Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Liburan 2


__ADS_3

Alsya mendongakkan kepalanya menatap wajah suaminya yang sesekali menyesap coklat panas di gelasnya. Terlihat sangat nikmat dan menggiurkan.


"A'." Panggil Alsya dan hanya mendapat lirikan mata Anand.


"Hem ?."


"Mau..." Ucap Alsya akhirnya.


Anand langsung menatap wajah Alsya kemudian dia tersenyum. "Mau apa ?."


"Mau itu." Alsya menunjuk ke arah gelas yang di pegang suaminya dengan dagunya.


"Ini ?."


Alsya mengangguk mengiyakan.


"Tadi katanya gak mau ?."


"Ihh, sekarangnya mau."


"Baiklah, apapun untuk Bidadariku."


Mendengar itu membuat pipi Alsya langsung merah merona. Ditambah dengan cuaca dingin menjadikan pipinya sudah seperti tomat matang.


Dengan penuh hati-hati karena memang masih panas, Alsya menyesap minumannya. Dan rasanya.... Sungguh Alsya seakan menjadi orang pecinta coklat lagi !.


"Enak ?."


"Enak sekali." Alsya kembali menyesap minumannya dengan sangat antusias. Sesekali dia berdecak kagum dengan rasa yang didapatnya dari segelas cokelat panas itu.


Alsya bahkan lupa dengan juz hangat yang telah dipesannya tadi. Dia lebih memilih menikmati minuman milik suaminya.


Anand melihat piring berisi kebab yang masih teronggok belum tersentuh sama sekali. Dia mengambil sepotong kecil dengan sendoknya kemudian mendekatkannya di depan bibir Alsya. Tangan Anand yang menganggur digunakan untuk menyingkirkan gelas yang sering sekali di tempelkan di bibir istrinya itu.


"Jangan minum terus, makanlah dulu." Ujarnya lembut dan dengan penuh kelembutan Anand memasukkan sendok itu ke dalam mulut Alsya.


Alsya sempat kaget tapi tak urung juga dia menikmati makanan yang sudah masuk di mulut nya.


"Enak." Ucapnya di sela-sela kunyahannya.


"Mau lagi ?."


Alsya mengangguk mengiyakan. Dia segera membuka lagi mulutnya untuk menerima suapan yang diberikan oleh suami tercintanya.


"Aa' juga harus makan." Alsya mengambil sendok yang masih menganggur. Dia juga mulai menyuapi Anand dengan sangat telaten.


Akhirnya acara makan itu dilakukan dengan saling suap-menyuap satu sama lain. Benar-benar suasana yang romantis yang hanya Alsya dapatkan bersama seseorang yang memang memuliakannya sebagai seorang perempuan.


Sesekali Anand juga mengelap sekitaran bibir Alsya yang belepotan karena saus dari kebab yang menempel di sana. Acara makan dengan diselingi candaan dan saling bercerita berlangsung hingga hampir berjam-jam.

__ADS_1


Makanan telah habis. Keduanya bersiap untuk melakukan perjalanan wisata lagi.


Kini keduanya sudah duduk lagi di kursi di dalam mobil.


"Kita sholat dhuhur dulu ya ?."


"Kembali ke masjid biru ya A ?."


"Baiklah, tuan putri..."


Gelak tawa kembali mewarnai perjalanan keduanya. Dan setelah beberapa menit, mereka sampai lagi di taman masjid biru. Keduanya segera masuk ke dalam bangunan megah itu untuk melakukan sholat dhuhur yang sedikit menunda waktu itu.


Dengan berjamaah, keduanya sholat begitu khusyuk dan syahdu. Selesai sholat dilanjutkan dengan dzikir dan doa untuk meminta keridhoan Allah untuk rumah tangga mereka dan juga meminta agar keinginan keduanya segera terlaksana.


Anand berbalik setelah menutup doanya. Dia mengulurkan tangannya untuk disalami oleh sang istri. Alsya menyambutnya dengan penuh haru dan khidmat.


"Kita langsung pulang aja ya, sayang ?. Karena nanti sore juga kita harus ke rumah sakit."


"Aa' sudah membuat janji dengan dokternya ?."


"Sudah tadi pagi."


"Ya sudah, ayo pulang. Aku juga sudah lelah mau istirahat."


"Iya."


Pukul tiga siang di waktu Turki. Alsya dan Anand sudah sampai di rumah sakit. Mereka segera menuju ruangan khusus dokter yang akan menjadi tempat konsultasi perkembangan proses yang sedang dilakukan Alsya dan Anand untuk program kehamilan.


Karena sudah membuat janji, jadi mereka bisa langsung masuk ke dalam ruangan itu tanpa mengikuti antrean terlebih dahulu.


"Selamat datang, tuan dan nyonya..." Sapa dokter perempuan yang memakai pakaian syar'i.


"Selamat siang, dok ?." Alsya dan Anand juga tak kalah ramahnya.


"Baiklah, sekarang kita langsung melakukan pemeriksaannya saja ya ?."


"Iya, dok."


Alsya menaiki ranjang untuk pemeriksaan dengan dibantu oleh Anand dan dokternya. Anand memang selalu setia di samping Alsya di setiap menjalankan pemeriksaan.


Berbagai macam bentuk pemerikasaan yang sudah sering Alsya lakukan sebelumnya. Dari yang memeriksa kondisi kesehatan Alsya, perkembangan kesuburan rahim Alsya dan beberapa pemeriksaan lainnya yang menjadi prosedurnya.


Hampir dua jam Alsya menjalani pemeriksaan yang tidak pernah terlewat dari pandangan mata suaminya.


"Menurut hasil dari pemeriksaannya semuanya sangatlah normal dan baik. Kesehatan tubuh, kondisi hormon, kesuburan rahim dan stamina nyonya, semuanya dalam keadaan sempurna.


Hanya saja masih belum ada tanda-tanda akan sesuatu yang hidup di rahim nyonya.


Jangan khawatir ya ?, Insya Allah, yang penting dia dan usahanya saja agar cepat diberi amanah Nya." Ucap dokternya menjelaskan dengan sangat hati-hati karena takut membuat pasiennya tersinggung atas penjelasannya.

__ADS_1


Alsya dan Anand hanya tersenyum menanggapi. Senyuman kaku yang terbit dari wajah Alsya sebab kembali menelan kecewa atas usahanya yang belum juga membuahkan hasil.


Anand juga sama kecewanya tapi dia tidak mungkin menunjukkannya di hadapan Alsya. Dia tidak mau istrinya itu kembali stres akibat hasil dari penjelasan dokternya.


Dokter itu juga tampak memperhatikan wajah Alsya dengan sangat lekat. Sebagai sesama perempuan, tentu saja dia faham apa yang sedang dipikirkan oleh pasiennya itu.


"Tuan dan nyonya bisa berusaha lebih keras lagi. Apalagi dengan diselingi wisata disini, semoga itu akan menambah keharmonisan kalian." Ujar dokter itu seperti mengerti keadaan.


Anand yang mengerti akan maksud dari ucapan dokternya hanya bisa tersenyum kaku. Yah, mereka saat ini sedang menghabiskan waktu berduaan dengan keromantisan dengan kesan honeymoon.


"Baiklah, untuk vitaminnya anda bisa menebusnya di depan, ini resepnya.."


"Iya, dok. Terimakasih."


Anand dan keluar dari ruangan tersebut untuk menuju tempat menebus obatnya.


Selesai mendapatkan vitamin yang telah diresepkan dokter tadi, mereka langsung memutuskan untuk pulang lagi ke hotel.


Suasana hening tercipta di dalam mobil. Dari semenjak keluar dari ruangan dokter tadi, Alsya masih belum juga mengeluarkan suaranya. Dia dari tadi terdiam seperti banyak pikiran. Sebenarnya bukan banyak, karena yang dipikirkannya saat ini tidak lain adalah tentang sang anak.


Dia merasa kembali mengecewakan hati suaminya dengan belum adanya sang buah hati yang menghuni rahimnya.


Melihat kondisi istrinya yang seperti itu, Aly juga bingung harus melakukan apa, dia ingin menghibur istrinya dengan cara bagaimanapun Alsya pasti tetap akan murung seperti itu sebab ini bukan hal pertama untuk mereka. Setiap kali selesai melakukan kontrol yang dilakukan setiap dua Minggu sekali, setiap kali pulangnya juga Alsya akan melamun seperti itu dan akan mendiami semua orang disekelilingnya termasuk suaminya sendiri. Lalu setelah itu dia akan menangis sendirian dan menyalahkan dirinya sendiri akan semuanya.


Sampai di kamar pun, Alsya masih memilih diam. Dia segera memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri dan setelah selesai, Alsya malah meringkuk di atas tempat tidurnya dan menyembunyikan tubuhnya di bawah selimut.


Anand yang masih bingung memilih untuk membersihkan diri juga dan setelah selesai, samar-samar dia mendengar isakan kecil yang tidak lain adalah suara Alsya. Rasanya hatinya sangat sakit mendengar suara tangisan Alsya.


Anand segera naik ke tempat tidur dan menyibakkan selimut yang menenggelamkan tubuh mungil istrinya itu. Wajah Alsya sudah banjir dengan air mata. Dia juga sesenggukan. Anand segera merengkuh tubuh Alsya dan memeluknya sangat erat.


"Maafkan aku, A... Maafkan Aku...." Rintih Alsya di sela-sela tangisnya.


Anand menggeleng. Dia tidak pernah menyalakan Alsya akan hal ini. Dia sudah pasrah dengan takdir Allah yang telah menyiapkan sesuatu yang lebih baik pastinya.


"Tidak, sayang... Ini buka salah kamu... Jangan menyalahkan diri kamu sendiri seperti ini, aku mohon..." Mata Anand sudah memanas dengan air mata yang mulai menggenangi pelupuk matanya.


"Enam bulan, A'... Sudah enam bulan..."


"Iya sayang, aku tau. Tapi kita juga gak bisa memaksa sayang..."


"Tapi, A'..."


"Sudah, jangan menghukum ku dengan suara tangismu, aku tidak sanggup mendengarnya..." Suara Anand sangat lirih dan air matanya pun mulai mengalir tanpa diminta.


Alsya mengangguk meski masih terisak-isak. Dia semakin memeluk erat tubuh suaminya untuk menemukan ketenangan di dalam hatinya.


Keduanya saling terdiam dalam keheningan yang diisi oleh isakan kecil Alsya.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2