Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Mimpi buruk


__ADS_3

"Siapa mas ?."


Aly reflek menoleh. Dia tidak tahu jika ternyata Alsya sudah berada di belakannya dan sekarang sedang duduk di sofa sambil menatapnya dengan tatapan penasaran.


"Al, mas keluar dulu ya ?. Teman mas ada yang sakit."


"Siapa yang sakit, mas ?."


"Hem, itu, teman pondok aku Al." Jawab Aly kaku.


Alsya menatap intens wajah suaminya, entah mengapa hatinya mengatakan jika saat ini Aly seperti sedang membohonginya.


"Jujur, mas. Aku tau mas Aly tidak bicara yang sebenarnya." Ucap Alsya tegas.


Aly menatap wajah istrinya lalu beralih menatap wajah sang putra. Kakinya melangkah mendekati ranjang dan duduk di samping Alsya.


"Mas janji akan memberitahumu, tapi tidak sekarang, ya ?." Ucap Aly lembut agar istrinya mengerti.


"Kapan lagi ?. Jangan dikira aku tidak tau mas, apa yang mas Aly sembunyikan." Ucap Alsya lagi.


Aly terkejut bukan main. Apakah benar Alsya sudah mengetahui apa yang selama ini disembunyikannya ?.


"Al."


"Pergilah, aku juga akan pergi dari sini." Ucap Alsya dengan suara yang mulai melemah.


Alsya turun dari tempat tidur dan menghampiri putranya. "Ayo Hafidhz ?!." Alsya menggandeng tangan mungil putranya keluar dari kamar.


"Kita mau kemana, Ummi ?." Tanya Hafidhz.


"Kita akan ke rumah nenek, sayang." Alsya semakin mempercepat langkahnya.


Air mata sudah mulai meluncur dari sudut-sudut matanya dan membasahi pipi.


"Al, mau kemana ?." Tanya Aly panik, menahan tangan Alsya membuat langkah kakinya terhenti.


"Kalian mau kemana ?." Tanya Aly lagi dengan suara melembut.


"Lepas, mas !." Alsya menghentakkan tangannya, sontak membuat pegangan Aly terlepas. Air mata Alsya mulai banjir di pipinya. Alsya terisak-isak lalu melanjutkan lagi langkahnya.


"Ummi... Abi..." Rengek Hafidhz yang juga mulai menangis.


Alsya berjalan menuju pintu keluar. Namun langkah kakinya terhenti ketika sepasang lengan kekar Aly memeluknya erat dari belakang. Keduanya hanya diam namun sama-sama menitikkan air mata.

__ADS_1


Aly meletakkan dagunya di pundak sang istri. Tangan Aly semakin erat merengkuh tubuh Alsya.


Tangis Alsya semakin menjadi-jadi, dia semakin terisak dengan air mata yang terjun deras ke pipinya.


"Marahlah, luapkan emosimu, tapi aku mohon, setelah hatimu lebih tenang, aku akan menceritakannya sekarang." Ucap Aly dengan suara yang sangat lembut.


"Aku mau pulang ke rumah Abah, mas..."


"Iya, akan aku izinkan kalau kamu sudah tenang."


"Mas Aly tidak menghargai perasaanku, aku sudah mengatakannya dari dulu, aku gak mau di madu, mas. Aku tidak sanggup... Apalagi dengan sahabatku sendiri..."


"Iya, Al. Aku salah, aku minta maaf, dia amanah dari Abah Kyai,aku diminta untuk menjaganya, Aku mohon, maafkan aku."


"Hubungan seperti apa yang kalian lakukan ?."


"Al."


"Aku tanya, mas !. Sampai mana hubungan kalian ?."


"Maafkan aku, Al."


"Jawab, mas !. Aku minta jawaban mu ?!."


"Astaghfirullah..." Alsya semakin terisak. "Lepas !." Ucapnya melepaskan diri dan menarik tangan Hafidhz untuk keluar rumah.


"Al, ini sudah malam, kalau kamu mau ke rumah Abah, lebih baik besok saja. " Pekik Aly mencegah.


Alsya tidak menggubrisnya, langkah kakinya terus mengayuh cepat.


Aly menahan lengan Alsya. "Al, kalau kamu keluar dari rumah ini, aku tidak meridhoimu."


"Al, kalau kamu keluar dari rumah ini, aku tidak meridhoimu." Tegas Aly memanfaatkan kepemimpinannya.


Hafidhz melihat ke arah wajah kedua orang tuanya bergantian. Dia sangat ketakutan melihat keduanya saling bersitegang, apalagi melihat wajah ibunya menangis, membuatnya juga langsung menangis lagi. Hafidhz semakin memeluk erat tubuh ibunya.


"Ummi..."


"Lepas, mas !."


"Al, ini sudah malam !."


"Terserah aku !."

__ADS_1


"Al, kamu keluar bersama Hafidhz, kamu juga sedang hamil !."


"Aku lelah, mas... Tolong lepaskan... Aku mau pulang ke rumah Abah..."


"Ummi... Abi..." Tangisan Hafidhz semakin nyaring. Matanya menatap nyalang wajah kedua orang tuanya.


"Al, lihatlah, Hafidhz jadi ketakutan seperti itu...!" Tangan Aly terulur ingin menyentuh putranya.


"Jangan sentuh anakku !." Alsya langsung menjauhkan tubuh Hafidhz.


"Alsya !, Apa-apaan kau ini ?!. Dia juga putraku !." Mata Aly menatap tajam wajah Alsya. "Kau sudah keterlaluan, Al!." Ucapnya lagi.


Untuk pertama kalinya, selama pernikahan mereka, Aly dan Alsya saling membentak, dan itu di depan sang putra yang kini sangat ketakutan melihat itu semua.


"Terserah." Alsya membawa pergi Hafidhz, menjauh dari Aly.


Kaki Alsya mengayuh sampai ke pos satpam. "Pak, keluarkan mobil sekarang !." Perintahnya.


"Iya, nyonya." Ucap satpam itu menurut, langsung berjalan ke arah mobil.


"Pak Rahmat, jangan !." Cegah Aly tak memberi izin. "Jangan turuti perintahnya ." Lanjutnya lagi.


"I-iya, pak." Jawab satpam itu lebih menuruti ucapan Aly, tak jadi mengeluarkan mobil. Bagaimanapun, yang menggaji mereka adalah Aly, jadi mereka akan lebih menuruti perintah Aly.


Alsya menatap tajam wajah suaminya. "Oh, Baiklah. Aku bisa pergi tanpa memakai mobilmu." Ucapnya sengit.


______________


"Astaghfirullah...!." Aly membuka matanya, dia segera menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


Keringat dingin membanjiri wajahnya. Mimpi buruk rupanya. Aly menengok ke wajah Halimah yang masih tertidur nyenyak sambil memeluk bayi mereka. Tangan Aly terulur membelai pipi sehalus kapas putrinya.


"Abi akan mengenalkan kamu dengan Ummi mu, nak. Semoga Ummi kamu menerima Mama kamu ya ?." Ucap Aly pada putrinya, seolah-olah putrinya itu mengerti akan yang dia ucapkan.


"Maafkan Abi yang kurang perhatian sama mama kamu, tapi Abi janji, Abi akan mengenalkan kalian pada dunia jika, kalian juga adalah orang tersayang Abi." Ucap Aly lagi lalu mencium pipi dan kening putrinya dan beralih pada kening Halimah. "Maaf, sayang." Ucapnya lirih.


Aly bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari kamar, dia saat ini sangat kehausan dan akan mencari minuman untuk di minumnya.


Sebenarnya Halimah sudah terbangun saat Aly tiba-tiba mengucapkan istighfar, Halimah tau bahwa Aly Beru saja mengalami mimpi buruk. Dia hanya tidak ingin membuat Aly semakin gelisah jadi dia tetap memejamkan matanya dan memilih diam saja saat Aly mencium keningnya tadi.


"Maafkan kehadiran ku, mas. Aku salah karena membuat hubunganmu dengan Alsya menjadi seperti ini. Demi Allah, aku tidak pernah ada niatan untuk menghancurkan pernikahan kalian, aku juga korban disini, mas. Aku menjadi istri yang hanya berstatus Sirri, dan itu tidak pernah sekalipun terpikirkan olehku." Gumam Halimah dengan mata yang sudah berkaca-kaca, tatapan matanya menatap pintu kamar yang sudah tertutup rapat lagi setelah tadi dibuka Aly.


sudah mulai panas yaa😁😁

__ADS_1


lanjut di part selanjutnya yaa πŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ˜ŠπŸ™πŸ»


__ADS_2