Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Rahasia Fyzha 2


__ADS_3

"Sekarang katakan, ada apa dengan nya ?, Kenapa dia sampai mengeluarkan darah seperti itu ?,." Pria itu bertanya tapi tidak mengira kefokusannya pada jalanan di depan.


Kelanjutan mobil juga masih sangat cepat merangkak membelah jalan kota metropolitan.


"Dia sedang hamil ." Anora menjawabnya dengan suara yang sangat lirih. Mata Anora juga hanya terpaku pada wajah Fyzha.


"Apa ?!."


Anora tidak perduli dengan keterkejutan pria itu karena yang ada dalam pikirannya saat ini hanyalah keselamatan kakaknya. Dia juga teringat sesuatu dan langsung mengambil ponselnya yang berada di dalam tas lalu mengirimkan sebuah pesan pada seseorang.


Mobil sampai di rumah sakit. Pria itu menghentikan mobilnya tepat di depan lobinya. Dia juga segera turun dan mengitari mobilnya kemudian membuka pintu di samping Fyzha.


Tubuh Fyzha diangkat dengan sangat hati-hati oleh pria tersebut. Lalu dibawa ke dalam.


Terlihat beberapa pegawai rumah sakit menghampiri dan segera mengambil alih tubuh Fyzha untuk diletakkan di brankar rumah sakit dan dimasukkan ke dalam ruangan IGD.


Keheningan menyelimuti dua orang yang sedang sama-sama cemasnya memikirkan keadaan Fyzha.


"Kenapa dia nekad sekali ?, Seharusnya dia tau kalau yang dilakukannya sangat berbahaya." Pria itu berucap entah ditunjukkan pada siapa.


Anora yang memang duduk disampingnya jelas mendengar perkataannya. "Karena kamu mencari masalah dengannya." Ucap Anora menjawabnya.


"Aku tidak mencari masalah, aku sudah mengingatkan untuk mengehentikannya tapi dia tidak menghiraukan ku."


Anora terlihat mulai kesal. Dia menatap tajam wajah pria yang sedang duduk di sampingnya itu.


"Kamu sudah lancang memegang tangannya, makanya dia tidak terima!." Sentak Anora.


Pria itu terdiam. "Itu hanya memegang tangan, lalu bagaimana dengan seluruh tubuhnya ?, Bahkan aku sudah memegang seluruh tubuhnya tanpa terkecuali ." Pria itu menjawabnya dengan tatapan mata yang mulai dingin.


Anora tampak syok menghembuskannya. Dia membekap mulutnya sendiri karena sangat terkejut.


"Kenapa, kau terkejut ?, Tapi itulah faktanya karena kami memang pernah melakukannya." Ucap pria itu seenak jidat.


Anora meringsek maju dan...


Plakk !.


"Brengsek !, Jadi kamu yang sudah memperkosa kakakku ?!!." Teriak Anora berapi-api.


Pria itu menyentuh pipi yang baru saja ditampar oleh Anora. Tatapan matanya nyalang menatap wajah Anora. "Aku tidak pernah memperkosanya, dia sendiri yang menyerahkannya tubuhnya padaku !."


Anora semakin kaget dibuatnya. Dia tidak pernah menyangka jika wanita kalem dan baik seperti Fyzha berani melakukan hal bodoh seperti itu. Anora tau kakak angkatnya itu tidak mungkin melakukan hal nista seperti itu.


"Tidak mungkin !, Kakakku bukan wanita murahan yang memberikan tubuhnya untuk di jamah !."


"Memang nyatanya seperti itu."


Perdebatan panjang yang tidak ada akhirnya. Keduanya saling memegang teguh asumsi nya sendiri-sendiri.

__ADS_1


Keduanya kembali terdiam dengan pemikiran masing-masing. Tapi yang jelas, saat ini hati dan pikiran mereka sama-sama sedang bergemuruh hebat.


Pintu ruang IGD dibuka. Pria itu spontan berdiri dan menghampiri dokter yang baru saja keluar dari sana.


"Bagaimana ?." Tatapan pria itu terlihat sangat dingin.


Dokter yang baru keluar terlihat menundukkan kepalanya sambil menghela nafas panjang dan kembali menatap pria itu. "Kami tidak bisa menyelamatkan janinnya, dok." Dokter itu menjawab.


Anora dan pria tersebut sama-sama tertegun. Pikiran mereka kembali berkecamuk hebat. Anora menatap wajah dokter itu dengan pandangan tak percaya. "Tidak bisa diselamatkan, dok ?." Tanyanya seolah masih belum yakin.


"Iya, nona, pendarahannya cukup serius dan janinnya yang masih sangat muda tidak bisa bertahan lebih lama."


Anora tak kuasa untuk menahan air matanya. Dia menangis dengan pandangan menunduk penuh.


"Kalau begitu saya pernah dulu,." Dokter itu membungkuk sopan di hadapan pria tersebut.


Anora tidak mengerti dengan sikap dokternya yang terlihat sangat menghormati pria itu. Tapi, dia juga tidak ada waktu untuk memikirkan siapa pria itu karena yang dia tau, pria itu adalah ayah dari anak yang sempat dikandung oleh Fyzha.


Anora kembali mengangkat wajahnya dan menatap tajam wajah pria itu. "Semua ini karena mu !." Ujarnya penuh emosi.


Pria itu terdiam karena mungkin memang merasa bersalah. "Aku tidak sengaja, lagian aku juga tidak tau kalau dia sedang Hamil." Elak pria itu membela diri sendiri.


Anora menggeleng lemah. "Kau yang telah melenyapkannya, kau melenyapkan anakmu sendiri !." Seru Anora kembali emosi.


Pria itu membelalak kaget. "Anakku ?,." Tanyanya seperti gumaman.


Pria itu menggeleng. "Tapi bagaimana mungkin ?."


Sepertinya pria itu masih belum juga mengerti.


"Apanya lagi yang tidak mungkin ?, Kalian sudah melakukan hal terlarang itu, bukan ?." Anora melengoskan wajahnya dan duduk lagi di kursi.


Anora terdiam dengan sesekali terisak. Dia sudah sangat menyayangi Fyzha sebagai kakaknya sendiri karena memang dia adalah anak tunggal di dalam keluarga nya. Dia juga banyak sekali mendapatkan nilai-nilai agama setempat kenal dengan Fyzha, dia sering kali belajar agama pada Fyzha tapi dia tidak pernah menyangkanya sama sekali jika kakak angkat nya itu pernah melakukan dosa besar.


Tapi Anora juga yakin, ada sesuatu hal yang terjadi pada kakaknya, kenapa bisa sampai melakukan hal tersebut.


Pria itu juga sama sibuknya dalam berpikir. Dia tidak menyangka jika perbuatan mereka waktu itu telah menghasilkan sebuah janin, yah meski sekarang sudah tiada.


Putus cinta ternyata membuatnya menjadi tak terkendali. Dia telah merusak anak gadis orang, bahkan telah membuatnya hamil di luar nikah.


Keduanya terdiam dalam keheningan, hingga dua orang datang dan menghampiri pria itu.


"Ada apa, Fin ?, Siapa yang dibawa ke rumah sakit ?." Tanya salah satu dari dua orang yang baru datang tersebut.


Anora memperhatikan dua wajah itu yang sama satu sama lain.


Ternyata mereka kembar. Ucap Anora dalam hatinya.


Masih memperhatikan dua wajah kembar itu, datang lagi dua orang yang kini menghampiri Anora.

__ADS_1


Melihat orang itu, Anora langsung bangkit dan memeluk salah satunya. "Kakak..." Anora menangis di perlukan wanita yang tak lain adalah Nareena. Dan Nareena datang bersama dengan calon suaminya, Aly.


"Hey, Nora, ada apa ?, Coba ceritakan sama kakak." Nareena begitu lembut mengusap-usap punggung Anora.


"Kak Fyzha, kak... Kak Fyzha ada di sana..." Anora menunjuk pada ruang IGD.


"Astaghfirullah... Kenapa dengan Fyzha, Nora ?." Nareena terlihat sangat terkejut.


Di sisi lain, Aly sangat terkejut dengan kehadiran tiga orang yang sangat dikenalnya. Terlebih dengan pria yang terlihat sedang frustasi itu.


"Affin ?."


"Aly ?."


Tatapan Aly beralih pada mantan kakak iparnya dan Nisa terlihat sangat tenang.


Nareena menoleh pada tiga orang itu. "Mbak Nisa ?." Pekiknya kaget karena melihat kakak dari kakak ipar sepupunya.


"Hai Nareen, kamu ada disini juga ?."


Nareena melepaskan pelukannya pada tubuh Anora dan mendekati mbak Nisa. Mereka berpelukan sebentar. "Aku diberi kabar disuruh datang kesini."


Anora ikut bergabung bersama dua wanita dewasa itu.


"Siapa yang sakit memangnya ?." Tanya mbak Nisa lagi.


"Fyzha, mbak. Aku juga tidak tau Fyzha kenapa bisa sampai masuk rumah sakit." Nareena berucap tapi matanya menatap wajah Anora seakan meminta penjelasan.


Anora menunduk penuh. "Kak, kak Fyzha... Eee kak..."


"Fyzha keguguran." Suara seseorang yang lain yang menjawab.


Semua orang langsung terdiam di tempat. Terlebih Nareena yang terlihat sangat syok mendengarnya. "Keguguran ?,." Ujarnya lirih seperti tidak percaya.


Nareena memandang wajah yang sangat mirip dengan wajah suami mbak Nisa karena pria itulah yang tadi menjawabnya.


"Tunggu-tunggu, apa maksudmu Affin ?,." Mbak Nisa kebingungan. Dia juga menatap wajah Affin.


Kini tatapan semua orang tertuju pada Affin, termasuk Anora. Tapi Anora terlihat sangat ketakutan dan memeluk lengan Nareena. "Kakak..." Panggilnya lirih karena cemas.


Nareena kembali menatap wajah Anora tapi kali ini tatapannya sangat tajam. "Katakan, Nora ?, Apa Fyzha hamil ?, Kalian menyembunyikan sesuatu yang besar pada kami ?!." Nareena semakin menyudutkan Anora.


"Maaf kak, kak Fyzha melarang Nora memberitahu kalian,."


"Kalian keterlaluan !, Apa kalian mikir bagaimana jika om Aryan sama Tante Ningrum tau ?, Dan... Aku tidak sanggup melihat kemarahan Anand..." Nareena mulai menangis.


Semua orang terpaku di tempat. Mereka dalam keadaan sangat bingung.


✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2