Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Pria aneh 2


__ADS_3

Dimas memutuskan keluar dari apartemen untuk mencari makanan demi mengganjal perutnya yang sudah mulai keroncongan. Sebelum keluar, Dimas meminum air mineral agar tubuhnya tidak terlalu lemah saat berjalan.


Sampai di luar bangunan apartemen yang salah satunya adalah miliknya itu, Dimas melangkahkan kakinya menuju restoran yang biasa dia kunjungi di seberang jalan.


Setelah sampai lalu mencari tempat duduk, dia langsung memesan makanan dan hanya menunggu beberapa menit saja makanan yang dipesannya telah tertata rapi di atas meja. Dimas makan dengan malas-malasan sebab lidahnya sedang tak berselera untuk makan. Tapi, karena dia sayang pada perutnya yang sudah mendemo jadi dia tidak bisa egois.


Setengah makanan telah habis disantapnya, Dimas bangkit dari tempat duduk dan melangkah pergi setelah melakukan pembayaran.


Meski telah meminum banyak, nyatanya Dimas masih bisa berjalan dengan normal dan hanya bisa menahan kepalanya yang terasa pecah saja. Bukannya kembali ke apartemennya, Dimas malah berjalan santai dengan tanpa arah dan tujuan sebab dirinya tidak membutuhkan apapun selain ketenangan.


Semilir angin malam yang tercampur dengan polusi udara berhembus kencang menerpa tubuhnya yang luntang-lantung tak karuan dan dengan berusaha keras menahan kepalanya yang semakin terasa berdenyut-denyut sakit. Dengan memaksakan diri untuk terus berjalan, namun nyatanya kepalanya semakin sakit saja sampai membuatnya limbung ke belakang namun tidak terjadi karena tiba-tiba ada yang menyangga tubuhnya.


Dimas melirik wajah cantik berbalut hijab yang terasa meneduhkan untuk dipandang. "Alsya...?" Gumamnya sambil tersenyum dengan mata terus memandang lekat wajah ayu itu.


Gadis yang dia sangka adalah Alsya itu memapah tubuhnya berjalan menuju apartemen sederhana yang tidak dia kenal sama sekali. Mereka masuk ke dalam salah satu ruangan dan gadis itu mendudukkan tubuhnya di atas sofa di ruangan kecil seperti sebuah ruang tamu lalu pergi entah kemana.


Dimas masih sangat sadar dan menelisik setiap sudut ruangan dengan tatapan mata intens. Pusing di kepalanya masih terasa membuatnya langsung merebahkan diri di sandaran sofa sambil memijit pelipisnya sendiri yang terus berdenyut sakit.


"Ini, minumlah !." Suara seorang perempuan membuat Dimas terkesiap dan segera menegakkan kembali tubuhnya.


Dimas menerima uluran tangan yang sedang memegang gelas itu dengan mata menatap lekat wajah cantik dihadapannya. Dimas meminum air yang aromanya seperti campuran bahan rempah-rempah. Minuman itu terasa langsung menyegarkan tenggorokannya yang sedang kering lalu saat airnya masuk melewati tenggorokan dia merasa tubuhnya menghangat bahkan sakit kepalanya pun sedikit berkurang. Minuman ajaib !. Pekik Dimas dalam hatinya.


Dimas menyerahkan kembali gelas yang isinya sudah habis tak tersisa sama sekali pada gadis di hadapannya itu. "Terima kasih.." ucapnya tulus.


"Sama-sama." Jawab gadis itu lalu beranjak pergi ke ruangan lain.


Dimas yang penasaran langsung mengikuti langkah gadis itu yang ternyata menuju ruangan seperti ruang dapur. Dari ambang pintu perbatasan antara ruangan satu dengan ruangan lainnya, Dimas memperhatikan gerak-gerik gadis itu yang sedang mencuci tangan di wastafel. Dengan terus memandanginya Dimas seperti melihat sosok gadis pujaannya pada diri gadis yang menolongnya itu. Wajah teduh, bibir tipis, hidung kecil mancung dan dagu lancip itu hadir di hadapannya saat ini. Tanpa terasa ternyata Dimas berjalan mendekati tubuh gadis pujaannya itu.


"Tu-tuan !. Kau kenapa ?!." Pekik gadi situ sangat terkejut dengan sikap Dimas yang menurutnya sangat menakutkan.


Dimas seolah menutup rapat telinganya sehingga tidak mendengar keterkejutan gadis yang kini sudah ada di hadapannya itu. Tangan Dimas terulur dan mengusap lembut wajah gadis yang mulai ketakutan itu.

__ADS_1


"Tuan, apa yang kau lakukan ?!. Lepaskan tubuhku !!." Teriak gadis itu sambil mendorong keras tubuh Dimas namun ternyata tenaganya tidak seberapa.


"Kamu gadisku, Alsya... Kenapa kau malah sudah menjadi istrinya ?, Hahh ?." Ucap Dimas semakin memojokkan tubuh mungil gadisnya.


"Aku mencintaimu, Alsya. Apa kau tidak bisa membuka hatimu untukku ?... Al, dia hanyalah pria sialan, dan kau tidak pantas menjadi istrinya!." Ucap Dimas lagi dengan tatapan sendu dan menatap lekat wajah gadisnya.


"Tuan, tolong lepaskan aku..." Ucap gadis dihadapannya mulai terisak karena Dimas mengunci kedua tangannya di samping tubuhnya.


"Tidak. Kau gadisku, Alsya !. Kau hanya milikku !." Geram Dimas mulai kalap semakin mencengkram kuat lengan gadis yang berusaha memberontak itu.


"Awh !. Tuan lepaskan tanganku !." Gadis itu semakin merintih kesakitan karena pergelangan tangannya mulai memerah sebab dicengkeram dengan keras oleh pria yang tidak dia kenal sama sekali.


Dimas yang melihat gadis dihadapannya mulai terisak mulai melepaskan genggaman tangannya yang telah membuat gadisnya terluka lalu mengangkat kedua tangan yang terluka itu ke hadapan wajahnya dan menciumnya lembut seolah dia sedang memberikan penawar agar luka itu sembuh. "Maaf..." Ucapnya lirih.


Dimas berpaling dan melangkah pergi dari hadapan gadis itu menuju ke ruang utama, meninggalkan gadis yang terkulai di lantai dengan tangisan yang terisak-isak.


Dimas bukan ingin meninggalkan gadisnya, dia hanya ingin mengontrol diri agar tidak melukai gadis yang sangat dicintainya itu. Dimas duduk di sofa ruang tamu, menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa dengan mata terpejam untuk menenangkan pikiran dan hatinya.


Setelah beberapa saat, Dimas bangkit dari duduknya dan melangkah ke arah pintu dan menguncinya lalu berjalan ke arah dapur. Hatinya merasa bersalah saat melihat gadisnya masih terisak dan dan terduduk lemah di atas lantai. Dimas melangkah menghampiri dan berjongkok di hadapan gadisnya. Tangannya terulur mengusap sayang kepala gadisnya lalu beralih pada kedua tangannya dan membantunya untuk bangkit.


Dimas menuntun gadisnya menuju sebuah ruangan yang dia kita adalah kamarnya dan ternyata benar bahwa itu adalah kamar gadisnya. Dimas mendudukkan tubuh gadisnya di tepi ranjang.


"Istirahatlah." Ucapnya lirih dengan nada lembut tidak seperti tadi saat di ruang dapur.


Gadis itu hanya bergeming dan memalingkan wajahnya dari wajah pria tak dikenalnya. "Pergi..." Ucapnya terdengar pilu.


"Tidak, aku tidak akan pernah meninggalkan gadisku. " Ucap Dimas yang masih mengira bahwa gadis dihadapannya ini adalah Alsya.


Indra penglihatan Dimas memang sudah tidak waras.


"Aku bukan gadismu !. Kau salah orang..." Ucap gadis itu sambil terisak-isak dan menatap tajam wajah Dimas. "Aku tidak mengenalmu !." Lanjutnya.

__ADS_1


"Sudah aku bilang, aku mengenalmu meski kau tak mengenalku !." Ucap Dimas dengan suara meninggi.


Gadis itu langsung terdiam karena ketakutan kembali melanda hati dan pikirannya.


Dimas kembali mengusap lembut kepala gadisnya saat melihat wajah ketakutan gadisnya itu. "Jangan membuatku marah..." Ucapnya sangat lembut terdengar.


Gadis itu semakin terisak tak terkendali membuat Dimas semakin marah sebab dia tidak suka melihat gadisnya menangis. Dimas semakin kalap.


"Tuan !. Lepaskan !. Tidak !. Jangan !." Gadis itu terus berteriak keras dan tangannya memberontak keras.


Dimas sudah kehilangan kewarasannya sehingga tidak memperdulikan jeritan dan rintihan kesakitan gadis yang sedang ketakutan itu, karena yang ada dipikirannya saat ini adalah kemarahan yang meletup-letup dan harus melampiaskannya.


Dimas bahkan tidak memiliki belas kasihan sama sekali ketika merenggut paksa kehormatan gadis yang berada di dalam kuasanya itu.


Tangis gadis itu semakin terdengar pilu karena tindakan kurang ajar yang dilakukan oleh Dimas. Dan ternyata itu membuat mata hati Dimas terbuka. Dimas mematung di tempat sambil menatap wajah yang sudah dibanjiri oleh air mata di hadapannya dengan perasaan bersalah dan penyesalan yang mendalam.


 


"Apa yang telah kulakukan ?!." Dimas mengeram keras lalu bangkit dan menjauh dari tubuh gadis yang telah dia nodai.


Tubuh gadis itu bergetar hebat dengan tangisan yang menjadi-jadi dan terdengar sangat menyayat siapapun yang mendengarnya, tak terkecuali dengan Dimas sendiri.


Dimas dengan rasa bersalahnya langsung keluar dari kamar tersebut dan pergi dengan meninggalkan luka mendalam terhadap gadis tak berdaya itu.


Dimas berjalan dengan tergesa-gesa keluar dari apartemen gadis malang itu menuju ke apartemennya sendiri. Dia benar-benar merutuki perbuatannya sendiri yang telah kurang ajar terhadap anak gadis orang yang dia kira adalah Alsya.


Dimas membanting diri di atas tempat tidur saat sudah memasuki kamarnya sendiri. Matanya terpejam rapat, masih teringat jelas bayangan gadis malang itu yang terus berteriak keras untuk dilepaskan dari kuasanya. Dia benar-benar menjadi pria yang lebih brengsek dari suami Alsya, ternyata.


 


"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu... " Gumamnya saat bayangan wajah teduh gadis malang itu terlihat didepan mata.

__ADS_1


 


______________


__ADS_2