Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Kemarahan Anand


__ADS_3

Tiga mobil melesat membelah jalanan menuju ke rumah sakit. Jalan yang dilalui sudah sangat Alsya hafal. Jalan ini adalah jalan menuju rumah sakit milik Affin.


Mereka sampai di rumah sakit. Semua orang turun dan langsung menuju ruangan tempat Fyzha dirawat karena memang sekarang Fyzha sudah keluar dari ruang IGD.


Di dalam ruangan itu, ternyata Fyzha sudah sadar dan sedang duduk di atas pembaringannya, ditemani oleh Anora yang duduk di kursi di sampingnya.


Fyzha sempat terkejut melihat kedatangan keluarganya. Apalagi saat melihat wajah Anand, dia langsung menunduk takut pada kakaknya itu.


"Kamu sudah sadar, Fy ?." Alsya mendekati adik iparnya. Dia langsung memeluk tubuh adik iparnya.


"Kakak..." Fyzha membalas pelukannya.


Setelah Alsya melepaskan pelukannya kembali. Fyzha melirik ke arah Anand yang sedang menatapnya dengan tatapan dingin yang membekukan. "Kak..." Fyzha memanggil dengan air mata yang sudah memenuhi pelupuk matanya. Dia sudah menduganya bahwa kakaknya itu sudah tau tentang kebenarannya.


"Kamu sudah mengecewakan kami, Fy ?, Kamu sudah bertindak terlalu jauh." Anand menggertak dengan emosi yang berusaha dia tahan.


"Kakak, maafin aku... Aku tidak sengaja melakukannya..."


Melihat Fyzha yang mulai menangis membuat Alsya tidak tega. Dia kembali memeluk adik iparnya itu.


"Katakan, siapa yang melakukannya ?." Tanya Anand menatap tajam wajah adiknya.


Fyzha menggeleng lemah. "Aku tidak tau siapa pria itu, Aku tidak mengenalnya..."


Semua orang terdiam tidak percaya dengan apa yang dikatakan Fyzha. Termasuk Affin yang membelalakkan matanya menatap wajah Fyzha.


Apa yang baru saja dikatakan Fyzha ?, Kenapa dia malah menutupi kebenarannya ?, Bukankah aku ada disini ?, Aku pria yang menyentuhnya waktu itu.


"Astaghfirullah, Fyzha !." Teriak Anand semakin frustasi saja dia.


"Fyzha, jawab jujur, apa kamu dipaksa ?." Alsya menangkup wajah adik iparnya.


Fyzha menggeleng sebagai jawaban. Alsya langsung menghembuskan nafasnya berat. Dia menjadi bingung sendiri dengan apa yang terjadi pada adik iparnya itu.


"Maafkan aku, aku salah aku sangat menyesal, maafkan aku kak..." Fyzha memohon pada kakaknya.


Anand tak menghiraukannya, dia keluar dari ruangan tersebut dan Alsya segera mengejarnya. Alsya tidak ingin Anand melakukan sesuatu yang buruk, padahal Anand bukanlah orang yang memiliki jalan pikiran seperti itu.


"A' !, Aa' tunggu !!." Alsya berteriak masih terus mengejar langkah kaki suaminya.


Anand mengehentikan gerakan kakinya. Dia menoleh ke arah Alsya .


"Aa' mau kemana ?." Tanya Alsya setelah dia sampai di hadapan Anand.


"Aku ingin sendiri, kamu kembalilah kesana."

__ADS_1


"Tidak, aku ingin ikut dengan mu." Tolak Alsya spontan.


Anand menghembuskan nafasnya perlahan lalu mengangguk. Dia menggandeng tangan istrinya menuju tempat untuk menenangkan diri.


Dan tempat itu ternyata adalah masjid yang berada tak jauh dari rumah sakit.


Kebetulan hari sudah memasuki waktu Maghrib. Mereka mengikuti sholat berjamaah bersama pengunjung lainnya.


Selesai sholat satu-persatu orang-orang keluar dari bangunan yang penuh ketenangan itu. Dan Anand masih terdiam di tempatnya sambil berdoa akan hal yang terjadi pada keluarganya.


Dia diberi tanggung jawab besar oleh kedua orang tuanya untuk menjaga Fyzha selama adiknya itu ada di Jakarta. Tapi apa yang sudah dia lewatkan ?, Fyzha ternoda tanpa sepengetahuannya !.


"Astaghfirullah..." Anand meraup wajahnya lagi kemudian bangkit dari simpuhnya dan keluar lalu duduk di terasa masjid.


Alsya juga keluar dan ikut duduk bergabung di samping suaminya.


Melihat kedatangan Alsya, Anand sedikit menyunggingkan senyumnya pada sang istri. Alsya membalasnya dengan senyuman manisnya.


"Aa' kecewa memang wajar, semua kakak pasti sangat kecewa jika mengetahui adiknya seperti itu. Tapi, kita juga tidak boleh menghakimi Fyzha sendiri, Fyzha pasti memiliki alasan kenapa dia sampai melakukan hal itu." Alsya mengatakannya untuk membuat hati suaminya terbuka.


"Dia bukan anak kecil yang tidak bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk." Anand menatap jauh dengan pandangan kosong.


"Semua orang pernah lupa, A'. Fyzha juga bisa saja sedang lupa bahwa yang dilakukannya itu adalah tidak baik."


Alsya tersenyum. Inilah masa dimana hadirnya seorang pasangan sangat diperlukan. Sebuah momen dimana jika salah satunya sedang terluka maka satunya lagi berusaha menyembuhkan lukanya.


"Jangan terlalu melampiaskan amarahmu, kita harus tetap ada untuk Fyzha, aku yakin saat ini Fyzha sedang sangat terpuruk." Alsya masih menerbitkan senyumnya.


Anand terdiam sebentar lalu menerbitkan senyumnya. "Makasih, sayang..." Ucapnya kemudian sambil tangannya terulur mengelus lembut pipi istrinya.


"Assalamualaikum."


Anand reflek menghentikan gerakan tangannya di pipi Alsya. Dia dan Alsya menoleh pada sumber suara. "Waalaikumsalam."


Dua pria yang memiliki wajah sama yang baru datang itu duduk di depan Anand dan Alsya.


Affin menatap wajah Anand dan Alsya bergantian kemudian dia menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya perlahan.


"Anand, izinkan saya menikahi Fyzha." Affin berucap sangat mantap dan meyakinkan.


Anand dan Alsya tentu saja sangat kaget mendengarnya.


"Kamu yakin ?, Kamu sendiri tau bagaimana keadaan adik saya sekarang ?."


"Insya Allah saya menerima apapun keadaan Fyzha. Apapun itu."

__ADS_1


"Tapi kamu bisa mendapatkan wanita yang lebih baik dari Fyzha ?,."


"Iya, saya tau, tapi saya tidak berminat mencari wanita lain lagi. Saya sudah yakin bahwa Fyzha memang cocok untuk saya."


Ada sedikit rasa lega di hati Anand mendengar ucapan Affin. Dilihat dari matanya, Affin memang berucap serius dan bersungguh-sungguh.


Tapi Anand sedikit menyayangkan niat Affin karena itu sudah pasti merugikan Affin sendiri.


"Baiklah, saya menerima niat baik kamu, tapi saya juga harus memberitahu orang tua kami terlebih dahulu." Putus Anand akhirnya.


Affin mengangguk patuh.


"Anand, apa kamu akan memberitahu orang tuamu tentang keadaan Fyzha ?." Affan bertanya.


Anand sedikit bimbang. Dia juga dari tadi memikirkan hal tersebut. Jika dia memberitahu orang tuanya, dia sangat takut pada apa yang akan dilakukan oleh kedua orang tuanya pada Fyzha. Rasanya dia tidak akan tega.


Namun, ini adalah kebenaran yang besar dan orang tua harus tetap bagaimanapun ceritanya meski itu baik ataupun buruk.


"Bagaimanapun kami masih memiliki orang tua. Aku akan memberitahu mereka."


"Baiklah, semoga semuanya berjalan lancar." Ucap Affan lagi.


Mereka kembali diam sambil menikmati suasana dingin waktu Maghrib yang diguyur gerimis.


Setelah diam cukup lama, mereka bangkit dan kembali ke rumah sakit, tepatnya ke kamar yang ditempati oleh Fyzha.


"Kakak." Fyzha menatap wajah kakaknya yang baru saja datang.


Anand tak bereaksi. Dia hanya diam tak menghiraukan panggilan Fyzha dan lagi-lagi usapan lembut tangan istrinya menenangkannya.


Anand kembali merasakan hatinya tenang. Dia berjalan mendekati Fyzha dan saat sampai di dekatnya, Anand membawa tubuh ringkih itu ke dalam pelukannya.


Tangis Fyzha langsung pecah di pelukan Anand. Dia terisak-isak sambil bibir terus meracau meminta maaf.


"Sudah, iya aku memaafkanmu, tenanglah..." Anand masih memeluk erat tubuh adiknya.


Benar yang dikatakan oleh istrinya, jika saat ini adiknya sedang sangat terpuruk, dia sebagai kakaknya seharusnya menjadi penopang semangat adiknya.


"Maafkan aku, kak... Hiks hiks hiks !." Fyzha masih terus menangis sesenggukan padahal Anand sudah bilang memaafkannya.


Alsya ikut mendekat dan mengusap lembut kepala Fyzha yang tertutup kain kerudung.


Dua orang terdekat untuk Fyzha itu saling berusaha untuk menenangkan hati Fyzha agar dia menghentikan tangisnya dan berhenti mengucapkan meminta maaf.


✓✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2