Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Pria Aneh


__ADS_3

"Alsya, kamu mau kemana ?."


Pertanyaan itu membuat Alsya langsung menoleh ke belakang dan ternyata ummanya sudah ada di belakangnya.


"Umma, Alsya mau jalan-jalan keliling komplek ya. Soalnya biasanya Alsya sama mas Aly melakukannya setiap pagi. Katanya, sering jalan kaki pada masa kehamilan sangat bagus untuk kesehatan."


"Iya, bener. Itu memang sangat disarankan untukmu. Tapi, sekarang umma akan pergi ke rumah teman umma jadi kayaknya umma tidak bisa menemanimu." Umma terlihat sedih.


"Iya, nggak papa umma. Alsya sendirian juga nggak papa." Ucap Alsya dengan senyum manisnya. "Ya udah, Alsya berangkat dulu ya umma, assalamualaikum."


"Iya umma juga akan berangkat sekarang, kita keluar bareng."


"Iya, umma."


Mereka keluar rumah bersamaan dan berpisah di gerbang sebab memiliki tujuan yang berbeda arah, umma ke jalan arah kanan sedangkan Alsya ke jalan arah kiri.


Kaki Alsya terus mengayun dengan pasti, membelah jalanan setapak yang beraspal. Suasana sejuk di pagi hari masih terasa. Alsya memperhatikan beberapa orang yang juga sedang melakukan lari pagi sebab ini juga merupakan hari weekend.


Sejenak Alsya mengistirahatkan kakinya yang sudah terasa lelah dan memilih duduk di trotoar pinggir jalan lalu memijatnya perlahan. Setelah merasa sudah enakan, Alsya bangkit lalu kembali melanjutkan jalan-jalan paginya.


Dari pengkolan pertama ke pengkolan lainnya kaki Alsya masih sanggup berjalan meskipun sering diselingi istirahat.


Alsya kembali duduk di trotoar pinggir jalan. Kali ini dia terlihat sangat lelah juga kehausan. Tapi, tadi dia lupa bawa minum ataupun uang untuk membeli minum. Alhasil dia hanya duduk santai sambil menunggu peluh di dahinya hilang agar bisa melanjutkan langkahnya lagi untuk pulang ke rumah.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikum salam." Alsya langsung memalingkan wajahnya saat kedatangan seseorang pria.


"Boleh saya bergabung duduk ?." Ucap pria itu lagi yang merupakan sebuah pertanyaan.


"Maaf, sebaiknya anda duduk di tempat lain saya." Ucap Alsya tanpa menoleh sedikitpun.


Pria itu terdiam. Dan memperhatikan alsya dari ujung kepala sampai ujung kaki. "Oh, iya saya paham. Maaf membuatmu tidak nyaman." Ucapnya kemudian.


Alsya hanya mengangguk mengiyakan.


"Ini, minumlah, kau pasti haus, kan ?." Pria itu menyodorkan sebuah air mineral dalam kemasan botol ke arah Alsya.


"Terima kasih atas kebaikannya, tapi saya tidak bisa menerimanya, maaf." Ucap Alsya sesopan mungkin.


"Kenapa ?, Apa kau takut saya akan berbuat jahat ?."


Alsya mendongakkan kepalanya dan melihat ke arah wajah pria tersebut. "Maaf, saya tidak bermaksud menuduhmu demikian, tapi saya menolaknya karena kita tidak saling mengenal." Ucap Alsya masih menatap wajah pria tersebut.


"Oh, kalau begitu mari kita berkenalan ?!." Ucap pria itu dan mengulurkan tangannya mengajak bersalaman.


"Maaf, tuan. Anda sepertinya salah orang untuk diajak berbicara. Jadi, sebaiknya anda pergilah dan cari tempat lain untuk istirahatnya. " Ucap Alsya lalu kembali memalingkan wajahnya dari wajah pria tersebut.


Alsya yakin jika pria itu pasti langsung pergi sebab pengusirannya. Namun ternyata tidak sesuai dengan yang diharapkan. Pria itu malah duduk disampingnya, tepat di hadapan wajah Alsya.

__ADS_1


"Astaghfirullah... Tuan, kau ?!." Alsya benar-benar kaget dengan sikap pria yang tak dikenal itu. Alsya segera bangkit dan berjalan meninggalkan pria itu tapi lagi-lagi pria itu mengusik ketenangan.


Alsya berbalik dan menatap tajam wajah pria itu. "Kenapa kau mengikutiku ?." Tanyanya ketus.


"Ayolah, nona, jangan galak-galak jadi perempuan Napa ?." Ucap pria itu cengengesan.


Alsya menghembuskan nafasnya perlahan. Pria aneh. Pikirnya.


Alsya kembali melanjutkan langkahnya dengan tergesa untuk menghindari pria itu. Kakinya terus melangkah dengan cepat dari pengkolan pertama menuju pengkolan lainnya. Alsya melirik ke belakang, ternyata pria itu sudah selesai mengikutinya.


Alsya menghembuskan nafas lega lalu kembali berjalan dengan normal lagi. Jalanan sudah mulai sepi, mungkin para penikmat lari pagi ini sudah mulai pulang ke rumah masing-masing sebab matahari yang mulai memancar terik.


"Hey nona ?."


"Astaghfirullah !." Alsya terperanjat kaget saat mendapati tubuh pria tadi sudah berada di sampingnya saja.


"Eeehh !."


 


Posisi yang tidak mengenakkan. Mereka terpaku dalam keterkejutan yang mendalam bersamaan dengan tatapan mata yang saling mengunci. Hembusan nafas keduanya akan bertabrakan di udara karena keadaan yang cukup dekat.


Alsya mulai sadar, langsung melepaskan tangan pria itu dari tubuhnya dan menjaga jarak diantara keduanya.


Keheningan masih melanda keduanya karena masih merasa syok atas kejadian barusan. Apalagi bagi Alsya, dia benar-benar merutuki keadaan abnormal tadi, dia sungguh tak menduga akan dipeluk erat oleh tangan pria yang tidak dikenalnya sama sekali.


"Maaf."


Alsya melangkah menuju ke rumah dengan pikiran yang berkecamuk. Tadi, dia mengucapkan terima kasih karena dia berfikir bahwa tanpa sadar pria itu telah menolongnya sebab jika pria itu tidak langsung merengkuh tubuhnya yang hampir terjerembab ke tanah, mungkin sesuatu buruk bisa saja menimpa kehamilannya.


Alsya sampai di rumah yang masih terasa sepi karena kedua orang tuanya pasti belum pulang ke rumah. Dia berjalan menaiki anak tangga menuju kamarnya yang memang berada di lantai dua.


 


__________


 


Berbeda dengan Alsya yang sedang kesal sendiri akibat ulah pria tadi, di area pesantren, Aly malah sedang tertawa lepas karena baru saja mengerjai istrinya.


Kelakuan Aly dengan Halimah memang lebih mirip seperti pasangan remaja yang sedang merajut kasih.


Contohnya seperti saat ini, setelah kepulangan Aly dari masjid setelah mengimami shalat subuh, Aly sengaja mengganggu istrinya yang sedang memasak sarapan. Dia mengecoh segalanya membuat sang istri marah dan sangat kesal. Pasalnya, telah membuat kekacauan dengan sengaja.


Menu makanan yang akan dimasak Halimah adalah ayam krispi yang tentunya menggunakan tepung, dan disitulah tingkat kejahilan Aly keluar. Dia sengaja menumpahkan tepung yang ada di wadah ke meja lalu membuat cap lima jari disana, dan selanjutnya mencolek-colek wajah Halimah dengan tangannya yang telah dipenuhi oleh tepung tersebut.


Untung disana mereka hanya berdua dan tidak ada satupun santri khodam yang melihat.


"Mas ihh !. Lihat. Kerudungku jadi kotor semua !."

__ADS_1


"O ya ?!. Coba sini dibersihin." Aly mencoba membersihkan kain kerudung Halimah dengan tangannya.


Dibersihkan bukan malah bersih tetapi malah tambah parah karena ternyata tangan Aly sudah terkena tepung semua.


Halimah melihat ke arah kerudungnya lalu beralih menatap tajam suaminya.


"Mass...!!"


"Aaa... Imah sakit... Lepaskan tanganmu...!" Aly mengerang kesakitan karena Halimah mencubit perut Aly dengan sangat keras.


"Biarin !. Biar sekalian lecet kulitnya ." Ucap Halimah geram dan semakin mengencangkan cubitannya.


"Sayang, iya, iya, mas minta maaf... Ini sakit sekali..." Ucap Aly memelas dan mencoba melepaskan tangan istrinya tapi ternyata sangat susah.


Akhirnya Halimah melepaskan tangannya karena tidak tega melihat wajah kesakitan sang suami. "Udah ahh, sana. Lebih baik mas Aly masuk ke kamar terus mandi, terus ke sini lagi untuk sarapan." Ucap Halimah sambil mendorong tubuh Aly agar segera pergi.


"Iya, istriku yang cerewet..." Aly mencubit gemas pipi Halimah lalu berjalan ke arah kamarnya dengan Halimah.


Sampai di kamar, Aly segera mandi sesuai yang diperintahkan oleh istri cerewetnya itu. Setelah selesai, dia langsung memakai pakaian yang sudah disiapkan oleh istrinya yang ditaruh di atas tempat tidur.


Aly kembali keluar dari kamar dan masuk lagi ke area meja makan.


Halimah dengan sigap melayani sang suami untuk mengambilkan makanan.


"Ummi mana, sayang ?."


"Ada di kamarnya, mas. Ummi sedang puasa jadi tidak ikut sarapan."


Aly manggut-manggut mengiyakan sebab hal demikian memang sering terjadi. Ibu mertuanya itu sering sekali mengerjakan puasa Sunnah. Seperti halnya sekarang, ummi pasti sedang melakukan puasa hari kelahirannya sendiri, sebab Aly tahu dari Halimah bahwa ummi pasti akan melakukan puasa di setiap hari lahirnya.


"Ya udah, sini kamu makan."


"Iya, mas."


Halimah mulai menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.


"Nggak usah ngambil piring lagi, sini makannya bareng satu piring saja." Ucap Aly lagi dan Halimah langsung menurutinya sebab hampir setiap kali makan, mereka memang akan makan dalam satu piring berdua. Kebiasaan yang juga sering dilakukan oleh Rasulullah bersama istri-istrinya.


Dan ketahuilah, bahwa makan dalam keadaan seperti itu akan semakin mengeratkan keharmonisan antar pasangan. Dimana disitu kita akan saling berbagi kenikmatan yang sama, kelimpahan pahala yang sama, mengikuti kebiasaan sang Rasul bersama, yah, itu semua akan dirasakan meski hanya sebatas makan satu piring berdua. Dan tentunya itu hanya disarankan untuk sepasang kekasih halal saja.


Bukan hanya bersama Halimah Aly melakukan demikian, sebab bersama Alsya pun, Aly selalu melakukan hal yang sama seperti yang dilakukannya bersama Halimah.


Dan satu lagi perkara baik namun jarang sekali orang mengetahuinya, yaitu bercengkrama saat sedang makan. Banyak orang yang beranggapan bahwa mengobrol saat sedang makan itu tidak diperbolehkan, tapi justru malah sebaliknya.


Mengobrol saat makan justru akan semakin menguatkan tali kehangatan antar seseorang, baik itu pasangan maupun teman makan. Namun, tentu ada tata caranya yaitu berbicara pada saat di mulut sedang kosong dan jangan sampai berbicara saat mulut sedang dipenuhi makanan atau lagi mengunyah, karena itulah yang dimakruhkan sebab banyak dampak negatifnya.


Makanan yang di piring telah tandas tak tersisa, yang juga merupakan anjuran saat makan agar tidak mubazir sebab membuangnya.


Keduanya bangkit dan segera membereskan kembali meja makan. Setelah selesai mereka segera menuju ke kamar untuk bersiap pergi mengajar di madrasah.

__ADS_1


 


____________


__ADS_2