Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Teman Curhat


__ADS_3

Alsya dan Nareena melangkah beriringan menuju ke ruang beranda dan setelah sampai, mereka duduk di sofa dengan posisi yang juga masih berdampingan.


Nareena menghadap ke arah wajah Alsya. Tangannya membawa tangan Alsya ke atas pangkuannya. "Kak, kan aku tidak punya kakak lagi selain Melvin, Fyzha dan Anand, ya ?." Ucap Nareena dengan wajah yang mengenaskan.


Alsya yang memang tahu hanya mengangguk mengiyakan. "Terus ?." Wajah Alsya tampak serius memperhatikan wajah Nareena.


"Yah, kan mereka semua gak ada, biasanya aku kalau mau curhat sama Fyzha, tapi Fyzha nya ada di Cirebon dan Melvin sekarang ada di luar negeri." Nareena semakin mendramatisir. "Aku gak punya temen curhat lagi, kak... Kakak mau ya, jadi temen curhat aku ?." Tanya Nareena dengan mata mengerling cantik penuh permohonan.


Alsya tanpa berpikir panjang lagi langsung mengangguk mengiyakan.


"Kakak memang kakak ipar idaman !!." Seru Nareena langsung menubruk tubuh Alsya hingga membuat si empunya sedikit terkejut juga sesak karena dipeluk sangat erat.


"Hehehe maaf ya kak, terlalu seneng soalnya." Nareena cengengesan menyadari kelakuannya sendiri. Dia kembali melepaskan tubuh Alsya dari rengkuhan kedua tangannya.


"Oke, sekarang Nareen mau curhat apa ?, Aku akan mendengarkannya." Ucap Alsya kemudian.


"Hmm, nanti jangan lupa solusinya ya kak ?."


"Insya Allah kalau aku bisa aku berikan solusinya, tapi kalau gak bisa, maaf aja ya mungkin aku hanya akan menjadi pendengar yang baik saja."


"Oke, tidak masalah. Yang penting aku juga butuh teman curhat doang."


"Iya, Nareen." Alsya tersenyum meneduhkan.


"Jadi begini, kak. Eee aku mau tanya dulu, sebenarnya nikah itu enak nggak ?." Ucap Nareena penuh harap.


Alsya tersenyum kaku karena bingung harus menjawab pertanyaan tersebut bagaimana ?.


"Hem, kalau menurutku, setengah-setengah, ada enaknya ada gak enaknya."


"Contohnya ?." Nareena menyerobot.


"Enaknya, ketika kita sedang butuh seseorang untuk diajak berdiskusi ya ada, ketika kita sedang tidak baik-baik saja ada yang manjain kita, ketika kita sedang kesusahan ada yang bantuin, ketika sedang kedinginan ada yang hangatin, hehehe." Ujar Alsya panjang lebar, namun merasa lucu sendiri dengan ucapannya sendiri.


Nareena langsung menatap horor wajah Alsya setelah mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Alsya barusan. "Jangan memanas-manasiku, kak." Ujarnya sinis.


"Hehe iya, maaf. Tapi memang kenyataannya seperti itu, Nareen."


"Oke, oke, iya aku percaya. Terus gak enaknya apa ?." Tanya Nareena lagi menginginkan jawaban selanjutnya.


"Gak enaknya, kita menjadi lebih super sibuk. Kita harus membagi waktu kita untuk diri kita sendiri, untuk suami sama untuk anak-anak juga jika memang kita sudah memiliki anak. Tapi, lebih tepatnya, kadang kita hampir melupakan diri kita sendiri nantinya. Dan percayalah, ketika kita melakukan itu semua, kita tidak akan pernah merasakan lelahnya namun sebaliknya, kita akan merasakan kepuasan tersendiri ketika apa yang kita lakukan ternyata benar dan pas untuk semua porsinya." Terang Alsya lagi.


Nareena hanya bisa mendengarkan dengan seksama. Jawaban Alsya yang pertama membuatnya menjadi ingin cepat-cepat untuk menikah, tapi setelah mendengar jawaban yang keduanya, Nareena langsung berpikir jika dia harus berpikir beberapa kali lagi untuk melaksanakan pernikahan.

__ADS_1


Sesuai yang dikatakan Alsya, jika pernikahan itu ada enaknya dan ada juga tidak enaknya. Tapi setelah mendengar penjelasan Alsya, Nareena berpikir jika pernikahan itu lebih banyak tidak enaknya. Dia yang nanti berstatus sebagai seorang istri bahkan sampai tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri. Yah, itu sangat menakutkan menurut Nareena !.


"Apa kak Al merasakan semua hal itu sekarang ?."


"Tentu saja, aku merasakannya."


"Huhh, aku jadi takut untuk menikah !." Decak Nareena melemas lalu menyandarkan punggungnya pada sandaran sofa.


"Ehh, yah tidak boleh begitu, menikah itu Sunnah, Nareen. Dan, di dalam pernikahan juga terdapat banyak pahala yang besar yang akan kita peroleh nantinya." Ucap Alsya lagi kali ini lebih ke menasehati.


"Tapi, menurutku itu sangat menakutkan kak... Apa sebaiknya aku tidak usah menikah aja ya ?, Lagian sekarang aku biasa-biasa saja kok meski tidak menikah."


"Percayalah, kalau sudah menjalaninya kita pasti tidak akan merasakan beratnya."


"Beneran ?."


"Bener, kalau tidak percaya, kamu bisa lihat bagaimana aku sekarang ?, Apa aku terlihat tertekan ?, atau malah sebaliknya ?."


Nareena kembali menegakkan posisi duduknya. "Iya, kau benar kak, aku tidak melihatmu merasa tertekan sama sekali, bahkan aku melihatmu sepertinya bahagia terus." Akhirnya Nareena bisa membuka mata hatinya.


Alsya tersenyum menanggapinya. "Jadi, apa kamu sudah menemukan calonnya ?." Tanya Alsya kemudian.


"Eee, belum sih. Tapi aku sedang tertarik pada seseorang. Dia orangnya dingin setiap diajak berbicara, dan lebih parahnya lagi ketika kami sedang berbicara dia jarang sekali melihat wajah ku. Tapi, anehnya kenapa aku bisa sampai suka sama orang seperti itu ya ?." Tatapan Nareena menerawang jauh entah kemana. Sepertinya dia sedang membayangkan sosok pria yamg sedang dibicarakannya itu.


"Oh ya ?!,."


"Memangnya kalian kenal dimana ?."


"Di suatu tempat, dan hingga saat ini pun kami selalu bertemu di tempat yang sama terus."


"Sebenarnya cerita kamu persis seperti kisahku dengan Anand. Dulu, aku juga sangat dingin terhadap sosok pria, siapapun itu. Tapi, Anand selalu gencar mendekatiku hingga akhirnya aku luluh dan mau menerimanya." Ungkap Alsya menceritakan kisah pertemuannya dengan seseorang yang saat ini telah menjadi suaminya.


"Apa aku harus melakukan hal yang sama seperti yang Anand lakukan untukmu ?, Tapi aku perempuan, masa perempuan ngejar-ngejar laki-laki sih."


"Eee, iya susah juga sih. Atau begini saja, coba kamu terus memberikan dia perhatikan meski sesuatu hal yang mungkin sangat sepele, karena setahu aku seseorang sangat suka jika diperhatikan. Dan mungkin itu berlaku untuk pria yang sedang kamu sukai itu." Ucap Alsya memberi usulan.


"Kalau itu aku sering melakukannya, tapi yah, dia memang sangat dingin kak... Hingga sampai sekarang pun dia masih saja bersikap dingin padaku. Entah apa yang membuat hatinya sampai sekeras batu kaya gitu." Nareena semakin dibuat frustasi dengan kisah asmaranya sendiri.


"Biasanya orang seperti itu adalah orang yang pernah mengalami trauma berat, dan kemungkinan dia masih belum berdamai dengan traumanya sehingga dia masih terus menutup diri."


"Iya, sepertinya memang begitu. Aku juga pernah berpikir seperti itu."


Keduanya terdiam dengan pemikiran masing-masing hingga seorang bocah berlari ke arah Alsya.

__ADS_1


"Ummi...!." Seru bocah itu yang tak lain adalah Keyya.


"Ehh Keyya udah mandi sayang ?." Ujar Alsya lalu mengangkat tubuh mungil Keyya ke atas pangkuannya.


"Udah." Jawab Keyya dengan tingkah polosnya.


Alsya tersenyum kemudian memeluk tubuh Keyya dengan gemasnya.


Nareena yang memperhatikannya dibuat bingung dengan kehadiran anak kecil yang tidak pernah di lihat sama sekali. "Kak, dia siapa ?." Tanyanya penasaran.


"Dia anak angkat kami, Keyya ayo salaman dulu sama Tante Nareen!."


Keyya tampak malu-malu mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Nareena. Begitupun Nareena yang masih dibuat bingung tapi dia tetap mengulurkan tangannya untuk disalami oleh Keyya. "Hey, anak cantik.... Siapa namamu ?." Tanya Nareena seramah mungkin agar Keyya tidak ketakutan.


"Keyya."


"Ohh, Keyya... Namanya cantik sekali sama seperti orangnya." Ucap Nareena senang kemudian mengusap lembut kepala Keyya.


Keyya yang mendapat perlakuan seperti itu langsung tersenyum malu-malu dan menelusupkan wajahnya di tubuh Alsya.


"Kok aku baru lihat, kak ?, Memangnya kalian membawanya dari mana ?." Tanya Nareena lagi kembali menatap wajah Alsya.


"Kami menemukannya di jalan, tepat setelah dua hari pernikahan kami."


"Di jalan ?!." Pekik Nareena tanpa sadar. Dia langsung teringat pada kejadian tempo hari yang melihat seorang anak kecil berlarian di jalan tanpa ada yang menjaganya dimalam hari.


Nareena memperhatikan wajah Keyya lagi, dan setelahnya dia yakin, jika Keyya adalah anak kecil yang waktu itu dia lihat. Anak kecil yang dikiranya adalah sosok makhluk astral yang sedang kelayapan dimalam hari.


"Kenapa, Nareen ?." Alsya langsung bertanya saat melihat Nareena tiba-tiba terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Ohh, tidak kak. Aku hanya sedang memikirkan ucapan kakak tadi soal bagaimana meluluhkan hati pria yang aku kagumi." Jawab Nareena sekenanya saja.


"Oh, aku kira kamu sedang memikirkan apa?,." Ucap Alsya percaya begitu saja dengan alasan Nareena.


"Ya sudahlah, kak. Ini udah sore sekali, aku pamit pulang dulu ya ?." Nareena bangkit berdiri dari duduknya.


"Sebentar sekali mainnya ?."


"Hehehe iya kak, lain kali aku akan main lagi kok, tenang saja."


"Ya sudah, hati-hati dijalannya ya ?,."


"Iya, kak. Assalamualaikum..."

__ADS_1


"Waalaikumsalam.."


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2