Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Siapa ?


__ADS_3

Affin yang sedang sibuk di rumah sakit harus dikejutkan oleh asisten rumah tangganya yang menelfon dan memberitahukan bahwa istrinya pingsan di kamar mandi.


Tak ingin membuang waktu, Affin segera pulang ke rumah dan dilihatnya istrinya sedang berbaring di atas tempat tidur. Ada rasa lega saat melihat istrinya itu sudah sadar dari pingsannya.


"Assalamualaikum..."


Fyzha langsung menoleh dengan senyuman manisnya di wajahnya yang sangat pucat. "Waalaikumsalam."


Affin duduk di sampingnya dan memeluk erat tubuh istrinya itu yang terasa dingin. "Apa yang terjadi, sayang ?." Tanyanya sangat khawatir.


"Tidak apa-apa, Fin."


Affin melepaskan pelukannya dan membingkai wajah istrinya. "Kenapa bisa sampai pingsan di kamar mandi ?." Tanyanya lagi.


Fyzha tersenyum. "Tadi tiba-tiba kepalaku pusing setelah muntah,."


"Kamu habis makan apa sampai muntah ?."


"Aku..." Fyzha terdiam sambil berpikir keras. "Aku hanya makan siang seperti biasa. Tidak ada yang aneh-aneh kok."


Affin menghela nafasnya lega. Setidaknya dia cukup lega karena istrinya tidak keracunan makanan. "Syukurlah, tapi kita ke rumah sakit ya ?, Aku tidak mau kamu kenapa-napa."


Fyzha langsung menggeleng menolak. "Ngapain ke rumah sakit ?, Kamu seorang dokter kan ?, Aku diperiksa sama kamu aja."


"Maka dari itu, peralatan medis aku ada di rumah sakit semua. Tadi aku kesini buru-buru jadi tidak kepikiran untuk membawanya pulang."


"Baiklah, aku adalah istri yang taat pada suami, jadi aku harus menurut." Ucap Fyzha santai.


Affin tersenyum. Meski dalam kondisi seperti ini, istrinya memang selalu bisa membuat lelucon. Meski sudah tidak seperti dulu yang jika mereka berdua yang ada nanti ujung-ujungnya malah berdebat dan berakhir pertarungan. Hubungan keduanya sudah harmonis seperti yang terjadi pada pasangan Anand dan Nareena.


"Istri sholehah memang harus nurut pada suami." Affin berdiri dan mengambilkan kerudung untuk dipakai istrinya. "Mau dipakaikan atau pakai sendiri ?." Tanyanya.


"Memangnya suamiku ini bisa memakaikan kerudung ?." Tanya Fyzha meremehkan.


"Kamu meremehkan kemampuan suamimu, sayang." Affin mendekat dan langsung memakaikan kerudungnya.


Tidak susah karena kerudung itu berbentuk simpel jadi bisa langsung rapi terpakai di kepala Fyzha. "Aku adalah suami multitalent, sangat cocok disebut sebagai suami idaman." Ucapnya membanggakan diri sendiri.


Fyzha terkekeh melihat tingkah suaminya yang kadang ngeselin tapi itulah suaminya. "Aku kira seorang dokter hanya tau kain perban saja."


Affin menatap wajah cantik istrinya yang sudah dibalut oleh kain kerudung. Sangat cantik dan patut dipuji. "Cantik." Ucapnya tak menghiraukan ucapan Fyzha barusan.


Fyzha langsung mendongak, wajahnya sudah memerah karena dipuji oleh Affin. "Fin..."


"Hem ?, Aku berbicara fakta, kalau kamu memang cantik, sangat cantik malah." Affin semakin menggoda.

__ADS_1


Fyzha sudah tidak sanggup mendengar gombalan maut suaminya itu. Fyzha segera turun ke lantai dan berjalan mendahului Affin untuk keluar dari kamar.


Affin terkekeh melihat tingkah laku Fyzha yang sedang salah tingkah itu. Dia mulai menyusul dan berjalan sambil menggandeng tangan istrinya.


"Apa aku boleh meminta sesuatu padamu ?." Tanya Affin setelah mereka sudah berada di dalam mobil, tapi masih belum dijalankan oleh Affin.


Fyzha menoleh dan kini keduanya saling menatap satu sama lain. "Minta apa ?." Tanyanya tak mengerti.


Affin mengusap lembut pipi istrinya. "Bisakah kamu jangan memanggilku dengan nama saja ?, Kita sudah memulai dari awal, bukan ?."


Fyzha terdiam. Dia memang salah karena masih memanggil Affin dengan namanya saja, padahal Affin selalu memanggilnya dengan panggilan sayang.


"Maaf, aku akan merubahnya." Ucap Fyzha sambil menundukkan kepalanya.


Affin menarik kepala Fyzha dan mendaratkan kecupannya di kening istrinya. "Tidak perlu minta maaf, kamu tidak bersalah."


Fyzha mengangguk lalu menubruk tubuh Affin dan memeluknya. "Kamu selalu sabar menghadapi tingkahku, terima kasih." Ucapnya tulus.


Affin membalas pelukannya. "Sama-sama, sayang. Ya sudah, kita berangkat ya ?."


Fyzha mengangguk lalu melepaskan diri.


Mobil mulai melaju menuju ke rumah sakit milik Affin.


Tidak terlalu lama, Affin langsung membawa istrinya masuk ke dalam ruangannya dan segera melakukan pemeriksaan terhadap kondisi istrinya itu.


Affin sedikit bingung. Ada rasa keraguan akan dugaannya saat ini tentang apa yang terjadi pada istrinya.


"Yang."


"Hem ?."


"Kita ke dokter kandungan ya ?."


"Dokter kandungan ?."


Affin membantu istrinya itu turun dari ranjang pemeriksaan. "Sudah satu bulan kamu belum datang bulan, sayang." Ucapan Affin membuat Fyzha tersentak kaget.


Fyzha baru ingat jika dirinya sudah telat sangat lama. Dia tak menyangka jika suaminya itu ternyata sangat perhatian.


"Apa berarti aku hamil ?." Tanya Fyzha masih sangat terkejut.


"Kita check pada dokter kandungan, karena aku juga belum yakin."


Fyzha hanya mengangguk mengiyakan. Dia tahu jika suaminya itu pasti melakukan yang terbaik.

__ADS_1


"Kamu duduk disini dulu, aku mau nelfon bagian obgyn."


Fyzha mengangguk dan Affin segera menelfon seseorang menggunakan telepon khususnya. Tidak lama, Affin sudah mengajak Fyzha untuk menuju ke bagian dokter obgyn.


Seorang dokter wanita yang berpakaian agamis menyambut kedatangan keduanya dan mempersilahkan mereka masuk ke dalam ruangannya.


"Apa yang bisa saya bantu, Dok ?." Ucap wanita itu sangat ramah.


"Saya ingin memeriksakan kondisi istri saya. Tolong kamu check dia."


"Baik, Dok. Mari Nyonya." Tanpa basa-basi lagi, Fyzha kembali berbaring di ranjang pemeriksaan.


Dokter itu langsung mengecek bagian perut Fyzha dengan alat-alat medisnya lalu beralih pada bagian lainnya yang entah itu untuk apa karena Fyzha tidak mengerti sama sekali.


Selama menjadi pemeriksaan, Affin senantiasa mendampingi di sampingnya. Saat ini hatinya terus berdesir mengucapkan doa untuk hal yang kini telah dinantinya.


Akhirnya pemeriksaan itu selesai. Affin membantu istrinya untuk turun dan duduk kembali di kursi.


Wajah dokter kandungan itu tampak cerah dan terlihat senang.


"Bagaimana, Dok ?."


Dokter itu semakin melebarkan senyumannya. "Selamat ya Dokter, Nyonya. Kalian akan menjadi orang tua, Nyonya Fyzha telah hamil dan usia kandungannya sudah menginjak lima Minggu." Ucap dokternya menjelaskan.


Affin dan Fyzha langsung saling menatap dalam. Tak ada yang lebih baik dari kabar bahagia ini. Di usia pernikahan mereka yang ke enam bulan ternyata Allah telah menitipkan amanahnya.


Affin langsung merengkuh tubuh mungil istrinya dan memeluknya sangat erat dengan bibirnya yang tak henti-hentinya mencium kening Fyzha. "Makasih, sayang... Ini hadiah yang terbaik untukku." Ucapnya teramat sangat bahagia.


Fyzha hanya mengangguk menanggapi. Saat ini air mata bahagianya telah menumpuk di pelupuk matanya. Kini dia sudah menjadi wanita yang sesungguhnya yang telah diberi amanah untuk menjaga buah hatinya di dalam rahimnya.


"Nanti kesehatannya harus diperhatikan ya nyonya, jangan sampai terlalu kelelahan karena usia kandungan di trimester pertama adalah masa rentan."


"Baik , Dok. Terimakasih atas kabar bahagianya " ucap Fyzha tersenyum lebar.


"Iya, sama-sama. Saya juga ikut bahagia karena dokter Affin memang sudah menginginkannya sejak lama, dan akhirnya doanya telah terkabul. " Ucap dokter itu dengan senyum manisnya.


Tapi Fyzha merasa tidak nyaman dengan ucapan dokter itu.


Itu seolah menegaskan bahwa sepertinya mereka adalah orang yang dekat ?.


Fyzha melirik ke arah suaminya yang masih sedang tersenyum lebar karena senang, dan saat Affin menoleh melihat ke arahnya Fyzha segera mengalihkan pandangannya lagi pada dokter kandungan itu.


"Kalau begitu kami pamit, Dok. Assalamualaikum." Ucap Affin sambil menggandeng tangan Fyzha keluar dari ruangan tersebut.


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2