
Pagi-pagi sekali, Anand dibuat khawatir dengan keadaan Alsya yang semakin hari semakin memburuk.
Dari bangun tidur, Alsya tidak berhenti untuk bolak-balik ke kamar mandi untuk memuntahkan isi dalam perutnya yang masih kosong dan hanyalah cairan bening.
Baru beranjak ke tempat tidur dan istirahat selama kurang dari lima menit, Alsya kembali lari ke kamar mandi dan kembali muntah-muntah.
"Sudah selesai ?." Anand begitu telaten dan sabar mengurus Alsya yang akhir-akhir ini sering muntah-muntah. Apalagi di pagi hari, bahkan Alsya harus berakhir tak sadarkan diri karena terlalu banyak mengeluarkan cairan dari perutnya.
Anand menuntun tubuh lemas istrinya dan mendudukkannya di tepi ranjang. Anand berjongkok di hadapan Alsya dengan tangannya menggenggam kedua tangan Alsya dan sesekali menempelkannya ke bibir.
"Mau ya di periksa ?." Ucap Anand entak untuk yang ke-berapa kalinya membujuk Alsya agar periksa ke rumah sakit.
Alsya selalu saja menolaknya jika diajak periksa dan akan mengatakan jika kemungkinan dia masih dalam pengaruh efek naik pesawat juga maag nya yang kambuh.
Berawal dari saat di bandara dan berlanjut hingga saat ini, Alsya dalam keadaan tidak sehat dan itu semakin membuat Anand khawatir pada istrinya.
Alsya akhirnya mengangguk pasrah. Dia juga sudah lelah dengan keadaannya sekarang.
"Mau dipanggil dokternya kesini apa kita yang ke rumah sakit ?." Tanya Anand menawarkan.
"Ke rumah sakit aja."
"Baiklah,."
Anand membantu Alsya memakaikan kerudungnya sja karena saat ini Alsya juga sedang memakai pakaian panjang.
Sebelum pergi, Anand memberitahu pengasuh-pengasuh anak-anak untuk memberitahu mereka bahwa orang tuanya sedang keluar dulu.
Selama perjalanan, Alsya terlihat nyaman sekali memperhatikan keadaan di luar mobil dari balik kaca jendela yang dibuka. Sesekali matanya terpejam karena sedang menikmati semilir angin yang berhembus menerpa wajahnya.
Akhirnya sampai di rumah sakit. Anand menggandeng tangan mungil istrinya masuk ke dalam rumah sakit dan berlanjut mengambil antrian untuk melakukan pemeriksaan. Setelah menunggu kurang lebih setengah jam, nomor yang di ambil Alsya dipanggil. Anand dengan sabar menuntun Alsya masuk ke dalam ruangan.
"Selamat datang, siapa yang sakitnya ?."
"Saya dok."
"Baiklah, duduk dulu." Dokter itu membantu Alsya duduk di kursi untuk melakukan pemeriksaan.
"Keluhannya apa ?." Tanya dokter itu sambil memeriksa detak jantung Alsya.
"Dia muntah-muntah terus, sudah lima hari ini dok. Apalagi jika di pagi harinya yang muntah-muntah sangat parah." Anand menjelaskan.
Dokter itu tersenyum memaklumi sikap perhatian Anand pada istrinya.
"Apa kepalanya pusing ?." Tanya dokter itu lagi.
__ADS_1
Alsya menggeleng. "Tidak, dok."
"Datang bulannya lancar ?."
Alsya terdiam dan tak lama dia mengangkat wajahnya menatap wajah suaminya. "A' ." Panggilnya lirih setelah mengingat sesuatu.
"Terakhir kamu sucian bulan kemarin, kan sayang ?." Tanya Anand pada istrinya.
Alsya mengangguk mengiyakan. Alsya kembali melihat wajah dokternya. "Dok, apa ada sesuatu dalam diri saya ?." Tanyanya antusias.
Dokter itu tersenyum ramah. "Saya tidak bisa memprediksinya, tapi dadi apa yang dialami nyonya memang seperti tanda kehamilan. Anda bisa membuat jadwal dengan dokter kandungan disini."
Anand dan Alsya membekap mulutnya sendiri-sendiri karena sangat terkejut bukan main. Kabar bahagia yang sudah ditunggu-tunggu oleh mereka akhirnya datang juga. Bahkan mata Anand terlihat memerah karena menahan air mata harunya. Anand langsung memeluk erat tubuh istrinya.
"Terima kasih, dok. kami akan langsung menemui dokternya."
"Iya, kalian harus memeriksakannya dulu ke dokter kandungan untuk lebih jelasnya."
"Iya, dok. Terimakasih."
"Sama-sama."
Anand menuntun Alsya keluar dari ruangan tersebut dan kembali duduk di ruang tunggu dekat ruangan dokter kandungan yang selama ini membantu Alsya dalam proses kehamilan.
"Assalamualaikum..." Ujar Alsya dan Anand bersamaan saat memasuki ruangan dokternya.
"Waalaikumsalam, silahkan..." Dokter Syifa tersenyum ramah menyambut kedatangan mereka. "Yang baru liburan akhirnya terlihat juga." Seloroh dokter itu membuat candaan.
Anand dan Alsya tersenyum menanggapinya.
"Kita langsung mulai saja pemeriksaannya, ya ?." Dokter itu mulai menyiapkan perlengkapan medisnya.
"Dok." Panggil Alsya mengehentikan gerakan dokter itu.
"Iya, nyonya ?."
"Kami kesini untuk memastikan sesuatu." Anand bersuara.
"Maksudnya bagaimana ?." Dokter Syifa terlihat kebingungan.
"Tadi Alsya baru saja diperiksa karena kami mengira dia sedang sakit karena sudah beberapa hari ini muntah-muntah terus, tapi menurut penuturan dokternya Alsya tidak sakit apa-apa."
Dokternya langsung tersenyum. "Kita lakukan pemeriksaan ya ?, Semoga saja yang kalian harapkan terwujud." Ujarnya lembut.
Anand dan Alsya mengangguk dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
Alsya melakukan pemeriksaan khusus untuk melihat kondisi rahimnya. Dan pemeriksaan saat ini ditambah dengan USG 4D untuk melihat bagian dalam rahimnya.
Gel yang terasa dingin dioleskan pada perut Alsya lalu setelah merata dokter Syifa mulai menggerakkan alat USG di permukaan kulit perut Alsya.
"Kita lihat ya ?,." Alat itu bergerak mengelilingi permukaan kulit perut Alsya. "Masya Allah... Lihatlah Titik-titik itu." Ujar dokter Syifa meminta Anand dan Alsya memperhatikan layar monitor yang memperlihatkan gambar tak jelas. Buram dan tak beraturan. Mendengar kata titik-titik, Alsya dan Anand mencari keberadaan letak Titik-titiknya. Dan ketemu !.
Disana ada tiga titik Hitam dengan ukuran yang berbeda-beda. Ada yang sedikit lebih besar, sedang dan terlihat samar-samar.
"Itu adalah bakal janin yang akan tumbuh di rahim nyonya Alsya." Ucap dokter Syifa memberikan keterangan.
Alsya dan Anand tak kuasa menahan rasa harunya. Mata Alsya sudah berembun dan sesekali air matanya meluncur dari sudut-sudut matanya. Anand juga tak kuasa menahan air matanya yang kini mulai menggenangi pelupuk matanya. Tangan Anand menggenggam erat jemari lentik istrinya.
"Aa' dia ada di sana... Dia datang..." Alsya membekap mulutnya sendiri karena sangat bahagia.
"Iya, sayang. Allah menurunkan amanahNya pada kita." Hati Anand menghangat memperhatikan calon buah hatinya.
"Dok kenapa disana ada tiga titik ?." Tanya Alsya penasaran.
"Satu titik untuk satu janin, mereka kembar tiga." Ucapan dokter Syifa semakin membuat Anand dan Alsya terkejut bukan main.
"Masya Allah... Subhanallah..." Tak henti-hentinya Anand berdzikir.
"Usia kandungannya sudah mencapai dua Minggu lebih. Jika ingin mendengarkan detak jantung mereka, kalian bisa melanjutkan USG pada bulan ke tiga." Dokter Syifa kembali menjelaskan.
"Baik, dok. Kami akan mengikuti sesuai jadwal yang ditetapkan saja." Anand menjawab.
Dia sangat bahagia. Tidak disangka ternyata usaha mereka membuahkan hasil yang diluar ekspektasi. Kembar tiga adalah hal yang tak pernah terduga bagi Anand dan Alsya !.
Pemeriksaan selesai. Anand membantu Alsya kembali duduk. Dia tidak pernah lepas menggenggam tangan istrinya saat ini.
"Selamat ya nyonya, tuan... Akhirnya usaha kalian berhasil." Dokter Syifa memberikan selamat dengan raut bahagianya yang juga ikut bersyukur.
"Iya, dok. Makasih juga atas bantuan dokter selama ini."
"Iya sama-sama. Nanti jangan lupa ya, dua Minggu kedepan harus kontrol kehamilannya."
"Baik, dok."
"Ini resepnya, jaga kesehatan dan pola makan yang teratur. Juga bisa di tambahkan dengan asupan susu ibu hamil."
"Iya, dok. Terimakasih, assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
✓✓✓✓✓✓✓✓
__ADS_1