Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Keluarga kecil


__ADS_3

Waktu terus berangsur normal kembali setelah kejadian Aly yang membuat Alsya menangis. Dia masih sangat merasa bersalah karena membuat Alsya dan Hafidhz sampai kelelahan menunggunya pulang untuk melakukan sholat berjamaah.


Saat itu, entah kenapa dirinya memutuskan untuk pulang lebih awal yang biasanya jam lima, hari ini dia memilih pulang sebelum ashar karena ingin sholat ashar berjamaah dengan istri dan anaknya di rumah. Aly baru saja keluar dari kantor dan hendak memasuki mobilnya, tiba-tiba ponselnya berdering yang ternyata adalah panggilan dari ummi nyai. Dimana ummi nyai memberitahukan bahwa Halimah pingsan setelah sebelumnya sakit perut. Aly tidak berpikir apa-apa lagi selain menemui istrinya itu yang membuatnya sangat khawatir.


Setelah melakukan perjalanan, Aly sampai di rumah mertuanya dan langsung melangkahkan kakinya menuju kamarnya.


Keadaan Halimah yang tak berdaya di atas tempat tidur membuatnya cemas bukan main. Aly mendekati tubuh istrinya, mengecup kening Halimah berkali-kali seolah kecupannya itu bisa membangunkan sang istri dari terlelapnya.


"Ummi, apa yang terjadi?." Tanya Aly kala itu.


"Ummi cuma tau tadi Imah sakit perut dan saat ummi mau mengambilkan obat, Imah ternyata sudah pingsan..." Jawab ummi dengan wajah yang terlihat sangat cemas.


Aly mengangguk dan segera mengangkat tubuh Halimah untuk dibawa ke rumah sakit, sebab dia tidak tahu apa yang terjadi dengan istrinya itu.


Setelah pemeriksaan, ternyata kabar baik didengar Aly. Dokter yang memeriksa keadaan Halimah mengatakan jika sang istri pingsan akibat kelelahan sebab sedang hamil muda.


Hamil ?.


Yah. Sebab selama dua tahun ini, pernikahannya dengan Halimah masih belum juga dikaruniai seorang anak, mereka menginginkan hal tersebut, apalagi Halimah yang sangat ingin sekali menjadi seorang ibu. Dan inilah jawaban dari doa mereka, bahwa Allah telah memberikan amanahnya di rahim Halimah.


Pergerakan mata Halimah membuat Aly terkesiap, dia menatap wajah istrinya dengan senyum manis.


"Mas..."


"Iya, sayang. " Aly kembali mengecup kening Halimah.


"Aku di rumah sakit ya mas ?."


"Iya, dek. Kamu tahu apa yang terjadi denganmu sampai kamu masuk ke rumah sakit ?."


Halimah mengangguk. "Tadi aku sakit perut. Mas, tadi perutku rasanya sangat sakit sampai aku tidak kuat menahan kesakitannya." Ucap Halimah menjelaskan semuanya pada sang suami.


"Iya, maafkan aku ya. Saat kamu kesakitan aku malah tidak ada disampingmu, dek."


Halimah hanya mengangguk.


"Kamu jangan terlalu lelah, ya. Mulai sekarang, jadwal mengajar kamu dikurangi. "


"Aku memang sering kelelahan, mas. Tapi kalau untuk mengurangi jadwal mengajar, aku nggak mau. Aku sangat suka jika bisa berinteraksi dengan anak-anak santri." Tolak Halimah.


"Ya Allah... Istriku ini kapan bisa nurutnya sama suami, Hem ?." Aly mencubit gemas hidup istrinya.


"Iya, tapi, mas..."


"Itu untuk kebaikan calon buah hati kita, sayang... Nanti dia kenapa-napa kalau kamu kamu tetap ngeyel."


"Mas." Halimah menatap tajam suaminya dengan pandangan mata yang berkaca-kaca. "Calon buah hati kita, mas ?." Tanyanya pada Aly.


Aly tersenyum dan mengangguk. Tangannya mengusap lembut perut sang istri yang terhalangi oleh kain pakaian. "Kali ini nurut ya, sama mas." Ucap Aly sangat lembut.


Halimah menyentuh tangan suaminya yang masih bergerak di perut. "Iya, mas. Imah nurut." Jawabnya yakin.


"Alhamdulillah, mas seneng dengernya."


Halimah bergerak berusaha bangkit dari tidurnya untuk duduk. Aly dengan sigap membantu.


Setelah sudah duduk, Halimah langsung menubruk tubuh suaminya dan memeluknya erat sekali. "Allah mengabulkan doa kita, mas... Aku sangat senang sekali..." Ucapnya meluapkan rasa bahagianya.


"Iya, sayang. Mas juga senang karena akhirnya dia kita dikabulkan." Ucap Aly sambil tangannya mengusap-usap punggung Halimah.


Halimah kembali melepaskan pelukannya. "Sekarang, mas Aly pulanglah. Ini sudah sore, anak dan istrimu pasti menunggumu." Ucap Halimah tiba-tiba.


"Dek." Aly sungguh tak menyangka jika Halimah akan mengatakan hal demikian.


"Bagaimanapun, aku hanya istri sirihmu, mas. Jadi sudah sepantasnya aku mengalah."

__ADS_1


"Astaghfirullah, dek. Kamu ini ngomong apa sih ?!. Mas nggak suka kamu bisa seperti itu." Tegur Aly dengan suara sedikit meninggi.


Halimah hanya tersenyum mendapati teguran dari suaminya. "Apa kamu amnesia, mas ?. Yang aku ucapkan memang nyata, kan ?. Udah ahh, sana. Kamu pulanglah, Hafidhz pasti sedang menunggu abinya pulang."


"Dek..."


"Mas."


"Maaf."


"Aku mengerti, mas. Sudah, sama. "


"Baiklah, mas pulang dulu." Aly mengecup kening Halimah, di lanjut dengan kedua matanya, hidungnya, beralih pada kedua pipinya dan berakhir di bibir Halimah.


Halimah hanya pasrah diperlakukan demikian oleh sang suami tercintanya. "Mas ."


"Iya, iya. Mas pulang ya ?. Assalamualaikum.."


"Iya, mas. Waalaikumsalam."


"Pak."


Lamunan Aly karena panggilan bawahannya. "Iya, Ren ?." Ucap Aly saat tau siapa yang memanggilnya.


"Maaf, pak. Ini saya bawakan berkas yang bapak minta tadi." Ucap asistennya lalu menyodorkan sebuah map besar berisi data akumulasi keuangan perusahaan.


"Oh, iya, terima kasih. "


"Iya, pak. Kalau begitu saya permisi keluar lagi pak."


"Iya, silahkan."


Sepeninggalan asistennya, Aly mulai menyibukkan diri dengan berkas yang tadi dibawakan. Dia ingin memeriksa laporan keuangan perusahaan yang selama ini tanpa sempat dia urus karena lebih sibuk dengan urusan pesantrennya.


Deretan angka yang terlihat kecil-kecil membuatnya harus memfokuskan perhatiannya, akhir-akhir ini dirinya memang kerap kali menemukan kejanggalan dalam anggaran keuangan perusahaan, dan dia yakin pasti itu ada kaitannya dengan data akumulasi keuangan sebelum dirinya datang mengurus.


Perhatian Aly langsung buyar, matanya menoleh ke arah pintu.


"Waalaikumsalam, Al ?."


Alsya dengan senyuman manisnya mendekati. "Aku ganggu kamu ya, mas ?." Tanya Alsya saat melihat lembaran-lembaran kertas dihadapan suaminya.


"Nggak, sayang. Tenang saja. Hafidhz tidak di ajak ?."


"Diajak. Dia tadi minta ikut sama Rendi." Alsya menyalami tangan suaminya.


"Ehh, ada-ada saja dia." Aly terkekeh mendengar ucapan istrinya.


Bukan hal aneh memang jika ke kantor Hafidhz lebih memilih bertemu dengan sosok asistennya itu dibandingkan dengan abinya sendiri.


Aly menghampiri istrinya yang sudah duduk di sofa.


"Kamu datangnya kecepatan, Al. Ini belum masuk waktu makan siang." Ujar Aly sambil duduk di samping Alsya.


"Tidak apa-apa lah mas. Lagian aku jenuh di rumah terus."


"Mau jalan-jalan?, Hem?."


"Mau, mas. Tapi kemana ?."


"Kamu maunya kemana?. "


Alsya terdiam seperti memikirkan sesuatu. "Mas, Hafidhz pernah minta ke taman binatang." Ucap Alsya setelah mengingatnya.


"Baiklah, kita ke taman binatang." Putus Aly akhirnya.

__ADS_1


"Makasih, mas." Alsya memeluk erat tubuh suaminya.


"Iya, sayang."


"Assalamualaikum... Ehh maaf pak, Bu. Saya tidak tahu." Rendi yang sudah kepalang masuk ke dalam ruangan hanya menunduk merasa bersalah pada bos-nya sebab mengganggu momen romantis bosnya bersama sang istri.


"Tidak apa-apa, Ren. Biasa saja." Ucap Aly santai lalu melepaskan pelukannya bersama sang istri.


"I-iya, pak." Rendi yang sedang menggendong tubuh anak majikannya mendekati sang pimpinan untuk memberikan Hafidhz pada orang tuanya.


"Ren, kami akan pulang sekarang. Kamu tolong cek berkas yang ada di meja saya ya. Kalau menemukan sesuatu yang tidak beres langsung laporan."


"Baik, pak. Akan saya laksanakan."


"Iya, terima kasih. Ayo, sayang?!."


"Tapi, mas. Ininya bagaimana ?." Alsya menunjukkan kotak makan siang yang masih belum tersentuh sedikitpun.


"Kita bawa pulang lagi, ya."


Alsya menoleh ke arah Rendi. "Mas, kalau buat Rendi aja gak papa, kan ?." Tanyanya pada sang suami.


"Hemm, baiklah. Terserah kamu aja, Al." Jawab Aly.


"Makasih, mas. Rendi. Ini jangan lupa dimakan ya."


"Untuk saya, Bu?." Tanya Rendi tidak percaya.


"Iya."


"Tapi, ibu membawanya untuk pak Aly." Ucap Rendi merasa bersalah pada bos-nya.


"Tidak apa-apa. Bos mu sudah mengizinkannya. Jangan lupa dimakan."


"Makasih, Bu, pak."


"Iya. Kami pulang dulu Ren. Assalamualaikum." Ujar Aly.


"Waalaikumsalam."


Aly menggendong tubuh putranya, mereka keluar dari kantor, tepatnya dari perusahaan milik Aly. Perjalanan ke rumah terlebih dahulu sebab tidak mungkin mereka ke tempat wisata dengan pakaian Aly yang masih formal.


"Abi, kok abi udah pulang ?." Tanya Hafidhz saat mereka sudah sampai di teras rumah.


"Iya, nak. Abi udah pulang karena kita akan jalan-jalan." Jawab Aly mengusap lembut kepala putranya.


"Jalan-jalan ?. Kemana Abi ?."


"Ke taman binatang. Hafidhz katanya mau ke taman binatang, kan ?."


Hafidhz langsung mengangguk antusias. "Iya, Abi." Jawabnya polos.


"Ya udah, Hafidhz tunggu disini sama ummi ya. Abi mau ganti baju dulu, terus kita pergi ke taman binatang."


"Iya, Abi."


"Al, mas keluar dulu ya ?."


"Iya, mas."


Aly tersenyum lalu keluar dari mobil dan beberapa saat kemudian, sudah kembali lagi dengan pakaian kasualnya yang terlihat santai membuatnya seperti anak remaja saja.


"Kita berangkat... !. Bismillah..." Ujar Aly dengan suara cerianya membuat sang putra terkekeh melihat tingkah laku ayahnya.


Mobil mulai meluncur, melakukan perjalanan ke taman binatang yang terkenal di kota Jakarta.

__ADS_1


____________


__ADS_2