
"Sepupu ?!,."
Fyzha langsung mendongak mendengar pekikan Affin yang terlihat sangat terkejut.
"Ada apa ?." Tanyanya bingung.
Bukannya menjawab, Affin malah menatap lekat wajah istrinya seolah sedang menyelami manik mata Fyzha. "Aly ?."
Fyzha mengangguk.
"Apa kamu tau siapa pria itu ?."
Fyzha mengangguk tapi kemudian menggeleng membuat Affin bingung.
"Aku hanya tau dia seorang duda beranak, itupun aku mendengarnya saat prosesi lamaran Nareena."
Affin tak bereaksi apapun. Dia sedang memikirkan jika ternyata dunia ternyata begitu sempit. Dia mengejar Alsya yang dijandakan Aly, tapi dia menikahi wanita yang sedang menaruh hati pada Aly. Dan yang paling mengejutkannya adalah, mereka disatukan dalam lingkaran satu keluarga.
"Fin, apa kamu mengenal Aly ?."
Pertanyaan Fyzha sedikit membuat hati Affin nyeri. Apalagi saat melihat tatapan mata itu yang sepertinya masih ada binar khusus terhadap nama itu. "hanya sedikit." Affin tersenyum meski kaku.
Affin teringat pesan yang dulu sering kali diucapkan oleh Alsya. Dulu, Alsya pernah mengatakan jika dia sangat tidak suka jika orang-orang terdekatnya menyebutkan nama dari ayahnya Hafidhz itu.
Bahkan dia juga ingat bagaimana kembarannya yang bekerja keras demi menutupi identitas Alsya dan Aly yang pernah bersama. Affan menutup semua akses yang bersangkutan dengan Alsya dan Aly di masa lalu.
Fyzha sudah tidak ingin memperpanjang obrolan mereka lagi. Meski di hatinya ada rasa penasaran terhadap sosok Aly yang diketahui oleh Affin.
Fyzha kembali menenggelamkan wajahnya di rengkuhan kedua lengan Affin. "Fin, bantu aku melupakan semuanya, cukup sudah aku terjerumus hanya karena putus cinta. Aku butuh bimbingan mu, aku butuh seseorang yang selalu mengingatkanku.." lirihnya penuh permohonan.
"Insya Allah, aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk menjadi imam yang baik untukmu dan anak-anak kita nanti." Affin mengusap-usap lembut punggung Fyzha.
Fyzha tertegun mendengar kata anak-anak.
"Fin."
"Iya ?."
"Apa kamu tidak masalah ?, Padahal umur kita terpaut empat tahun,."
Affin menghentikan kegiatannya. "Masih kurang sebelas tahun untuk mengikuti jejak Rasulullah dan ibu Khadijah." Jawab Affin begitu santai.
Fyzha tak kuasa menahan senyumannya. Affin memang bukan orang yang belajar ilmu agama khusus seperti yang pernah dilakukan Anand, dulu. Tapi, tata cara berbicara, sikap, dan perilakunya, Affin benar-benar mencerminkan sosok pria yang menjadi idaman bagi para wanita Solehah.
Dan Fyzha merasa beruntung telah disatukan dalam ikatan pernikahan bersama Affin.
Lalu masihkah ada ragu di hati Fyzha akan kesiapannya untuk menjadi istri yang layak untuk Affin ?.
__ADS_1
"Fin, aku kangen berlatih. "
Affin kurang mengerti dengan ucapan istrinya. "maksudnya ?."
Fyzha menatap lekat wajah suaminya. "Bertarung, semenjak menikah aku tidak pernah melatih tubuhku lagi."
"Lalu ?."
Fyzha menerbitkan senyumnya. "Ilmu beladiri kamu tingkat apa ?." Tanyanya.
"Aku... Aku tidak tingkat apa-apa."
"Bohong!, Sudah jelas waktu itu kamu sangat lihai menghindari seranganku. Fin, kita latihan yuk ?!." Mata Fyzha mengerjap penuh harap.
"Latihan, bertarung?."
"Iya."
"Ini sudah malam, waktunya istirahat."
"Ayolah, Fin... Ini pertama kali aku meminta sesuatu sama kamu, apa kamu tidak mau menurutinya ?."
Affin terdiam dengan tatapan mata terfokus pada mata Fyzha. Dan sesaat kemudian, dia tersenyum. "Boleh, asalkan dengan satu syarat, setelah itu aku ingin meminta hak ku." Ucapnya membuat kesepakatan.
"Fin..." Tatapan mata Fyzha memelas.
Fyzha memicingkan matanya. "Mau kemana ?." Tanyanya penasaran.
"Ke rumah sakit, sepertinya Nadia bisa menemani ku."
"Fin !, Apa maksudmu ?." Fyzha mulai cemas.
Affin mengabaikan raut wajah istrinya yang sudah terlihat emosi. Dia bangkit berdiri. "Kamu tidurlah."
"Fin, gak. Kamu gak boleh ke rumah sakit !," Fyzha ikut bangkit dan langsung menahan tangan Affin. Tatapan matanya begitu tajam menatap wajah suaminya.
Affin bersikap datar saja.
"Awas kalau sampai kamu menyentuh Nadia, apalagi sampai menyentuhnya !." Ancam Fyzha dengan tatapan sengitnya.
"Tapi, benih ku harus dikeluarkan, dan aku membutuhkan wadahnya.." Affin berucap santai.
Fyzha semakin emosi. Dia tentu tidak akan mengizinkan suaminya sampai menyentuh orang lain.
"Ouh, berarti kamu sudah siap kehilangan fungsi kaki, tangan dan mulutmu ?!." Fyzha semakin kencang mencengkeram lengan Affin.
Di dalam hati, Affin sedang merasakan bunga-bunga cintanya yang semakin bermekaran. Affin menatap tak percaya dengan ucapan Fyzha, seolah-olah takut dengan ancamannya itu. "Sadis sekali kamu ?."
__ADS_1
"Iya, aku memang sadis, karena aku ingin memberi peringatan kepada suamiku yang akan bersikap kurang ajar !." Fyzha siap mendekatkan tangannya untuk mencubit perut Affin tapi Affin malah berhasil menghindar.
"Tidak semudah itu, sayang." Ucap Affin penuh kemenangan.
Fyzha semakin cemberut kesal. "Affin."
"Ayolah, hanya malam ini, kamu bisa istirahat dengan nyenyak selagi aku tidak ada, bukan?." Affin semakin suka melihat api kemarahan di mata Fyzha.
"Sebelum kamu pergi, kamu akan lebih dulu kehilangan fungsi tiga anggota tubuh yang aku sebutkan tadi !."
"Baiklah, mari kita buktikan. Siapa yang akan kehilangan fungsi tiga anggota tubuh yang kamu sebutkan tadi !."
Fyzha tersentak kaget. "Apa maksudmu ?."
"Iya, kita buktikan. Jika aku kalah, aku tidak akan pergi kemana-mana tapi jika kamu yang kalah, aku akan menemui Nadia."
"Baiklah !,. Ayo kita buktikan !."
Fyzha langsung menyerang Affin dengan sangat lincah dan tak terduga. Gerakan Fyzha sangat gesit dan penuh hati-hati. Tubuhnya meliuk dengan sangat luwes namun lincah.
Affin yang tadinya belum siap tentu saja dibuat kewalahan untuk mengimbangi gerakan Fyzha yang memang sangat luar biasa.
"Gerakanmu lumayan juga, sayang ?, Kenapa waktu itu kamu tidak melakukan gerakan seperti ini saat bertarung dengan ku ?." Ujar Affin disela-sela pertarungan mereka yang jika dilihat sangatlah mengerikan.
Keduanya adalah petarung handal karena sama-sama memiliki kemampuan ilmu beladiri yang sangat tinggi.
"Tentu saja aku tidak berani !, Karena aku harus menjaga anakmu !." Fyzha melayangkan tendangannya dan Affin langsung sigap menghindar.
Affin menyeringai. "Ternyata kamu menyayanginya ?," Affin meliukkan tubuhnya saat Fyzha melayangkan pukulan mematikannya.
"Tidak ada seorang ibu yang tidak menyayangi anaknya, bukan ?!."
"Kau benar."
Fyzha mulai kelelahan. Dia baru menyadarinya jika ternyata dari tadi Affin tidak melakukan penyerangan seperti yang telah dilakukannya. Affin hanya meladeni setiap gerakan Fyzha dengan hanya menghindar dan menepis. Pertarungan yang sama seperti yang terjadi pada waktu itu.
"Kenapa kamu belum juga melayangkan serangan ?." Sewot Fyzha tak terima.
Affin menyeringai. "Aku hanya sedang mencari langkah yang tepat."
"Kamu curang !."
"Aku tidak curang, itu strategi, sayang."
Fyzha mulai melakukan pergerakan lagi. " Kalau begitu, rasakan ini !," Fyzha mulai mengeluarkan gerakan mematikan.
Affin mulai kelelahan karena gerakan Fyzha yang sangat lincah dan tak terbaca. Meski tadi dia tidak ada keinginan untuk melukai istrinya tapi karena Fyzha tidak mungkin mau menghentikan pertarungan, alhasil Affin akhirnya mengeluarkan serangannya. Dia meliuk sungguh apik dengan gerakan secepat kilat. Dan...
__ADS_1