
Senyuman Nareena tidak pernah dari pagi. Apalagi jika mendengar keluarganya yang terus menggodanya dengan terang-terangan membuat semburat merah di pipinya semakin kentara.
Hari ini, setelah penuh perjuangan untuk meluluhkan hati si pria dingin dan datarnya, akhirnya Nareena mencapai puncak keberhasilannya.
Aly sudah tidak pernah lagi bersikap dingin dan cuek pada Nareena, baik itu di luar kantor maupun di dalam kantor. Bahkan, dari beberapa hari yang lalu, Aly sudah mulai terang-terangan bersikap romantis terhadap Nareena.
Nareena masih mengingat dengan jelas saat Aly mengatakan perasaannya yaitu ketika mereka sedang ada pertemuan dengan klien perusahaan di salah satu restoran.
Saat itu kliennya telah lebih dulu pulang dan hanya meninggalkan Aly beserta sekretaris nya saja yang masih diam di mejanya.
"Nareen." Tatapan mata Aly begitu lekat pada wajah Nareena membuat si pemilik wajahnya menjadi canggung dan salah tingkah.
"I-iya, Tuan ?!." Nareena ragu-ragu menatap wajah Aly.
Aly menerbitkan senyumnya yang sangat menawan hati dan semakin membuat tubuh Nareena panas dingin tak karuan.
"Santai saja Nareen, jangan terlalu tegang kaya gitu." Ucapan Aly hanya dibalas senyuman kaku Nareena.
"Hehe iya, tuan."
"Eee, Nareen. Ada sesuatu yang ingin saya katakan sama kamu,."
"Iya, silahkan, tuan." Nareena sudah mulai menguasai keadaan.
Sekali lagi Aly menatap wajah Nareena dengan sangat intens. "Nareena, maukah kau menikah denganku ?." Ucap Aly too the point.
Nareena langsung bereaksi. Dia terpaku ditempatnya dengan mata yang menatap tak percaya. Ucapan yang sungguh mengejutkan, bukan ?!.
"Tu-tuan, Eee maaf... Eee apa saya salah dengar ya ?." Kata-kata Nareena terbata-bata karena masih belum bisa percaya dengan ucapan Aly barusan.
Aly kembali tersenyum. "Memangnya apa yang kamu dengar ?." Tanyanya semakin membuat Nareena kelabakan tak karuan.
Nareena dibuat serba salah dengan keadaannya. Dia yang terkejut tapi dia yang dibuat kesal sendiri dengan sikap Aly yang terlihat biasa-biasa saja.
"Maaf tuan, mungkin tadi saya sedang melamun jadi salah dengar apa yang tuan katakan."
"Iya, memangnya apa yang kamu dengar, Nareen ?." Aly benar-benar ingin mengerjai.
__ADS_1
Bahkan, di lihat dari raut wajahnya Aly seperti sedang menahan tawanya.
"Tuan... Saya mohon jangan mengerjai saya, saya benar-benar tidak mengerti apa maksud anda berbicara seperti itu ?." Nareena mulai frustasi sendiri.
Wajah Aly kembali serius dan menatap wajah Nareena lagi. "Iya, Nareen, yang kamu dengar itu benar."
"Apa ?!, Jadi, tuan benar-benar mengajak saya menikah ?!." Hilang sudah kecanggungan Nareena. Dia dibuat syok dengan kenyataan.
Aly menjawabnya dengan anggukan kecil kemudian tersenyum lagi.
Nareena rasanya dibuat pingsan oleh ucapan Aly. Dia membekap mulutnya sendiri karena sangat terkejut.
"Apa kamu mau, Nareen ?." Tanya Aly lagi memastikan.
Nareena yang masih sangat terkejut tapi dia tidak mungkin untuk menolaknya. Jelas-jelas dia sudah sangat lelah berjuang untuk mendapatkan hati si pria dingin itu. Nareena mengangguk menerima.
Aly semakin melebarkan senyumannya yang membuat wajah Nareena semakin bersemu merah.
Kembali lagi ke masa sekarang. Hari ini, Aly akan bertamu untuk menemui orang tuanya. Jadi, Nareena yang memang sudah memberitahukan pada sang ayah, jelas langsung disuruh pulang oleh Hadi ke rumah utama keluarga Ghuinandra.
Nareena sudah berdandan sedemikian cantik untuk acara pentingnya hari ini. Dia keluar dari kamarnya untuk ikut ke ruang dimana diadakannya acaranya.
"Hai, Fy ?." Senyuman Nareena tercetak manis saat tanpa sengaja berpapasan dengan Fyzha sebelum turun ke lantai bawah.
Orang yang disapa hanya terdiam dengan tatapan mata seperti tak bersahabat. Fyzha memperhatikan penampilan Nareena dari ujung kepala hingga ujung kaki setelah itu dia langsung melenggang pergi begitu saja tanpa mengatakan sepatah katapun. Nareena dibuat tercengang di tempat. Sudah jelas tadi dia menyapa sepupunya itu dan kenapa Fyzha malah mengabaikannya.
Nareena bingung tapi dia juga tidak mau memikirkannya untuk saat ini. Dia hanya berpikir positif jika mungkin saja sekarang Fyzha sedang tidak enak badan atau mungkin sedang masa MPS sehingga moodnya lagi tidak baik.
Langkah kaki Nareena menuruni anak tangga satu-persatu dengan perasaan deg-degan juga tidak karuan. Hal pertama yang pernah ia rasakan jadi dia merasa sangat nervous.
Nareena sampai di ruang pertemuan. Disana sudah ada keluarganya dan juga keluarga Aly. Semakin tak karuan saja hatinya saat ini melanda Nareena.
"Assalamualaikum..." Ujarnya lembut dan penuh sopan santun.
"Waalaikumsalam..." Semuanya menjawab.
Nareena duduk di tengah-tengah antara Ningrum dan Rene. Kedua Tantenya itu memeluknya dengan lembut dan tersenyum manis padanya.
__ADS_1
Semua orang yang duduk disana memperhatikannya sambil tersenyum, tak terkecuali dengan Aly sendiri. Apalagi saat dia mencoba melirik, ternyata Aly sedang memperhatikannya dengan senyuman manisnya. Huhh, semakin meleleh saja hati Nareena !.
Nareena semakin salah tingkah saat tanpa sengaja pandangan matanya bertemu dengan tatapan mata Aly. Sebagai perempuan, tentu saja Nareena menjadi salah tingkah. Dia memilih untuk menundukkan kepalanya karena tak berani menatap ke arah manapun lagi.
Semua orang kembali pada posisi semula. Perbincangan basa-basi antara orang tua juga sudah dimulai kembali. Nareena hanya terdiam menunduk, sambil menyimak percakapan mereka.
"Nak, Nareena." Suara seseorang yang tak lain adalah ibunya Aly memanggilnya.
Nareena barulah mengangkat wajahnya dan menatap wajah wanita setengah baya tersebut. "Iya, Bu ?." Ucapnya sedikit merasa canggung.
"Nak Nareen, maaf sebelumnya. Ibu mau memberitahu nak Nareen sebelum melamar nak Nareen. Nareen mau mendengarkannya ?"
"Iya, Bu. Nareen akan mendengarkannya." Jawab Nareena mantap.
Ibunya Aly tersenyum melihat wajah Nareena. "Tapi, mungkin ini bukan hanya untuk nak Nareen sendiri karena keluarganya nak Nareen juga harus mengetahui tentang Aly, anak saya bukan ?."
Semuanya mengangguk mengiyakan.
"Jadi begini, apa nak Nareen tahu jika anak saya ini adalah seorang duda ?."
Deg.
Nareena terkejut bukan main mendengarnya, begitupun dengan keluarga yang lainnya. Kebenaran yang tidak disangka sama sekali.
Nareena menatap tak percaya ke arah wajah calon suaminya itu. Dia tidak pernah mendengar Aly mengungkit kisah masa lalunya apalagi tentang status Aly yang merupakan seorang duda.
Nareena merasa kedua tangannya digenggam erat. Dia menoleh ke arah tantenya. "Tante..." Panggilnya lirih dengan gelengan kecil.
Ningrum tersenyum seolah menenangkan hati keponakannya. "Nareen hanya perlu menjawabnya, sayang." Bisik Tante Rene tepat di dekat telinga Nareena.
Nareena menghirup udara sebanyak-banyaknya. Dia masih belum bisa menerima kenyataan ini yang membuatnya sangat terkejut. Nareena menoleh lagi ke arah ibunya Aly.
"Saya belum tau sama sekali, Bu, Karena Aly tidak pernah menceritakannya." Jawabnya jujur.
Nareena melirik Aly yang terlihat sedang menundukkan kepalanya seperti menyesali perbuatannya sendiri yang tidak terus terang. Nareena tidak mengerti dengan apa yang ada di pikiran Aly sebelumnya. Seharusnya Aly sudah mengatakannya sebelum dia menanyakan alamat rumah orang tua Nareena, bukan ?!. Dasar memang si pria datar !.
✓✓✓✓✓✓✓✓
__ADS_1