
Fikri sudah berbalut pakaian sterilisasi medis untuk menemani Ning Halimah melangsungkan persalinan. Hatinya sangat deg-degan saat ini, sebab dirinya bukanlah siapa-siapa selain hanya sebagai santri khodam yang sudah tujuh tahun mengabdikan diri di ndalem.
Dengan langkah kaki ragu, Fikri mendekati ranjang Ning Halimah, sesaat matanya bertu dengan mata Ningnya. Fikri menunduk, rasanya dia merutuki dirinya sendiri karena telah kurang ajar menatap wajah putri gurunya itu.
Fikri terkejut saat Ning Halimah tiba-tiba memegang lengannya, kencang sekali. Sekali lagi menatap wajah Ning nya yang sedang meringis kesakitan. Mata keduanya kembali bertemu lalu Ning Halimah mengangguk seolah memahami keraguan Fikri.
"Maaf, Ning." Bisik Fikri tepat di telinga Ning Halimah yang tertutup kain jilbab.
Dengan gemetar, Fikri menautkan jemari tangan kanannya dengan jemari tangan kiri Ning Halimah, sedangkan satu tangannya lagi mengusap-usap lembut kepala Ning Halimah.
"Pak, diberi semangat ya, istrinya." Ujar dokter yang berdiri di hadapan Ning Halimah.
Fikri menoleh, bibirnya tersenyum lalu mengangguk. "Iya, dok." Ucapnya masih tersenyum.
Proses persalinan dimulai.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Kali ini pikiran Fikri sudah tidak kemana-mana lagi selain pada wanita yang ada disampingnya itu. Fokusnya hanya pada Ning Halimah, layaknya seorang suami yang sungguh perhatian pada istrinya, Fikri selalu menyenandungkan shalawat di telinga Ning Halimah, begitupun telapak tangannya yang berada di kepala Ning Halimah terus memberikan usapan lembut.
Dia juga tidak sadar meneteskan air matanya saat melihat perjuangan menyakitkan Ning Halimah. Fikri merasa tak tega melihatnya, dia bahkan rela menggantikan rasa sakit itu untuk dirasakannya saja, alih-alih Ning Halimah.
Perasaan was-was, khawatir, panik, semuanya dirasakan Fikri saat ini. Dia tidak memperdulikan dengan cakaran kuku Ning Halimah yang menimpa pinggangnya saat Ning Halimah sedang mengejan. Posisi Ning Halimah memang seperti di pelukan Fikri, kepala Ning Halimah tepat di dekat perut Fikri.
Setelah perjuangan melelahkan itu selesai, akhirnya suara tangis bayi mulai terdengar, bersamaan dengan Ning Halimah yang memejamkan matanya, mungkin dia sangat kelelahan.
"Anaknya perempuan, pak." Ujar dokternya pada Fikri.
Fikri segera berucap hamdalah dengan suara lirih tapi itu masih bisa didengar oleh dokter dan tiga suster tersebut.
Fikri melepaskan pelukannya di tubuh Ning Halimah lalu membenarkan posisi kepala Ning Halimah agar lebih nyaman.
Dokter itu mulai meletakkan bayinya di atas tubuh Ning Halimah. Fikri terkejut dengan apa yang dilakukan dokternya.
"Itu biar apa ya dok, dibegitukan ?." Tanya Fikri ingin tahu.
"Ini untuk menjalin ikatan bathin mereka, antara ibu dan anaknya. Proses ini dilakukan, supaya anaknya mengetahui jika tempat ternyaman pertama kali setelah dia keluar di dunia adalah ibunya. Semacam membentuk sebuah chemistry, pak." Ucap dokter itu menjelaskan.
Fikri akhirnya mengangguk. Matanya menatap wajah bayi mungil itu yang masih sangat merah.
"Berapa lama, dok ?." Tanya Fikri lagi.
"Lima menit, lalu kamu akan membawa bayinya untuk dibersihkan, pak."
Benar saja, setelah lima menit kemudian, dokter itu kembali mengambil bayinya dan membawanya keluar dari ruangan.
"Maaf, Ning. Saya terpaksa." Ucap Fikri dalam hatinya.
Orang-orang medis tadi pada keluar dan digantikan dengan dua suster yang akan membersihkan tubuh Ning Halimah. Fikri yang sudah tidak bisa lagi bersikap kurang ajar pada putri gurunya itu memilih keluar dari ruangan.
Betapa terkejutnya dia saat keluar, diluar masih belum ada siapapun selain Nisa. Entah kenapa keluarga Ning Halimah belum juga datang.
"Kang." Nisa yang sedang duduk langsung menghampiri Fikri yang terlihat sangat kelelahan juga pakaiannya sedikit kacau.
"Mbak, ummi belum juga datang ?." Tanya Fikri, matanya mencari-cari.
"Belum, kang. Entah, saya juga tidak tahu. Apa terjadi sesuatu sama Ummi, ya kang ?." Tanya Nisa gelisah.
"Semoga tidak ada apa-apa, mbak."
"Kalau Gus Aly, apa beliau tau nggak ya kang, kalau istrinya melahirkan ?."
"Tidak tau, mbak." Jawab Aly sambil berjalan menuju kursi tunggu.
__ADS_1
Baru juga beberapa detik menempel dengan kursi, seorang suster memanggilnya untuk kembali masuk ke ruangan lagi.
"Mbak, saya masuk dulu, ya ?." Pamitnya pada Nisa.
"Iya kang."
Nisa menghampiri Ning Halimah yang ternyata sudah sadar dan sekarang sedang duduk dengan punggung diberi sanggahan.
"Assalamualaikum, Ning." Ujar Aly sopan sambil menunduk penuh hormat.
"Waalaikumsalam."
Fikri berdiri di samping Ning Halimah tapi dengan menjaga jarak, meski tadi mereka bahagia saling memeluk, tapi itu adalah dalam keadaan terdesak, jadi saat ini semuanya sudah kembali normal.
"Duduk, kang." Ujar Ning Halimah dengan suaranya yang masih terdengar lemah.
Fikri tidak mungkin menolak perintah Ning nya. Fikri segera duduk di kursi samping pembaringan Ning Halimah. "Maafkan saya, Ning Imah. Saya sudah lancang menyentuh Ning Imah." Ujar Fikri menunduk penuh.
"Kang Fikri tidak salah, saya malah yang berterima kasih sama kang Fikri." Ujar Ning Halimah tulus.
"Ngapunten, Ning."
"Ummi masih belum datang, kang ?." Tanya Ning Halimah kemudian.
"Belum, Ning." Jawab Fikri yang masih setia menunduk penuh.
Seorang suster datang sambil membawa sebuah kain yang sudah dipastikan di dalamnya ada bayi Ning Halimah. Dan benar saja, suster itu mendekati Ning Halimah lalu menyerahkan bayinya pada Ning Halimah. "Silahkan, Bu." Ujar suster tersebut lalu dia berpamitan keluar lagi.
"Masya Allah, cantik sekali kau nak ?." Ucap Ning Halimah dengan mata yang sudah berkaca-kaca. Ning Halimah tak ada henti-hentinya menciumi wajah putrinya.
Fikri mengangkat wajahnya dan memperhatikan Ning Halimah. Dia sungguh tidak pernah menyangka jika akan ada kejadian demikian, dimana dia mewakilkan Gus Aly untuk menemani Ning Halimah saat melahirkan.
Melihat Ning Halimah menoleh, Fikri langsung menunduk lagi.
"Iya, Ning."
"Saya boleh minta tolong ?."
"Silahkan, Ning."
"Kang Fikri, tolong adzani putriku, ya ?."
"Apa ?." Fikri spontan menatap wajah Ning Halimah. "Ta-tapi, Ning. Maaf, bukan saya mau menolak, tapi seharusnya Gus Aly yang mengadzaninya, Ning."
"Dia tidak ada disini, kang. Saya mohon, sama kang Fikri." Ucap Ning Halimah lagi membuat Fikri jadi merasa bersalah saja.
Fikri menghembuskan nafasnya perlahan. "Baiklah, Ning. "
Dengan penuh hati-hati, Fikri mengambil alih putri Ning Halimah. Lalu membawanya ke gendongannya sendiri.
"Bismillahirrahmanirrahim..."
Dengan bibir gemetar Fikri melantunkan adzannya dengan suara lirih di telinga kanan bayinya, dilanjut dengan iqomahnya di telinga kiri si bayi.
Lagi-lagi, Fikri tak kuasa menahan air matanya untuk tidak lolos dari peraduannya. Ada desiran ketenangan yang tiba-tiba datang ke hatinya.
Ning Halimah juga sama, dia menangis dalam diam, entah apa yang sedang dipikirkannya sekarang.
Setelah selesai, Fikri mengembalikan lagi si bayi pada ibunya.
"Makasih, kang. Saya banyak berhutang budi sama kang Fikri." Ujar Ning Halimah merendah.
"Insya Allah, saya ikhlas melakukannya, Ning."
__ADS_1
Ning Halimah mengangguk lalu tersenyum.
"Ya sudah, kalau begitu saya permisi dulu Ning, saya ada perlu dulu." Ucap Fikri setelah sebelumnya mereka dilanda keheningan.
Fikri keluar dari ruangan tersebut untuk menemui Nisa di depan. "Mbak, saya ke depan dulu, ya ?." Ujarnya pada Nisa.
"Mau kemana, kang ?."
"Mau urus administrasi dulu."
"Oh, saya ikut ya kang ?."
"Mau apa ?."
"Mau ikut aja."
"Ya sudah, ayo ?!."
Fikri dan Nisa berjalan ke bagian meja administrasi.
"Atas nama siapa, mas ?."
"Halimah Az-Zahra, di ruang persalinan."
"Oh, iya." Penjaga administrasi itu menyerahkan sebuah berkas data atas nama Halimah Az-Zahra. " Silahkan ditandatangani dulu, mas."
Fikri menurut dan langsung membubuhkan tanda tangannya di tempat yang ditunjukkan.
"Mau membayar pake cash apa card, mas ?."
"Card aja, ini mbak." Fikri menyerahkan kartu atm-nya nya untuk melakukan proses pembayaran.
"Baiklah, semoga puas atas pelayanannya, mas. Dan selamat atas kelahiran istrinya. " Ujar penjaga administrasinya ramah, sambil mengembalikan lagi kartunya.
Fikri tersenyum kaku. "Iya, makasih, mbak." Ujarnya kikuk.
Mereka pergi dari depan meja administrasi. Seketika itu juga tawa Nisa meledak.
"Apaan sih, mbak ?!." Sungut Fikri kesal deng gadis disampingnya itu.
"Dan selamat atas kelahiran istrinya... Hahaha." Ujar Nisa menirukan gaya suara mbak-mbak tadi.
"Mbak, berisik, tau gak ?."
"Nggak. Hahaha." Nisa kembali tertawa lepas.
Kekesalan Fikri semakin bertambah, dia berjalan cepat meninggalkan Nisa yang masih sibuk tertawa.
"Ehh kang, kok ditinggalin sih ?!." Ujar Nisa sewot langsung menyusul.
"Fikri, Nisa!." Suara yang sangat familiar itu membuat langkah Fikri dan Nisa berhenti dan langsung mencari sumber suara.
Keduanya langsung menyalami tangan ummi nyai. "Assalamualaikum, ummi." Ujar Fikri menunduk.
"Waalaikumsalam, maaf ummi baru bisa datang. Bagaimana keadaan Halimah ?."
"Alhamdulillah, Ning Halimah sudah melahirkan, ummi. Anaknya perempuan." Jawab Fikri.
"Alhamdulillah... Ya sudah, ayo, ummi mau menemuinya."
"Iya, Ummi. Mari ?!." Ujar Fikri mempersilahkan ummi nyai untuk berjalan di depan lalu keduanya membuntut di belakang.
________
__ADS_1