
"Fyzha." Ningrum mendekat dan duduk di samping putrinya.
Setelah sadar dari pingsan nya, Fyzha hanya mengurung diri di dalam kamar. Tidak pernah sekalipun keluar dari kamarnya selama berhari-hari, apalagi berangkat ke kantornya.
Sikap Fyzha yang selalu menyimpan masalahnya sendiri itu membuat kedua orang tuanya bingung harus bersikap bagaimana. Pernah ditanya soal apa yang membuatnya terus-menerus melamun, tapi Fyzha hanya menjawab tidak ada apa-apa dan dia mengatakan selalu ingin sendiri.
Fyzha menoleh menatap wajah ibunya dengan tanpa sepatah katapun.
"Kamu tidak ingin mengantar kepergian keponakanmu, nak ?."
"Apa mereka jadi pulang sekarang, ma ?."
"Iya, Anand juga sedang dalam perjalanan pulang ke rumahnya."
"Ma, aku boleh ikut mereka pulang ?." Tanya Fyzha ragu-ragu.
"Kamu mau balik ke Jakarta ?." Ningrum memandang wajah putrinya.
"Iya, ma. Aku juga harus mengurus perusahaan aku disana."
"Ya sudah, kamu segera siap-siap, mama akan keluar sekalian bilang ke papa kamu." Ningrum memang mengkhawatirkan keadaan putrinya. Tapi dia juga tidak mungkin menolak permintaan Fyzha untuk kembali ke Jakarta.
Fyzha membalasnya dengan anggukan kepala.
Ningrum keluar dari kamar Fyzha, meninggalkan putrinya itu untuk bersiap-siap.
Di ruang keluarga, Fazal dan Keyya sedang melepas rindu bersama kakeknya sebelum kepulangan mereka.
Mengabaikan pakaian yang menjadi tak beraturan, Fazal dan Keyya tampak sangat bahagia bercanda dan tertawa lepas bermain dengan kakaknya.
"Mas." Ningrum datang menghentikan tingkah mereka.
"Fyzha tidak mau turun ?." Aryan melirik ke arah tangga. Tidak terlihat Fyzha di sana.
"Mas, Fyzha meminta ikut ke Jakarta bersama cucu kita."
Aryan terdiam sejenak. "Tidak apa-apa, mungkin itu yang lebih baik untuknya."
"Iya, mas. Aku juga berpikir seperti itu."
"Sekarang Fyzha lagi apa ?."
"Dia sedang bersiap-siap."
Aryan ber- ohh riya.
Tidak lama, Fyzha turun dengan hanya membawa tas sedang. Sesimpel itu memang perangai Fyzha. Saat kedatangannya ke sini pun sama, dia hanya datang dengan dirinya sendiri yang hanya menenteng tas selempangnya saja, dan saat ditanya dia hanya menjawab tidak ingin ribet.
__ADS_1
Fyzha menghampiri kedua orang tuanya. "Ma, pa." Sapanya mencoba bersikap tenang.
"Kesini, nak !." Ucap Aryan dan Fyzha langsung menurutinya.
Sesampainya di dekat sang ayah, Aryan segera memeluk erat tubuh putrinya. Dia sangat menyayangi putri manjanya itu.
"Pa..." Tak terasa air mata Fyzha sudah menetes dan membasahi pundak sang ayah. "Maafin Fyzha, pa... Maafin Fyzha..." Gumam Fyzha sangat lirih.
Aryan sedikit terkejut mendengar putrinya yang memohon maaf padanya. Dia merasa Fyzha tidak melakukan kesalahan apapun, tapi untuk apa permintaan maaf Fyzha itu ?.
Ingin bertanya tapi Aryan tidak ingin memperburuk hati putrinya, jadi dia memilih diam dan mulai melepaskan pelukannya lagi.
"Hati-hati di jalan, kalau sudah sampai rumah langsung kabari kami." Ucap Aryan menasehati.
"Iya, pa."
"Ya sudah, yuk keluar ?!." Ningrum menggandeng tangan putrinya keluar dari rumah. Di teras sudah ada dua mobil yang sudah disiapkan sebelumnya.
Satu mobil untuk anak-anak, Fyzha beserta supirnya dan satunya lagi adalah untuk pengawal pribadi anak-anak beserta pengasuh-pengasuhnya.
"Kami berangkat, ma, pa." Sekali lagi Fyzha memeluk tubuh kedua orang tuanya.
"Kakek..!!." Fazal menghambur memeluk kakeknya.
"Nenek...!!." Keyya juga melakukan hal yang sama.
"Kalian jangan nakal ya disana. Kasihan Ummi kalian nanti kecapean." Ujar Aryan memberikan petuahnya.
"Iya, kakek." Jawab keduanya serempak.
Fazal menyalami tangan kakeknya kemudian neneknya dan diikuti oleh Keyya setelahnya.
Mereka memasuki mobil. Jendela dibuka lebar untuk melakukan lambaian perpisahan.
"Assalamualaikum, nenek...!!. Kakek...!!." Teriak Fazal dan Keyya bersamaan sambil terus melambaikan tangannya.
Aryan dan Ningrum membalasnya dengan perasaan terharu dan juga doa terbaik untuk keselamatan mereka agar bisa sampai ke rumahnya dalam keadaan baik-baik saja.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Di dalam pesawat dengan kelas bisnis eksklusif, Anand tak henti-hentinya memperhatikan wajah Alsya yang terlihat semakin memucat. Saat menempelkan punggung tangannya di tubuh istrinya itu, ternyata suhu tubuhnya terbilang normal.
"Sayang, apa kamu pusing ?." Tanya Anand sangat khawatir.
Alsya menggeleng. "Tidak, aku baik-baik saja, tapi perutku saja yang sedikit tidak enak." Alsya mengatakan yang sejujurnya.
"Mau makan roti atau buah ?." Anand menawarkan.
__ADS_1
Alsya langsung menggeleng menolaknya. "Aku tidak ingin makan apa-apa, A."
"Ya sudah, kamu istirahat saja ya?, Perjalanan juga masih sangat jauh." Anand membawa tubuh mungil istrinya dalam dekapannya.
Tangan Anand mengusap-usap lembut perut Alsya berharap agar rasa tidak nyaman yang dirasakan istrinya itu menghilang.
Mata Alsya perlahan terpejam rapat. Dia tertidur nyenyak di pelukan hangat suaminya apalagi rasa nyaman yang diberikan oleh usapan lembut tangan Anand memang sedikit mengurangi rasa tidak enak di perutnya.
Perlahan namun pasti, Anand juga melelapkan matanya dan tertidur dengan posisi masih memeluk tubuh Alsya.
Berjam-jam telah berlalu. Mereka sampai di bandara internasional Soekarno-Hatta, Jakarta. Turun dari pesawat, Alsya langsung menggeret tangan Anand mencari toilet untuk memuntahkan semua isi perutnya.
Tidak memperdulikan bahwa itu adalah toilet khusus wanita, Anand ikut masuk ke dalam bilik nya. Dia membantu Alsya mengeluarkan semua cairan yang menyumbat tenggorokannya dengan memijit-mijit dengan lembut tengkuk leher Alsya.
Berkali-kali Alsya memuntahkan semua isi perutnya. Bahkan isi makanan yang tadi dimakan saat di dalam pesawat juga Alsya keluarkan.
Setelah rasa mual di perutnya mereda dan sudah tidak ingin muntah lagi, Alsya menyenderkan punggungnya di tubuh suaminya karena tubuhnya sudah sangat lemas tak berdaya.
"Kamu kenapa sih, sayang...?. Kok bisa sampai seperti ini ?." Dengan penuh kelembutan, Anand membersihkan sekitaran mulut Alsya dari sisa-sisa cairan muntahnya tadi.
"Aku juga tidak tau, A." Jawab Alsya sangat lirih karena tubuhnya yang saking lemasnya.
Anand memapah tubuh Alsya keluar dari toilet menuju tempat duduk di area sekitaran tempat tersebut.
"Aku tinggal dulu sebentar, ya ?."
"Aa' mau kemana ?."
"Aku mau beli minum dulu, sebentar kok." Tanpa menunggu persetujuan dari Alsya, Anand langsung melesat begitu saja dan memang sesuai yang dijanjikan bahwa dia pergi hanyalah sebentar.
Anand datang dengan membawa air mineral kemasan botol. Dia duduk di samping Alsya dan membukakan tutup botolnya. "Minum dulu." Ucapnya tulus dan membantu Alsya meminum air mineralnya dengan penuh perhatian.
Anand tidak mengkhawatirkan tentang masib barang-barangnya yang masih belum diambil. Dia sudah meminta anak buahnya saja yang akan mengambilnya dan langsung membawanya pulang ke rumah.
Anand menunggu Alsya memulihkan tenaganya lagi selama hampir setengah jam.
"Kita ke rumah sakit dulu, ya ?." Ucap Anand saat mereka sudah melangkah menuju mobilnya yang mungkin telah menunggu dari tadi.
"Aku ingin segera sampai di rumah, A."
"Iya, tapi keadaan kamu seperti ini sayang. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu."
"Tidak, aku ingin langsung pulang saja." Alsya bersikap menolaknya. Alhasil, Anand hanya bisa menuruti kemauannya.
Dan akhirnya mereka memilih langsung pulang ke rumah.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓
__ADS_1