Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Kasih sayang Anand


__ADS_3

Usia kehamilan Alsya yang menginjak umur lima bulan, permintaan ngidamnya pun semakin aneh. Seperti hari ini, pagi-pagi sekali Alsya tiba-tiba merengek pada Anand meminta untuk pulang ke rumah Abah dan tinggal disana.


"Sudah siap, sayang ?."


"Sudah."


"Baiklah, ayo kita berangkat ?!." Anand menggandeng Alsya memasuki mobilnya.


Fazal menyusul bersama Tania di jok belakang. Dan setelah semuanya siap, mereka segera berangkat ke rumah Abah.


"Sayang, aku hanya bisa mengantarkan kalian ke rumah Abah, karena hari ini aku ada rapat di kantor." Anand menjelaskan agar istrinya itu mengerti.


Alsya langsung menoleh ke arah suaminya. "Tapi nanti pulangnya ke rumah Abah, kan ?." Wajah Alsya terlihat tidak senang.


"Iya, nanti dari kantor langsung ke rumah Abah."


"Ya sudah." Alsya mengalihkan pandangannya ke luar jendela.


Musim penghujan masih terus berlangsung. Tidak pagi, siang ataupun malam, curah hujan terkadang sangat besar mengguyur tanah.


"Kamu mau dibelikan apa saat aku pulang nanti ?." Anand berusaha membujuk karena wajah Alsya masih cemberut masam.


Anand menggenggam tangan istrinya. "Sayang..."


"Aku tidak menginginkan apa-apa." Alsya menjawab tapi matanya masih fokus pada pepohonan di pinggir jalan yang basah karena diguyur air hujan.


"Martabak ketan ?, Rujak ?, Atau es krim rasa strawberry ?." Anand masih berusaha membujuk.


" Ihh, aku tidak ingin apa-apa..." Alsya semakin merajuk.


Anand mendengus pasrah. "Baiklah,."


Di belakang, Fazal yang sudah biasa dan mengerti akan keadaan kedua orang tuanya hanya bersikap acuh saja. Bocah kecil itu tak menghiraukan sama sekali percakapan antara kedua orang tuanya yang memang sering terjadi.


Mereka sampai di rumah Abah. Wajah Alsya langsung sumringah saat melihat sosok kedua orang tuanya dan tanpa memperdulikan anak dan suaminya Alsya berjalan cepat menyongsong tubuh Umma dan memeluknya erat seakan tidak pernah bertemu sama sekali padahal dua Minggu lalu, umma baru saja berkunjung dan menginap di rumah mereka.


"Assalamualaikum, Abah, umma." Anand menyalami tangan Abah lalu beralih pada tangan Umma.


"Waalaikumsalam. Ayo, masuk ?!." Tawar Abahnya.


Anand mengangkat tubuh mungil Fazal untuk dibawa masuk ke dalam rumah kakek neneknya.


Sampai di dalam, Anand yang sedang terburu-buru langsung berpamitan lagi pada semua orang yang ada disana.

__ADS_1


Anand menghampiri istrinya yang masih dalam mode ngambek. Dia berjongkok di hadapan Alsya yang sedang duduk di sofa bersama Umma. "Sayang, aku berangkat dulu ya ?." Anand mencium kening Alsya.


"Pulangnya jangan kesorean."


"Iya."


"Eee jangan lupa martabat ketannya." Ucap Alsya lagi dengan wajah malu-malu karena sebelumnya dia mengatakan tidak ingin apapun.


Anand tersenyum manis. "Ada lagi ?."


Alsya terdiam lalu mendekatkan wajahnya ke samping telinga Anand dan membisikkan sesuatu yang membuat Anand terkejut.


"Tapi itu tidak bagus, sayang." Protes Anand tidak setuju dengan permintaan istrinya yang satu ini.


"Tapi aku pengen..." Baru saja merasa lega, tapi permintaan istrinya itu selalu saja membuatnya kaget.


Waktu itu minta mandi hujan, lalu berkunjung ke Cirebon, terus tadi pagi minta mengunjungi rumah Abah dan menginap, dan sekarang ?.


Anand menoleh menatap wajah Abah dan Umma. "Umma, memangnya kalau sedang hamil boleh main sepeda ?." Tanya Anand karena hampir frustasi sendiri pada setiap permintaan ngidam Alsya.


Abah dan Umma jelas juga merasa kaget. Mereka sudah mendengar tentang mengidamnya Alsya.


Umma dan Abah saling menatap satu sama lain kemudian Umma melihat lagi wajah Anand yang terlihat khawatir. "Kalau setahu Umma, boleh. Tapi, sedikit lebih berbahaya."


Dan untuk kali ini Alsya akhirnya mengangguk mengiyakan. Dia juga tidak ingin terjadi apa-apa pada ketiga jagoannya jika dia tidak bisa menjaga mereka dengan baik.


Anand tersenyum cerah. Dia langsung berdiri dan memeluk erat tubuh istrinya. "Makasih, sayang. Kamu boleh melakukan apapun, tapi jangan yang sampai membahayakan mereka ya ?." Nasihat Anand dan kembali Alsya menjawabnya dengan anggukan kepala.


Anand kembali melepaskan pelukannya dan beralih menghampiri putranya yang duduk di samping Abah. "Kalau pangeran Abi mau dibeliin apa ?."


Fazal menggeleng. "Gak mau apa-apa."


"Beneran tidak mau apa-apa ?."


"He em." Fazal mengangguk yakin.


"Ya sudah, Abi berangkat dulu ya, Fazal jagain Ummi, oke ?."


"Oke !."


Anand tersenyum lalu mencium lembut puncak kepala Fazal. "Abah, Umma, Anand berangkat dulu, titip Alsya dan Fazal. Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam.."

__ADS_1


Anand segera berangkat karena waktu yang semakin siang. Dia harus sampai di kantor tepat sebelum acara rapat dimulai.


Abah mengajak Fazal untuk ikut bersamanya ke rumah tetangga yang kebetulan sedang ada pengajian. Dan Alsya di rumah ditemani oleh Umma yang selalu setia di sampingnya.


Seperti putri manja, Alsya merebahkan tubuhnya dan meletakkan kepalanya di pangkuan sang ibu. Dan Umma tampak dengan senang hati membelai lembut rambutnya penuh kasih sayang.


"Umma, apa Alsya terlalu jahat sama A' Anand ?."


"Jahat bagaimana maksudnya ?."


"Yah, selama kehamilan Alsya, Alsya selalu meminta yang aneh-aneh. Tapi, semua itu Alsya memang sangat menginginkannya..."


Umma tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa, itu wajar. Lagian suami kamu sanggup menurutinya, kan ?."


"Kecuali yang tadi."


Umma terkekeh kecil. "Kalau yang tadi juga Umma tidak setuju dengan permintaan kamu itu."


Alsya menunduk penuh merasa bersalah pada keinginannya sendiri. "Iya, Umma."


"Oh ya ?, Bagaimana dengan cucu-cucu Umma ?, Apa kalian sudah tahu tentang mereka?." Umma mengelus lembut perut Alsya yang sudah mulai membesar padahal usia kandungannya masih baru lima bulanan tapi terlihat seperti sudah masuk tujuh bulan.


"Alhamdulillah, mereka baik semua Umma. Dan, Mereka kembar tak identik, satu perempuan dan duanya laki-laki." Mata Alsya berbinar cerah membayangkan ketiga anaknya itu.


"Masya Allah... Semoga mereka sehat semua hingga dilahirkan nanti."


"Aamiin..."


Anak dan ibu itu terdiam dengan pemikiran masing-masing. Tapi melihat wajah Ummanya, Alsya menjadi penasaran.


"Ada apa, Umma ?."


Umma menatapnya lekat. "Umma keinget sama kehidupan kamu yang dulu. Umma ingat sekali, dulu kamu tidak pernah bertingkah seperti saat ini.


Saat bersama Aly kamu menjadi penurut dan dan tertutup, bahkan sepertinya umma tidak pernah melihat kalau kamu merasa kesal terhadap Aly."


Alsya tersenyum tenang. "Dulu umur Alsya masih sangat muda untuk berumah tangga, Umma. Yang Alsya tahu saat itu adalah menjadi istri yang taat dan tidak membebankan suami karena tingkah lakunya. Tapi, kala itu Alsya memang terlalu pendiam sih, Alsya tidak pernah ngomong meski kadang Alsya tidak merasa cocok. Alsya juga terlalu polos sampai tidak sadar jika telah dibohongi hingga bertahun-tahun lamanya." Alsya berbicara tenang seolah semua yang dialaminya dulu tidaklah begitu berarti.


Umma bisa melihat pancaran mata Alsya yang sudah tidak terlihat gurat kesedihan lagi meski membahas tentang masa lalunya.


"Sekarang Alsya sangat beruntung karena memiliki suami yang begitu pengertian pada Alsya. Dia bahkan selalu mengingatkan Alsya agar selalu menjadi diri sendiri dan tidak terlalu pendiam dan tertutup. " Alsya menatap wajah Ummanya dengan senyuman yang semakin merekah. "Allah baik ya Umma ?, Dia memberikan pengganti yang lebih baik lagi daripada sebelumnya."


Umma mengangguk mengiyakan. "Kamu memang pantas mendapatkannya, nak."

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2