
Setelah berbincang-bincang dengan umma sambil menyirami tanaman bunganya, Alsya dan Umma masuk ke dalam lagi untuk sarapan yang ternyata bertepatan dengan kedatangan Abah dan Affan.
Alsya langsung menyalami tangan Abahnya dengan penuh haru lalu memeluknya erat seakan menumpahkan segala kerinduan yang selama ini dia rasakan.
"Bagaimana dengan hatimu, nak ?." Tanya Abah masih memeluk putrinya.
"Al sudah baikan, Abah. "
"Syukurlah, lalu mana cucu Abah?." Abah mencari-cari keberadaan cucunya yang belum kelihatan batang hidungnya.
"Fazal masih tidur, bah."
"Oh, ya sudahlah. Ayo kita sarapan." Ujar Abah mengajak semua anggota keluarganya untuk sarapan.
Alsya tidak bisa langsung ikut karena dia akan ke atas dulu untuk melihat putranya. Saat sampai di kamar, Alsya melebarkan senyumnya melihat sang putra sudah bangun tapi masih betah berguling-guling di kasur.
"Assalamualaikum, pangeran Ummi..."
Fazal reflek menoleh. Dia membalas senyuman ibundanya lalu bangkit duduk. "Ummi."
"Iya, yuk mandi dulu?!."
Fazal mengangguk patuh. Alsya segera memandikan Fazal dan setelah menghabiskan waktu kurang dari sepuluh menit, keduanya keluar dari kamar menuju meja makan.
Semua orang makan dengan tenang selama beberapa menit kemudian membubarkan diri karena urusan masing-masing. Begitupun dengan Alsya yang akan bersiap-siap untuk pergi mengunjungi makam anak-anaknya.
Alsya pergi di antar oleh supir keluarga bersama Fazal. Saat sampai, matanya mulai berkaca-kaca melihat dua batu nisan yang saling berdampingan itu. Anak-anaknya telah mendahului menghadap sang pencipta. Anak-anaknya adalah penolongnya di hari esok nanti.
"Ummi nangis ?." Fazal bertanya dengan polosnya.
Alsya mengusap lembut kepala putranya itu. "Kita berdoa ya, sayang ?." Ujar Alsya tanpa menjawab pertanyaan anaknya.
Fazal menurut dan mulai menengadahkan tangan saat Alsya mulai membaca doanya.
Begitu khusyuk dan syahdu. Semilir angin dari pepohonan rindang di area pemakaman seakan ikut mengaminkan doa Alsya saat ini.
Alsya menutup doanya dengan kalimat hamdalah di ikuti oleh sang putra.
"Ummi,.." Fazal menatap wajah ibunya yang masih basah oleh air mata. Tangan mungil itu mengusap lembut air mata itu. "Ummi gak boleh nangis, nanti kaila sama kak Hafidhz ikut nangis juga." Ujar Fazal begitu pengertian.
Alsya tersenyum lalu mencium kepala Fazal. "Iya, sayang. Ummi gak akan nangis lagi."
__ADS_1
"Fazal sayang sama ummi..." Fazal tiba-tiba bangkit dan memeluk erat ibunya.
Alsya tak kuasa menahan air matanya, dia kembali menangis, namun kali ini dia menangis haru karena tingkah laku sang putra.
Fazal melepaskan pelukannya.
"Kita pulang, yuk ?!."
"He em."
Alsya bangkit dari duduknya dan berjalan sambil menggandeng tangan mungil Fazal. Cuaca hari cukup teduh karena di beberapa bagian, langit tampak mendung.
Keduanya bergandengan tangan dengan mulut bersenandung sholawat. Fazal dari kecil memang paling suka sholawat. Bahkan saat masih bayi, Fazal tidak akan pernah bisa tidur jika belum didongengi sholawat oleh Alsya.
Fazal sesekali terkekeh saat berhasil melompati bebatuan kecil.
"Alsya."
Alsya menghentikan langkahnya seketika saat ada suara yang memanggil namanya. Fazal juga menghentikan langkahnya dan melihat ke arah suara.
Alsya merasa kenal dengan suara itu, tapi dia lupa itu suara siapa ?. Alsya menoleh ke sumber suara.
Deg
Selama setahun ini, Aly hidup seperti orang linglung yang tak tau arah. Beberapa kali dia juga melakukan terapi ke psikiater untuk memulihkan kondisi pikirannya.
Waktu itu Aly benar-benar tidak karuan, dia kadang merenung, melamun lalu tiba-tiba melukai diri sendiri dan meracau tak karuan sambil menyebut-nyebut nama Alsya dan Hafidhz.
Aly benar-benar seperti orang yang kehilangan kewarasannya sampai berbulan-bulan lamanya. Entah kemana perginya semua ilmunya itu sehingga dia bisa sampai depresi berat.
Saat keadaan aly sudah kembali normal, Aly pernah berusaha mencari keberadaan Alsya untuk meminta maaf kepada ibu dari anaknya itu. Tapi ternyata dia tidak bisa menemukannya sama sekali, karena keluarga Alsya menyembunyikan keberadaannya dan hanya memberitahu bahwa Alsya keluar kota.
Dan saat ini, setelah sekian lama, matanya kembali melihat sosok itu. Alsya sedang berdiri dihadapannya bersama seorang anak kecil. Wajah Alsya tampak semakin cantik saja, bahkan tidak terlihat sedikitpun guratan kesedihan disana. Berbanding terbalik dengan Aly yang hingga saat ini masih dirundung rasa bersalah terhadap semua sikapnya yang dulu sangat keterlaluan.
Tatapan Aly terpaku pada anak kecil itu yang sedikit mirip dengan Hafidzh. Dia yakin, jika itu adalah Fazal, anaknya.
"Maaf, permisi." Ucap Alsya berlalu begitu saja sambil menggendong tubuh Fazal.
__ADS_1
Aly menarik pergelangan tangannya membuat Alsya berhenti melangkah. "Alsya." Panggil Aly sangat lirih.
Alsya terlihat menghembuskan nafasnya berat lalu berbalik. "Lepaskan tanganku ." Ucapnya dingin.
Aly tertegun lalu melepaskan genggamannya. "Maafkan aku, Al."
"Semua sudah terjadi, jadi biarkan semuanya berjalan dengan semestinya. Dan, bersikaplah seperti orang yang beretika." Ucap Alsya sangat pedas dan semakin dingin.
"Baiklah, Al. Aku memang salah, tapi izinkan aku menyentuh anakku..." Tatapan Aly mulai sendu melihat ke arah wajah bocah yang digendong Alsya.
"Dia anakku." Tegas Alsya mengingatkan.
"Al, aku mohon, dia juga putraku, aku abinya..." Aly semakin memelas.
"Kamu bahkan tidak pantas disebut Abi. Kamu melenyapkan semua anak-anakmu. Apa itu yang dinamakan Abi ?!. Hahh ?!." Alsya mulai habis kesabaran dan menatap tajam wajah pria yang dulu sangat dicintainya itu, pria egois yang pernah dia kenal. "Kamu melenyapkan Putriku,... Kamu juga melenyapkan Hafidhz !!. Apa yang sebenarnya kamu inginkan ?!. Hahh ?!. Bahkan aku dengan suka rela mengizinkan kamu membawa putraku, tapi kamu malah membunuhnya !. Kamu pembunuh Aly... !!!." Alsya semakin merasa sesak di dadanya. Dia teringat segala sesuatu yang diciptakan Aly terhadapnya, segala sesuatu yang sangat menyakiti hatinya.
Aly tertegun. Untuk pertama kalinya, Alsya memanggilnya dengan nama. Seumur hidup saat mengenal Alsya, Alsya tidak pernah menyebut namanya. Dan ini rasanya sangat menyayat hati.
Aly memperhatikan wajah bocah itu yang ketakutan dan menelusup di tubuh ibunya.
"Aku sudah berbaik hati meminta kak Affan mencabut tuntutannya, jadi aku peringatkan kembali, tidak ada lagi putramu. Semua anakmu sudah mati !." Ucap Alsya sarkastik.
Alsya berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikitpun.
Aly benar-benar merutuki kebodohannya sendiri. Dia menyesal, sangat menyesal. Dia telah menyia-nyiakan wanita lembut dan penuh kasih sayang itu bahkan dia juga telah menelantarkan anaknya sendiri dan malah memilih sibuk dengan amanah dari Kyai nya.
Jika ada yang bertanya, siapakah yang salah disini ?.
Jelas bukan Abah Kyai ataupun Halimah. Tapi Aly !!. Aly yang bodoh, Aly yang tidak berprinsip, Aly yang kurang tegas, Aly, Aly dan Aly !!.
Yah Aly lah yang membuat semua ini terjadi. Aly telah menghancurkan semua kepercayaan orang. Dan kini Aly sedang menuai apa yang selama ini dia tanam.
Dia sekarang hidup sebatang kara tanpa satupun keluarga. Kedua orang tuanya juga kembali bersikap dingin setelah Aly lepas dari kondisi terpuruknya. Bahkan, Chayra, satu-satunya anak yang ada bersamanya telah pergi diambil oleh keluarga Halimah saat Aly sedang sekarat di rumah sakit.
Aly sekarang hanya sendiri. Dia sedang dihukum oleh rasa penyesalan terhadap semua tindakan yang dulu pernah dilakukannya.
Aly melihat lagi ke arah Alsya yang semakin menjauh dan disana, terlihat seorang pria datang menghampiri Alsya lalu mengambil anaknya untuk digendong. Aly masih bisa mendengar suara bocah itu yang sangat kegirangan melihat sosok itu dan memanggil pria tersebut dengan sebutan Abi.
Dunia Aly seakan runtuh seketika. Alsya telah menemukan penggantinya, dia telah menemukan kebahagiaannya sekarang.
Dengan langkah kaki yang gontai, Aly perlahan mendekati makam anak-anaknya dan menangis sejadi-jadinya di sana. Dia meluapkan segala penyesalannya di pusaran bumi kedua anaknya yang telah meninggal karena kecerobohannya.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓