Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Karena kangen


__ADS_3

"Assalamualaikum, Ummi... !." Seru Fazal dibalik layar laptop milik Anand. Tidak lama, Keyya juga ikut terlihat "Ummi... !!." Teriak Keyya terlihat sangat senang.


Alsya juga tersenyum senang. Kerinduannya pada kedua anaknya semakin hari semakin menjadi-jadi. "Waalaikumsalam, pangeran sama putri Ummi..." Alsya sangat senang bisa melihat wajah kedua anaknya meski hanya melalui video call.


"Ummi kapan pulang...?. Key kangen..." Keyya cemberut masam.


"Iya, Fazal juga kangen sama Ummi sama Abi...!." Fazal tak mau kalah, wajahnya juga mulai cemberut.


Alsya terkekeh melihat tingkah lucu keduanya. "Iya, nak. Ummi sama Abi akan pulang sebentar lagi." Alsya mencoba menenangkan hati keduanya. "Kalian sudah makan belum ?." Tanyanya kemudian mengalihkan pembicaraan.


"Udah. Tadi sama nenek." Sahut Keyya kembali ke tingkah cerianya.


"Makannya sama apa, Hem ?."


"Sama ikan goreng." Fazal yang menjawab.


"Ikan ?!." Pekik Alsya spontan.


Pasalnya, dari dulu Fazal tidak pernah mau jika makan lauknya adalah ikan. Bahkan putranya itu memilih ngambek tidak mau makan jika disediakan ikan.


"Iya."


"Fazal mau makan sama ikan ?, Fazal kan gak suka ikan, nak ?."


"He em. Fazal gak suka, tapi neneknya maksa terus." Fazal kembali cemberut.


"Jadi, Fazal mau makan ikan ?."


"Iya, tapi Ummi, ikannya enak, Fazal suka."


"Oh ya ?!, Fazal jadi suka ikan ?."


"Iya."


"Ummi, Abi mana ?." Keyya kembali bersuara.


Alsya melihat ke sekelilingnya dan tidak menemukan seseorang yang dicari putrinya. "Abinya lagi keluar sayang," jawabnya atas pertanyaan Keyya.


"Ummi, Ummi, tadi Keyya sama mas, nangkap ikan di kolam." Keyya mulai bercerita.


"Nangkap ikan ?."


"Iya, Ummi. Terus dimarahin sama Tante Fy." Fazal menjawabnya.


"Iya. Teyus ada petiy !, Teyus Key sama mas nangis !." Wajah putrinya itu mulai mendramatisir.


Alsya kembali terkekeh melihat kelucuan keduanya. Apalagi cara bicara Keyya yang belum juga fasih.


"Hahaha terus Tante Fy nya marah lagi nggak ?." Tanya Alsya semakin tertarik dengan kisah putrinya.


"Gak. Tante Fy nya gendong Key sama mas keluay kolam."


"Jadi kalian selesai nangkap ikannya ?."


"He em. Soalnya habis itu ujan gede Ummi, jadi Fazal sama Key langsung mandi."

__ADS_1


"Iya, kalian gak boleh main hujan-hujanan ya?, Kalian masih kecil nanti sakit kalau mandi hujan." Nasihat yang hampir selalu diucapkan Alsya jika musim penghujan.


Bukan ingin membatasi perkembangan anaknya, hanya saja Alsya terlalu sayang dengan mereka sebab kedua anaknya itu masih sangat kecil dan takut jika mandi hujan akan mengganggu kesehatannya.


"Iya, ummi." Keduanya menurut patuh. Anak-anaknya memang sangat menurut jika dinasehati oleh Umminya. Yah, hanya Ummi nya, sebab jika pada orang lain mereka cenderung lebih nakal dan susah diatur.


"Ummi, kaya Tante Fy tuh, mandi ujan jadinya sakit." Fazal kembali bersuara.


"Tante Fy nya lagi sakit ?."


"Siapa yang sakit, sayang ?." Anand datang dan ikut bergabung duduk di samping istrinya.


Melihat kedatangan abinya, anak-anak langsung kegirangan.


Anand tersenyum cerah pada dua wajah yang tampil di layar laptopnya itu. "Hallo, anak-anak Abi... ?!." Ujarnya sambil melambaikan tangan menyapa keduanya.


"Abi... !. Abi kapan pulang...? Fazal udah gak betah disini." Fazal mengadu pada abinya.


"Ehh ?!." Pekik Alsya reflek. Sebab dari tadi mereka mengobrol Fazal tidak mengatakan hal itu sebelumnya.


"Kalian udah gak betah tinggal sama nenek sama kakek ?." Tanya Anand pada keduanya.


Mereka serempak mengangguk mengiyakan.


"Key mau pulang ke rumah..."


"Fazal juga, Abi..."


Rengekan keduanya membuat Anand merasa bersalah pada mereka. Dia dan Alsya sudah lama menitipkan kedua anaknya itu di rumah orang tuanya.


Dia akan segera mengajak Alsya pulang ke tanah air. Bagaimanapun, mereka sudah terlalu lama tidak bertemu dengan si kembar lucunya.


"Fazal, mbak Inne nya ada ?." Tanya Anand kemudian.


"Ada. Tuhh ." Fazal menunjuk dengan dagunya terlihat sangat menggemaskan.


Anand tersenyum. Ingin sekali dia memeluk tubuh mungil menggemaskan putranya itu.


Terlihat Inne di layar laptop. Inne berdiri di belakang Keduanya. "Iya, tuan ?." Ujar Inne menghadap.


"Inne, kalian segera bereskan barang anak-anak. Besok akan ada yang menjemput kalian kembali ke Jakarta."


"Tapi, tuan. Bagaimana dengan nyonya besar dan tuan besar ?."


"Saya yang akan berbicara pada mereka. Kalian hanya perlu menjalankan apa yang saya ucapkan tadi ."


"Baik, tuan."


"Iya."


Inne kembali menghilang dari layar laptop. Anand kembali menatap wajah kedua anaknya.


"Fazal sama Keyya istirahat ya ?, Jangan tidur kemalaman."


"Iya, Abi."

__ADS_1


"Abi matiin dulu ya teleponnya ?,."


"Iya."


"Selamat malam anak-anak Abi... Assalamualaikum..." Anand kembali melambaikan tangannya berpamitan dengan putra-putrinya dibalik layar video call.


"Waalaikumsalam...!." Mereka menjawab dengan antusias lalu sambungan telepon terputus.


Anand menyimpan lagi laptopnya di atas meja. Dia menatap wajah istrinya yang tiba-tiba aneh, padahal tadi baru saja bercengkerama dengan anak-anak. Tidak seperti biasanya !.


"Ada apa, sayang ?." Anand mendekat ke tubuh istrinya lalu merebahkan kepalanya di pangkuan sang istri.


Alsya dengan sangat lembut membelai rambut hitam pekat milik suaminya. "Tadi kata anak-anak Fyzha lagi sakit."


"Fyzha ada di Cirebon ?."


"Iya, mas. Kata Fazal Fyzha sakit karena hujan-hujanan." Alsya mengakhiri ucapannya dengan kekehan kecil.


Anand heran dengan sikap istrinya yang seperti itu. Tapi dia langsung menyadari sesuatu. "Kamu pasti mengatakannya lagi pada anak-anak ?." Tanyanya menatap lekat wajah istrinya.


"Aku hanya khawatir A'. Apa salahnya jika aku melarangnya ?."


"Iya, jangan terlalu membatasi juga sayang. Kasihan mereka juga pasti ingin merasakan mandi hujan."


"Aa', mereka masih sangat kecil. Aku takut pertahanan tubuhnya masih belum kuat." Elak Alsya begitu keukeh.


Anand hanya bisa mendengus pasrah. "Keras kepala, memang." Ucapnya sengit disertai tangan nya yang menarik hidung kecil Alsya.


"Aaaa...! Aa' sakit !." Alsya mengadu dan langsung membalasnya.


Cubitan jari kecil Alsya landas sempurna di perut suaminya dan itu langsung membuat Anand meringis kesakitan.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


Pagi yang seperti biasanya. Dingin dan menusuk hingga ke tulang. Selesai sholat subuh berjamaah, Alsya memilih untuk tidur lagi karena matanya yang entah mengapa tidak bisa di kompromi.


Lain lagi dengan Anand yang kini sangat sibuk membereskan segala persiapan untuk pulan ke rumah. Anand membiarkan Alsya istirahat agar istrinya itu tidak terlalu kelelahan jika melakukan perjalanan panjang nanti menuju ke tanah air. Apalagi dia juga melihat istrinya itu seperti sedang tidak enak badan namun Alsya memilih tetap diam saja.


Semuanya sudah beres dan hanya menunggu waktu keberangkatan saja. Anand kembali memastikan barang bawaan yang akan mereka bawa ke tanah air. Ada tiga koper besar yang berisi barang-barang Alsya juga dirinya dan juga oleh-oleh khas dari Turki untuk anak-anak juga sanak keluarga di rumah.


Pukul delapan pagi, Alsya dibangunkan karena mereka harus segera bersiap-siap menuju bandara sebelum jam sembilan.


Alsya yang memang merasakan tubuhnya sedikit tidak nyaman, hanya mengangguk mengiyakan dan segera berbenah meski sangat lamban.


Selesai rapi semua, mereka melakukan check out di meja resepsionis untuk membayar biaya penginapan mereka selama disini. Pihak resepsionisnya sangat ramah pada mereka. Menambah kesan akan kualitas yang ada di hotel tersebut.


Beberapa anak buah Anand mulai sigap dalam bertindak. Mereka segera membawakan koper-koper itu dan dimasukkan ke dalam mobil.


Setelah semuanya beres, mobil langsung meluncur membelah jalanan beraspal kota Istanbul yang penuh dengan momen indah bagi Alsya dan Anand.


Disini, di tempat wisatanya. Mereka telah menghabiskan waktu bersama dengan keseharian yang romantis dan perasaan membuncah indah.


Kota cinta bagi Anand dan Alsya.


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2