


Fyzha mendongak. "Memangnya aku makanan bisa habis ?." Sewotnya tak terima.


Affin kembali terkekeh. "Buktinya tiap malam kamu aku makan." Affin menarik-turunkan alisnya.


"Affin...!."


"Hahaha !!."


Bahagia. Sesederhana itu untuk sepasang suami istri. Meski cara mendapatkan kebahagiaan tidak sama, tapi kadar takaran kebahagiaan itu masih memiliki timbangan yang sama. Dan, yang paling penting adalah untuk mengeratkan hubungan antara keduanya.


✓✓✓✓✓✓✓


"Kamu mau makan apa, mas ?." Nareena baru keluar dari kamar putrinya setelah menemani Keyya istirahat siangnya.


"Apa saja, terserah kamu mau masak apa hari ini ?."


"Aku lihat bahan-bahannya dulu."


Keluarga kecil yang sedang mencoba menjadi keluarga yang mandiri. Nareena sudah memutuskan untuk mengerjakan semua pekerjaan rumahnya sendiri tanpa ada lagi pembantu karena dia berpikir bahwa rumah mereka juga kecil jadi dia masih bisa mengatasinya sendiri.


Aly mengekor di belakang istrinya yang akan menyibukkan diri di dapur.


"Mas, adanya cuma ini."


"Tidak apa-apa, seadanya saja dulu. Nanti Soreang kita ke supermarket untuk membeli bahan-bahan baru."


Nareena mengangguk lalu memulai memasaknya dengan dibantu Aly yang memang juga bisa masak sebab bakat dari saat dia di pesantren.

__ADS_1


Keduanya membagi tugas untuk memasak agar bisa cepat diselesaikan. Dua puluh menit akhirnya makanan telah tersaji di meja makan. Tapi Nareena masih menyibukkan diri memasak makanan khusus untuk putrinya karena pola makan Keyya memang sudah harus sangat diperhatikan.


"Mas, makan duluan aja, aku masih belum selesai masaknya." Seru Nareena meminta suaminya itu agar tak menunggunya karena dia juga masih lumayan lama.


Aly tidak suka jika harus seperti itu. Dia tidak mungkin bisa makan lebih dulu jika istrinya itu masih sangat sibuk. Aly bangkit dan berdiri di samping Nareena.


"Biar mas aja yang lanjutin. Kamu saja yang makan duluan." Aly mengambil centong yang sedang dipegang oleh Nareena.


"Tidak usah, mas aja yang duluan." Nareena mengambil lagi centong nya.


"Nareen." Aly menatap tajam wajah istrinya itu. "Kamu tidak boleh kelelahan, ingat kondisi kamu sekarang." Ucapnya lagi mengingatkan.


Nareena tak merasa bersalah sama sekali dan malah tersenyum. "Dia anak yang baik, mas. Tidak mungkin merepotkan ibunya." Ucapnya sambil mengusap-usap lembut perutnya sendiri.


Yah, saat ini, Nareena juga sedang mengandung dan usia kandungannya sudah menginjak umur tiga bulan. Tapi selama kehamilannya, Nareena tidak pernah mengalami masa seperti yang sering terjadi pada orang hamil lainnya. Nareena sangat baik-baik saja dan hanya nafsu makannya saja yang kini bertambah.


Aly menghembuskan nafasnya berat. "Kalau kamu tidak nurut, besok aku akan mencari pembantu lagi." Ancaman Aly kali ini akhirnya berhasil.


Nareena menurut dan melangkah pergi menuju ke meja makan dan duduk di kursinya. Tapi tidak sampai makan, dia hanya duduk dan memperhatikan suaminya yang kini sibuk memasak.


"Mas, kenapa kamu tidak jadi koki aja ?, Padahal masakan mas Aly sangat sedap." Seru Nareena dengan suara yang sedikit keras karena posisi mereka yang sedikit berjauhan.


Aly terkekeh mendengarnya. "Masakan ku tidak seenak masakan seorang koki di hotel bintang lima." Aly melirik sekilas ke arah Nareena.


Nareena terdiam. Memang benar, masakan Aly sangat enak tapi itu semua tidak bisa menandingi masakan Nareena. Sebab, Nareena merupakan seorang yang pernah jadi koki di restoran terbaik di hotel bintang lima pada masa remajanya. Nareena juga pada masa sekolah SMK nya mengambil jurusan tata boga dan mengambil kursus memasak sebelum kuliahnya.


"Kamu sangat berlebihan, mas." Ucapnya dengan wajah memerah karena pujian Aly. "Aku ke kamar Keyya dulu, mas."


"Iya."


Nareena masuk ke dalam kamar putrinya dan mendekati putrinya yang masih tertidur nyenyak di atas tempat tidurnya.


Nareena pandangi wajah polos nan cantik Putrinya itu. Wajah yang memiliki garis sama seperti wajah seseorang di sebuah foto yang pernah ditunjukkan oleh Aly yang merupakan ibu kandung dari Keyya sendiri.


Terdapat aura terang kala menatap wajah putrinya itu yang tidak pernah dia lihat pada siapapun. Aly juga pernah mengatakan jika Keyya memiliki keistimewaan yang dimiliki oleh keluarga dari ibunya yang tidak dimiliki oleh Halimah.


"Semoga Allah selalu memberimu kesehatan, sayang." Nareena mengecup kening Keyya dengan penuh kelembutan dan kasih sayang.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2