
"Ummi...!."
Alsya kelimpungan mencari keberadaan sang putra yang entah ada dimana dan hanya suaranya saja yang terus memanggil-manggil dirinya.
"Fazal... Kamu dimana, nak...?!." Teriak Alsya semakin frustasi.
"Ummi...!. Tolong...!."
Suara putranya kembali terdengar.
Alsya melangkah ke arah kanan, melihat ada sebuah taman bunga yang indah tapi disana tidak ada sang putra. Alsya beralih ke arah kiri, terlihat disana ada sebuah danau yang dikelilingi oleh semak-semak belukar. Alsya merasa jika putranya ada disana sehingga kakinya membawanya mendekati danau tersebut.
"Fazal...!." Teriaknya lagi masih terus mencari.
"Ummi...!. Fazal disini...!. Tolong...!. Fazal takut...!."
Rintihan tangis putranya seakan menyayat hati. Alsya semakin gelisah dan mencari keberadaan sang putra dan akhirnya ketemu.
Fazal, putranya ada di tepi danau dan setengah tubuhnya tenggelam di dalam lumpur.
"Fazal ?!!. Astaghfirullah !!." Teriak Alsya begitu syok melihat keadaan sang putra.
Tanpa berpikir panjang, Alsya langsung terjun, mencoba membantu fazal keluar dari kubangan lumpur yang hampir menenggelamkannya. Tapi, bukannya mengeluarkan sang putra, Alsya malah terjebak sendiri bahkan sebelum sempat menyentuh sang putra.
"Ummi... Tolong..."
"Sayang,.. Fazal tenang, ya... Ummi akan menolong Fazal..." Ujar Alsya menenangkan.
Dengan berusaha keras, Alsya mendekati tubuh putranya itu dan sedikit demi sedikit dia akan bisa sampai namun lagi-lagi sesuatu hal tak terduga terjadi.
Alsya meringis saat merasakan kakinya menginjak sesuatu yang terasa langsung melukai kakinya dan rasanya sangat sakit. Alsya bahkan sampai mengeluarkan airmatanya menahan kesakitan itu.
Alsya terus berusaha tanpa memedulikan rasa sakit di kakinya Kate ada hal yang lebih menyakitinya saat ini yaitu melihat sang buah hati sedang menangis ketakutan. Alsya kembali melangkahkan kakinya didalam kedalaman lumpur.
"Alsya, berhenti !!."
Teriakan seseorang membuat kaki Alsya urung untuk melangkah. Alsya menoleh dan mendapati seorang pria yang entah kenapa hatinya langsung merasa damai saat melihat wajah pria itu.
Pria itu seakan bagaikan pahlawan yang datang disaat Alsya sedang dalam kondisi kesulitan. Pria itu ikut terjun, dan entah kenapa dia terlihat biasa-biasa saja seperti tak ada kesusahan sama sekali saat berjalan di genangan lumpur yang sangat dalam.
Pria itu mengangkat tubuh putranya dan membawanya ke daratan lalu mendekati tubuh Alsya yang sudah mulai kehabisan tenaga di telan kedalaman lumpur.
Pria itu tersenyum sangat manis membuat Alsya tak sadar membalas senyuman itu. Tangan nya terulur dan merengkuh tubuh rapuh Alsya.
"Ayo, sayang... Percayalah padaku." Ujar pria itu lirih tepat di telinga Alsya.
__ADS_1
Alsya reflek mengangguk dan membiarkan tubuhnya digendong oleh pria itu.
Saat sampai di darat, tubuh Alsya benar-benar hilang rasa karena luka di kaki yang telah menganga parah. Alsya hanya bisa mendengar sang putra yang menangis memanggil-manggil namanya yang terdengar sayup-sayup.
Dan sebuah suara yang sangat menenangkan hatinya terdengar.
"Alsya, sayang... Bangunlah, bangkitlah. Kau tidak sendiri lagi. Aku akan menemani langkahmu kini."
Alsya tersenyum lalu matanya benar-benar terlelap tenang.
**Ooekk...! Ooekk**...!
"Astaghfirullah !!." Alsya membuka matanya saat suara bayinya yang menangis mengembalikan kesadarannya dari alam mimpi.
Alsya tidak langsung menghampiri Fazal. Dia malah terpaku di tempat sambil memperhatikan seluruh tubuh berkeringat dingin bahkan keringat di dahi terus saja menetes. Alsya usap keningnya dan betapa terkejutnya dia saat tau ternyata keningnya sangat basah karena keringat.
Alsya segera tersadar saat suara tangis Fazal belum juga berhenti.
"Hey, sayang... ?. Iya, nak. Ummi disini sayang." Sahut Alsya segera mengangkat tubuh mungil putranya dan membawanya ke atas pangkuan.
Alsya perhatikan wajah tampan putranya itu yang sedang melihat ke arahnya dengan tatapan mata beningnya.
"Kenapa sayang ?. Kok bangunnya nangis sih, Hem ?." Ucap Alsya sambil mencium gemas melihat tatapan mata putranya yang terpaku pada wajahnya.
Fazal sudah menghentikan tangisnya dan malah terlihat tenang dipangkuan sang ibu.
"Pangeran Ummi pinter, nangisnya sebentar ya ?." Ucap Alsya lagi mengajak putranya ngobrol.
Fazal hanya mangap-mangap tanpa suara sambil tersenyum seakan menanggapi ucapan ibunya.
Alsya terkekeh kecil melihat betapa lucunya putra keduanya ini. Alsya sudah rela dan ikhlas jika Hafidhz bersama ayahnya. Karena bagaimanapun Aly juga berhak terhadap putranya itu. Tapi meski demikian, Alsya akan sangat menyayangi kedua putranya itu sampai kapanpun.
"Sekarang waktunya Fazal mandi...!." Ujar Alsya heboh sendiri.
Alsya memandikan Fazal dan mendandani tubuh mungil putranya itu lalu memberinya ASI kemudian meletakkannya di atas tempat tidur sedangkan dirinya sendiri akan mandi dan memasak.
Alsya tidak pernah merasa cemas saat putranya itu ditinggal sendiri disaat dirinya sangat sibuk karena putranya itu sangat tenang dan tidak rewel. Sangat berbeda dengan masa kecil Hafidhz yang sangatlah rewel meski saat menginjak umur setahun putra pertamanya itu juga menjadi anak yang tenang juga.
__ADS_1
Membersihkan rumah dengan ukuran sedang yang hanya dihuni oleh dua orang, dirinya dan sang putra yang juga masih kecil, memang sangat mudah karena tidak terlalu kotor.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Melamun dan senyum-senyum sendiri, membuat Anand seperti seorang pria yang kehilangan akal sehatnya. Pertemuannya dengan wanita itu lagi membuat dia semakin penasaran saja.
Tutur kata tenang, wajah teduh, tatapan sendu, semuanya membuat Anand merasakan sesuatu hal yang tidak biasa dia rasakan selama beberapa tahun ini.
"Kenapa kamu ?. Senyum-senyum sendiri, kaya orang tidak waras saja." Decak sang Mama yang entah kapan datangnya, tiba-tiba sudah ikut duduk di samping saja.
Anand hanya acuh dengan ucapan orang tuanya itu. Tapi ternyata, diabaikan oleh dirinya, Mama nya malah ikut melamun juga ikut senyum-senyum sendiri.
Anand menatap heran wajah sang mama yang terlihat aneh itu. "Ma, jangan senyum-senyum sendiri, kaya orang gila tau?!." Decak Anand tidak mau kalah.
Mamanya melirik dengan senyuman aneh. Anand ada firasat buruk akan terjadi pastinya setelah ini.
"Kenapa?." Tanya Anand heran.
Sang mama malah semakin melebarkan senyumannya. "Anand, kalau seandainya kamu mama kenalkan sama seseorang, mau tidak ?." Tanya mamanya antusias.
Anand mendengus kesal. "Mama, Anand tidak mau ada perjodohan-perjodohan. Mama kira Anand yang gantengnya level tinggi ini gak bisa nyari sendiri ?." Tanya Anand sengit.
"Buktinya sampai sekarang kamu belum juga kenalin perempuan ke mama ?!."
"Yah, kan belum ketemu, mama...!" Decak Anand mulai kesal.
"Ya sudah, kalau begitu berarti kamu harus mau sama perempuan pilihan mama ini !." Ujar Mamanya dengan tatapan sengit.
"Mama..."
"Anand, perempuan ini beda. Dia cantik dan sangat sopan, dia juga pernah menyelamatkan mama dari kecelakaan ." Sang Mama mengatakannya dengan mata mengerling cantik.
"Jadi, maksud mama Anand harus menikahinya, sebagai balas Budi karena dia menyelamatkan mama ?." Anand menatap kesal wajah sang ibu.
"Yah, tidak begitu juga Anand... Hah, sudahlah !. Ngomong sama kamu bikin Mama kesal saja !." Decak Mama nya ngambek kemudian berdiri dan melangkah pergi.
Anand hanya mengangkat bahunya, terserah Mama nya mau berpikir seperti itu, tapi dia tidak akan pernah mau menikah dengan jalur perjodohan.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓
__ADS_1