Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Bos Aneh


__ADS_3

Dengan tangan gemetar dan mata berembun, Aly memegang kartu undangan yang entah kapan datangnya tiba-tiba sudah ada di meja kerjanya saja. Di cover awal, dua nama sudah tercetak rapi dan elegan. Aly mengusap cetakan yang bertuliskan nama Alsya, dulu namanya yang bersanding dengan nama itu dan sekarang nama itu sudah bersanding dengan nama lain, bahkan orangnya pun akan bersanding dengan orang lain.


"Maaf, pak. Bisa saya ambil undangannya ?, Tadi saya tidak sengaja menjatuhkannya di ruangan bapak." Sekretaris Aly masuk dan meminta kertas undangan yang digenggam Aly.


Aly memberikannya meski enggan.


"Makasih, pak. Sekali lagi maafkan kecerobohan saya." Ujar sekretaris itu sedikit takut bosnya marah.


Aly hanya mengangguk lalu duduk di kursi kebesarannya. Sedangkan wanita yang masih ketakutan itu melenggang pergi dari ruangan Aly.


Nareena Amoura. Entah siapa gadis itu sehingga dia bisa mendapatkan undangan pernikahan Alsya. Aly sedikit penasaran dengan latar belakang gadis berusia dua puluh empat tahun dan menjabat sebagai sekretaris pribadinya di perusahaan.


Gadis itu baru bekerja di perusahaannya sekitar tiga bulanan dan kemampuannya dalam bidang kesekretariatan benar-benar mumpuni sehingga dapat diandalkan.


Tapi satu hal yang membuat penilaian gadis itu turun yaitu dia orang yang ceroboh.


Aly sudah tidak ingin memikirkan gadis itu untuk saat ini. Dia mulai menyibukkan diri dengan berkas-berkas perusahaannya tanpa ingin memperdulikan hal-hal lain lagi.


Waktu berjalan begitu cepat hingga tiba waktunya makan siang tapi Aly hanya melirik sekilas ke arah jam tangannya lalu kembali lagi pada kesibukannya.


Aly tidak memperdulikan lagi tentang kesehatan tubuhnya dan memilih untuk terus kerja dan kerja. Selama dua bulan terakhir ini kehidupannya tidak lain hanyalah berkas-berkas perusahaan dan menghabiskan waktunya di tempat hiburan malam. Semuanya sangat tidak ada baiknya untuk Aly tapi Aly seolah acuh saja dan malah sangat menikmatinya.


"Permisi..." Seseorang masuk ke ruangan. Seorang gadis yang beberapa jam lalu baru saja keluar dari ruangan.


"Hem ?." Gumam Aly tanpa mau melihat ke arah orang tersebut.


"Maaf, pak. Ini ada makanan, silahkan..." Ujar wanita itu menyodorkan sebuah box makanan dari restoran yang cukup terkenal.


"Siapa yang menyuruhmu membelikan makanan ?." Tanya Aly sengit dan menatap tajam wajah wanita itu.


Nareena menundukkan kepalanya karena takut. Dia memang tidak disuruh oleh siapa-siapa tapi dia sebagai sekretaris pribadi tentunya tak mungkin tega melihat bosnya kelaparan. Jika kelaparan terus sakit dan berakhir meninggal, kan dia sendiri yang rugi karena nanti siapa yang menggaji kerjanya ?.


"Maaf, pak. Bukan saya bersikap lancang, tapi bapak belum makan siang jadi saya berinisiatif untuk membelikannya." Ucap Nareena jujur.

__ADS_1


"Tapi saya memang tidak ingin makan siang. Kamu bisa bawa lagi makanannya." Ujar Aly dingin dan keras tanpa mempedulikan apakah sekretarisnya itu sakit hati atau tidak karena kebaikannya tidak dihargai sama sekali.


Nareena akhirnya mengangguk pasrah lalu membawa kembali box makanan itu keluar dari ruangan bosnya.


Sampai di luar Nareena meletakkan box itu kesal di atas mejanya sendiri. "Punya bos ngeselinnya minta ampun !. Huhh dasar orang kaya sombong !." Decak Nareena kesal lalu membanting tubuhnya di atas kursi.


Seandainya keadaan ini bukan karena perintah ayahnya, Nareena bahkan tidak akan mau bekerja di perusahaan yang pemiliknya adalah orang aneh plus ngeselin ini. Dan entah kenapa ayahnya itu malah mendaftarkan dirinya di perusahaan ini !.


Nareena melirik box yang masih utuh itu, daripada terbuang dia memilih memberikannya pada pegawai lain saja dan kebetulan seorang housekeeping lewat.


Nareena bergegas menghampirinya dan memberikan makanan itu pada seorang pria muda yang berseragam sebagai tukang bersih-bersih.


"Makasih, Bu." Ujar pria itu terlihat sangat bahagia.


"Iya, sama-sama." Jawab Nareena ramah.


Nareena kembali ke meja kerjanya lalu melanjutkan pekerjaannya yang tadi sempat terjeda.


Di dalam ruangan, Aly masih sibuk dengan berkas-berkasnya tapi perutnya seolah demo untuk diisi. Aly teringat makanan yang tadi dibawakan oleh sekretarisnya tapi dia malah menolaknya mentah-mentah.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Tiba waktunya selesai jam kerja. Seluruh pegawai dari setiap bagian keluar dari bangunan kantor Aly. Dan hanya beberapa saja yang masih stand by karena mendapatkan jam lembur.


Sebuah mobil mewah berwarna merah menyala datang dan berhenti tepat di depan lobi. Nareena yang mengenalinya langsung berlari menghampiri mobil itu sebelum semua orang ribut karena penasaran, padahal meski begitu beberapa orang juga sudah melihatnya.


Nareena membuka pintu mobilnya kesal dan saat melihat orang di dalamnya kekesalannya semakin bertambah.


"Ngapain kesini sih ?!."


"Diperintah pak bos, nona."


Nareena hanya berdecak kesal dan membuang muka ke luar jendela. Di luar sana, terlihat beberapa orang sedang memperhatikan mobilnya. "Cepetan jalan !!." Dengus Nareena bertambah kesal saja.

__ADS_1


Supir pribadi yang disiapkan langsung oleh ayahnya itu bergegas menurut untuk melajukan mobilnya. Setengah perjalanan, Nareena sedikit asing melihat jalan yang dilaluinya.


"Kita mau kemana ?."


"Ke kediaman keluarga besar, nona."


"Apa ?!!. Yang benar saja, aku bahkan belum berganti pakaian Jono !!." Nareena semakin mencak-mencak marah.


Jono, supir pribadi sekaligus bodyguardnya itu hanya bisa terdiam tanpa meladeni celotehan anak dari majikannya yang sedang marah-marah tak jelas.


"Jono, kita ke mall dulu !." Perintah Nareena.


"Maaf, nona. Tuan bos memberikan waktu untuk nona datang ke sana jika nona telat, maka nona akan mendapatkan hukuman dari tuan bos." Ujar Jono memperingatkan.


Nareena semakin kesal dan menendang-nendangkan kakinya di bawah dasboard. "Hukuman, hukuman, hukuman !!. Kenapa sih dikit-dikit Daddy memberikan hukuman ?!." Ceracauan Nareena tidak di gubris sama sekali oleh supirnya.


Karena terlalu kesal dan kakinya keram sebab terus menendang-nendang, Nareena memutuskan untuk diam dan menyalakan musik di dashboard dengan volume yang besar dan itu membuat Jono merasakan sakit di gendang telinganya.


Untunglah perjalanan tidak terlalu jauh jadi Jono bisa merilekskan kembali ketegangan dalam gendang telinganya karena ulah si cerewet itu. Seandainya dia bisa, mungkin dia sudah melakban mulut gadis itu dan mengikat kedua tangan dan kakinya agar tidak membuat onar.


Mobil terparkir di halaman rumah berlantai lima bernuansa elegan dan mewah.


Dengan langkah panjang dan tergesa-gesa, Nareena masuk ke dalam rumah besar itu.


"Nareena ?. Akhirnya kamu datang juga sayang ?." Seorang wanita paruh baya datang lalu memeluk Nareena erat dan Nareena membalasnya dengan senang hati.


"Apa kabar Tante ?." Tanya Nareena ramah, hilang semua kekesalannya ketika melihat senyum manis Tantenya itu.


"Alhamdulillah, Tante baik sayang. Kamu bagaimana ?, Apa hukuman Daddy kamu masih berlaku ?." Tanya wanita itu sambil terkekeh kecil mengingat bagaimana kerasnya adik iparnya itu mendidik putri semata wayangnya.


"Hahh, Tante, Nareen kesal sama Daddy. Kenapa coba daftarin Nareen ke perusahaan yang pemimpinnya aneh sekali." Decak Nareena mengadukan keluh kesahnya pada Tante tersayang.


"Sudah-sudah, sekarang kamu mandi dulu sana, terus ikut kumpul di ruang keluarga. " Wanita paruh baya itu mengusap lembut kepala keponakannya.

__ADS_1


Nareena menurut dan melangkah menuju kamarnya di rumah ini yang berada di lantai tiga. Karena sudah kelelahan, Nareena tidak menaiki tangga seperti biasanya karena memilih menaiki lift.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2