
"Charyra...!." Aly sedikit mengeraskan suaranya agar bisa terdengar dari dalam.
Setelah beberapa kali mengetuk pintunya, pintu itu terbuka dan menampilkan sosok wanita polos yang tampak lebih seger dari sebelumnya.
Aly sempat terdiam memperhatikan wajah cantik yang polos tanpa sedikitpun make up itu. Entah mengapa, dia merasakan ada desiran halus menerpa jantungmya dan membuatnya berdetak sedikit lebih cepat.
"Aly. Ada apa ?."
Pertanyaan Charyra menyadarkan Aly dari lamunannya.
"Ohh, ini. Aku membelikanmu pakaian."
"Pakaian ?."
"Iya, ini. Maaf kalau mungkin ukurannya tidak sesuai, karena aku tidak paham ukuran pakaian mu." Ujar Aly sedikit gugup.
Charyra juga terlihat terkejut dan juga sama gugup nya saat menerima paper bag yang diberikan Aly itu. "Maaf, merepotkanmu." Ujarnya dengan perasaan tak enak hati.
Aly tersenyum kaku. "Tidak apa-apa. Aku pergi dulu ya."
"Iya,... Terimakasih."
Aly hanya mengangguk menanggapi. Kemudian dia masuk kembali ke dalam kamarnya begitupun dengan Charyra yang juga langsung memasuki kamarnya lagi dan menutup pintunya.
Aly merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap langit-langit kamar yang terlihat sedikit lembab. Bayangan akan kenangan terindah bersama anak-anaknya tiba-tiba melintas dihadapannya. Tanpa sadar, matanya mengeluarkan beberapa tetes air mata dan meluncur dari sudut-sudut matanya.
"Apa kabar dengan kalian, anak-anak Abi ?... Apa kalian bahagia dengan kehidupan kalian saat ini ?... Abi sangat merindukan kalian semua.... Maafkan Abi yang dulu pernah begitu egois terhadap ummi kalian... Maafkan Abi..." Aly semakin tidak bisa mengendalikan air matanya. Dia mulai terisak memikirkan betapa sakit nya perasaan Alsya saat dia tau bahwa suaminya selama bertahun-tahun telah menyembunyikan sesuatu kebohongan yang sangat besar.
Kelebatan bayangan manis tentang pertemuan pertama kali dengan Alsya muncul kemudian berubah digantikan dengan bayangan bagaimana bahagianya Alsya saat mengetahui jika dia sedang mengandung anak kembar dan berubah lagi dengan bagaimana kecewanya Alsya saat mengetahui bahwa anak pertamanya memilih untuk tinggal bersama Abi nya kemudian berubah lagi dengan tampilan wajah seorang wanita yang sedang tersenyum manis ke arahnya dan entah kenapa Aly pin membalas senyuman itu dengan senyum manis pula.
"Charyra ?!." Aly terkesiap dan langsung duduk.
Nafasnya terasa memburu. Entah kenapa tiba-tiba bayangan wajah Charyra tiba-tiba melintas di pikirannya.
"Ada apa ini ?. Apa kau sedang memberikan petunjuk ya Allah...?. Masih pantaskah jika pendosa ini memohon kepada Mu ya Allah... ?." Air mata Aly kembali bercucuran membanjiri wajahnya.
Dia teringat betapa banyaknya dosa yang selama ini telah dia perbuat tanpa ada sama sekali untuk memperbaiki nya dan bahkan malah semakin menjadi-jadi saat cobaan Allah terus limpahkan untuk mengujinya.
Aly semakin terisak-isak dalam penyesalan besar. Di beranjak dari posisinya dan berlari ke arah kamar mandi untuk menyucikan diri. Dia sudah lama menjauh dari kebenaran. Dia sudah lama melanggar semua larangan. Dia sudah lama terlena pada kebodohan.
__ADS_1
Sudah waktunya untuk kembali. Sudah waktunya untuk memunajat pada sang illahi lagi. Sudah waktunya dia berserah diri sebelum ajal yang malah lebih dulu menghampiri.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Seorang gadis polos masih memandangi pakaian yang berserakan di atas tempat tidur. Pakaian baru yang baru saja dia dapat dari pria baik yang menolongnya dari kejaran anak buah saudaranya.
Charyra Khumaira. Gadis yang terlihat polos dan lugu namun itu hanyalah sebuah topengnya saja. Dia adalah putri tunggal dari sepasang suami istri yang telah meninggal karena kecelakaan. Dari kecil hidupnya selalu diwanti-wanti oleh seluruh anggota keluarga karena dianggap sebagai masalah besar. Dan dari kecil juga orang tuanya telah mendidiknya menjadi wanita yang harus terlihat lemah lembut dan polos sebagai covernya.
Awalnya Charyra kurang mengerti dengan apa selalu dikatakan kedua orang tuanya saat masa pertumbuhan nya. Dan dia baru mengetahuinya sekarang setelah kedua orang tuanya itu telah wafat.
Charyra masih terus memandangi pakaian itu tanpa ada niat untuk memakainya karena masih sedikit canggung. Bagaimanapun, meskipun pria yang ditemuinya terlihat baik, sebagai perempuan dia juga harus bisa mawas diri.
Mengabaikan pakaian itu, Charyra memilih mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang disana.
"Hallo, Ryra. Ada apa ?, Apa kamu diganggu lagi oleh mereka ?!." Ujar seorang di seberang sana tampak begitu khawatir.
"Iya, tapi aku sudah tidak apa-apa. Untungnya ada yang menolongku saat mereka mencoba menculikku lagi."
"Ohh, syukurlah. Aku senang dengannya. Semoga kebaikan orang yang menolongmu itu dibalas oleh Tuhan."
"Iya, Vin."
"Lalu, sekarang kau ada dimana ?, Apa kau di tempat yang aman ?."
"Syukurlah. Semoga dia memang benar-benar orang baik."
"Iya,. Hmm apa kamu sedang ada di rumahmu ?, Kedengarannya berisik sekali disana."
"Iya, aku sedang ada di rumah. Aku pulang dari kemarin karena paman sendiri yang menghubungiku agar aku bisa menghadiri pernikahan putranya."
"Hmm, baiklah. Berarti kau sedang sibuk. Kalau begitu aku tutup dulu telepon nya, kita bisa berbicara nanti." Ujar Charyra tak bersemangat.
"Hey, tidak Ryra. Aku selalu ada waktu untuk mu. Kapan pun." Tegas suara di seberang sebab tersinggung dengan ucapan Charyra.
"Tidak apa-apa, Vin. Aku mengerti kok. Kamu bisa kembali ke kegiatan mu, lagian aku juga akan istirahat."
"Kamu yakin ?, Apa kamu tidak merindukan ku ?,."
"Tentu saja aku sangat merindukanmu . Tapi tidak sekarang, karena aku sangat membutuhkan istirahat..."
__ADS_1
"Hmm baiklah. Istirahatlah, besok pagi aku akan mengabarimu."
"Iya, bye."
"Bye, love you."
"Hem."
Charyra mematikan sambungan teleponnya. Dia kembali menatap pakaian itu dan setelah berpikir panjang dia mengambil salah satunya yang sekiranya pas untuk dibawa tidur dan memakainya.
Setelah berganti pakaian dan membereskan kembali tempat tidurnya Charyra mulai merebahkan tubuhnya dan beristirahat karena tubuhnya sudah sangat lelah akibat perbuatan dua orang jahat tadi.
Malam panjang berlalu di temani dengkuran halus yang keluar dari mulut Charyra dan menyapa dengan sinarnya yang memancar ke sela-sela jendela kamar.
Charyra menggeliat dan membuka matanya. Hal yang pertama kali dia lihat adalah suasana pagi hari yang berbeda seperti biasanya. Charyra bergegas turun dari tempat tidur dan membersihkan diri di kamar mandi dan setelah memperbaiki pakaian nya dia keluar dari kamar. Suasana rumah yang sepi dan hening ditambah kicauan burung liar yang berada di pepohonan di belakang rumah menambah kesan damai dan menenangkan.
Charyra terus melangkah menyusuri setiap ruangan rumah itu dan berakhir di dapur. Melihat dapur yang tertata begitu rapi membuat Charyra tidak bisa menahan senyumannya. Sebagai seorang perempuan yang dunia nya adalah di dalam dapur, Charyra sangat menyukai desain tatanan dapur itu.
Charyra mengecek setiap lemari disana dan dia tidak menemukan apapun bahan yang bisa dimasak lalu beralih pada kulkas dua pintu dan saat membukanya dia kembali mendapatkan kekecewaan.
"Kenapa tidak ada apa-apa disini ?. Lalu aku akan sarapan apa kalau tidak ada bahan yang bisa ku masak ?." Charyra bersedekap dan memonitor selurug sudut dapur dan dia benar-benar tidak bisa menemukan apapun.
"Huhh, mungkin pemilik rumah ini memang tidak pernah masak." Ujar Charyra lagi lalu mendudukkan tubuhnya di kursi meja makan.
"Charyra,."
Panggilan itu membuat Charyra menoleh.
"Kau sedang apa disini ?."
"Ehh, itu Ly... Apa tidak ada bahan-bahan yang bisa dimasak ?." Tanya Charyra ragu-ragu.
Aly sempat terdiam sejenak lalu menggeleng. "Tidak ada. Saya tidak pernah memasak."
"Ouh."
"Apa kamu lapar ?."
Charyra mengangguk malu-malu dengan wajah yang terlihat memerah. Yah benar, Charyra memang sedang kelaparan karena tadi malam dia tidak sempat untuk makan malam dan malah tertidur sampai pagi.
__ADS_1
"Baiklah, sebentar. Kita pesan makanan saja." Aly pergi dari hadapan Charyra yang memandangnya sedikit bingung namun saat melihat Aly masuk ke dalam kamar, Charyra berpikir jika Aly akan mengambil ponselnya untuk memesan makanan.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓