
Nuansa pagi yang tenang, dengan pemandangan yang indah. Di atas balkon hotel, Alsya begitu menikmati keindahan pemandangan yang menjadi surganya jagat Istanbul Turki.
The blue Mosque, sebuah masjid yang indah dan menakjubkan yang berdiri di pusat kota Istanbul. Masjid yang dibangun oleh Sultan Ahmed 1 yang berasal dari dinasti Ottoman abad ke-14.
Sesuai namanya. Di dalam sejarahnya, kenapa masjid itu berwarna biru ?, karena keramik-keramik yang menutupi dinding masjid itu juga kubahnya yang berwarna biru langit cerah.
"Sudah siap, sayang ?."
Suar itu membuat Alsya reflek menoleh. "Sudah." Jawabnya kemudian matanya menatap lagi hamparan keindahan pemandangan yang sungguh memanjakan mata.
"Jadi tidak jalan-jalannya?, Atau mau disini saja melihatnya masjidnya dari kejauhan ?."
"Tidak, aku mau melihatnya dari dekat." Alsya langsung menolak mentah-mentah usulan suaminya.
Anand tersenyum manis. "Ya sudah, ayo keluar ?!."
"Iya."
Anand menggandeng tangan Alsya untuk masuk lagi ke kamar. Disana, tepatnya di meja makan, sudah ada sarapan yang sedang menunggu untuk dimakan oleh mereka.
"Sarapan dulu, ya?." Anand begitu romantis dalam memperlakukan Alsya.
Anand menarik bangku untuk diduduki Alsya kemudian setelah memastikan istrinya itu sudah duduk dengan nyaman, barulah dia juga duduk di kursi yang masih kosongnya.
Keduanya makan dengan tenang selama sepuluh menit dan setelah selesai, mereka kembali bersiap untuk berangkat ke pusat wisata yang ada di luar hotelnya.
Suasana sejuk pagi yang membaur dengan dinginnya cuaca musim semi. Sepanjang perjalanan, banyak sekali pohon liat yang di pinggir jalan menampakkan keindahan bunganya yang saling bermekaran.
Kedua tangan itu terpaut erat satu sama lain. Menikmati indahnya kota burung senja dengan dengan suasana yang sangat romantis.
"Kamu suka, sayang ?."
"Sangat. Aku sangat menyukai suasananya." Keduanya saling bersenda gurau di sepanjang jalan. Bahkan tingkah mereka kerap kali menjadi sorotan para pejalan kaki lainnya.
Akhirnya sampai di tujuan pertama. Masjid biru yang sangat memukau. Alsya begitu antusias memperhatikan setiap pundi-pundi bangunan bersejarah itu. Dia tersenyum dan terkagum-kagum melihat keindahan pemandangan yang baru pertama kali dilihatnya.
Melihat raut wajah bahagia Alsya membuat Anand selalu menyunggingkan senyumnya. Baginya, tidak ada hal penting yang melebihi kebahagiaan seorang Alsya. Hanya melihat senyum manis di wajah istrinya itu, hati Anand selalu menemukan rasa kedamaian dan nyaman.
Anand melepaskan genggaman tangannya membiarkan Alsya menikmati bahagianya dengan bebas.
"A'." Alsya reflek berbalik saat merasakan tangan suaminya tak lagi berada di genggaman tangannya.
Alsya baru sadar jika dia terlalu antusias melihat masjid itu sehingga melupakan Anand yang masih berjalan santai di belakangnya. Alsya tersenyum sambil berjalan mendekat. Setelah sampai di hadapan sang suami, jemari lentiknya kembali ditautkan dengan jari-jemari Anand. "Aku kira kamu melupakanku ?." Bisik Anand dengan mode ngambeknya.
__ADS_1
Mereka berdua berjalan berdampingan memasuki masjid tersebut.
"Bagaimana bisa aku melupakanmu ?, Sedangkan bahagiaku adalah bersamamu."
Ucapan Alsya membuat Anand bereaksi. Telinga Anand memerah karena tak bisa menakar kadar bahagia yang ada di hatinya.
Anand melepaskan tangan Alsya kemudian tangannya beralih merengkuh pundak Alsya sambil terus berjalan menapaki lantai mengkilap di dalam masjidnya.
"Mau sholat Dhuha, sayang ?." Ucap Anand setelah mereka sampai di dalam masjid.
Alsya tersenyum lalu mengangguk antusias.
Tak ingin menyia-nyiakan waktu yang tak mungkin bisa terulang kembali, akhirnya mereka melakukan sholat Dhuha di dalam masjid tersebut dengan sangat khusyuk dan syahdu.
Dua puluh menit berlalu setelah melakukan empat rakaat shalat dan di tutup dengan bermunajat kepada Sang Pencipta yang telah memberikan nikmat paling berharga di setiap insan yang bernyawa yaitu nikmat sehat.
Selesai sholat, mereka memutuskan untuk melihat-lihat interior bangunan masjid dan setelah merasa cukup, Anand mengajak Alsya keluar lagi menuju tempat wisata yang akan mereka kunjungi selanjutnya.
Sebuah mobil mewah dengan plat dari negara tersebut berhenti di depan Anand dan Alsya berdiri. Seseorang pria dengan perawakan gagah keluar dari mobil tersebut dan langsung menghadap pada Anand.
"Assalamualaikum,."
"Waalaikumsalam... apa sudah mendapatkan izinnya ?."
Keduanya berbicara dengan bahasa Turki yang sama sekali tidak dimengerti oleh Alsya. Alsya hanya faham jika keduanya itu sedang membicarakan tentang perihal mobil.
"Baiklah, terima kasih bantuan nya." Ujar Anand sopan.
"Sama-sama." Pria itu juga membalanya dengan sangat sopan santun.
Anand kembali menggandeng tangan Alsya untuk memasuki mobil tersebut.
"Aa' kenal sama orang tadi ?." Tanya Alsya penasaran setelah dia sudah duduk manis di bangku dalam mobilnya.
"Tidak, aku tadi meminta bantuan sama teman lama yang ada disini untuk mengurus izin mengemudi ku selama disini. Dan mungkin itu orang suruhannya."
Alsya hanya ber ohh riya' menanggapi. Menjelajah kota Istanbul Turki di kawasan Aya Sofya. Untuk melihat keindahan tempat-tempat wisatanya.
Hari ini jadwal mereka adalah mengunjungi masjid biru dan German Fountain.
Dan sekarang perjalanan menuju German Fountain adalah gazebo air mancur di ujung Utara gelanggang pacuan kuda tua. Letak posisinya tepat berada di seberang makam Sultan Ahmed I.
German Fountain dibangun untuk memperingati ulang tahun kedua kunjungan Kaisar Jerman Wilhelm II untuk Istanbul pada tahun 1898.
__ADS_1
Keduanya kembali turun dari mobil dan langsung memasuki area wisatanya. Cuaca dingin yang sangat menusuk. Terlihat lalu lalang pengunjung lain juga memakai mantel tebal dan sangat tertutup.
Alsya mendekap tubuhnya sendiri karena tidak terbiasa dengan cuaca musim dinginnya. Berbeda lagi dengan Anand yang sepertinya sudah sangat terbiasa akan cuaca dingin seperti itu. Sebab, selama hidupnya Anand memang sering menghabiskan waktunya di negara-negara yang memiliki empat musim.
Berkeliling di sekitaran bangunan bersejarahnya dan sesekali mengabadikan momen indah itu dengan ponselnya. Alsya dibuat sangat senang sehingga seakan lupa dengan rasa dingin yang hampir menusuk tulang-tulangnya.
"A' cari tempat duduk yuk ?!." Ucap Alsya setelah mereka sudah hampir satu jam bersenang-senang dengan candaan dan foto-foto Selfi yang semuanya adalah dengan handphone Alsya.
"Kita ke kantinnya saja."
"Iya."
Kedua tangan mereka dari tadi tak pernah lepas sekalipun. Bahkan, terkadang Anand membawa tubuh mungil Alsya dalam rengkuhan lengan kokohnya.
Seperti pedagang kaki lima jika di Indonesia. Tempat yang Anand sebut kantin itu bertempat tidak jauh dari kubah German Fountain. Deretan pedagang berjejer di sepanjang sisi jalan dan taman. Berbagai macam makanan khas Turki ada di sana. Termasuk yang paling tersohor yaitu kebabnya. Kebab asli yang dibuat oleh orang asli di negaranya memang lebih terlihat menarik dan menggugah selera.
Dua piring berisi potongan kebab dengan porsi lumayan besar di letakkan di hadapan Alsya dan Anand, berikut dengan minuman juz hangat pesanan Alsya dan coklat panas milik Aly, minuman paling tepat untuk menghalau udara dinginnya.
Asap dari makanan dan minuman yang masih panas mengepul membaur dengan hembusan nafas manusia yang tercetak jelas di udara. Yah, musim dingin yang sungguh membekukan.
Alsya belum juga menyentuh makanannya karena sibuk memasukkan tangannya di saku mantel. Melihat kondisi istrinya membuat Anand tidak tega. Dia segera menggeser kursi yang didudukinya agar lebih merapat ke tubuh sang istri.
Tangan Anand memeluk Alsya dengan erat seolah dengan pelukannya itu dia bisa menghalau udara dingin yang menyelimuti tubuh Alsya.
"Apa kita kembali ke hotel aja, sayang ?." Bisik Anand semakin mempererat pelukannya.
"Hehh, tidak A'. Kita baru saja keluar masa kembali lagi."
"Tapi kamu kedinginan seperti ini, sayang."
"Iya, sih. Tapi gak mau, aku masih mau jalan-jalan." Rengek Alsya manja semakin menyenderkan kepalanya di dada bidang suaminya.
Anand tersenyum melihat tingkah laku istrinya yang menurutnya semakin menggemaskan saja. Kecupan singkat dia daratkan di kening istrinya.
"Mau minum coklat panas ?." Tanya Anand mendekatkan gelas yang berisi minuman miliknya di depan wajah Alsya.
"Baunya harum, tapi aku gak suka minuman itu.." Alsya menolaknya karena memang dirinya kurang suka dengan minuman yang berbau coklat.
Padahal dulu, dia sangat menyukai coklat, mau dalam bentuk apapun. Dan entah mengapa, setelah hidup bersama Anand yang merupakan pecinta coklat juga membuat Alsya menjadi kurang menyukai coklat. Aneh memang !.
"Beneran tidak mau ?, Padahal ini enak sekali sayang... Minuman coklat disini rasanya unik dan khas sekali. Aku juga tidak pernah melewatkan untuk meminum coklat panas disini kalau sedang ada urusan di sini.
Mendengar ucapan suaminya sedikit membuat Alsya penasaran. Rasa yang memiliki citra khas tersendiri membuat Alsya menjadi kepingin mencobanya.
__ADS_1