Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Hari H


__ADS_3

Hari ini adalah puncak acara pernikahan Fyzha dan Affin. Memang pernikahan Fyzha dilakukan lebih awal dari Nareena, dan itu dilaksanakan setelah Fyzha menyelesaikan masa nifasnya.


Anand sudah memboyong keluarganya dari satu Minggu yang lalu ke rumah utama Ghuinandra, dan selama satu Minggu itu juga sikap Fyzha sangat dingin dan dia selalu menghindar dari keramaian. Entah pernikahan ini Fyzha menerimanya atau tidak tapi yang terlihat di matanya bahwa Fyzha seakan sedang di rundung pemikiran yang carut-marut. Tidak ada senyuman lagi di mata Fyzha, tidak ada lagi canda tawa yang keluar dari sepasang bibir Fyzha.


"Kak, aku mau bicara sama kakak." Fyzha menatap wajah Alsya begitu dalam. Dia juga meminta Alsya untuk mendekat ke arahnya. "Tapi, kakak janji ya?, Jangan kasih tau siapa-siapa, termasuk suami kakak juga."


"Mama sama papa juga tidak boleh ?."


"Iya."


"Baiklah, Fy. Apa yang ingin kamu bicarakan ?."


Fyzha tak langsung mengatakannya dia terdiam seolah sedang memikirkan sesuatu.


"Kak, sebenarnya Affin adalah ayah dari janin yang pernah aku kandung."


Alsya tertegun. Dia menatap tak percaya pada adik iparnya itu. "Maksud kamu, pria yang menjamah tubuh kamu ?."


Fyzha mengangguk mengiyakan.


Alsya membekap mulutnya sendiri karena sangat terkejut. "Astaghfirullah, Fyzha... Terus kenapa kamu tidak ngomong sama Anand kalau pria itu ada di antara kita ?."


"Karena itu adalah kesalahan ku, Affin tidak ada salah sama sekali dalam kejadian itu."


"Sama saja, Fyzha. Affin telah menyentuh kamu. Affin sudah memaksa kamu kan ?."


"Bukan kak, aku sendiri yang menawarkan diri agar dia menyentuhnya."


"Ya Allah, Fyzha... Kenapa kamu melakukan itu ?, Kamu tau kan kalau itu perbuatan hina ?." Alsya semakin tidak mengerti dengan jalan pikiran adik iparnya itu.


Fyzha semakin menunduk karena memang bersalah. "Waktu itu aku lagi banyak pikiran kak, aku frustasi aku hancur... Hiks." Fyzha mulai menangis.


Alsya langsung merengkuh tubuh yang sudah dibalut dengan gaun indah itu. "Apapun masalahmu seharusnya kamu tidak melakukan itu Fyzha."


"Iya, kak. Aku sangat menyesal pernah melakukannya."


Alsya mengusap-usap lembut punggung Fyzha. "Iya, iya. Aku mengerti." Alsya tidak mau membuat Fyzha kembali merasa bersalah.

__ADS_1


Sedang dalam momen haru, tiba-tiba Anand datang dan ikut bergabung diantara mereka. Melihat wajah adiknya membuatnya merasa sedih, karena dia juga tau jika Fyzha sebenarnya tidak menginginkan adanya pernikahan ini.


Menyadari kedatangan kakaknya, Fyzha melepaskan pelukannya dengan Alsya dan dengan segera mengusap air matanya karena tidak ingin membuat Anand khawatir. "Kak."


Anand hanya mengangguk tanpa mengatakan apapun tapi setelahnya dia menoleh ke arah Alsya.


"Keluarga Affin sudah datang." Ucapnya kemudian.


"Baiklah, kami akan ke balkon untuk melihat kedatangan mereka." Alsya yang menjawab.


"Kamu tidak ingin ikut menyambut mereka ?."


Alsya langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, A. Aku akan disini saja menemani Fyzha."


"Baiklah, Mama juga akan kesini setelah selesai penyambutan mempelai. Aku keluar dulu."


"Iya A."


Anand kembali keluar dari kamar Fyzha. Dia juga akan ikut melakukan penyambutan pada kedatangan mempelai prianya.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Satu peristiwa besar yang sangat berpengaruh terhadap perjalanan hidupnya. Dia tidak pernah menyangka akan menikahi wanita yang tidak dikenalnya sama sekali.


Selama hidupnya yang dari berumur sepuluh tahun, Affin sudah kehilangan kedua orang tuanya sehingga dia hanya tinggal berdua bersama kembarannya saja yang diasuh oleh adik dari ayahnya hingga pada umur dua puluh tahun mereka mulai mandiri dan mulai memegang kendali harta peninggalan kedua orang tuanya.


Ayahnya adalah seorang dokter tentara, meninggal ketika dikirimkan pada medan perang sebagai relawan pihak medis di negara tetangga. Lalu ibunya merupakan seorang jaksa yang meninggal saat sedang sibuk mengurus data dari kliennya karena penyakit jantungnya kambuh.


Kaki Affin dan Affan melangkah penuh wibawa memasuki plang bertuliskan *selamat datang* di depan tenda.


Penyambutan yang dilakukan oleh keluarga Fyzha benar-benar membuatnya kaget karena itu sangat berbeda dengan waktu pernikahan Affan.


Cara penyambutan ini adalah adat Jawa kental, dan mungkin itu karena Fyzha merupakan anak dari orang Cirebon yang memang terkenal gaya tradisinya.


Sampai di hadapan keluarga Fyzha, Affin dikalungkan sebuah melati putih yang harumnya masih sangat segar. Lalu dipapah dengan sangat ramah oleh ayah dan kakaknya Fyzha menuju kursi ijab qobulnya.


Saat telah duduk di kursi ijab qobul, perasaan Affin dibuat semakin bergemuruh hebat. Dia semakin deg-degan karena sangat grogi.

__ADS_1


Affin takut jika nanti dia akan salah saat mengucapkan kalimat qobulnya dan Affin juga sangat takut untuk menjabat tangan wali dadi Fyzha nanti tangannya malah gemetaran dan membuatnya semakin grogi saja.


"Santai Fin, jangan terlalu tegang." Bisik Affan yang duduk di sampingnya.


Dibisikkan seperti itu bukannya membuat Affan tenang, tapi malah semakin membuatnya gemetaran.


"Fan, kayanya aku tidak sanggup deh, aku sudah gemetaran sekarang." Affin mulai takut sendiri.


Affan tersenyum. "Tidak apa-apa, itu memang wajar, tapi jangan lupa hatinya berdoa agar acaranya berjalan lancar." Sebagai orang yang berpengalaman, tentu saja Affan bis menjadi guru bagi saudaranya di saat sedang seperti ini.


Affin mengangguk meski ragu.


Acara pembukaan dimulai dengan bacaan Al-fatihah dan seketika itu suasana terasa hening. Setelah selesai pembukaan, acara berlanjut pada murotal yang dibacakan oleh qori terbaik yang diundang langsung oleh Aryan untuk acara penting putrinya ini.


Semua orang kembali terhanyut dalam balutan tenang dan syahdu pembacaan Al-Qur'an oleh suara yang merdu itu.


Acara berlanjut lagi, yaitu ceramah dengan materi pernikahan yang dibawakan oleh ustadz terbaik dari salah satu Kyai besar di salah satu pondok pesantren terbesar di daerah Cirebon.


Hingga acara inti dimulai. Tangan Aryan mulai diulurkan dan tangan Affin menyambut uluran itu dengan tangan sedikit gemetar juga perasaan berkecamuk.


Kedua tangan itu mulai menjabat dengan mantap. Sekilas Affin menatap wajah calon ayah mertuanya itu yang sedang tersenyum padanya seolah sedang memberikan semangat pada Affin agar bisa mengucapkan kalimat qobulnya tanpa ada keraguan.


Affin mencoba membalas senyuman itu meski masih ragu.


"Sudah siap, nak ?." Tanya penghulunya pada Affin.


Affin menghirup udara sebanyak-banyaknya lalu membuangnya perlahan. Dia mengangguk mantap.


"Pak Aryan sudah siap ?." Kali ini pak penghulu itu bertanya pada calon mertuanya.


Aryan juga mengangguk mantap.


"Baiklah, sekarang pak Aryan silahkan memulai kalimat ijabnya." Ucap penghulu itu lagi.


Aryan kembali mengangguk dan menatap lekat wajah Affin sedangkan yang ditatap semakin dilanda oleh ketegangan yang sedang membuncah.


"Bismillahirrahmanirrahim, ankahtuka wazawwajtuka binti Fyzha Auristella Ghuinandra bimahril taqm adawat alsalaat wataqim min 50 qirat min almas alkhalis wakhamsimiayat milyun kash... Haalan !." Semua orang yang hadir seketika merasa tegang mendengar pengucapan proses sakral itu.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2