Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Bangkit kembali


__ADS_3

Waktu terlewat tanpa terasa. Hari-hari senantiasa disertai dengan statistik kehidupan yang mengalir berbeda-beda.


Satu tahun tiga bulan Alsya berada di Cirebon. Kehidupan barunya ini memang selalu dirasa menyenangkan, jauh dari hiruk-pikuk kekesalan yang pernah dia rasakan saat di Jakarta. Hati Alsya sudah kembali tenang dan damai setelah setahun ini dalam pengasingan.


Alsya juga telah diberitahu tentang kematian Hafidhz beberapa bulan lalu. Saat itu tentunya dia langsung syok dan menangis sejadi-jadinya sebab kehilangan sosok salah satu malaikat kecilnya. Tapi itu hanya berlangsung beberapa hari saja, karena Alsya yang sekarang bukanlah Alsya yang dulu. Alsya sekarang, hatinya sudah ditempah sehingga ketika ada ujian yang datang dia akan lebih tenang menghadapinya dan tidak sampai berlarut-larut dalam kesedihan.


Kini Alsya sangat yakin satu hal dalam kehidupan, jika skenario yang lebih baik telah disiapkan dan ujian adalah salah satu jalan menuju hari bahagia itu.


Dan hari inilah akhir dari perjalanannya. Alsya akan kembali ke kota kelahirannya dan menjalankan hidup bersama keluarganya lagi.


Mbak Nisa dan Affan sudah datang dari pagi untuk menjemputnya. Kali ini mereka berdua memaksa untuk tidak menuruti kemauan Alsya yang ingin pulang sendiri tanpa merepotkan keluarga.


Si kecil Fazal juga sudah tumbuh dengan baik. Dia sudah bisa berjalan lancar bahkan kadang berlarian di dalam rumah. Pertumbuhan Fazal bisa dikatakan sangat cepat karena pada usianya yang ke delapan bulan, Fazal sudah bisa berjalan dan usia sebelas bulan dia sudah mulai cerewet tapi dia juga akan menjadi anak yang cuek dan dingin terhadap orang baru.


"Fazal, ayo sini dulu !." Ujar Alsya meminta putranya yang sedang asik bermain kelinci untuk mendekat.


Saat usianya tepat setahun, Alsya memang mengadakan syukuran untuk umur anaknya itu. Dan para tetangga sangat berpartisipasi bahkan memberikan kado yang bermacam-macam untuk Fazal, termasuk sepasang kelinci berwarna abu-abu. Tentu saja Fazal sangat menyukai peliharaannya itu dan kadang bermain hingga lupa waktu.


Fazal menurut dan langsung menghampiri ibunya tapi tidak melupakan kelincinya untuk diikut-sertakan. Fazal dengan tanpa belas kasihan menggendong salah satu kelincinya seperti menggendong boneka saja, dan satu yang dibawa tapi kelinci satunya langsung mengikuti di belakang.


Alsya hanya bisa menggeleng melihat tingkah lucu Fazal. Mbak Nisa dan Affan juga ikut tersenyum melihat tingkah laku keponakannya itu yang kelewat lucu.


"Fazal, kelinci satunya tidak ikut digendong ?." Tanya mbak Nisa sambil berjalan mengambil satu kelinci yang mengekor di belakang si pemiliknya.


Fazal meliriknya sekilas lalu kembali melanjutkan langkahnya menuju sang ibu. Yah, karena jarang bertemu, jadi Fazal bersikap demikian.


Mbak Nisa hanya bisa terdiam melihat keponakannya yang masih saja belum menerima kehadirannya.


"Fazal memang seperti itu, Mbak." Ujar Alsya seakan memahami keterkejutan Kakaknya.


"Huhh iya Al." Mbak Nisa mendengus pasrah lalu melangkah kembali ke tempat duduknya sambil masih menggendong kelinci milik Fazal.


Fazal sampai di hadapan sang ibu. "Ummi..." Fazal menyerahkan kelincinya ke pangkuan Alsya. Lalu wajahnya didekatkan ke telinga Alsya.


"Ummi, kelinci Fazal di ambil..." Adu Fazal dengan suara lirih.


Alsya tersenyum menatap wajah putranya. "Tidak sayang, kelincinya tidak diambil, ibu cuma minjem sebentar." Ucap Alsya lembut.


Fazal menggeleng dengan mulut cemberut. "Tapi, ummi..." Fazal malah merengek.


Mbak Nisa memahaminya dan langsung melepaskan kelinci itu yang ternyata kelincinya segera menghampiri sang pemilik.


"Tuh, kelincinya." Ujar Alsya menunjuk kelinci yang sedang berlari ke arahnya.


Senyuman Fazal langsung merekah saat melihat kelincinya mendekat.


"Sudah, jangan digendong kelincinya. Ayo sekarang Fazal pake sweter dulu." Ujar Alsya mulai memakaikannya di tubuh sang putra.


"Ummi, memangnya kita mau kemana ?."


"Kita mau pulang, sayang."


"Pulang ?."


"Iya."

__ADS_1


"Tapi ini kan rumah Fazal, ummi ?.".


Alsya menangkup wajah Fazal. "Kita mau pulang ke rumah Kakek sama nenek sayang."


"O ya ?!." Fazal tampak sangat senang.


Alsya mengangguk mengiyakan.


"Yeehh. Fazal mau ketemu kakek sama nenek...!,." Fazal jingkrak-jingkrak kesenangan.


Dari semenjak mengerti dan tau semuanya, Fazal memang sering sekali meminta untuk bertemu dengan kakek neneknya dan Alsya tidak pernah menurutinya tapi sekarang dia akan mempertemukan mereka.


Tidak ada yang lebih membahagiakan bagi seorang wanita selain melihat anaknya berbahagia.


"Ayo Al, keburu kesorean." Ujar mbak Nisa yang sudah mendekat.


"Iya, mbak. Ayo sayang ?!." Alsya menggandeng tangan mungil putranya untuk keluar dari rumah.


Karena sebelumnya Alsya sudah berpamitan pada para tetangga jadi hari ini Alsya tidak perlu menghampiri mereka lagi. Tapi saat di luar rumah, mbak Mira dan anaknya ternyata menunggu mereka.


Fazal langsung mendekati anaknya mbak Mira, sepertinya akan melakukan momen perpisahan.


"Sudah beres semua, Al ?." Tanya mbak Mira dengan mata berkaca-kaca.


Alsya tersenyum." Iya, mbak."


"Saya akan sangat merindukan kalian..." Mbak Mira langsung menubruk tubuh Alsya dan memeluknya erat sekali. "Jangan lupa sama kita yang disini ya... Dan sesekali main kesini." Ujar mbak Mira mulai menangis.


"Insya Allah, mbak. Alsya usahakan akan main ke rumah mbak Mira, nanti."


"Saya pernah dulu, ya mbak. Terima kasih atas kebaikan mbak Mira selama ini untukku dan Fazal. Semoga kebaikan mbak Mira dibalas oleh Allah."


Mbak Mira mengangguk. "Aamiin. Semoga kamu juga segera mendapatkan jodoh kembali, yang lebih baik dari sebelumnya." Ujar mbak Mira tulus.


Semua teman-teman Alsya disini memang sudah mengetahui tentang perjalanan hidup Alsya sebelum Alsya pindah ke Cirebon, meskipun tidak sampai mendetail.


"Aamiin... Mari Mbak, assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Ayo Fazal ?!."


"Iya. Dadah kakak...!." Fazal melambaikan tangannya pada anaknya mbak Mira yang langsung membalasnya.


Fazal menaiki mobil di susul dengan dua kelincinya yang senantiasa mengekor di belakangnya kemudian Alsya.


Barang bawaan memang sudah dirapikan di bagasi mobil oleh Affan.


Mobil mulai meluncur menunggu pekarangan rumah yang selama ini selalu dipijaki oleh kaki Alsya. Lingkungan yang telah mengembalikan ketenangan di hati Alsya.


Perjalanan cukup panjang dan menghabiskan waktu lumayan lama. Sesekali mobil berhenti di rest area karena untuk mengerjakan sholat sekalian istirahat. Kadang Affan dan mbak Nisa bergantian untuk menyetir.


Larut malam, akhirnya perjalanan telah sampai di tempat tujuan. Rumah Abah tampak sepi bahkan penjaga gerbang pun sedang tertidur pulas tapi langsung terbangun saat mendengar suara deru mesin mobil mendekat.


Mobil Affan terparkir di halaman rumah Abah. Alsya yang tadi tertidur pulas juga mulai bangun saat mobil telah berhenti. Alsya melirik Fazal yang masih tertidur lelap dipangkuan begitupun dengan kedua kelincinya yang juga tertidur di jok samping tempat duduk Alsya.

__ADS_1


"Al." Mbak Nisa membuka pintu samping Alsya.


"Mbak, Fazal masih nyenyak."


"Iya, ayo keluar."


Dengan hati-hati, sambil membawa Fazal Alsya keluar dari mobil dan melangkah masuk ke dalam rumah bersama mbak Nisa sedangkan Affan dan dua penjaga gerbang ditambah dengan pegawai rumah yang merupakan laki-laki mulai mengeluarkan barang-barang Alsya juga membawa masuk dua kelinci milik Fazal ke dalam rumah.


Rumah sangat sepi di dalam, mungkin Abah dan Umma tidak mendengar kedatangan Alsya dan masih tidur nyenyak. Alsya dan mbak Nisa berpisah, memasuki kamarnya sendiri-sendiri. Alsya membaringkan tubuh Fazal di tempat tidurnya yang terlihat sangat rapi, mungkin memang sudah dipersiapakan sebelumnya.


Alsya dengan cekatan mengganti pakaian Fazal dengan baju tidurnya juga membersihkan tangan, kaki dan wajah sang putra dengan tissue basah. Fazal sedikit menggeliat tapi kembali tenang dan tertidur nyenyak lagi.


Setelah selesai mengurus sang buah hati, Alsya juga segera masuk ke dalam kamar mandi dan membersihkan diri lalu ikut tidur di samping Fazal.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Pagi menyapa, Alsya bangun dari tidurnya, memasuki kamar mandi dan melaksanakan kewajiban ibadah sholat subuh lalu keluar menuju dapur.


Di dapur sudah ada asisten rumah tangga yang sedang masak. Alsya tidak mengenali pegawai itu karena dulu yang menjadi tukang masak di rumah Abahnya bukan yang itu.


"Selamat datang, mbak Al.." sapa wanita itu ramah.


Alsya tersenyum. " Pagi Mbak..." Jawab Alsya tak kalah ramahnya. "Mbak lagi masak apa ?." Tanya Alsya mendekat ke kompor.


"Saya sedang masak ikan mujair balado, mbak."


"Wahh makanan kesukaanku ?!." Ujar Alsya antusias.


Mbaknya tersenyum senang. "Ibu yang menyuruhnya, Mbak." Ucap mbaknya memberitahu.


Alsya manggut-manggut mengerti. "Umma memang sangat peka. Oh ya, umma dimana, mbak ?."


"Tadi sebelum subuh ada disini mbak terus pergi lagi."


"Ouh, ya udah, aku cari umma dulu, Mbak."


"Iya, mbak Al."


Alsya keluar dari area dapur dan mencari umma juga Abah. Saat datang dia belum sempat bertemu dengan kedua orang tuanya karena sampai terlalu larut malam.


Setelah mencari-cari ternyata umma ada di teras samping sedang menyirami tanaman bunganya. Alsya melangkah mengendap-endap untuk memberi kejutan.


"Al, kamu sudah bangun ?." Tanya umma tanpa menoleh.


Alsya langsung menghentikan langkahnya. Rencananya gagal total deh,. Umma terlihat terkekeh kecil.


"Umma, ihh... Gak seru tau ?!." Decak Alsya merajuk tapi dia juga langsung memeluk erat tubuh ibunya dari belakang


Umma membelai lembut pipi putrinya. "Bagaimana kabarmu, nak?, ." Tanyanya lembut penuh kasih sayang.


"Hmm Alsya sekarang merasa lebih baik, Umma."


Umma membalikkan badannya dan kembali memeluk tubuh Alsya. "Alhamdulillah, umma senang mendengarnya. Semoga hati kamu kedepannya akan selalu baik, ya nak."


"Aamiin... "Alsya menatap wajah Ummanya. "Abah kemana Umma ?."

__ADS_1


"Abah lagi keluar tadi sama Affan, umma juga tidak tau kemana mereka."


__ADS_2