
Affan memesan secangkir kopi di susul dengan Aly. Keduanya saling diam dengan pemikiran masing-masing. Affan yang bingung ingin memulai berkata dari mana, sedangkan Aly yang penasaran kenapa kakak iparnya itu mengajaknya ke tempat ini.
Pesanan kopi datang sedikit meredakan ketegangan antar keduanya.
"Saya disini tidak memihak pada siapapun, mau itu Alsya ataupun kamu, Ly." Ujar Affan akhirnya.
Aly hanya mengangguk mengiyakan.
"Saya tau ada sesuatu yang membuat kamu sampai melakukan hal yang kamu sendiri tentunya faham dengan konsekuensinya."
"Aku sudah berusaha semaksimal mungkin selama ini. Aku tidak pernah berniatan untuk menduakan Alsya."
"Iya, saya paham. Tapi, saya ingin tahu, kenapa kamu sampai melakukannya ?. Apa emang karena kalian saling suka ?." Tanya Affan lagi. Yah sudah persis seperti sedang menjalankan profesinya sebagai pengacara.
Affan merupakan pemilik PT yang menyediakan jasa pengacara handal, Affan juga kerap kali sering turun tangan sendiri untuk memecahkan misteri salah satu pelanggannya jika itu hanya bisa diselesaikan olehnya karena kecerdasannya yang mampu mengusut lengkap semua permasalahan namun selalu dalam keadaan santai.
"Kami mendapatkan amanah dari Abah Kyai yang waktu itu sedang Najah ( detik-detik Kematian/sakaratul maut )."
"Baiklah, itu masuk akal." Affan kembali menyesap kopinya. "Oh ya, kau sudah memiliki anak dengan istri keduamu ?" Tanya Affan lagi dengan gaya santai namun tetap tegas. "Jangan tegang seperti itu. Anggap saja kita teman akrab, dan kau bisa menceritakan semuanya dengan santai." Ujar Affan mencoba mencairkan suasana.
Aly membuang nafasnya perlahan lalu mengangguk. "Iya." Jawabnya lalu menyesap kopinya.
Obrolan kembali berlanjut. Aly memang merupakan tipe orang yang tidak bisa menyimpan perasaannya sendiri, dia adalah seorang pria yang selalu terbuka pada orang lain, yang menurutnya memang cocok untuk di ajak bicara serius. Seperti Affan contohnya.
Aly menceritakan semuanya dari awal dimana dia yang tiba-tiba di telfon oleh salah satu ustadz pesantren yang mengatakan bahwa Abah Kyai sedang sekarat dan memanggil-manggil namanya. Dan Aly yang kala itu langsung kalap, segera datang menemui Abah Kyai.
Namun siapa sangka, jika kedatangannya kesana malah merubah jalan hidupnya. Abah memberikan amanah padanya untuk menjaga Halimah, anak satu-satunya Abah Kyai dan ummi nyai.
Aly juga menceritakan bahwa awalnya Halimah menolak mentah-mentah ucapan Abahnya karena Halimah memikirkan perasaan Alsya, sahabat baiknya. Jadi, dalam pernikahan itu Halimah tidak ada kesalahan sama sekali.
Akad nikah juga langsung dilaksanakan dengan Abah Kyai sendiri yang menjadi walinya Halimah dan saat telah selesai ijab qobul, Abah Kyai juga menghembuskan napas terakhirnya.
Dan seiring berjalannya waktu, dengan kebersamaannya dengan Halimah, Aly merasa tumbuh rasa kasih sayang dan cinta terhadap sosok istri keduanya itu hingga kini mereka telah di beri amanah seorang putri kecil yang merupakan darah daging Aly sendiri.
"Lalu, apa yang akan kau lakukan setelah semuanya menjadi runyam seperti ini ?."
"Aku juga bingung. Aku masih ingat, Alsya pernah mengatakan jika sampai dia dimadu dia memilih untuk berpisah."
"Dan, kau akan mengabulkannya ?." Desak Affan penasaran.
"Aku tidak mungkin meninggalkan Alsya, kami memiliki anak yang butuh kedua orang tuanya. Tapi... Disisi lain, aku juga memiliki keluarga kecil lagi." Ucap Aly semakin merasa frustasi dengan jalan hidupnya sendiri.
Aly menghempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Tangannya meraup wajahnya sendiri dengan kasar. "Astaghfirullah..." Gumamnya lirih.
Affan masih diam memperhatikan wajah Aly yang terlihat hampir putus asa. Sebenarnya, dia juga kasihan dengan hidup Aly yang sudah dipastikan sangat runyam dan rumit.
"Sebaiknya kamu ngomong baik-baik dengan Alsya. Selesaikan semuanya dengan kepala dingin dan sabar." Nasihat Affan penuh perhatian.
"Bahkan Alsya ketakutan melihatku." Sergah Aly mengingatkan.
__ADS_1
Affan terdiam. Dia tahu memang, jika saat ini Alsya pasti langsung syok ketika melihat suaminya itu.
"Alsya adalah wanita yang memiliki hati lembut, dia tidak akan pernah membenci seseorang, apalagi suaminya sendiri."
"Tapi Alsya langsung menangis saat aku datang..." Gumam Aly lirih. Dia membayangkan bagaimana reaksi Alsya saat dirinya mencoba mendekati tubuh istrinya itu. Melihat Alsya yang demikian, membuat hatinya merasa teriris.
"Dia hanya masih syok. Cobalah lagi untuk menemuinya. Besok, kemungkinan Alsya sudah boleh pulang dan itu berarti kesehatannya sudah kembali normal." Ucap Affan sangat bijaksana.
Aly melirik wajah kakak iparnya itu. Meski memiliki wajah yang sangat mirip dengan kembarannya dan hanya berbeda letak tahi lalat saja, sikap Affan sangat berbanding terbalik dengan sikap Affin.
Nanti sore semua keluarga pasti akan pulang, dan yang menjaga Alsya malam ini adalah Nisa. Kau bisa datang kesana nanti."
"Apa mbak Nisa tidak akan marah ?."
"Tidak, Nisa meski terlihat garang juga judes, tapi hatinya lembut, tidak jauh dari adiknya." Ucap Affan sambil terkekeh sendiri.
Aly juga mulai tersenyum mendengar ucapan kakak iparnya itu. Suasana semakin mencair dan layaknya sepasang teman dekat, keduanya bisa mengobrol dengan santai meski dengan topik yang serius.
✓✓✓✓✓✓✓✓✓
Sesuai yang dikatakan oleh Affan. Benar, sore ini semua keluarga mulai berpamitan pulang dan menitipkan Alsya pada Nisa karena malam ini yang akan menemani Alsya adalah Nisa.
Setelah memastikan semua orang pulang, Aly mendekat ke arah pintu kamar Alsya dan tidak lama keluar mbak Nisa dari dalam kamar itu.
"Assalamualaikum, Mbak..." Sapa Aly mencoba bersikap sopan.
"Waalaikumsalam, masuklah." Ucap mbak Nisa tanpa basa-basi lagi.
Aly melangkah masuk ke dalam kamar. Di dalam, Alsya sedang duduk bersandar dengan posisi tubuh sedikit miring, menghadap ke arah bayinya yang tidur di sampingnya.
"Assalamualaikum..." Ujar Aly selembut mungkin, hatinya sedikit ragu, takut Alsya kembali bereaksi seperti waktu itu.
Alsya menoleh, tatapan matanya sayu dengan wajah datar terkesan dingin. Alsya menghadap putranya. "Waalaikumsalam." Jawab Alsya tanpa menoleh sedikitpun.
Dalam hati, Aly sangat bersyukur bahwa Alsya mau menerima kedatangannya.
Aly berdiri di samping tempat tidur Alsya, matanya menatap lekat wajah istrinya lalu beralih pada wajah putranya. Tangan Aly terulur mengusap lembut kepala putranya.
"Katakan." Ucap Alsya dingin masih enggan melihat ke arah Aly.
Gerakan tangan Aly yang sedang mengusap-usap kepala putranya, terhenti. Aly menatap Sendu wajah Alsya. "Maafkan mas, Al... Aku salah selama ini... Aku sudah membohongimu..." Ujar Aly sedikit gemetar juga mata yang masih mengembun.
"Terlambat. Kata maafmu tidak akan pernah bisa mengembalikan putriku." Ucap Alsya pedas.
Airmata Alsya juga mulai memenuhi pelupuk matanya.
Aly ingin menyentuh wajah istrinya itu namun Alsya segera menepis tangannya. "Al..." Panggil Aly lirih dengan air mata yang mulai meluncur dari sudut-sudut matanya.
"Aku sudah bilang dari awal... Aku tidak sanggup dimadu... Aku tidak sanggup... Demi Allah, aku tidak sanggup, mas...." Tangis Alsya pecah tak tertahankan. Dia terisak-isak sambil memeluk erat tubuh mungil putranya.
__ADS_1
"Kamu jahat... Kamu jahat, mas ... Hiks... hiks.."
Aly langsung menubruk tubuh istrinya, memeluknya erat seakan tak ingin membiarkannya pergi dari jangkauan. "Maaf, sayang... Maaf,.."suara Aly mulai parau karena tangisnya.
Mereka saling memeluk diantara tubuh mungil putranya yang sedang tertidur nyenyak.
"Lepaskan aku, mas.... Kembalikan aku pada Abah.... Aku mohon.... Hiks hiks..." Ceracau Alsya di sela-sela tangisnya.
"Tidak, Al... Aku tidak akan melepaskanmu... Aku sangat mencintaimu..." Ucap Aly Keukeh.
Ooekk...!! ooekk...!! ooekk...!!
Alsya segera mendorong tubuh Aly agar melepaskan pelukannya dan langsung menenangkan tangisan putranya.
"Sayang... Heyy,.. ummi disini, nak..."dengan penuh kelembutan Alsya mengendong tubuh mungil bayinya dan membawanya ke atas pangkuan.
Tangisan bayinya masih belum juga berhenti dan malah semakin kencang membuat Alsya bingung juga cemas bahkan Mbak Nisa yang sedang berada di luar kamar sepertinya mendengar tangisan bayinya itu sehingga segera masuk ke dalam.
"Kenapa, Al ?. "
"Tidak tau, mbak... Dia tiba-tiba menangis kencang begini..." Ucap Alsya cemas.
"Coba kamu s*s*i, mungkin dia lapar." Ujar mbak Nisa spontan.
Alsya tidak langsung menurutinya dia malah melihat ke arah Aly yang sedang berdiri sedikit menjauh.
"Dia suamimu, Al." Ucap mbak Nisa seolah bisa membaca pikiran Alsya.
"Tapi, Mbak _"
"Aku akan keluar." Ucap Aly tiba-tiba.
Alsya dan mbak Nisa menoleh ke arah Aly yang mulai keluar dari ruangan. Setelah Aly keluar, Alsya baru mau memberikan ASI pada putranya yang ternyata malah menolaknya.
"Mbak, sepertinya dia tidak lapar,.." ucap Alsya kewalahan menenangkan tangis bayinya.
"Coba sini, mbak yang gendong." Mbak Nisa mengambil alih bayinya, menimang-nimang nya penuh kasih sayang namun bayinya masih belum juga mau menghentikan tangisnya.
Ooekk...!! Ooekk...!!
"Cup cup, sayang,.. kamu kenapa, nak ?." Gumam mbak Nisa masih berusaha menenangkannya namun nyatanya tetap tidak ada perubahan.
Mbak Nisa tiba-tiba melangkah keluar.
"Mbak, mau kemana ?!." Tanya Alsya bingung.
"Sebentar !!." Mbak Nisa keluar dari kamar dan mencari-cari keberadaan Aly yang ternyata sedang duduk di ruang tunggu. Mbak Nisa menghampirinya. "Aly." Pangginya.
Aly menoleh karena dipanggil juga karena mendengar suara tangis bayi yang sedang di gendongan mbak Nisa. "Mbak, kenapa dia tidak mau berhenti menangis ?." Tanya Aly khawatir dengan keadaan bayinya yang masih saja menangis hebat.
__ADS_1
"Tidak tau, tapi, coba kamu gendong, Ly." Ucap mbak Nisa.
Dengan sedikit ragu, akhirnya Aly mengambil bayinya dengan kelembutan, dia menimang-nimang nya penuh kasih sayang.