Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Mata Keyya


__ADS_3

Aly benar-benar merasa putus asa. Dia sudah kelelahan mencari Chayra, putrinya dari pagi hingga malam bahkan sampai pagi lagi. Anak buahnya juga belum mendapatkan kabar tentang keberadaan putrinya.


Aly yang sudah sangat frustasi karena belum juga menemukan Chayra, dia juga tidak bisa mengabaikan perusahaan nya lagi setelah dulu pernah menelantarkannya. Aly berangkat ke kantor dengan keadaan yang masih terlihat kacau.


Aly berjalan melewati sekretarisnya yang sedang duduk di mejanya di luar ruangan Aly. Sampai di dalam Aly menghempaskan tubuhnya ke sandaran kursi kebesarannya.


Tok


tok


tok


"Masuk !."


Nareena memasuki ruangan dengan membawa sebuah berkas yang cukup tebal. Melihat itu, Aly yang sedang pusing dan kelelahan semakin merasa kepalanya dihantam palu dengan sangat kuat.


Kepalanya berdenyut nyeri hingga dia berusaha menghilangkan nyerinya itu dengan memijat kedua pelipisnya dengan tangan kanannya.


"Ada Nareen ?." Tanyanya tampak tak bersemangat.


Nareena yang dari tadi melamun sambil memperhatikan apa yang dilakukan bosnya mulai tersadar saat mendengar ucapan Aly. "Ini, tuan. Hasil terakhir pemilihan produk yang akan di ambil untuk menjadi barang kita." Nareena menyerahkan berkas itu ke atas meja di hadapan Aly.


"Hem, apa kamu sudah memilihkan barang yang sesuai yang dibutuhkan ?."


"Sudah, tuan. Ada sekitar lima barang baru yang cukup menarik untuk bisa dipasarkan."


"Baiklah, segera lakukan pembuatan produknya !." Aly menandatangani berkas itu tanpa ribet mengeceknya terlebih dahulu lalu kembali menyerahkan berkas tersebut pada Nareena.


"Jangan lupa kirimkan bonus untuk yang membuat produk nya !."


"Baik, tuan."


"Hem."


Aly kembali menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi lalu memejamkan matanya sesaat untuk meringankan rasa pusing di kepalanya. Aly membuka matanya lagi dan dia sangat terkejut melihat Nareena yang ternyata masih berdiri di tempatnya dan bukannya keluar karena urusannya telah selesai.


"Kenapa kamu masih disitu ?." Tanya Aly merasa tidak senang dengan tingkah sekretaris nya itu yang akhir-akhir ini mulai aneh.


"Eee, maaf tuan. Apakah anda sedang tidak enak badan ?. Hmm, maksud saya kenapa anda masih berangkat ke kantor bukannya istirahat di rumah saja." Nareena mengucapkannya ragu-ragu karena takut bosnya itu marah.


Aly memicingkan matanya menatap heran wajah sekretaris nya itu. Dia jadi teringat ucapan Charyra yang pernah mengatakan jika Nareena menitipkan salam untuk nya, tapi di tidak lupa juga jika Charyra hanya bercanda tentang itu. Lalu mana yang benar ?!. Huhh, Aly semakin merasa kepalanya sangat pusing.

__ADS_1


"Iya, saya memang sedang tidak enak badan karena kelelahan." Jawab Aly akhirnya.


"Apa perlu saya belikan obat untuk anda tuan ?."


Aly semakin yakin jika Nareena ada maksud hingga bersikap demikian.


"Tidak, terima kasih, saya hanya butuh istirahat saja. Dan, apakah hari ini ada pertemuan dengan klien ?." Tanya Aly akhirnya untuk mengalihkan pembicaraan.


"Baiklah tuan. Hari ini memang ada klien dari pemilik kafe baru yang ada di kota Bandung sekitar jam satu siang ."


"Untuk saat ini saya sepertinya tidak bisa menemuinya, saya serahkan semuanya sama kamu." Ucap Aly terlihat semakin tak bergairah.


Nareena sudah menduganya. Dia sekarang sudah sangat hafal dengan sikap bosnya itu yang selalu seenaknya menyerahkan tanggung jawabnya tanpa memikirkan jika Nareena sanggup atau tidak. Tidak tau kah bosnya itu jika dirinya juga butuh istirahat dari semua pekerjaan yang hampir delapan puluh persennya dilimpahkan kepada dirinya.


Mungkin jika yang mengerjakan itu bukanlah Nareena, melainkan seseorang yang curang maka bisa jadi keuangan dan keamanan perusahaan pasti akan kecolongan.


Tapi sepertinya Aly sudah sangat mempercayainya dengan sangat.


"Baiklah, tuan. Saya akan menghandelnya. Sebaiknya anda istirahat saja dulu, agar tubuhnya kembali fit."


"Iya." Aly memalingkan wajahnya dari hadapan Nareena yang telah membuatnya semakin pusing saja.


Nareena yang sudah tidak di hiraukan lagi akhirnya memilih keluar dari ruangan bosnya dan kembali ke meja kerjanya kemudian menyibukkan dirinya lagi dengan berkas-berkas perusahaan yang sangat membosankan.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


"Belum, kak. Aku dan Alsya masih berusaha mencari keberadaan orang tua Keyya melalui orang-orang suruhan ku saja." Anand menjelaskan.


Sebelumnya, Alsya telah menghubungi Mbak Nisa dan menceritakan semuanya tentang Keyya yang dia dan Anand temukan di jalanan saat malam. Dan mbak Nisa yang penasaran ternyata langsung datang ke rumah mereka untuk melihat anak kecil yang di temukan Alsya, bersama anak dan suaminya.


Saat ini, mereka berempat sedang berkumpul di ruang keluarga, membahas tentang Keyya yang masih belum jelas hingga saat ini.


"Tapi, Al. Aku seperti tidak asing dengan wajah Keyya." Mbak Nisa mengeluarkan dugaannya setelah melihat sendiri bagaimana perwujudan Keyya secara langsung.


"Maksud mbak bagaimana ?, Apa mbak pernah bertemu Keyya sebelumnya ?." Alsya mulai penasaran.


"Tidak, tidak pernah sama sekali. Tapi, melihat wajahnya dia seperti mirip dengan seseorang, Al."


Semua orang terdiam menunggu ucapan mbak Nisa selanjutnya. Mbak Nisa menatap dalam ke mata Alsya. "Lihatlah matanya, aku yakin kamu pasti masih mengenalinya." Ujarnya pada Alsya.


Alsya tersentak. Dia yang sudah sehari semalam bersama dengan Keyya tapi dia tidak bisa menemukan apa yang diucapkan oleh mbak Nisa. Tapi saat dia melihat wajah Keyya dari kejauhan yang sedang bermain dengan fazal dan Rizal, Alsya pun mulai berpikiran sama seperti mbak nisa. Alsya kemudian beralih menatap wajah suaminya.

__ADS_1


"Ada apa, sayang ?." Tanya Anand yang mulai tidak mengerti dengan pembicaraan antara dua kakak beradik itu.


Alsya menggelengkan kepalanya kemudian melihat ke arah mbak Nisa lagi. "Aku belum menyadarinya, Mbak."


"Tunggu-tunggu, ini sebenarnya apa yang sedang kalian bicarakan ?!." Anand mulai kesal dengan sikap istri dan kakak iparnya itu.


Dia tidak mengerti sama sekali dengan apa yang mereka katakan.


Mbak Nisa terdiam, seakan memberitahukan jika Alsya saja yang harus menjelaskan semuanya pada Anand. Alsya menatap wajah suaminya dengan tatapan teduh.


"Nanti kita bicarakan saat berdua saja, A." Alsya mengelus lembut punggung tangan suaminya yang berada di pangkuannya.


Anand mendesah pasrah. "Baiklah, aku tunggu penjelasan mu." Ucap Anand sambil mencoba tersenyum manis untuk sang istri tercintanya.


"Ya sudah, sebaiknya kita pulang dulu, ya ?." Seru mbak Nisa tiba-tiba.


"Loh, kok jadi tiba-tiba, Mbak ?." Alsya menatap bingung ke arah kakaknya.


"Iya, Al. Kita memang berniat sebentar saja kesininya, karena mas Affan juga haru kembali ke kantornya, dan satu jam lagi guru privat Rizal akan datang ke rumah." Ucap mbak Nisa menjelaskan.


Alsya akhirnya mengangguk pasrah kemudian mengantar kepergian kakaknya beserta keluarga sampai teras rumah. Setelah mobil kakaknya itu sudah tidak terlihat lagi, Alsya mengecek ke arah tempat bermain, dan disana dia melihat Fazal dan Keyya tampak rukun dan saling bersama.


Alsya merasakan seseorang memeluknya dari belakang. Alsya menoleh ke arah wajah Anand yang saat ini sedang disenderkan di bahu kanannya. "Kamu masih memiliki hutang penjelasan padaku, sayang." Ucap Anand mengingatkan istrinya karena dia masih sangat penasaran.


Alsya tersenyum kemudian berbalik sehingga kini mereka menjadi saling berhadapan. "Baiklah, aku akan menjelaskannya padamu, jadi dimana kita akan berbicara ?."


"Di kamar." Jawab Anand langsung.


"Kamar ?." Alsya mengerjitkan alisnya.


"Iya, apa kamu lupa jika kemarin kita berlibur hingga sampai saat ini." Anand mengucapkannya dengan suara yang sangat lirih tepat di dekat telinga Alsya.


Wajah Alsya langsung merona setelah mengetahui ada maksud terselubung dengan permintaan suaminya itu tapi tak urung dia juga menganggukkan kepalanya.


Anand melebarkan senyumannya, segera menggandeng tangan Alsya untuk memasuki lift. Dan setelah sampai di depan pintu kamar mereka Anand masih belum melepaskan genggaman tangannya dan membawa Alsya memasuki kamar kemudian dia menutup kamarnya lagi juga menguncinya.


Alsya hanya menggeleng melihat tingkah laku suaminya itu. Dia dengan pasrah menuruti ucapan suaminya yang menyuruhnya untuk menaiki tempat tidur dan Anand langsung menyusulnya.


Mereka duduk saling berhadapan dia rasa tempat tidur. " Apa kamu yakin mau mendengarnya ?." Tanya Alsya pada suaminya karena dia masih ragu untuk memberitahukan semuanya pada Anand.


Anand langsung mengangguk mantap dengan tatapan mata mengunci wajah istrinya. "Apa ini berkaitan dengan mantan suamimu ?." Tanya Anand menebak.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2