
"Zahra ?."
"Zahra."
Halimah cepat-cepat menghapus air matanya dan melepaskan pelukan Aly dari tubuhnya. Tidak ada yang tahu tentang setatus dirinya yang telah menjadi seorang istri selain sebagian orang-orang yang ada di pesantren, apalagi jika Aly lah suaminya.
"Mbak Imah keterlaluan !."
"Ra, kamu salah sangka. Kamu tidak faham dengan __" ucapan Halimah tergantung.
"Mbak !. Istighfar, mbak punya ilmu, kenapa mbak malah seperti ini ?!. " Ujar Zahra sambil menggelengkan kepalanya lemah, dia sungguh tak menyangka jika saudarinya ternyata adalah wanita seperti itu.
"Zahra, kamu tidak tahu__." Ucapan Halimah kembali tergantung.
"Aku pikir kau orang baik, sehingga wanita sebaik Alsya memiliki suami sepertimu !. Kamu pria brengsek, Aly !. Alsya sedang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anakmu !. Dan kau disini, memeluk wanita lain yang bukan siapa-siapa!." Sentak Zahra dengan amarah yang memuncak disertai dengan tatapan tajam menghunus.
"Alsya sedang melahirkan ?." Tanya Aly dengan suara lirih seolah tak percaya dengan apa yang didengarnya.
Zahra tersenyum sinis. "Kau bahkan tidak tahu jika istrimu sedang melahirkan?, Lucu !." Ujar Zahra masih dengan emosi.
Zahra beralih menatap wajah sepupunya yang masih dengan wajah basah oleh air mata. "Seakan aku tidak Sudi menyebutmu saudaraku." Decak Zahra.
"Zahra !." Bentak Halimah yang sudah mulai hilang kesabaran, apalagi seolah Zahra mengatakan dirinya sebagai wanita tidak benar seperti yang dipikirkan oleh Zahra.
"Apa?. Mbak masih ingin menyangkal ?, Hahh ?!."
"Kamu salah !. Dia istriku !." Ucap Aly tiba-tiba dan langsung membawa tubuh Halimah ke dalam dekapannya.
Bagai disambar petir di siang hari yang cerah. Zahra dan Lily terperangah kaget mendengar ucapan Aly. " Istri ?." Tanya Zahra pelan.
"Iya. Kami sudah menikah lama semenjak kematian Abah Kyai." Ucap Aly lagi memberi penjelasan.
Zahra masih tidak percaya kembali menatap wajah sepupunya. "Kami sudah menikah, Ra... Abah sendiri yang menjadi walinya..." Jawab Halimah yang mulai menangis lagi.
Zahra hanya terdiam dengan ekspresi wajah yang entah seperti apa, sedangkan Lily sudah menutup mulutnya karena sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.
"Terserah, apa yang kalian lakukan. Aku cuma ingin mengingatkan. Ada hati yang sedang disakiti sebab pernikahan kalian yang disembunyikan." Ujar Zahra memberikan ultimatum lalu pergi begitu saja dan langsung dibuntuti oleh Lily.
Aly dan Halimah masih termenung di tempat hingga Halimah melepaskan diri dari pelukan kedua tangan kekar Aly. Halimah langsung berlari pergi dari hadapan Aly dengan air mata yang menderai-derai, dia hanya ingin sendiri saat ini, dimana segala hal yang menyesakkan dadanya tidak datang menghampiri.
__ADS_1
Halimah putuskan untuk pergi ke sebuah tempat yang akhir-akhir ini sering dia kunjungi tanpa sepengetahuan keluarganya satupun, sebab dia masih menyimpannya untuk dirinya sendiri.
Tiba di tempat tujuan, sebelum keluar dari mobil Halimah usap air matanya dan membenarkan letak jilbabnya yang sedikit tak beraturan agar dia kembali terlihat segar dan bisa menutupi kesedihannya dihadapan mata-mata yang akan ditemuinya nanti.
Halimah langkahkan kaki keluar dari mobil dan berjalan ke arah kerumunan anak-anak kecil yang tampak ceria bermain bersama.
"Assalamualaikum...!" Ujar Halimah dengan wajah cerah memanggil nama mereka agar mendekat.
Mereka tampak sangat bahagia atas kedatangan Halimah, saling berlarian menubruk tubuh Halimah yang sudah berdiri setengah duduk.
"Kak Imah, Shana kangen banget...!." Celetuk gadis kecil salah satu dari mereka.
"Faiz juga !." Timpal bocah laki-laki.
"Kami juga ...!"ujar yang lainnya.
Halimah terkekeh melihat tingkah lucu anak-anak panti asuhan, dimana mereka saling berebutan untuk memeluk tubuh Halimah. Setelah dirasa cukup Halimah merenggangkan pelukannya dan menatap senang wajah-wajah mungil tanpa dosa itu.
"Kakak ada sesuatu untuk kalian, nihh." Halimah mengangkat jinjingan yang sedang dipegangnya.
"Asiikk, kue...!!." Pekik anak-anak itu kegirangan saat melihat isi di dalam plastik yang dibawa Halimah.
Halimah kembali terkekeh dan menyerahkan satu plastik itu pada mereka dan satu lagi masih ada di tangannya. "Kakak mau ketemu ibu, dulu ya.." ucap Halimah sambil bangkit dari jongkoknya.
"Assalamualaikum..." Ujar Halimah seraya tangannya mengetuk pintu.
Pintu perlahan terbuka lebar dan memunculkan seorang wanita paruh baya yang sangat dikenalnya. Wanita paruh baya itu tersenyum ramah. "Waalaikumsalam, nak. Mari masuk ?!." Ucap ibu panti.
Halimah menyalami tangan ibu panti itu kemudian berjalan di belakangnya memasuki rumah.
"Silahkan, duduk dulu, nak."
"Iya, Bu."
Halimah duduk di kursi ruang tamu sedangkan pemilik rumah masuk ke ruangan lain dan tiba lagi sambil membawa nampan berisi beberapa makanan ringan dan minuman lalu meletakkannya di atas meja, tepat di hadapan Halimah.
"Oh, iya. Ini, Bu, Imah ada sedikit bingkisan untuk ibu. " Ucap Halimah sambil memberikan plastik yang masih di tangannya.
"Masya Allah... Makasih nak." Ujar ibu panti dengan sorot mata berbinar.
__ADS_1
"Iya, Bu."
Ibu panti menerimanya dengan senang hati lalu meletakkannya di meja.
"Iya, Bu. Pemilik panti sering kesini ?."
"Tidak, nak. Mereka sudah kembali ke negaranya, sekeluarga."
"Apa ?. Memangnya mereka bukan orang Indonesia, Bu ?."
"Iya. Mereka asli warga negara timur tengah. Awalnya mereka kesini hanya untuk bulan madu setelah menikah di negaranya, dan setelah kelahiran anak pertamanya yang juga disini, mereka akhirnya menetap, menjadi warga negara Indonesia, karena katanya di Indonesia adalah negara yang paling nyaman dan damai, menurut mereka." Ucap ibu panti. Ada rasa bangga dalam hatinya karena tanah ibu Pertiwinya ternyata disukai oleh warga asing.
"Masya Allah... Ada ya Bu, orang seperti mereka. Rasanya Imah bangga sekali menjadi warga Indonesia." Ujar Halimah dengan senyum cerahnya.
"Iya, nak. Ibu juga sangat bangga karena lahir dan besar sebagai warga Indonesia."
"Iya, Bu. Oh ya, lalu kapan mereka kembali ke Indonesia lagi, Bu ?."
"Ibu juga kurang tahu. Waktu terakhir tuan Ilario datang tidak bersama istrinya, karena waktu itu istrinya sedang dirawat di rumah sakit."
"Innalilahi. Mbak Aira sakit apa Bu?." Ujar Halimah karena merasa terkejut mendengar ucapan ibu panti.
"Kata tuan Ilario, nak Aira hanya kelelahan sebab kehamilan barunya yang ternyata tidak diketahui sebelumnya."
"Masya Allah... Berarti mereka akan memiliki anak kedua ya, Bu?."
"Iya, nak."
"Semoga keadaan mbak Aira selalu baik-baik saja begitupun dengan kehamilannya." Doa Halimah tulus.
Halimah memang kerap kali bertemu dengan sosok perempuan cantik dan ramah yang bernama Aira itu. Wanita yang menjadi istri dari pemilik yayasan panti yang sering dikunjunginya ini, bahkan mereka sering mengobrol bareng karena sikap keduanya yang sama-sama ramah dan enak untuk ajak bercengkrama.
Dan satu lagi yang Halimah suka saat di berkunjung kesini yaitu saat pemilik juga sedang berkunjung dan membawa Putra mereka yang sangat lucu dan menggemaskan bagi Halimah, yang jika tidak salah bernama Ezar, yah. Halimah sangat menyukai anak kecil yang berparas tampan itu.
"Aamiin. Ayo, silahkan diminum, nak."
"Iya, Bu. "Halimah tersenyum lalu mengambil gelas yang berisikan minuman berasa dan menyesapnya sedikit.
Keduanya saling mengobrol dengan topik seputar pertumbuhan dan perkembangan anak-anak panti asuhan, sama seperti kunjungan sebelum-sebelumnya yang selalu membahas hal yang sama.
__ADS_1
Setelah menghabiskan waktu selama dua jam, Halimah pamit pulang lalu memberikan sebuah amplop dan keluar dari gerbang panti, menghampiri kendaraan beroda empat yang telah dipesannya melalui aplikasi online.
_______________