Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Hari bahagia


__ADS_3

Kini tiba saatnya acara yang ditunggu-tunggu akan diselenggarakan. Meski acara puncaknya adalah besok pagi, tapi malam ini Alsya sudah sangat disibukkan oleh segala sesuatu yang membuatnya semakin tegang dan cemas juga sedikit takut. Dari yang keluarganya yang memberikan nasihat-nasihat yang terbaik disambung lagi dengan keluarga dari calon mempelai prianya yang juga sangat antusias untuk memberikan wejangan.


Karena acara yang dilaksanakan di rumah baru, baik keluarga dari Alsya maupun Anand sudah ada di dalam rumah tersebut agar memudahkan acara untuk besok. Di rumah itu memang memiliki lebih dari sepuluh kamar dan juga memiliki ruangan yang cukup besar-besar. Keluarga yang menginap di rumah itu adalah yang inti saja dan yang lainnya akan datang besok pagi sebelum acara dimulai.


Malam hari jam sepuluh Alsya sudah diminta untuk istirahat oleh keluarga nya agar besok pagi kondisinya lebih fit dan tidak terlalu kelelahan. Alsya tidur bersama dengan Fazal dan Umma di kamar utama sedangkan keluarga lainnya menempati kamar lainnya.


Perasaan Alsya semaksimal tak menentu saat matanya menatap jam dinding yang terlihat terus menuju waktu-waktu selanjutnya. Alsya beralih menatap wajah sang putra yang sedang tidur pulas dalam posisi memepet di tubuhnya. Saat ini Fazal berusia setahun setengah dan pertumbuhannya tidaklah luput dari Anand membuat calon suaminya itu semakin menyayangi Fazal seperti darah dagingnya sendiri.


Karena mata yang semakin lelah untuk tetap terjaga, Alsya mulai memejamkan matanya dan perlahan dengkuran halus mulai keluar dari bibirnya.


Jarum jam terus bergerak tanpa henti, dari detik menuju menit menghimpun menjadi jam. Waktu terus berjalan dengan pasti hingga sayup-sayup terdengar suara adzan subuh yang dikumandangkan di masjid-masjid dan musholla.


Alsya melirik ke sebelahnya dan sudah tidak terlihat umma disana yang berarti Umma nya sudah bangun sebelum dirinya bangun. Alsya segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan kewajiban ibadah subuh nya.


Selesai sholat, Umma datang bersama dengan beberapa orang yang terlihat rempong dengan bawaannya. Yah, mereka adalah MUA yang akan mendandani Alsya dan menyulapnya menjadi bidadari di acaranya nanti. Ada sekitar lima orang yang masuk dan mereka membawa barang-barang bawaannya masing-masing.


"Assalamualaikum, mbak Alsya...!." Seru salah satu dari mereka yang sudah sangat Alsya kenal yang merupakan pimpinan dari anggota MUA tersebut.


Alsya tersenyum kaku lalu menyambut kedatangan mereka. "Waalaikumsalam, Sherly..." Mereka berpelukan sebentar lalu wanita bernama Sherly itu menyuruh Alsya untuk duduk di bangku yang telah disiapkan oleh asistennya.


"Al, Umma bawa keluar Fazal ya ?."


"Iya, Umma. Maaf merepotkan Umma." Jawab Alsya tidak enak hati karena tidak sempet mengurus putranya dulu.


"Iya, tidak apa-apa. Umma keluar ya ?."


"Iya, Umma."


Sherly dan asisten-asistennya mulai sibuk mengeluarkan barang-barang yang mereka bawa. Dan datang dua orang lagi yang membawakan gaun yang akan dikenakan oleh Alsya dan setelah memastikan gaun itu sudah tertaruh rapi dua orang itu kembali keluar.


Alsya semakin dibuat gugup saat melihat gaun merah berwarna putih tulang itu. Rasanya dia seperti sedang mimpi akan melaksanakan kembali momen sakral yang merubah statusnya.


"Udah, jangan dilihatin terus gaunnya, nanti nambah gugup. Hehe." Sherly mencolek dagu Alsya jahil.

__ADS_1


Alsya hanya bisa mendengus dan kembali pada posisinya sesuai instruksi dari Sherly karena proses pe-make up-an akan segera dimulai.


"Mbak Alsya ini sepertinya sangat gugup ?. Kamu !. Iya, ambilkan minuman untuk mbak Alsya!." Sherly menyuruh salah satu anak buahnya yang langsung sigap menuruti perintahnya.


Setelah minuman itu datang, Alsya segera meminumnya dan di pandu oleh Sherly untuk mengolah nafas agar menghilangkan kegugupannya. Setelah merasa lebih tenang, Alsya mengangguk menandakan bahwa dirinya sudah siap untuk di make up.


Kuas-kuas make up bergantian menyentuh kulit putih wajah Alsya dan itu berlangsung sudah satu jam, membuat Alsya merasakan sedikit lelah karena terlalu lama duduk. Sherly menjeda kinerjanya agar Alsya bisa lebih rileks lagi dan setelah Alsya sudah kembali siap dia mulai melanjutkan lagi kegiatannya.


Satu jam setengah selesai, dan kini Alsya sedang menatap pantulan dirinya sendiri dibalik cermin. Dia melihat, disana ada seorang wanita yang dulu pernah jatuh sedalam-dalamnya dan terpuruk hancur, kini sedang berdiri tegak dengan penampilan yang sangat memukau bagaikan sosok bidadari yang turun dari kayangan.


"Masya Allah... Kakak ipar, kau cantik sekali... ?!." Seru seseorang yang entah kapan datangnya dan sudah ada disampingnya saja.


Alsya menoleh dan tersenyum kaku karena sangat malu. "Terimakasih, Fyzha. " Ucapnya tulus.


"Pantas saja bocah itu sampai tergila-gila padamu. Orang kamunya sudah kaya bidadari seperti ini ." Fyzha masih terus mengagumi kecantikan calon kakak iparnya.


Baginya, Anand sangat beruntung mendapatkan jodoh yang seperti Alsya itu. Namun dia sedikit murung setelah mengingat masib dirinya sendiri yang sampai saat ini belum juga mendapatkan jodoh. Miris sekali !.


"Mbak Nisa bisa aja." Ucap Alsya malu-malu karena sanjungan dari kakak satu-satunya itu.


Mbak Nisa mengusap-usap punggung Alsya sangat lembut. "Berbahagialah, Al..." Ujar mbak Nisa tanpa bisa menahan air matanya agar tidak menetes.


Sebagai kakak satu-satunya dan yang paling memahami keadaan hati adiknya selama ini, mbak Nisa sangat senang jika adiknya itu sebentar lagi akan memulai hidup bahagianya bersama pria yang benar-benar mencintai dan menyayanginya.


"Ehh, kok mbak Nisa nangis ?!." Ujar Fyzha panik sendiri.


Mbak Nisa menggeleng lalu tersenyum. "Tidak, aku hanya terlalu bahagia melihat Alsya bahagia." Ucap mbak Nisa menatap lekat wajah adiknya penuh dengan kasih sayang.


"Uhhh, sweet banget sih mbak Nisa. Jadi pengen deh punya kakak perempuan." Heboh Fyzha semakin bertingkah.


Alsya dan mbak Nisa hanya tersenyum menanggapi tingkah absurd Fyzha. Meski dari ketiganya Fyzha yang memiliki umur yang paling tua, tapi sikap Fyzha sama sekali tidak mencerminkan umurnya. Bahkan Fyzha lebih seperti gadis yang baru berumur dua puluh lebihan.


"Alsya."

__ADS_1


Ketiganya menoleh bersamaan dan melihat umma yang sedang berjalan menghampiri. "Kamu sudah selesai, nak ?." Tanya umma membelai lembut pipi putrinya.


"Iya, Umma."


"Acaranya akan segera dimulai. Fyzha kamu tidak ingin melihat acara ijab qobulnya ?." Umma beralih menatap Fyzha.


"Iya, aku ingin melihatnya, Umma. Ya sudah, aku keluar dulu yaa. Kakak ipar nanti kita bertemu lagi, oke ?." Fyzha memeluk sebentar tubuh Alsya lalu keluar dari kamar.


"Iya, Fy." Alsya tersenyum lembut menatap kepergian calon adik iparnya


"Ayo, sebaiknya kita duduk dulu ?!." Ajak umma pada putri-putrinya.


Keduanya menurut dan duduk di tepi tempat tidur yang sudah disiapkan sedemikan rupa untuk pengantin baru.


"Umma..." Alsya menggenggam erat buku jemari Umma.


Umma mengelus tangan Alsya seolah menyalurkan energi positifnya untuk menenangkan perasaan Alsya yang saat ini sedang bergemuruh hebat.


"Bismillah, semoga Allah memang memang sudah menyiapkan jodoh yang tepat untuk mu. Tenangkan hati dan pikiran mu agar tidak semakin gugup." Umma terus mengusap-usap lembut tangan Alsya.


Mbak Nisa pun sama sibuknya yang terus-menerus mengusap lembut punggung Alsya untuk menenangkan adiknya yang sedang dilanda perasaan tak menentu yang sangat hebat itu.


Sangat jelas, Alsya mendengar pembawa acara mulai menyuarakan jika acara inti akan segera dimulai. Dada Alsya semakin bergemuruh hebat dan keringat dingin mulai melingkupi seluruh pori-pori kulitnya.


"Bismillah..." Umma berbisik di telinga Alsya.


Alsya menatap wajah Ummanya yang sedang menatapnya dengan tatapan lekat.


Alsya memejamkan matanya saat terdengar suara Abah melafazkan kalam ijabnya kemudian disusul dengan suara Anand yang begitu lantang menjawab Kalam qobulnya.


Tess


Air mata menetes dari sudut-sudut mata Alsya.

__ADS_1


__ADS_2