Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Kesilapan Aly


__ADS_3

Pikiran Aly sedang cemas bukan main. Dia mengkhawatirkan keadaan istrinya yang dikatakan tidak baik-baik saja. Kaki Aly melangkah cepat memasuki rumah dan berlanjut ke kamar istrinya.


Di depan pintu terlihat banyak orang dengan wajah cemas membuat Aly semakin dilanda kerisauan. Aly segera masuk ke dalam kamar.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


Tatapan Aly langsung tertuju pada sosok wanita yang sedang terbaring lemah di atas ranjang. Wajah istrinya terlihat sangat pucat juga mata terpejam rapat. Perlahan kakinya melangkah mendekati tubuh itu dan duduk di sampingnya. Dengan tangan gemetar Aly mengusap lembut kepala istrinya. "Dek, bangun. Ini mas, Dek... " Ucap Aly lirih tepat di telinga istrinya setelah dia mendaratkan kecupannya di kening sang istri.


Mata yang selalu menatap teduh itu perlahan terbuka disertai senyuman manis yang langsung tersungging di sudut-sudut bibirnya.


"Mas..."


"Iya, sayang... Apa yang terjadi ?, Kenapa kamu sampai seperti ini...?. " Tanya Aly dengan suara sangat lirih.


Wajah sang istri semakin tersenyum lebar. "Aku tidak apa-apa, mas. Aku hanya kelelahan." Jawabnya masih tersenyum.


"Kita ke rumah sakit, ya ?." Ujar Aly lagi tapi istrinya malah menggeleng lemah.


"Tidak, mas. Aku tidak apa-apa... Tidak perlu ke rumah sakit."


Aly menghembuskan nafasnya berat lalu kembali mencium kening istrinya.


Aly sudah sangat cemas saat Ummi menghubunginya dan mengatakan bahwa Halimah jatuh pingsan di jam mengajar di madrasah. Aly yang tadi sedang menemani Alsya melakukan pemeriksaan, setelah selesai dia langsung menuju ke pesantren dan bukanlah ke kantor seperti yang dikatakannya pada Alsya.


"Kamu bilang tidak apa-apa, tapi lihatlah kondisi kamu sekarang. Sebenarnya apa yang terjadi ?." Aly masih kurang percaya jika istrinya itu sedang baik-baik saja.


"Ya Allah, mas... Berapa kali aku harus meyakinkanmu, Hem ?." Tanya Halimah dengan senyuman manisnya menatap wajah tampan sang suami.


Aly menghembuskan nafasnya berat. Mendapatkan senyuman manis itu membuat rasa khawatirnya redam begitu saja. Aly membalas senyuman itu dengan senyum yang tak kalah manis. Tangannya mengusap lembut wajah sang Istri. "Baiklah, mas percaya." Ucapnya kemudian.


Halimah mengangguk. "Oh ya, mas. Kamu bisa menggantikanku masuk ke Aliyah tingkat tiga?, Mau ya mas ?, Kasihan mereka, nanti kosong lagi jadwalnya..." Ucap Halimah tiba-tiba dengan mata berbinar permohonan.


"Kan bisa di gantikan sama ustadz atau ustadzah lain, dek ?." Ucap Aly sedikit keberatan dengan permintaan istrinya.


"Aku tidak enakan kalau minta mereka menggantikan jam ku lagi, mereka sudah memiliki jadwal sendiri, mas... Ayolah, hari ini saja..." Pinta Halimah lagi dan akhirnya Aly mengangguk menyetujui.


"Kelas berapa ?." Tanya Aly kemudian.

__ADS_1


"Kelas 5."


Aly mengangguk lagi lalu kakinya melangkah mendekati lemari kita untuk mengambil kitab yang akan dikaji nya dan duduk di tepi ranjang. Aly bertanya tentang materi yang harus dia ajarkan, sebab dia tidak tau sampai dimana materi yang telah disampaikan oleh istrinya itu pada anak didiknya. Setelah mempelajari sedikit materinya, Aly pamit untuk ke area gedung madrasah.


Kakinya melangkah melewati deretan kelas anak tingkat senior.


Di madrasah di pesantren milik keluarga istrinya ini memiliki dua gedung yang terpisah sedikit jauh yang tingginya tiga lantai, Karena untuk membatasi interaksi antar santri putra dan putri dengan dipisahnya tempat belajar mereka.


Di lantai satu di dua gedung itu merupakan kelas awamil atau kelas pemula, yang berjumlah tujuh kelas, ruang perpustakaan, dua toilet juga ruang guru ( jika di gedung putri berarti berisi ustadzah-ustadzah ) dan jika di gedung putra, sebaliknya.


Di lantai dua merupakan kelas wustha (kelas tingkat Jurumiyah dan 'imrity ) yang berjumlah lima ruangan, dan tiga kelas Aliyah ula (Kelas alfiyah tingkat awal ).


Dan di lantai tiga, terdiri dari sempuluh ruangan yaitu kelas Aliyah Tsani ( Alfiyah tingkat dua ) dan Aliyah khatmi (alfiyah tingkat akhir ), yang masing-masing jumlahnya lima kelas.


Sistem pengajaran disini juga memiliki aturan tersendiri yaitu ada beberapa ustadz yang mengajar di kelas santri putri tapi di kelas santri putra tidak ada ustadzah yang mengajar disana. Aly melangkah tenang menyusuri kelas-kelas yang sedang dalam jadwal pengajaran, dan tak jarang ketika dia berpapasan dengan beberapa guru disini mereka langsung menyapanya dengan penuh hormat dengan julukan baru setelah Aly menjadi menantu dari pemilik pesantren yaitu Gus Aly. Sebab sudah sangat banyak yang mengetahui tentang siapa Aly ini disini, apalagi kalangan guru yang bahkan seringkali datang berkunjung ke rumah ndalem.


Hingga sampai di depan pintu Aly mengetuk pintunya dan masuk sambil mengucap salam dan segera dijawab lantang oleh santri di dalam kelas.


"Maaf sebelumnya, ya.. kali ini saya yang akan menggantikan Ning Imah mengisi jam kalian, karena saat ini Ning Imah memiliki halangan untuk hadir." Ujar Aly ramah pada semua santri putri yang nampaknya saling berbisik-bisik antar teman bangkunya. Mungkin mereka bingung kenapa Gus Aly lah yang mengajar, tapi setelah mendengar penuturan Gus Aly yang mengatakan Ning Halimah sedang ada halangan mereka langsung bisa memaklumi.


"Baiklah, sekarang kita mulai saja ya. Silahkan berdoa dulu !." Ujar Aly sambil mendudukkan tubuhnya di atas bangku bersamaan santri-santri yang mulai berdoa dengan khusyuk.


Setelah doa selesai, suasana langsung hening dan sepi. Semua santri tampak diam tenang sambil menunggu pembelajaran yang akan di sampaikan oleh Aly.


Aly memulai pembelajarannya dengan pembawaan yang sangat tenang namun bikin semua santri greget karena cara pembawaan dalam menerangkan, Aly sangatlah mudah dipahami bagi mereka. Bahkan, sesekali Aly menyelingi penjelasannya dengan lelucon agar tidak membuat mereka merasa jenuh. Dan alhasil, hingga selesai waktu belajar selama satu jam setengah, mereka masih tampak bersemangat saja . Aly pamit undur diri lalu keluar dari ruangan.


Aly pulang ke rumah dan memasuki lagi kamarnya bersama sang istri. Di dalam, Aly melihat Halimah sedang tertidur miring sambil tangannya mendekap erat tubuh mungil bayinya. Wajah itu memang selalu terlihat tenang dan menyejukkan mata apalagi saat sedang terlelap seperti itu. Tatapan Aly beralih ke wajah putrinya, wajah cantik dengan garis wajah campuran wajah kedua orang tuanya.


Aly duduk di tepi ranjang masih terus memperhatikan wajah cantik anak dan istrinya hingga tatapan matanya teralihkan oleh ponsel yang sedari tadi dia lupakan.


Aly mengambil ponselnya yang tergeletak di meja samping tempat tidur. "Astaghfirullah... Aku lupa mengabari Alsya..!" Pekik Aly dengan suara lirih.


Aly segera mengaktifkan ponselnya karena tadi dia sengaja mematikan ponselnya itu sebab tidak ingin di ganggu oleh sesuatu yang malah membuatnya kurang fokus pada istrinya karena tadi dia mendapatkan kabar bahwa istrinya sedang dalam keadaan tidak baik-baik saja.


Sesaat setelah ponselnya kembali menyala, banyak sekali notifikasi yang masuk. Ada puluhan panggilan tak terjawab dari nomor yang berbeda-beda, juga belasan pesan yang langsung mengantri untuk di cek olehnya. Dan semua notifikasi itu adalah dari keluarga istri pertamanya, ada dari Abah, umah, mbak Nisa, juga supir pribadi keluarganya, dan nomor tak di kenal. pesan pun begitu yang semuanya tidak lain dari mereka semua.


Aly membuka pesan yang terlihat langsung menampar hatinya yang berasal dari sebuah nomor tak bernama. Aly buka pesan itu dengan hati kesal campur penasaran.


+62___________

__ADS_1


...Sialan !!....


...Pria brengsek !!. Kemana Lo ?!!. Bini Lo lahiran !!!....


...Jangan selingkuh terus !!...


...Kalau Lo tidak datang dalam waktu lima belas menit, jangan harap bisa menemui Alsya lagi !!!....


"Alsya... ?!." Gumam Aly sangat terkejut.


Dan ternyata suaranya itu membangunkan tidur istrinya.


"Mas..." Panggil Halimah bingung sendiri.


"Dek, mas pulang dulu yaa ?." Ujar Aly tanpa menoleh lagi ke arah istrinya itu yang semakin terlihat kebingungan.


Aly segera membenahi pakaiannya dan memakai jasnya lagi yang tadi dia lampirkan di atas sofa. Aly mendekati tubuh istrinya dan mencium kening istrinya singkat.


"Mas, ada apa ?. Kenapa kamu buru-buru sekali ?!."


"Alsya melahirkan, dek !. Mas pergi dulu ya. Assalamualaikum... !." Ucap Aly dengan langkah tergesa-gesa keluar dari kamar.


Aly melirik jam di pergelangan tangannya kemudian beralih pada layar ponselnya melihat lagi pesan yang dibacanya tadi.


Lima belas menit !!.


Lebih empat puluh dua menit ?!!.


Astaghfirullah !!


Sudah tidak sabar lagi. Akhirnya Aly mengganti jalan cepatnya menjadi berlari ke arah mobilnya dan segera melesatkan mobilnya keluar dari area pesantren.


Hatinya sangatlah cemas dan khawatir tentang keadaan Alsya yang sekarang dia tidak tahu seperti apa. Aly benar-benar salah ?!. Iya, dia sangat salah karena mematikan ponselnya dari tadi sehingga berita besar seperti ini dia malah telat mengetahuinya.


Dan untuk yang kesekian kalinya, Aly lalai sebagai suami yang seharusnya di di samping sang istri yang sedang berjuang untuk melahirkan buah hati mereka. Jika dulu, saat melahirkan Hafidhz dia sudah terkena amarah semua keluarganya namun karena kelembutan hati istrinya l akhirnya semua orang memaafkannya. Tapi dia tidak tahu apa yang akan terjadi nanti. Dia tidak yakin jika Alsya kembali berbaik hati padanya sebab dia sudah kembali mengecewakan hati istrinya lagi.


Ya Allah... Selamatkan istriku juga anak-anak kami, ya Allah...


Maafkan aku Al. Maafkan pria brengsek ini yang lagi-lagi melalaikan kewajibannya...

__ADS_1


Aly sedikit melambatkan laju mobilnya dengan tatapan yang terbagi dua, karena Aly mulai menghubungi supir pribadi Alsya.


"Di rumah sakit mana ?!." Sentak Aly tidak sabaran.


__ADS_2