
Taman Margasatwa Ragunan, Jakarta Selatan...
Taman Margasatwa Ragunanatau juga disebut Kebun Binatang Ragunan adalah sebuah kebun binatang yang terletak di daerah Ragunan, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Indonesia. Kebun binatang seluas 140 hektare ini didirikan pada tahun 1864. Berbagai macam jenis satwa hampir semuanya ada disini.
Aly dan Alsya saling bergandengan tangan saat menaiki tangga menuju tugu kebun binatang. Betapa bahagianya melihat sang buah hati mereka yang tampak ceria. Hafidhz berkali-kali berceloteh riang saat matanya melihat binatang-binatang di dalam kandang.
"Hafidhz suka ?." Tanya Aly pada putranya.
"Suka. Makasih, Abi..." Bocah kecil itu menyandarkan kepalanya di bahu sang ayah.
Alsya tak henti-hentinya tersenyum melihat wajah putranya yang kelewat bahagia.
"Hafidhz mau jalan kaki, nak ?." Tanya Alsya.
"Nggak papa, ummi ?."
"Iya, nggak papa yang penting Hafidhz jangan jauh-jauh sama Abi sama Ummi, ya."
"Iya." Ujar Hafidhz sambil turun dari gendongan ayahnya. Hafidhz menunjuk kandang jerapah yang terlihat di depan matanya. "Afidhz mau kesana !." Ujarnya pada kedua orang tuanya.
"Iya, yuk ?!." Aly segera mengandeng tangan mungil putranya, berjalan menuju kandang jerapah.
Saat sampai, Hafidhz kembali bertingkah dengan meminta untuk ikut memberikan makanan pada jerapahnya, sepertinya dia melihat orang-orang yang juga sedang sibuk memberikan dedaunan pada jerapah.
Aly mengangguk lalu berjalan ke arah penjaga kandang, sebab disanalah dia akan mendapatkan beberapa dedaunan untuk dimakan jerapahnya.
"Ini, Abi bawain makanan untuk jerapahnya." Aly mengangkat tangannya, menunjukkan dedaunan yang diikat dengan tali. "Ayo, kasih makan jerapahnya."
"Iya."
Kembali. Aly menggandeng tangan mungil putranya untuk lebih dekat dengan jeruji kandang jerapah.
"Ayo, kasih makan jerapahnya." Ujar penjaga kandang yang entah dari kapan sudah ada di samping mereka. "Ayo, dek. Itu, jerapahnya mau makan." Ujarnya lagi pada Hafidhz.
Hafidhz memang ragu-ragu untuk mengulurkan tangannya, memberi makan jerapah. Dia seperti ketakutan sendiri. Hafidhz meringsek ke pelukan ayahnya. "Abi..." Panggilnya manja.
"Hafidhz takut ?." Tanya Aly menatap wajah putranya.
"He em." Jawab Hafidhz sambil menganggukkan kepalanya.
"Jadi, Hafidhz maunya apa, Hem ?."
"Afidhz mau liat melak aja."
"Merak ?."
Hafidhz mengangguk.
__ADS_1
"Ya udah, yuk, kita liat merak ." Aly menggendong tubuh Hafidhz. "Kasiin dulu sayurannya ke om penjaga." Ujarnya pada sang putra.
Hafidhz langsung menurutinya, memberikan lagi sayuran yang dipegangnya pada sang penjaga kandang.
"Mau liat merak, ya ?." Tanya penjaga itu yang ternyata sangat ramah pengunjung.
"Iya."
"Pintarnya..." Ujar pria itu sambil tangannya mengusap gemas rambut Hafidhz.
"Mari, pak." Ujar Aly saat mereka akan beranjak pergi. Keramah tamahan memang sudah sepantasnya dibalas dengan hal yang sama, ramah.
"Iya, tuan."
Alsya membuntut di belakang Aly yang sedang berjalan ke arah kandang merak. Saat sampai, terlihat ada beberapa ekor merak yang sedang keluar dari sarangnya di dalam kandang. Alsya memperhatikan wajah putranya yang terlihat antusias melihat merak-merak itu, dan Aly setia mendengarkan celotehan lucu putranya, mereka juga sering terkekeh melihat tingkah meraknya.
Sungguh bahagia hati Alsya melihat pemandangan yang tak pernah dilihatnya sebelumnya. Dia berdoa jika momen seperti ini akan sering terjadi di kemudian harinya, dia sangat mengharapkan itu semua, dia juga berdoa untuk keutuhan rumah tangganya agar tetap harmonis hingga mautlah yang memisahkannya.
Sesuatu bergerak di tangannya dan perlahan Alsya rasakan genggaman jemari Aly yang bertautan dengan jemari tangannya. Tatapan Aly menatap lekat mata Alsya yang juga sedang menatapnya, senyuman manis langsung tersemat di masing-masing bibir keduanya.
"Makasih, sayang."
"Yah ?."
"Makasih, masih mau mempercayai suamimu ini. Maafkan aku yang pernah membuatmu khawatir." Ucap Aly tulus dengan mata mengunci dalam mata Alsya.
Alsya hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya.
"Abi, ularnya warna putih ?." Tanya Hafidhz dengan telunjuk mungilnya menunjuk ular piton berwarna putih terang.
"Iya, nak. Hafidhz tau itu ular apa ?."
Hafidhz menggeleng, pemilik kedua bola mata jernih itu melihat ke arah ayahnya.
"Itu namanya ular piton."
"Piton?."
"Iya."
Mata Hafidhz kembali melihat ke arah ular piton yang ada di kandang itu. Disana terlihat ada tiga ular piton yang berwarna putih terang tapi dengan ukuran berbeda-beda.
"Mom, See !. Liasis savuensis !." Seorang bocah berumur tiga tahunan berlarian sambil menarik tangan ibunya untuk mendekati kandang ular piton.
"Iya, sayang."
Alsya dan Aly menoleh ke arah ibu dan anak itu, keduanya sungguh takjub mendengar bocah sekecil itu menyebutkan nama hewan dengan nama ilmiahnya. Sepertinya dia anak yang cerdas juga dari kalangan orang kaya papan atas, terlihat dari pakaian keduanya yang terlihat sangat mewah dan elegan.
__ADS_1
Alsya perhatikan wajah bocah kecil itu yang terlihat sangat tampan di usianya yang masih belia.
"Mom."
"Hem ?."
Bocah kecil itu seperti membisikkan sesuatu kepada ibunya, dan ternyata langsung ditolak oleh sang ibu. "Tidak, Ezar. Mom gak suka." Titah ibunya, membuat bocah kecil itu langsung mengambil dan menunduk hendak menangis.
Alsya dan Aly saling menatap lalu keduanya sama-sama menggeleng kepala dan tersenyum. Perhatian keduanya kembali pada Hafidhz lagi. Putranya masih memperhatikan pergerakan ular di dalam kandang.
"Abi,. Pitonnya jalan !." Pekik Hafidhz saat melihat ular pitonnya bergerak mendekat.
Tidak, bukan ke arah mereka, melainkan ke arah bocah kecil yang bersama ibunya tadi.
"Ezar." Decak Ibunya dengan mata menatap tajam wajah putranya. Dan yang ditatap malah terlihat cengengesan.
Bingung ?, Sudah pasti. Sebab di mata Alsya dan Aly, bocah kecil itu terlihat seperti memiliki kemampuan berinteraksi dengan ular.
Jarak mereka yang tidak terlalu jauh membuat Alsya dan Aly bisa melihat bagaimana cara bocah bernama Ezar itu saling bertatapan dengan mata ularnya, mereka seperti sedang berkomunikasi lewat tatapan mata.
"Ezar, mommy tidak suka Ezar seperti ini. Ezar mau mommy adukan sama Daddy, Hem ?." Ibunya menarik hidung putranya gemas.
"Hehehe iya, mom, udah."
"Apa Daddy akan mendapatkan aduan lagi dari mommy ?." Seseorang datang dan langsung bergabung dengan kedua orang itu. Dia membawa seorang bocah kecil perempuan cantik yang di gendongnya.
"No, dad. Ezar gak nakal lagi." Ucap Ezar terlihat ketakutan.
"Tuan Ilario ?." Gumam Aly saat melihat wajah pria yang baru datang tersebut.
Alsya juga berpikiran sama. Dia mengenal pria ayah dari Ezar itu adalah salah satu rekan bisnis suaminya. "Mas, dia tuan Ilario, kan ?." Tanya Alsya pada Aly.
"Iya, Al."
Pria itu menoleh ke arah Aly dan Alsya. "Ehh, tuan Aly juga ada disini ?." Tanya tuan Ilario ramah. Dia berjalan menghampiri Aly dan menjabat tangannya.
Alsya juga menyalami tangan istri tuan Ilario. "Alsya." Ucapnya ramah.
"Azrinna." Ucap perempuan itu yang juga ramah.
Beda lagi dengan dua bocah kecilnya. Mereka terlihat seperti orang linglung melihat kedua orang tua mereka yang saling berjabat tangan.
Ezar yang sudah mulai bosan, mulai mendekati Hafidhz. "Hai." Sapanya pada Hafidhz sambil mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.
"Hai ." Jawab Hafidhz kaku lalu menyambut tangan Ezar.
Berbeda lagi dengan bocah perempuan cantik yang terlihat sangat pendiam juga pemalu, dia juga hanya sekilas melihat ke arah Hafidhz.
__ADS_1
Mereka saling mengobrol dengan teman masing-masing, yang dewasa dengan dewasa lagi dan yang bocil bersama bocil lagi.
____________