
Fyzha kembali melelapkan matanya karena sudah sangat mengantuk. Tapi lagi-lagi dia dikejutkan oleh kehadiran Affin yang bergabung di sampingnya. Fyzha mencoba bersikap tenang meski rasanya sangat mustahil.
Affin mendekatkan wajahnya di sisi wajah Fyzha. Dia tau Fyzha belum tertidur nyenyak dan Affin sedikit menyeringai ketika menyadari kelopak mata Fyzha berdenyut seperti tak nyaman.
"Tidurlah, nona. Aku tidak akan mengganggumu." Bisik Affin sengaja mengerjai istrinya.
Entah mengapa ada kesenangan sendiri bagi Affin saat melihat kemarahan Fyzha jika dia menjahilinya.
Dan benar saja, Fyzha kembali membuka matanya dan menatap tajam wajah suaminya. "Kenapa kau disini ?, Aku tidak akan bisa tidur kalau seperti ini." Ucap Fyzha jujur dengan wajah sedikit memelas.
"Bukankah, tempat tidur ini menjadi milik kita berdua?, Berarti aku juga berhak tidur disini." Ucap Affin santai tak ingin menghiraukan kecemasan Fyzha. Padahal dihatinya juga merasa puas melihat Fyzha seperti orang yang ketakutan.
"Tapi, aku..." Belum sempat Fyzha menyelesaikan ucapannya, Affin lebih dulu mengagetkannya dengan tiba-tiba kembali mengungkung tubuhnya. Juga telapak tangan Affin yang dengan tanpa perasaan membekap mulutnya.
Affin mendekatkan wajahnya pada wajah Fyzha. "Kita sudah sah, dan tidak akan ada masalah jika kita tidur bersama. Jadi, kamu harus membiasakan dirimu, nona." Ucapan Affin penuh penekanan yang membuat nyali Fyzha menciut.
Fyzha ingin kembali memberontak tapi ancaman Affin telah membuatnya takut dan alhasil, Fyzha akhirnya mengangguk pasrah menuruti ucapan suaminya.
Affin kembali menyingkir dari atas tubuh Fyzha lalu merebahkan tubuhnya di samping Fyzha dengan sangat santai. "Tidurlah, kamu butuh istirahat." Ucapnya lagi.
Affin sebenarnya tidak benar-benar ingin mengerjai istrinya itu dan untuk saat ini juga dia tau jika Fyzha pasti sangat kelelahan karena rangkaian acara tadi siang.
"Awas, kamu jangan macam-macam!." Tegas Fyzha memberi peringatan.
"Iya,."
Fyzha menggeser tubuhnya agar tidak terlalu berdekatan dengan tubuh Affin lalu mulai memejamkan matanya karena rasa kantuk yang semakin memberat.
✓✓✓✓✓✓✓
Setelah satu Minggu lebih tinggal di rumah utama, Anand sekeluarga kembali pulang ke rumah mereka.
Dan seperti biasa, Anand harus dihadapkan oleh berbagai macam permintaan ngidam Alsya. Seperti sekarang, tepatnya di jam sepuluh malam, Alsya menginginkan makan nasi goreng buatan Nareena.
"Aa'..." Alsya bergelayut manja karena menunggu suaminya mikir-mikir dulu untuk menuruti permintaannya.
"Oke, oke. Sebentar aku telepon Nareena dulu untuk kesini." Akhirnya Anand memberikan jawaban.
Wajah Alsya langsung berbinar cerah. Dan seketika memberikan kecupan singkatnya di pipi Anand.
Mendapati perlakuan manis dari istrinya membuat Anand langsung salah tingkah dengan telinganya yang memerah. Dia merengkuh tubuh mungil istrinya dan membawanya agar mendekat ke tubuhnya.
Sambungan telepon terhubung.
__ADS_1
"Hallo, assalamualaikum. Ada apa Anand ?." Suara cempreng Nareena langsung terdengar dari ujung seberang telepon.
"Nareen, kamu kesini sekarang. Jangan pake lama ya !.
"Eh ehh !, Aku kesana mau ngapain ?!, Jangan gila, ini sudah malam !, Aku juga capek mau istirahat."
"Nareen, ayolah... Sekarang istriku sedang menginginkan sesuatu dan dia mau makan nasi goreng buatan kamu." Anand merendahkan suaranya agar sepupunya itu mau menuruti keinginannya.
"Nasi goreng buatan aku ?!, Memang sih masakan aku sangat lezat, baiklah aku akan segera kesana." Sedang dalam keadaan urgent seperti ini pun, Nareena tidak bisa menghilangkan sikap absurd nya jika itu berkaitan dengan Anand.
Anand mendengus kesal mendengar pujian Nareena untuk dirinya sendiri itu tapi beda lagi dengan Alsya yang malah terkekeh kecil.
"Iya, cepetan." Anand langsung mematikan sambungan teleponnya secara sepihak.
"Makasih ya, A." Alsya memeluk pinggang suaminya dengan manja.
"Apapun untuk mu."
"Meski itu harus merepotkan sepupu Aa' ?,." Alsya kembali terkekeh.
Anand menatap gemas wajah istrinya kemudian tanpa permisi langsung menciumi wajah Alsya membuat Alsya tertawa lepas karena kegelian.
Bukannya berhenti, Anand semakin menjadi-jadi dan mulai menggelitik tubuh Alsya.
Alsya sudah sangat kelelahan dan merasakan perutnya keram akibat terlalu banyak tertawa. Dia memegang perutnya yang sedikit melilit merasakan sakit.
"Sayang, kamu kenapa ?!." Anand langsung cemas menyadari perubahan wajah istrinya.
Anand menyentuh perut Alsya dan bisa merasakannya jika perut Alsya sedikit kaku.
"Keram, A..." Rintih Alsya sesekali meringis kesakitan.
Anand semakin dibuat khawatir dengan keadaan Alsya. Tadi dia terlalu bersemangat untuk mengerjai Alsya sehingga tidak ingat jika istrinya itu masih dalam tahap kehamilan muda yang masih sangat rentan.
Anand mengelus-elus lembut perut Alsya dengan disertai bibirnya yang tak henti-hentinya menyenandungkan shalawat.
Perlahan-lahan perut Alsya mulai kembali normal dan tidak setegang tadi. Wajah Alsya juga sudah tidak sepucat tadi dan dia sudah tidak meringis kesakitan.
"Masih keram, sayang ?." Tanya Anand disela-sela aktivitas nya.
Alsya mengangguk. "Sudah mulai hilang."
Anand mengecup kening istrinya sangat lama. "Maaf ya sayang, aku kelepasan tadi." Anand merasa sangat bersalah pada keadaan istrinya.
__ADS_1
Alsya tersenyum menenangkan. "Tidak apa-apa, A. Sekarang aku udah baikan."
"Maaf ya sayang."
"Iya, Aa' sayang."
Ponsel Anand berdering. Anand segera mengangkatnya setelah membaca nama kontak orang yang melepon itu.
"Aku sudah ada di rumah kamu. Cepetan turun."
"Hmm, iya. Kamu akan turun." Anand mematikan sambungan teleponnya. "Sayang, Nareena sudah datang. Kita turun yuk ?!."
Alsya mengangguk.
Mereka keluar dari kamar dan menemui Nareena yang sudah di dalam ruang dapur bersama pelayan bagian dapur.
Alsya menatap senang melihat keberadaan Nareena.
"Hai, Kak."
"Hai, Nareen." Alsya mendekat di samping Nareena yang sedang menyiapkan bahan untuk di masak.
"Nasi goreng Jawa ?." Tebak Nareena seolah sangat faham dengan apa yang diinginkan oleh Alsya.
Dan ternyata benar, Alsya langsung melebarkan senyumannya kemudian mengangguk. "Tapi tidak terlalu pedas."
"Siap, bumil. Sudah, kakak duduk saja sana dan menunggu nasi gorengnya matang.*
"Baiklah." Alsya menurut lalu duduk di kursi pantry yang berada di ruang dapur.
Dari kejauhan, Alsya memperhatikan bagaimana cara Nareena memasak. Dia begitu lincah dan ahli dalam mencampurkan bahan-bahan masakannya ke dalam wajan.
Beberapa menit berlalu, harum nasi goreng Jawa yang khas akan kelezatannya membuat siapapun yang menghirup aroma itu pasti akan merasakan lapar. Tapi sayangnya Nareena hanya membuat satu porsi saja terkhusus untuk wanita yang sedang mengidam.
Nareena menyajikan makanan itu di hadapan Alsya yang menatapnya dengan binar bahagia.
"Silahkan dimakan, semoga rasanya tidak mengecewakan." Ucap Nareena merendah.
Padahal Alsya sangat tau jika Nareena itu sangat pandai memasak, apalagi masakan ala sederhana. Karena dulu, saat masa SMK dan S1 nya dia mendalami jurusan memasak sehingga dengan keahliannya itu juga dia bisa mendirikan kafenya.
"Makasih, Nareen. Aku makan ya ?,." Alsya mulai menyendok sesuap demi sesuap nasi goreng buatan Nareena yang rasanya sungguh tiada banding, menurut Alsya.
Dia orang di sekitar Alsya hanya menjadi penonton bagaimana Alsya makan nasi goreng itu dengan sangat lahap.
__ADS_1
✓✓✓✓✓✓✓✓✓