Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Dua Hati


__ADS_3

Seperti biasa, saat Aly akan berangkat ke pondok pesantren maka Aly akan menitipkan Alsya pada orangtuanya. Seperti halnya hari ini, Aly sedang melajukan mobilnya menuju ke rumah mertuanya karena akan meninggalkan istrinya disana selama dia berada di pondok.


Mobil sampai di halaman rumah keluarga orang tua Alsya. Aly menggandeng tangan istrinya agar istrinya itu berjalan dengan hati-hati sebab sedang berbadan dua.


"Assalamualaikum..." Ujar keduanya saat sampai di depan pintu utama.


"Waalaikum salam...!" Terdengar sahutan dari dalam rumah dan tidak lama pintu dibuka dari dalam.


Umma menyambut kedatangan mereka dengan senyuman ramah lalu mempersilahkan mereka untuk masuk. Umma segera duduk di samping putrinya karena memang sangat senang dengan keadaan Alsya yang sudah akan menjadi seorang ibu. Sebab, pada pernikahan Anisa, kakaknya Alsya itu masih belum juga diberi amanah demikian oleh Sang Pencipta.


"Umma senang sekali kalian main kesini." Ucap umma dengan mata berbinar bahagia.


"Iya, umma."


"Kandungan kamu bagaimana nak ?, Apa kamu masih sering mengalami muntah-muntah ?." Tanya umma pada putrinya.


Alsya tersenyum lalu menggeleng. "Alhamdulillah sudah tidak pernah muntah lagi, umma. Cuma, sekarang rasanya Alsya cepat sekali merasa lelah bahkan tidur Alsya juga sudah seperti orang pingsan aja."  Jelas Alsya dengan tatapan menunjukkan kebahagiaan yang mendalam.


"Masya Allah... Iya, itulah salah satu nikmatnya menjadi seorang ibu dan momen saat mengandung sang buah hati adalah momen yang paling terindah."


Aly mendengarkan obrolan kedua wanita di depannya hanya terus tersenyum melihat kebahagiaan yang memancar dari wajah mereka.


"Umma."


"Iya, Ly ?." Tatapan umma beralih ke wajah Aly.


"Sebenarnya kami kesini karena ada perlu, umma. Aly akan berangkat ke pesantren siang ini, makanya Aly mengantarkan Alsya untuk tinggal disini dulu seperti biasa, karena Aly tidak mungkin membiarkan Alsya tidak di rumah kami sendirian saja."


Umma tersenyum. "Iya, biarkan Alsya disini aja selama kamu tidak ada." Ucap ummanya.


Aly tersenyum lalu mengangguk. "Makasih, umma. Maaf, kami selalu merepotkan kalian." Ucap Aly lagi tidak enakan.


"Astaghfirullah... Kamu ini seperti sama siapa aja, Ly?. Kami malah seneng Alsya dititipkan di sini, karena orang yang sedang hamil pastinya akan selalu membutuhkan seseorang disampingnya. Jadi, karena kamu tidak ada, makanya Alsya lebih baik disini." Ucap ummanya lagi.


"Alhamdulillah, makasih ya umma."


"Iya."


 


Obrolan ringan terus mereka lakukan hingga waktu menunjukkan pukul setengah sepuluh, Aly pamit untuk segera berangkat ke pesantren. Seperti biasa, Alsya selalu merasa berat saat harus ditinggal suaminya, tapi apalah daya karena suaminya itu tidak akan pernah menuruti keinginannya untuk hal yang satu ini.


Kali ini Aly akan berangkat dengan mengendarai mobil sendiri. Padahal dulu, dia sama sekali tidak mau membawanya ke pesantren, namun karena sekarang dia sangat membutuhkan mobil itu untuk melakukan keperluan disana, jadi dia memutuskan untuk membawanya saja.


Aly memang bukan pembalap mobil, tapi jika dia sedang mengendarai mobil sendiri tanpa adanya orang lain di dalam mobilnya, maka jalan raya sudah seperti arena sirkuit saja. Bahkan perjalanan menuju pesantren yang seharusnya menempuh waktu dua sampai tiga jam, kini dia hanya memakai waktu selama satu jam lebih saja.

__ADS_1


Aly memarkirkan mobilnya di halaman rumah keluarga pengasuh pesantren, sebab semenjak dia berstatus sebagai suami dari Ning Halimah, dia sudah tinggal bersama istrinya itu.


"Assalamualaikum..." Ujarnya sambil memasuki rumah yang terlihat sepi tak berpenghuni.


Aly menoleh pada jam dinding, ternyata masih jam waktu belajar madrasah, jadi dia berfikir mungkin istri dan mertuanya pasti masih sedang mengajar. Aly memasuki kamar dan langsung membersihkan diri di kamar mandi.


Bertepatan dengan keluarnya dia dari kamar mandi, ternyata pintu kamar dibuka dari luar dan memunculkan tubuh istrinya. Tatapan mereka bertemu dengan binar bahagia karena akhirnya rindu yang sudah bersemayam selama sebulan lamanya, kini telah terobati.


"Assalamualaikum... Suamiku..." Ujar Halimah sambil menyalami tangan Aly.


"Waalaikum salam, istriku... " Tangan Aly yang bebas mengusap lembut pipi istrinya.


Sesaat setelah salaman itu terlepas, Halimah langsung menubruk tubuh suaminya dan memeluknya sangat erat.


Aly hanya tersenyum mendapati pelukan hangat demikian. Tangannya mengusap-usap lembut punggung sang istri.


"Bagaimana ?." Tanya Aly tiba-tiba.


Halimah mendongak menatap wajah suaminya dengan tatapan bingung atas pertanyaan itu. "Bagaimana apanya ?." Tanyanya.


Tangan Aly langsung menyentuh hidung Halimah dan menariknya gemas. "Bagaimana mengajarnya ?, Setiap hari kamu memberitahu mas, jika santri-santri barunya sangat Masya Allah." Ucap Aly memberi penjelasan.


"Oh, yah begitulah, mas. Tapi sekarang sudah mendingan tidak seperti pas mereka baru datang."


"Syukurlah, berarti mereka sudah mulai berubah menjadi lebih baik."


"Ya udah, sekarang mas mau istirahat dulu ya ?."


"Iya, ayo ?!." Halimah menarik tangan Aly menuju ke tempat tidur.


"Ehhh ?!. Kamu mau tidur juga ?."


"Iya, mas. Lumayan ada waktu satu jam sebelum sholat dhuhur."


Aly melirik jam kecil yang terletak di meja samping tempat tidur, yang ternyata menunjukkan pukul sebelas kurang tiga delapan menit saja.


Mereka beranjak ke tempat tidur dan langsung melelapkan matanya karena memang sangat membutuhkan istirahat. Keduanya tidur saling memeluk seolah masih belum juga puas melepas rindu.


Waktu terus berjalan dengan pasti dan keduanya  kembali terjaga dan segera mengantri ke kamar mandi untuk mengambil wudhu. Karena saat ini Aly memang baru datang, jadi aly memutuskan untuk tidak pergi ke masjid dan hanya akan sholat berjamaah bersama sang istri saja di dalam kamar.


Setelah kepergian Abah Kyai, Aly juga telah mendapatkan amanah dari ummi nyai yang memintanya untuk menggantikan Abah Kyai agar mengimami shalat di masjid pesantren, meski tidak sampai lima waktu sholat dalam sehari, karena dia juga memerlukan waktu mengimami shalat istrinya yaitu pada sholat ashar saja dalam satu hari. Dan saat waktu itulah yang akan mengimami shalat di masjid adalah staf jajaran pengurus pusat pesantren yang mendapatkan jadwal mengimami begitupun saat dirinya sedang pulang ke rumah maka para pengurus itu pula yang akan menjadi imam masjidnya.


Mereka melaksanakan sholat dhuhur penuh ketenangan dan kedamaian hingga salam kedua. Selesai berdoa, mereka memulai untuk saling menyimak hafalan Alquran satu sama lainnya dan selesai tepat pukul dua siang.


"Mas, kamu lapar nggak ?." Tanya Halimah saat tangannya masih sibuk melipat mukena nya.

__ADS_1


"Lumayan."


"Ya udah, kita makan ya. Mas mau dimasakin apa ?." Tanya Halimah lagi dan bersiap untuk memasakkan makanan untuk suaminya.


Aly berjalan mendekati. "Kamu mau keluar ?." Tanya Aly.


"Mau, tapi kita makan dulu biar mas tidak kelaparan."


"Ya Allah... Istriku ini gak peka sekali sih ?!." Tangan Aly menarik hidung mungil Halimah. "Sayang, kamu gak perlu memasak untukku, kita makannya keluar aja sekalian jalan-jalan. Kita tidak pernah keluar bareng kan, setelah menikah ?."


Wajah Halimah langsung merah merona mendapati ide langka dari suaminya itu. "Iya, mas." Jawab Halimah akhirnya.


"Iya, apa ?, Hemm ?." Aly menatap jail wajah istrinya.


Halimah menghela nafas kesal. "Astaghfirullah, mas !. Kamu bisa nggak sih jangan buat aku kesel ihh ?!." Halimah langsung menjauh dari tubuh suaminya dan duduk di sofa yang berada di pojok ruangan.


Aly hanya tersenyum melihat tingkah menggemaskan istrinya itu. Tingkah lucu yang tidak pernah ia dapati dari sosok istri pertamanya.


Entah mengapa, Aly merasa bahwa dirinya seolah lebih merasa dekat dengan Halimah dibandingkan dengan Alsya.


Jika memang faktor penyebabnya karena pernikahannya dengan Alsya adalah sebuah perjodohan, tapi justru itu adalah yang diinginkannya sebab dia sudah memiliki perasaan pada Alsya semenjak Alsya menginjakkan kaki sebagai seorang santri, yang artinya itu terjadi pada beberapa tahun lalu. Dan bukankah pernikahannya dengan Halimah lebih parah lagi, karena sebuah peristiwa sakaratul mautnya sang guru yang memberinya amanah pada waktu itu juga yang mengharuskan dirinya menikahi Ning Halimah.


Lalu, apa karena perangai Halimah yang sangat bertolak belakang dengan Alsya, dimana Alsya adalah sosok yang pendiam, tidak banyak berbicara, lemah lembut, selalu teliti terhadap apapun, berhati-hati dalam bersikap, juga selalu menuruti apapun yang diucapkan Aly. Sedangkan Halimah adalah sosok gadis yang cerewet, ceroboh, tukang ngambek, cemburuan, sering mengajaknya berdebat meski karena hal sepele, juga manja, mungkin karena dia adalah putri tunggal Abah Kyai dan ummi nyai.


Tapi tentu saja keduanya memiliki keistimewaan yang sama-sama luar biasa, dan hanya Aly sendirilah yang tahu dan memahaminya.


Aly menghampiri istrinya yang sedang dalam keadaan cemberut kesal. "Heyy, kok ngambek sih ?." Tangan jail Aly terus mencolek dagu Halimah dan Halimah juga berkali-kali menepis tangan itu.


"Ya Allah, perutku sedang lapar tapi istriku sedang ngambek, nih." Aly mendramatisir keadaan.


Tiba-tiba Halimah bangkit dan langsung menarik tangan Aly. " Jangan lebay. Kita berangkat sekarang." Ujarnya sambil terus menarik tangan Aly menuju mobil Aly yang terparkir di halaman rumah.


Aly tersenyum dan mengikuti apa saja yang dilakukan istrinya.


Akhirnya mereka keluar dan makan di salah satu restoran dan berlanjut jalan-jalan yang hanya dinikmati oleh mereka berdua. Dan tentu saja itu adalah hal yang tidak pernah dirasakan oleh Alsya selama ini.


Saat bersama Alsya, mereka memang kerap kali keluar berdua menaiki mobil dan makan di restoran. Tapi kejadian itu terjadi karena Alsya sedang dalam keadaan mengidam jadi meminta hal demikian, selebihnya mereka keluar dari rumah hanya bertujuan ke rumah sakit untuk memeriksakan kehamilan Alsya. Dan untuk jalan-jalan berdua, itu sama sekali tidak pernah.


Mungkin terdengar seperti pilih kasih, dan dalam keadaan menjalani status poligami, seharusnya Aly tidak melakukan hal demikian. Tapi, semua itu terjadi sudah Aly pertimbangkan sebelumnya.


Aly memang tidak pernah mengajak Alsya jalan-jalan, sebab keadaan Alsya tidaklah memungkinkan karena Alsya sedang hamil muda, dan jika Alya kelelahan, maka itu juga akan berpengaruh pada kandungannya. Maka dari itu, Aly selalu mempertimbangkan apapun yang akan dilakukannya terhadap Alsya, apapun itu. Tanpa terkecuali.


Bukan Aly tak bersikap adil, tapi Aly lebih memikirkan resikonya. Aly sudah berusaha semaksimal mungkin untuk kedua istrinya, tanpa membeda-bedakan mereka. Jika, Aly memang masih terkesan berat pada satu sisi, sesungguhnya Aly sudah berusaha semaksimal mungkin, dan sejatinya manusia tidak ada yang sempurna. Dan tidak ada manusia yang bisa seperti Rasulullah, yang adil dalam memperlakukan istri-istrinya. Aly hanyalah manusia biasa yang tidaklah luput dari kesalahan dan lalai.


 

__ADS_1


____________


 


__ADS_2