Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Penyesalan


__ADS_3

"Fazal...!. Keyya... !. Cepet masuk !."


Melihat cuaca yang mendung rapat membuat Fyzha khawatir dengan dua keponakannya yang masih asyik bermain di halaman samping.


Kedua bocah berumur dua tahun itu sangat asyik menangkapi ikan mas yang ada di kolam ikan.


Kelakuan mereka memang semakin membuat orang-orang yang menjadi penjaganya harus ekstra sabar dalam menghadapi tingkah mereka.


Terkhusus hari ini. Fyzha yang memang sengaja berkunjung ke Cirebon untuk melihat dia keponakannya yang sangat menggemaskan harus disuguhkan dengan kelakuan mereka. Pasalnya tadi pagi, mereka tiba-tiba meminta untuk menangkap ikan-ikan yang ada di kolam ikan. Di beri alat untuk menangkapnya tapi mereka menolaknya dan meminta untuk nyemplung saja ke kolamnya.


Untungnya kolam ikannya tidak terlalu dalam dan hanya sebatas betis orang dewasa dan sekitar sampai pinggang Fazal dan Keyya.


Dua pengasuhnya tentunya langsung menolak permintaan mereka tapi malah membuat mereka menangis dan mengadu pada kakeknya. Dan Aryan yang sangat menyayangi keduanya tentu tidak tega jadi dengan pasrah mengizinkannya saja yang penting harus dalam pengawasan orang dewasa.


Fyzha berdiri di dekat kolamnya untuk membujuk si kembar. "Fazal, Keyya, itu liat mau hujan gede. Ayo udah yuk nangkap ikannya ?!."


Di bujuk baik-baik tetap tidak membuat mereka menurut. Fazal dan Keyya masih asyik tertawa sambil mengejar ikan untuk ditangkap.


Fyzha sudah hilang kesabaran dibuatnya. Dia segera melepaskan sandalnya dan ikut turun untuk menangkap kedua bocah itu dan membawanya paksa keluar dari kolam sebelum hujan benar-benar turun.


Si kembar semakin bertingkah. Mereka berlarian di air agar tak tertangkap oleh tangan tentenya. Alhasil, karena air yang dikobok-kobok selama berjam-jam dan ditambah dengan mereka yang berlarian di sana membuat ikan-ikannya pusing dan lemas.


"Fazal, Keyya !, Kalian membuat Tante marah ya ?!." Sungut Fyzha mulai kewalahan.


Fyzha kembali mengejar dua keponakannya yang belum juga menyerahkan diri. Kolam yang panjang dan lebar membuat Fyzha kesusahan sendiri. Apalagi pakaiannya yang sudah basah kuyup semakin membuat langkahnya berat. Entah mengapa dia bocah itu tak merasakan hal yang sama seperti Fyzha padahal mereka sudah basah kuyup hingga rambutnya pun sudah seperti sedang di sampo.


Jedderr !!


"Tante..!!!."


"Tante...!!!."


Keduanya langsung menjerit karena mendengar suara petir yang begitu besar. Mereka segera mendekat ke arah Fyzha dan memeluknya erat karena sangat ketakutan.


Fyzha juga sama kagetnya, ditambah melihat wajah ketakutan kedua keponakannya membuatnya tidak tega. Fyzha segera mengangkat keduanya dan membawanya keluar dari air kolam.


Sampai di darat, kedua pengasuh mereka langsung mendekat dan mengambil alih keduanya.


"Langsung mandikan dengan air hangat mbak !." Titah Fyzha terlalu khawatir pada kedua keponakannya itu.


Fyzha yang masih berdiri di tempatnya menoleh ke arah kolam ikan yang airnya sudah sangat keruh karena perbuatan Fazal dan Keyya. Apalagi melihat ikan-ikannya yang sudah mabok dan seperti akan mati. Fyzha hanya menggeleng mengingat kelakuan kedua ponakannya itu.


"Dasar kalian." Gumamnya lirih dengan senyuman kesal campur geli membayangkan bagaimana kelakuan Fazal dan Keyya yang sangatlah Masya Allah !.


Fyzha tidak langsung masuk ke dalam rumah. Dia lebih memilih menemui pegawai yang biasa mengurus tanaman di rumah orang tuanya.


"Nona, Anda kenapa ?." Seorang pria paruh baya itu tentu saja kaget dengan penampilan Fyzha yang tak karuan.


"Hehehe, tidak apa-apa mang. Oh ya, mang, nanti kurasin kolam ikan ya soalnya tadi habis dibuat renang sama si kembar."

__ADS_1


"Ehh, iya non. Mamang akan mengurasnya."


"Iya, mang. Terimakasih."


"Sama-sama, non."


Fyzha kembali meninggalkan tukang kebun rumahnya itu dan segera masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Selesai mandi, Fyzha keluar ke balkon kamarnya dan menyaksikan rintik hujan yang mulai mengguyur tanah.


Seminggu yang lalu adalah hari dimana dirinya melakukan hal yang sangat fatal. Dia benar-benar merasa sangat berdosa karena melakukan hal yang sudah sangat jelas dilanggar oleh agama.


Bayangan peristiwa buruk itu terus membayang di pikirannya dan itu semakin membuatnya menyalahkan diri sendiri yang terlalu bodoh dalam bertindak.


Tak terasa air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. "Maafin Fyzha, pa, ma. Fyzha terlalu bodoh sehingga melakukan hal keji itu... Tubuh Fyzha telah kotor... Apa Fyzha masih boleh berharap memiliki jodoh yang sempurna agamanya ?,... Ya Allah..." Ceracauan Fyzha hampir lenyap bersama angin yang berhembus kencang.


Melupakan bahwa dirinya baru saja mandi, Fyzha terduduk di lantai balkon dengan penyesalan yang mendalam.


Nona, apa yang kau lakukan ?!.


Kau membuatku tergoda dengan keadaanmu yang seperti itu.


Kalau itu bisa membuat pikiranku lebih tenang, lakukanlah !.


Kamu serius ?!,


Aku tidak perduli !, Yang penting hati dan pikiranku menjadi tenang. Jadi, itu tidak masalah bagiku.


Fyzha semakin terpuruk. Bayangan itu terus menggema di kepalanya.


Padahal kita tidak tahu apakah setelah ini akan bertemu lagi nanti !.


Nona, kau ...?!


Aku tidak perduli...!!


Lakukanlah...!!


"Aargghhh...! Tidak... !!. Hiks !. Mama... Papa..." Tubuh Fyzha meringkuk di bawah guyuran hujan. Tubuhnya gemetar memeluk lututnya sendiri.


"Ya Allah.... Astaghfirullah... Astaghfirullah...." Ucapnya lirih sebelum kedinginan menyelimuti seluruh tubuhnya.


Fyzha semakin menggigil kedinginan tapi dia juga tak ingin bangkit dari duduknya. Yang ada dipikirannya hanyalah rasa menyesal, menyesal dan menyesal. Dia menyesali kebodohannya sendiri. Dia tidak tau siapa pria itu dan dia juga tidak pernah sekalipun melihat wajah pria itu sebelum pada kejadian tersebut.


Entah bagaimana nasibnya nanti. Di umurnya yang sudah tiga puluh tahun, dia melakukan hal fatal yang membuatnya merugi sendiri.


Kunang-kunang mulai bertebaran di penglihatan. Rasa pening tiba-tiba menghantam kepalanya. Suara hujan semakin menjauh dan pandangan mata mulai mengabur kemudian kegelapan merasuk di Indra penglihatannya.


Fyzha tergeletak tak berdaya di bawah guyuran air hujan yang masih sangat lebat. Tidak ada yang tahu tentang keadaannya sekarang yang pingsan di balkon kamarnya.

__ADS_1


Matahari yang sedang diselimuti awan kelabu masih terus bergerak pasti. Membawa sinarnya untuk kembali pada peraduannya di ufuk barat.


Hujan perlahan berhenti menyisakan genangan air di mana-mana di setiap penjuru bumi juga tubuh yang kini membeku di lantai balkon.


Di luar kamarnya, Ningrum berdiri di depan pintu kamar Fyzha. Dari tadi dia memanggil anaknya tapi Fyzha tidak membukakan pintunya bahkan menyahut pun tidak.


Suasana itu membuat Ningrum menjadi cemas. Dia segera menelfon suaminya tentang situasi yang kini terjadi. Sebab, biasanya Fyzha tidak pernah bertingkah demikian.


Beberapa menit kemudian, Aryan datang dan langsung menghampiri Ningrum yang masih berdiri sambil terus menggedor-gedor pintu kamar Fyzha.


"Ada yang terjadi dengan Fyzha, mas ...." Rasa cemas seorang ibu membuat Ningrum tak kuat menahan air matanya untuk tidak meluncur ke pipi.


Sebagai seorang ayah, Aryan juga mulai dilanda kecemasan. Pintu kamar Fyzha terkunci dari dalam yang berarti putrinya itu ada di dalam.


Seluruh pegawai di rumah juga ikut hebohnya saat mendengar suara-suara cemas yang terus dilakukan olah pemilik rumah.


"Punten, tuan. Ini ada cadangan kunci kamarnya nona." Salah seorang pegawai rumah yang memang menjadi bagian keamanan di rumah itu menyodorkan kumpulan kunci yang dijadikan satu.


"Yang mana kunci kamar ini ?!." Tanya Aryan sudah tidak bisa tenang.


"Yang ini, tuan..."


Aryan mengangguk lalu mulai memasukkan kuncinya di lubangnya, dan ternyata susah karena dari dalamnya kuncinya juga sedang masuk.


"Susah. Kunci di dalamnya masih nyangkut."


"Astaghfirullah... Lalu bagaimana, mas ?, Aku yakin sedang terjadi sesuatu pada putri kita..."


Aryan semakin dibuat cemas. Tidak ada pilihan lain selain menghancurkan sekat kuncinya.


Tanpa aba-aba lagi, Aryan segera mendobrak pintunya, dalam percobaan pertama gagal. Untuk keduanya, pihak keamanan tadi ikut serta dan hanya dengan dua gebrakan kuat akhirnya pintu bisa terbuka.


Ningrum langsung berlari masuk ke dalam. "Fyzha... !!."


"Fyzha !."


Dari ruang ganti pakaian tidak ada, berlanjut di kamar mandi yang juga kosong. Beralih lagi di ruang kerjanya yang juga sama begitupun dengan perpustakaannya yang juga sama.


"Tuan, Nyonya... Nona Fyzha !." Teriak salah satu pegawai rumah yang juga ikut membantu mencari.


Aryan dan Ningrum langsung berlari menuju balkon. Melihat kondisi tubuh Fyzha yang tergeletak mengenaskan membuat Ningrum berteriak histeris.


Aryan segera mengangkat tubuh putrinya dan membawanya ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidurnya.


Semua orang selain Ningrum dan dua pelayan perempuan, keluar dari kamar tersebut.


Dibantu oleh dua pelayan itu, Ningrum dengan deraian air mata segera mengganti pakaian Fyzha yang telah basah kuyup diganti dengan pakaian yang kering. Tak lupa juga salah satu pelayannya mengaktifkan suhu ruangan kamar agar lebih hangat.


Tak lama setelah Fyzha sudah dibersihkan, seorang dokter yang telah dipanggil Aryan datang dan langsung memeriksa keadaan Fyzha.

__ADS_1


✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓✓


__ADS_2