Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Sisi lain Fyzha


__ADS_3

Hari ini Fyzha memilih pulang lebih awal karena tubuhnya yang memang sedang tidak fit. Fyzha ingin segera mengistirahatkan tubuhnya di atas tempat tidurnya di rumah.


Fyzha masuk ke dalam rumahnya dan segera beranjak menuju ke kamar lalu tanpa membersihkan diri dulu dia langsung menuju tempat tidur dan terlelap.


Tidur yang nyenyak untuk tubuh yang terasa tidak nyaman. Dalam tidurnya, sebuah mimpi indah datang menghampirinya.


Di dalam mimpi itu, dia melihat seorang pria yang mendekat ke arahnya dengan senyuman manisnya. Fyzha yang kurang mengenal wajah pria tersebut hanya berdiri kaku hingga pria itu tiba-tiba sudah di hadapannya saja.


Pria itu melakukan hal yang membuat Fyzha terkejut. Dia mencium kening Fyzha tanpa mengatakan apapun sebelumnya. Fyzha semakin terpaku di tempat dengan apa yang sedang terjadi padanya.


"Jangan menghilangkannya..." Ucap pria itu yang terdengar sangat ambigu.


Fyzha tidak mengerti apa maksud dari ucapan pria itu. Dia ingin bertanya tapi pria itu tiba-tiba menjauh dan semakin menjauhi tubuhnya hingga lenyap menjadi abu yang perlahan memudar.


"Tunggu !!." Teriak Fyzha kembali pada kesadarannya dengan tiba-tiba duduk dan tangan seperti hendak meraih sesuatu.


Fyzha termenung. Jantungnya berdetak kencang dan bergemuruh. Berulang kali bibirnya mengucapkan lafadz istighfar atas mimpi aneh yang menghampirinya barusan.


"Ya Allah... Mimpi apa aku ?." Gumamnya lalu meraup wajahnya sendiri.


Fyzha memilih bangkit dan segera masuk ke kamar mandi setelah sadar bahwa dia masih dalam keadaan berpakaian formal bekas ngantor tadi.


Setelah tubuhnya merasa lebih segar, kini perutnya yang terasa sangat lapar. Fyzha bergegas ke dapur untuk membuat makanannya sendiri.


Di rumahnya memang tidak ada orang lain selain dirinya sendiri. Rumah minimalis modern yang hanya memiliki satu lantai, jauh dari rumah Nareena apalagi Anand yang memiliki rumah mewah dan sangat besar.


Sebenarnya Fyzha juga mampu membeli rumah besar seperti saudara-saudaranya, hanya saja dia merasa itu tidak perlu. Dia ingin menikmati kehidupan yang secukupnya saja dengan sederhana. Tidak ada pegawai apalagi pelayanan yang mengurus rumahnya. Dia ingin menjadi wanita mandiri yang mampu mengurus kehidupannya sendiri, baik itu di rumah maupun di perusahaannya.


Tangan Fyzha membuka kulkas untuk mencari bahan-bahan yang bisa untuk dimasak dan dia hanya menemukan sawi hijau, wortel, telur, dan seperempat daging ayam. Semuanya dikeluarkan oleh tangan Fyzha dan meletakkannya di atas meja untuk disiapkan. Fyzha beralih ke rak bumbu-bumbu, memeriksa semua bumbu yang dibutuhkan dan menemukan satu bumbu yang ternyata sudah habis. "Astaghfirullah... Garamnya habis lagi." Decaknya sedikit kesal karena bumbu utama untuk memasaknya telah habis.


Fyzha langsung bergegas kembali ke kamar dan memakai pakaian tertutupnya berikut dengan kerudung simpel lalu dia keluar dari rumahnya untuk membeli kebutuhan memasaknya.


Warung sayuran sedikit jauh dari rumah, tapi masih bisa dijangkau meski hanya berjalan kaki. Dengan santai dan sesekali bibirnya bersenandung sholawat nabi yang sering dia dengar dari Alsya jika kakak iparnya itu sedang menidurkan anak-anaknya.


Tin Tin Tin

__ADS_1


Suara klakson mobil membuat Fyzha reflek menoleh ke belakang. Terlihat mobil berwarna hitam yang melaju pelan ke arahnya. Kaca mobil itu terbuka setengah posisi mobil tersebut tepat di sebelah Fyzha berdiri.


Deg.


Seseorang yang sangat ingin dihindari oleh Fyzha kini sedang menatapnya dengan tatapan mata yang membuatnya kesal. Fyzha ingin segera pergi dari sana, tapi entah mengapa kakinya seakan sangat susah digerakkan.


"Hai... Kita bertemu lagi nona...?." Pria itu semakin melebarkan senyumannya yang membuat Fyzha emosi.


"Mau apa kamu ?!." Sentak Fyzha langsung marah.


Pria itu menyeringai lebar. "Santai saja nona, jangan marah-marah seperti itu."


Fyzha semakin kesal dan jijik dibuatnya. Dia segera berlari dari sana untuk menghindari pria yang masih duduk di mobilnya itu. Tapi Fyzha tidak menyadari jika pria itu telah turun dari mobilnya dan mengejar langkahnya hingga ketika tangan Fyzha ditarik membuatnya berhenti berlari.


"Lepas !!." Fyzha menghentakkan tangannya membuat genggaman tangan pria itu lepas dari pergelangan tangannya.


"Wow... Kamu kasar juga ternyata ?!." Decak pria itu dengan tawanya yang menurut Fyzha sangat menyeramkan.


"Terserah !." Fyzha kembali melangkah namun lagi-lagi tangannya ditarik bahkan kali ini lebih keras sehingga membuatnya terhuyung ke belakang dan berakhir menabrak tubuh kokoh pria itu.


"Sudah aku peringatkan, jangan menemuiku lagi !." Sentak Fyzha menatap tajam wajah pria itu.


Pria itu menunduk menatap wajah Fyzha . "Kenapa ?, Apa kau mau ?, Karena waktu itu kau sendiri yang...."


"Diam !!!." Teriak Fyzha membuat ucapan pria itu tak dilanjutkan. "Kamu akan tau akibatnya jika masih menggangguku !." Ucap Fyzha menekankan setiap katanya.


Fyzha berbalik dan kembali melanjutkan langkahnya.


"Apa aku harus takut dengan ancaman mu, nona ?!. Tapi sepertinya aku tidak akan pernah takut padamu !, Hahaha !!."


Tawa pria itu semakin menyulut api emosi dalam diri Fyzha. Dia segera berbalik dengan tatapan nyalangnya dan siap melenyapkan pria dihadapannya kini.


"Jangan membuat masalah, jika kau masih ingin sehat !." Ucapnya penuh penekanan pada setiap kata-katanya.


Pria itu terdiam di tempat dengan tatapan mata lekat memandang wajah Fyzha yang diselimuti oleh emosi.

__ADS_1


Fyzha menyeringai mengejek lalu kembali berbalik dan melanjutkan langkahnya lagi.


"Dari awal aku melihat mu, aku bisa menyimpulkannya bahwa kau memang wanita arogan. Tapi aku suka caramu waktu itu, apa kau ingin mengulanginya lagi ?."


Pria itu benar-benar memancing amarah Fyzha. Fyzha kembali mendekati pria itu. "Apa kau suka caraku waktu itu, tuan?. Aku ingin memberimu cara lain, apa kau mau ?." Tanyanya seperti menantang.


Pria itu tersenyum. "Dengan senang hati, nona." Jawabnya semakin menyeringai meremehkan.


Fyzha tersenyum lebar. Tapi sayang, senyumnya saat ini bukan malah membuatnya cantik tapi lebih pada menyeramkan.


Dengan sekali gerakan yang sangat lincah dan Tek terduga Fyzha melayangkan pukulan kerasnya ke perut pria itu.


Bugghh


Pria itu terhuyung ke belakang tapi tidak sampai terjerembab. Tidak hanya sampai di situ. Sebelum pria tersebut menegakkan badannya lagi, Fyzha lebih dulu melayangkan tendangannya yang tepat mengenai rahang tegas pria tersebut.


Pria itu tersungkur di tanah. Dia meringis mengusap-usap rahangnya yang memerah karena ulah Fyzha, ditambah bibirnya sedikit mengeluarkan bercak darah. Keadaan yang mengenaskan !.


"Kau ?!." Pria itu menatap tajam wajah Fyzha yang sedang tersenyum menang.


Fyzha mendekat dan berjongkok di hadapan pria itu. "Iya, tuan ?, Apa kau menikmati caraku yang sekarang ?." Tanya Fyzha semakin mengejek dan tersenyum menyeramkan.


"Hey !!, Kau ini perempuan apa pria sih ?!!." Sembur pria itu sangat marah.


Fyzha tertawa lepas. Lalu kembali menatap tajam wajah pria itu. "Aku kira, waktu itu kamu sudah tau aku perempuan atau pria ?." Fyzha menyeringai sinis.


"Awas saja kau !." Geram pria itu seperti ingin membalas tapi dia sedang dalam keadaan mengenaskan.


Fyzha berjongkok di hadapan pria itu. "Kau sedang menakutiku, tuan ?."


Plakk !!.


Tamparan itu mendarat mulus di pipi pria tersebut. Bercak darah yang keluar dari mulutnya kini bertambah.


"Jika kamu masih sayang dengan nyawamu, jangan pernah berani menunjukkan lagi wajahmu di hadapanku !." Ancaman yang cukup menyeramkan.

__ADS_1


Fyzha kembali berdiri lalu melangkah pergi meninggalkan pria malang itu.


__ADS_2