
Aly bertanya too the point saat telepon mulai tersambung, karena saat ini dia hanya ingin segera menemui istrinya itu.
Tidak kunjung ada jawaban dari seseorang di seberang sana. Membuat Aly heran dan geram saja.
"Dimana istriku ?!." Tanya Aly dengan suara sedikit meninggi.
"I-itu, pak. Anu... Nyonya ada di rumah sakit Diaurrahman, pak. Tapi..."
Belum juga selesai ucapan supirnya, Aly malah mematikan sambungan teleponnya secara sepihak. Tidak ada yang lebih penting dari pada rasa bersalahnya terhadap Alsya bagi Aly. Dan dia mencoba untuk memperbaiki kesalahannya tersebut.
Sampai di rumah sakit, Aly bisa melihat mobil yang biasa di pakai istrinya bepergian bersama sang Supir. Aly masuk ke dalam bangunan besar itu dan langsung mencari keberadaan sang istri juga keluarganya. Dan dari kejauhan, dia bisa melihat wajah-wajah tegang itu yang kini menoleh ke arahnya dengan tatapan mata yang entah berekspresi apa karena mereka melihat datar ke arah Aly.
"Assalamualaikum..." Ujar Aly ingin menyalami tangan Abah mertuanya yang langsung ditanggapi namun dengan wajah seakan enggan melihat ke arahnya.
Aly bingung dengan sikap dingin mertuanya itu. Tapi dia mencoba tetap tenang lalu beralih pada umma dan berniat untuk menyalami tangannya juga.
Plakk
"Puas kamu ?!!. Hahh !! Puas ?!!." Umma langsung berteriak histeris dengan tangan kebas karena baru saja menampar wajah Aly dengan sangat keras.
Wajah Aly seketika menoleh ke samping karena pukulan keras itu. Aly melirik ke semua orang disana yang tampak diam, tak ada satupun yang menolongnya. Bahkan kedua orang tuanya pun hanya diam seolah membiarkan ibu mertuanya menyiksanya.
Umma mendorong tubuh Aly hingga membuatnya hampir tersungkur namun Aly segera menyeimbangkan berdirinya. "Umma..." Ucap Aly dengan suara lirih dengan tatapan mata lekat memandang wajah ibu mertuanya yang tampak dipenuhi amarah.
"Kamu sudah berkali-kali menyakiti putriku, Aly !!. Mana tanggung jawab mu ?!!. Hahh ?!. Kemana ?!!." Umma kembali memberondong Aly dengan dorongan keras seakan sedang melampiaskan kekesalannya pada menantu kurang ajarnya itu.
Aly faham, sangat faham. Jika mereka semua pasti kembali merasa kecewa pada sikap Aly untuk yang kedua kalinya ini. Aly mersimpuh di kali ibu istrinya itu dengan penyesalan yang mendalam. "Umma... Maafin Aly... Aly telah salah. Tapi mohon maafin Aly..." Pinta Aly dengan sangat merendah di kaki umma yang kini sedang menangis histeris.
Lagi-lagi semua orang tampak diam dengan apa yang dilakukan Aly tanpa ada satupun yang mencegahnya. Bahkan semua orang tampak seperti bermata sembab seolah habis menangis lama. Entah apa arti itu semua, Aly benar-benar tidak tahu dengan semua itu.
Abah mendekat dan membantu Aly agar kembali bangkit dari simpuhnya, begitupun ibunya Aly yang kini merengkuh tubuh besannya dan mencoba menenangkan hati besannya itu.
"Abah, maafin Aly... Maafin kesalahan Aly yang terulang ini Abah... Aly minta maaf, Aly janji tidak akan mengulanginya lagi..." Pinta Aly masih tidak mau berdiri dan kini malah memeluk kaki ayah mertuanya.
__ADS_1
Abah mendongakkan kepalanya seakan sedang menghalau airmata yang akan menetes di sudut-sudut matanya. Abah kembali menatap wajah menantunya yang kini sedang menangis menyesali perbuatannya sendiri.
"Bangunlah ." Ucap Abah dingin.
"Abah..." Aly menggeleng lemah. "Aly mohon, Abah..."
"Aly bangun !." Sekali lagi Abah memerintahkan dengan suara yang mulai meninggi.
Aly tertegun. Dia tidak pernah melihat Abah berucap dengan suara demikian. Dengan berat hati akhirnya Aly bangun dan menunduk tidak berani menatap wajah dingin semua orang.
Baru saja kaki Aly berdiri dengan kokoh tiba-tiba sebuah hantaman keras mendarat di rahangnya. Aly tersungkur dengan perasaan masih kaget namun belum kembali kesadarannya pukuluan demi pukulan telah mendarat sempurna di wajahnya menciptakan luka lebam yang sangat mengenaskan.
"Kemana ilmu kamu, hahh ?!!. Ayah tidak pernah mengajarkan kamu seperti itu, Aly !!. Ayah malu !. Ayah malu memiliki anak seperti kamu !!." Yah. Orang yang kini sedang memukulinya adalah ayahnya sendiri yang saat ini sangat marah padanya.
Sekali lagi, ayahnya mendaratkan pukulan keras yang membuat Aly semakin kehilangan tenaganya.
"Mas, cukup !!. Sudah !!. " Teriak sang ibu yang langsung berlari memeluk erat tubuh Aly untuk menghalangi pukulan yang akan diberikan ayahnya lagi. "Sudah, mas !, Sudah !. Ini tidak akan selesai kalau memakai kekerasan..." Ujar ibunya yang mulai menangis melindungi putranya dari kekerasan sang suami.
"Kamu terlalu memanjakannya !. Anak itu sudah Kurang ajar, berani-beraninya dia membuat menantuku menjadi celaka !. " Geram ayahnya yang masih sangat dipenuhi amarah.
"Ibu, apa yang terjadi dengan istriku ?. Bagaimana keadaan Alsya dan anak-anakku ?." Tanya Aly dengan suara lirih pada ibunya.
Ibunya tidak menjawab dan hanya menggeleng dengan dengan tangisan yang semakin menjadi-jadi.
Aly tidak sabar. Dia bangkit meski dengan kepala yang sangat pusing dan badan remuk redam. Aly menghampiri mertuanya.
"Abah,.. apa yang terjadi dengan Alsya ?. Bagaimana keadaannya, bah ?..." Tanya Aly dengan suara bergetar menahan sakit di sekitar wajahnya.
Abah menatap wajah Aly dengan tatapan mata datar. Namun, di lubuk hati yang terdalamnya dia Meraka kasihan dengan kondisi menantunya yang terlihat sangat mengenaskan. Yah, begitulah Abah. Beliau memang bukan tipe orang yang pemarah dan pendendam. Hati Abah terlalu lembut untuk seorang pria yang juga telah menurunkan sikapnya itu pada Alsya, istrinya.
"Lepaskan putriku." Ucap Abah dengan mata terfokus pada wajah Aly.
Bagai disambar petir di siang hari, seakan persendian otot di tubuhnya hancur lebur. Aly sangat terkejut dengan permintaan Abah, dia tidak pernah menyangka jika Abah akan mengatakan hal yang sangat ditakutkan olehnya.
__ADS_1
Namun keterkejutan itu tidak hanya dialami oleh Aly saja. Semua orang yang ada disana juga tampak kaget dengan ucapan Abah. Sebab sedari tadi Abah hanya diam tanpa berkata apa-apa.
Aly menggeleng lemah. Dia tidak bisa menuruti permintaan mertuanya itu.
"Abah... Tidak, bah. Aly tidak akan melepaskan Alsya... Aly sangat mencintainya, bah..." Ucap Aly dengan suara bergetar hebat. "Jangan, bah. Jangan ambil Alsya dari Aly..." Ucap Aly melanjutkan.
Semua orang hanya bisa menahan nafas melihat kilatan amarah yang untuk pertama kalinya bersarang di mata Abah.
"Lalu, sampai kapan kamu akan menyiksa putriku ?!." Tanya Abah yang kini menatap tajam wajah Aly.
"Maafkan Aly, bah... Aly mohon...kami punya anak-anak, bah..." Pinta Aly kembali memohon ingin memegang tangan mertuanya itu namun Abah segera menangkisnya, seolah tidak Sudi di pegang oleh Aly.
Abah melangkah pergi menjauh dari mereka semua dan berjalan menjauh entah kemana. Dan ketegangan langsung terjadi saat pintu ruang IGD dibuka.
Seorang dokter tampan dengan wajah lelah keluar dari ruangan tersebut dan membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya. Tatapan dokter itu langsung mengarah ke arah Aly dan menatapnya tajam kemudian beralih pada wanita tua yang duduk di kursi tunggu sambil menangis.
Dokter itu tidak lain adalah dokter Affin. Dia baru saja selesai melakukan tindakan operasi untuk Alsya bersama rekan-rekannya. Affin segera menghampiri wanita itu dan berjongkok di hadapannya.
"Umma..." Panggilnya dengan suara lembut.
"Bagaimana keadaan Alsya, Affin ?. Apa Alsya baik-baik saja ?. Bagaimana juga dengan keadaan cucuku ?." Tanya umma memberondong.
Affin merasa tidak tega jika harus mengatakan semuanya pada wanita yang terlihat rapuh itu, dia mengusap lembut tangan wanita yang sudah dianggap sebagai ibunya sendiri.
"Maaf Umma, Affin kami sudah berusaha melakukan yang terbaik. Tapi, semua ada di tangan Sang Maha Kuasa..." Ucap Affin sehati-hati mungkin, takut membuat Umma syok.
Airmata Umma kembali terjun deras. Umma kembali sesenggukan.
Ya Allah... Kenapa Engkau harus beri jalan ini untuk gadis yang ku sayangi?...
Affin perlahan bangkit dari duduknya dan memeluk erat tubuh Umma yang semakin terisak.
Semua orang juga mulai menitikkan airmatanya kembali. Mereka tidak tahu apa yang telah terjadi dengan kondisi Alsya saat ini. Tapi mereka seakan menangkap sesuatu yang buruk dari ucapan Affin.
__ADS_1
Dan, apakah yang terjadi dengan Aly ?. Saat ini Aly merasa sangat terpukul, tubuhnya langsung ambruk di lantai dengan tatapan mata kosong menatap pintu ruangan yang kembali tertutup itu.
✓✓✓✓✓✓✓✓