
Pagi yang kelam, karena awan kelabu bergerumul menghalau teriknya mentari untuk menyinari bumi. Dari selepas shalat subuh, petir seakan saling bersahutan disusul dengan gelegar gemuruhnya yang terasa memekakkan telinga.
Pagi ini, tepat usia lima bulan pernikahan Alsya dan Anand. Keduanya semakin terikat satu sama lain karena kedekatan yang selalu terjalin dengan harmonis dan romantis. Alsya yang menjadi manja dan Anand yang selalu memberikan kasih sayangnya tanpa jeda.
Karena suara gemuruh petir yang terdengar menyeramkan, anak-anak juga tidak mau menjauh dari kedua orang tuanya. Mereka terbangun saat petir yang paling besar terdengar. Keduanya menangis ketakutan dan langsung berlarian menuju kamar kedua orang tuanya yang untungnya, Alsya dan Anand baru saja menyelesaikan sholat subuh berjamaah mereka.
Ranjang terasa penuh karena ditempati oleh empat orang dengan porsi tubuh yang berbeda-beda. Posisi tubuh mungil kedua anaknya di bagian tengah dan Alsya dan Anand berada di samping- samping mereka.
Mengenai Keyya. Sekarang Keyya telah resmi di adopsi oleh Alsya dan Anand, sebab setelah beberapa cara untuk mendekatkan Keyya dengan Aly ternyata Keyya tetap tidak mau tinggal bersama Aly karena tidak mau dipisahkan dari kembarannya, Fazal.
Kenyataan itu tentunya sangat membuat Aly kecewa karena ternyata usahanya untuk mendekati putrinya sendiri tidaklah mudah. Yah, walaupun Keyya sudah menganggap Aly sebagai Abi kandungnya tapi Keyya tidak mau ikut bersama dengan Aly.
Saat itu, dengan berat hati akhirnya Aly merelakan Keyya untuk tetap tinggal bersama saudaranya dan juga Umminya. Identitas Keyya juga sudah di ubah menjadi seorang putri dari pasangan Aly dan Alsya, begitupun dengan namanya yang sebelumnya bernama Chayra Ally Mumtazah, berganti menjadi Keyya Mumtazah Ghuinandra.
Karena bagaimanapun, meski berat. Aly tidak ingin lagi merusak kebahagiaan sang Putri yang harus merasakan kehilangan sosok malaikat hidupnya untuk masa pertumbuhannya. Dia sangat tau jika kasih sayang Alsya bahkan tidak ada bedanya untuk Fazal maupun Keyya. Dia benar-benar menganggap bahwa Keyya seperti anak kandungnya sendiri.
Anand dan Alsya saling memandang satu sama lain dengan tatapan terpancar kebahagiaan yang tak terkira. Saat ini, tangan Alsya sedang memeluk tubuh mungil Keyya yang meringkuk nyaman di tubuh sang ibu. Dan Anand pun sama, dia juga memeluk Fazal yang juga meringkuk ketakutan di dekat tubuhnya.
Anand begitu nyaman memandangi wajah ayu istrinya yang baginya selalu terlihat cantik tanpa cela. Dia bahkan tersenyum-senyum sendiri memandang keelokan paras cantik istrinya itu.
"Yang..." Panggil Anand dengan suara yang sangat lirih hampir tak terdengar karena takut mengganggu tidur kedua anaknya.
Alsya langsung menoleh ke arah wajah Anand. "Hem ?." Sahutnya merespon.
Anand menggeleng lalu tersenyum.
Alsya mengerjitkan alisnya heran dengan sikap suaminya yang sedang aneh. Dia kembali mematut wajah polos Keyya yang sedang tertidur nyenyak di pelukannya.
"Sayang..." Panggil Anand lagi.
Alsya kembali menoleh. "Kenapa, A' ?." Tanya Alsya dengan suara yang juga sangat lirih.
"Tidak apa-apa, cuma mau manggil aja." Anand menampilkan senyuman manisnya.
Alsya hanya menggeleng menanggapi tingkah laku suaminya.
Anand melepaskan tangannya yang dari tadi memeluk Fazal. Dia mengulurkan tangannya menyentuh wajah Alsya yang terasa sangat lembut dan halus. "Kita berlibur yuk?,."
"Berlibur kemana ?."
"Luar negeri, mau ?."
"Anak-anak?,."
__ADS_1
"Kamu mengizinkan jika anak-anak kita titipkan dulu ke kakek neneknya ?." Tanya Anand hati-hati.
"Tapi, apakah mereka tidak akan rewel dan malah merepotkan orang tua kita ?."
"Insya Allah, tidak. Eee, mereka juga akan berlibur mungkin tapi ke tempat yang berbeda dengan kita."
"Bagaimana maksudnya ?."
"Mereka akan kita titipkan pada mama dan papa di Cirebon. Mau ya ?, Tidak lama kok, hanya semingguan mungkin."
Akhirnya Alsya mengangguk meski sedikit ragu. Sebenarnya dia tidak akan terlalu khawatir jikapun berjauhan dengan anak-anaknya, sebab keduanya sudah terbiasa tidak terlalu manja lagi padanya dan lebih banyak bersama dengan pengasuh-pengasuhnya.
"Kapan kita akan ke Cirebon nya ?."
"Aku akan kabari mama dulu, nanti setelah mama menyetujuinya kita akan langsung ke sana saja."
Alsya mengangguk mengiyakan.
✓✓✓✓✓✓✓✓
Dua hari berlalu setelah kesepakatan dibuat oleh Alsya dan Anand. Hari ini mereka akan melakukan perjalanan menuju ke Cirebon untuk mengunjungi rumah orang tua Anand.
Tiga mobil mewah yang semuanya berwarna hitam, milik Anand keluar dari gerbang rumah.
Perjalanan hampir lima jam untuk sampai di halaman rumah besar keluarga Ghuinandra. Ningrum dan Aryan menyambut mereka dengan antusias dan semangat. Keduanya sudah sangat menantikan kedatangan cucu-cucu lucunya yang sangat menggemaskan itu.
Fazal langsung turun dari mobil dengan tergesa disusul lagi dengan Keyya yang juga mengikuti mas nya.
"Nenek...!. Kakek...!." Teriak Fazal terlihat begitu senang.
Aryan dan Ningrum membentangkan kedua tangannya menyambut kedatangan cucu-cucunya yang sangat menggemaskan.
Fazal menghambur masuk ke dalam rengkuhan kakeknya dan Keyya masuk ke dalam pelukan neneknya. Keduanya tertawa lepas karena wajah mereka seakan tidak ada puasnya di ciumi oleh kakek dan neneknya.
Anand dan Alsya ikut senang menyaksikan interaksi antara anak-anaknya dengan orang tuanya. Mereka bukanlah cucu dan kakek-nenek kandung, tapi kasih sayang yang diberikan oleh Aryan dan Ningrum sangatlah besar untuk fazal dan Keyya.
Anand menatap wajah istrinya yang sedang tersenyum menyaksikan anak-anak. Tanpa sadar dia juga tersenyum manis tapi bukan karena anak-anaknya, melainkan karena mengagumi kecantikan wanita yang menjadi halalnya itu.
"Masuk yuk sayang ?!." Anand memeluk pinggang Alsya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Mengabaikan kericuhan yang dibuat oleh orang tuanya dan juga anak-anaknya yang masih betah bercanda dan tertawa di teras rumah.
Alsya memperhatikan nuansa rumahnya. Ini adalah kali ketiga dirinya memasuki rumah ini, yang pertama dan kedua sebelum dia menikah dengan Anand dan yang ketiganya adalah sekarang.
"Kamu lelah sayang ?." Anand mengusap sayang wajah istrinya yang tampak sangat kelelahan akibat perjalanan tadi .
__ADS_1
"Sedikit."
"Ya sudah, kita langsung istirahat aja ya ?,."
Alsya mengangguk mengiyakan.
Mereka melangkah menaiki tangga menuju kamar Anand yang kini menjadi kamarnya Alsya juga.
Sampai di kamar, nuansa biru kelam dan putih kelabu menjadi interior ruangannya. Khas kamar seorang pria, namun memiliki kesan tersendiri menurut Alsya. Dengan warna kalem seperti ini, suasana kamar menjadi lebih adem dan menenangkan.
Alsya memperhatikan setiap furniture yang menjadi pelengkap fitur ruangannya. Tangannya menyentuh sebuah bingkai foto yang berukuran sedang diletakkan di atas meja lampu tidur. Senyumannya merekah memperhatikan gambar dari foto tersebut. Alsya merasakan tubuhnya dipeluk dari arah belakang.
"Ini kapan masangnya, A?." Tanya Alsya masih menatap foto tersebut.
"Aku juga tidak tau, tapi sepertinya mama memang pengertian padaku."
Alsya tersenyum mengiyakan. Yah, ibu mertuanya itu memang sangat perhatian dan baik sekali terhadapnya. Dan lihatlah, meski tanpa diminta tolong sekalipun oleh putranya, Ningrum telah memajangkan bingkai foto Alsya. Di dalam foto itu, Alsya masih ingat itu adalah momen dimana Alsya akan berangkat bersama calon ibu mertuanya untuk ke butik melakukan fitting baju pengantin.
"Makasih, A. Aku sangat bahagia sekali menjadi bagian dari keluarga kalian." Alsya berbalik dan menatap lekat wajah suaminya. Tangan mnya terangkat membingkai wajah Anand.
Anand kembali memeluk tubuh mungil istrinya dengan sangat erat. "Aku lebih bahagia karena bisa memiliki bidadari sepertimu, sayang." Tatapan Anand begitu dalam menyelami manik mata indah Alsya. Anand mencium kening istrinya sangat lama dengan perasaan yang berbunga-bunga.
"Ayo istirahat dulu."
"Iya."
Keduanya bergandengan tangan hingga naik ke atas tempat tidur. Mereka segera membaringkan tubuh yang sedang lelah untuk mengistirahatkannya.
"A, kenapa tiba-tiba mengajak liburan ?."
"Kamu lupa, kalau kita belum berbulan madu ?."
Alsya terpaku di tempat dengan tatapan tak percaya pada suaminya. "Bulan madu ?!." Pekiknya tanpa sadar.
"Iya."
"Tapi pernikahan kita sudah hampir lima bulan lebih."
"Yah, apa salahnya ?,."
Alsya menggeleng karena bingung harus menjawab apa.
Anand semakin merapatkan tubuhnya pada tubuh Alsya. Dia semakin menenggelamkan tubuh mungil istrinya dengan tubuhnya yang gagah. "Apa masih belum ada tanda-tandanya, sayang ?." Suara Anand terdengar sangat serius.
__ADS_1
Alsya tertegun sejenak kemudian dia melihat wajah suaminya dan menggeleng.