
"Siapa mantan istrimu ?."
Pertanyaan Nareena langsung tepat sasaran. Semua orang langsung membeku di tempatnya dengan tatapan mata terfokus pada Nareena seorang.
Aly melirik wajah Nareena dan Alsya secara bergantian. Bukankah dia sudah akan mencoba jujur pada Nareena ?, Yah, semuanya !.
"Alsya, dia mantan istrinya Aly." Anand yang menjawab.
Nareena semakin syok mendengarnya. Seorang wanita yang dinikahi oleh sepupunya ternyata adalah mantan istri dari calon suaminya. Hal yang sangat mengejutkan, bukan ?.
Nareena sudah tidak sanggup untuk mendengar penjelasan laginya, dia sudah tidak kuat menahan desakan rasa sesak yang menghantam dada nya.
Nareena segera bangkit lalu berlari keluar dari kafe tersebut. Seiring kakinya yang melangkah, sebanyak itu juga air matanya mengalir deras membasahi pipi.
Nareena berlari dan berlari hingga ke tepi pantai. Disana, dia menjerit sekeras-kerasnya mengeluarkan rasa sesak yang menghantam nya. Kenyataan yang terlalu sulit untuk di terima oleh Nareena.
"Aaaaa.....!!." Nareena semakin berjalan ke tengah laut.
Air ombak semakin menenggelamkan kakinya hingga batas paha. Dia tidak perduli dengan dinginnya angin malam yang menusuk. Dia tidak perduli jika setelah ini mungkin tubuhnya akan jatuh sakit karena yang diinginkannya sekarang adalah ketenangan hati dan pikiran.
Nareena menenggelamkan tubuhnya di dalam deburan ombak yang terus bergulung-gulung besar. Seketika dia merasakan kenyamanan saat air laut yang begitu dingin menyentuh pori-pori kulit kepalanya.
"Nareen !!." Seseorang menarik paksa tubuh Nareena untuk kembali ke permukaan.
Nareena memberontak ingin dilepaskan tapi tangan pria itu terlalu kuat menyeretnya kembali ke tepian. Setelah keluar dari air, Nareena segera menyentak tangan itu sehingga langsung melepaskan genggamannya di pergelangan tangan Nareena.
"Apa yang kamu lakukan ?." Aly menatap tak percaya pada calon istrinya itu yang kini sedang basah kuyup oleh air laut.
Entah masih pantas atau tidak jika dia menyebut Nareena sebagai calon istrinya setelah melihat reaksi Nareena yang terlihat sangat kecewa padanya.
__ADS_1
Nareena melengoskan wajahnya dari hadapan Aly. Suara Aly yang begitu lembut menandakan kekhawatirannya itu sedikit membuat hati Nareena terusik. Nareena melangkah kakinya tak memperdulikan raut kecemasan yang dirasakan Aly.
"Nareen, hey !, Nareena !." Aly kembali menarik tangan Nareena dan itu membuat tubuh Nareena limbung hingga berakhir menabrak tumbuhnya.
Setelah memastikan Nareena sudah dalam keadaan baik-baik saja, Aly segera melepaskan tangannya dari tubuh Nareena. "Maaf." Ucapnya tulus untuk tangannya yang telah lancang meski itu dilakukan karena hal yang mendesak.
"Nareen." Panggil Aly dengan suaranya yang selalu mampu menggetarkan hati seorang Nareena. "Kamu boleh marah sepuasnya padaku, tapi aku mohon jangan sampai berbuat nekad seperti itu, dengan mengakhiri hidupmu." Ucap Aly memohon dengan sangat.
Nareena menatap lekat wajah Aly. "Siapa yang berniat bunuh diri?." Tanyanya masih menatap wajah Aly.
Aly tercengang. "Lalu, tadi ?,." Tanyanya seperti orang linglung.
Nareena ingin menyunggingkan senyumnya melihat reaksi wajah Aly yang seperti itu, tapi dia menahannya agar tak terlihat dan menutupnya dengan raut wajah datar. "Aku hanya ingin mendinginkan kepalaku." Jawabnya sambil berlalu pergi.
Aly terdiam di tempat. Dia tak kuasa menahan senyumannya kali ini. Aly menggeleng memikirkan sikapnya sendiri tadi yang pasti sangat memalukan. "Nareen...! Awas kamu ya...?!." Teriak Aly setelah menyadari bahwa Nareena sudah melangkah menjauh.
Melihat pergerakan kaki Nareena, Aly juga ikut berlari dan alhasil mereka malah berlarian saling mengejar di tengah-tengah pasir basah yang sesekali diguyur oleh deburan ombak.
"Huhh... huhh... Al, aku capek ." Nafas Nareena sudah tersengal-sengal karena berlari.
Nareena menjatuhkan diri di atas hamparan pasir pantai.
Aly ikut bergabung dan duduk di sebelahnya dengan sedikit memberi jarak.
Keduanya menatap hamparan laut lepas yang dihiasi malam terang bulan purnama. Tanpa disadari Nareena, saat ini Aly sedang menatap wajah Nareena dari samping. Meski hanya diterangi biasan temaram bulan purnama, wajah cantik Nareena masih terlihat jelas. Ditambah dengan rambut panjangnya yang berkibaran karena tertiup angin.
"Al."
"Hem." Aly tersentak kaget dan langsung mengalihkan pandangannya lagi ke arah langit.
__ADS_1
Dan benar saja, setelah Aly sudah menatap langit lagi, Nareena menoleh ke arah Aly namun tidak lama karena kembali menatap hamparan laut lepas dan langit cerah.
"Kenapa kamu dengan kak Alsya bisa sampai berpisah ?." Rupanya Nareena masih belum puas mengorek informasi tentang masa lalu Aly.
"Kala itu, aku masih menjadi pria bodoh yang tidak berprinsip. Aku telah membohongi Alsya hingga bertahun-tahun lamanya." Aly juga masih dengan siap siaga untuk menceritakan semuanya agar tidak terjadi kesalahpahaman untuk kedepannya.
"Kebohongan apa ?."
"Kebohongan besar. Aku menikahi wanita lain tanpa sepengetahuan Alsya."
"Kamu berselingkuh ?."
"Tidak, aku tidak pernah ada niatan untuk menyelingkuhi Alsya, aku menikahi wanita lain karena sebuah amanah dari guru ngajiku. Saat beliau akan meninggal, beliau menitipkan putrinya padaku agar aku menjaganya, dan disitulah aku menjadi orang yang bodoh karena tidak berpikir panjang lagi, aku menerima amanah itu dan langsung dinikahkan dengan putrinya disaat itu juga.
Lalu setelah mengakadkan kami, beliau langsung menghempaskan nafas terakhir nya." Ungkap Aly panjang lebar meskipun itu hanya inti dari ceritanya saja.
Nareena terdiam menyimak semua perkataan Aly. Dia menatap wajah Aly yang hanya bisa terlihat dari sampingnya saja karena alu sedang menatap ke arah langit.
"Apa kamu mencintai istri kedua mu itu ?."
Aly menolehkan wajahnya menghadap Nareena yang saat ini masih menatapnya. Seketika tatapan mata mereka bertemu dengan tatapan yang sangat kompleks.
"Seiring berjalannya waktu, aku memang telah mencintainya. Apalagi setelah hadirnya anak diantara kami." Aly kembali menatap langit. "Aku masih ingat, setelah kelahiran istri keduaku, satu bulan kemudian Alsya juga melahirkan anak kembar kami." Aly memejamkan matanya seolah sedang membayangkan momen yang begitu berharga dalam hidupnya itu tapi saat itu dia hanya terdiam mengikuti alur tanpa memiliki pendirian sama sekali.
"Tapi Allah memberikan hukumannya padaku, saat itu juga. Dia mengambil putri kami saat proses melahirkannya." Sekian lama Aly tidak pernah menitikkan air matanya lagi, dan kini dia kembali menangis dalam penyesalannya.
Nareena seakan ikut dalam alur cerita yang dikatakan oleh Aly. Tanpa sadar dia juga sudah meneteskan air matanya. Pasti sangat sakit jika berada dalam posisi itu.
"Dan hal yang paling aku takutkan terjadi, Alsya mengetahui semua kebohonganku, dan itu juga yang menjadikannya melahirkan di usia kandungan yang masih dini, dia sangat marah padaku bahkan saat aku mencoba menemuinya, Alsya akan langsung berteriak histeris seperti seorang yang sedang ketakutan. Lalu hal paling buruk kembali terjadi pada istri keduaku, dia meregang nyawa setelah kami melaksanakan sholat berjamaah berdua."
__ADS_1