
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam, mas." Alsya langsung menyalami tangan Aly, diikuti oleh putranya yang juga menyalami sang ayah.
Alsya bergegas meletakkan sapunya sebab tadi dirinya baru saja selesai menyapu, membiarkan Hafidhz bermain dulu dengan abinya.
Siang ini Aly sudah kembali ke rumah karena dia bukan dari kantor nya melainkan dari pesantren. Aly berangkat ke pondok kemarin dan baru pulang hari ini, dan tentu sudah izin pada Alsya sebelumnya.
"Mas mau makan siang ?." Tanya Alsya mendekat ke suami dan anaknya yang sedang duduk di sofa.
"Kalian sudah makan belum ?." Aly balik bertanya menatap wajah istrinya lalu melihat ke arah putranya. "Anak Abi sudah makan ?." Tanyanya pada sang putra dan dijawab gelengan oleh Hafidhz.
"Belum, mas. Tadi Hafidhz ngambek nggak mau makan sebelum abinya datang." Ucap Alsya menjelaskan.
Alsya ikut bergabung duduk di samping suaminya. Mendapati sang istri yang mendekat, Aly langsung memeluk tubuh istrinya, sehari tidak bertemu Alsya sungguh membuatnya sangat rindu. Aly mengecup pipi Alsya lama.
"Kalau anak Abi yang disini makan belum ?." Tanya Aly sambil tangannya mengusap lembut perut Alsya yang sudah membesar.
Yah, Alsya sedang hamil anak keduanya dan usia kandungannya sudah mencapai delapan bulan.
"Sudah, mas. Kamu sudah makan hanya Hafidhz saja yang sangat susah makan." Jawab Alsya sepertinya sudah menyerah menghadapi sikap Hafidhz yang memang semakin kesini semakin banyak tingkah saja.
Aly tersenyum, sekali lagi bibirnya menyentuh pipi Alsya. "Biar Hafidhz makan sama mas, sayang. Kamu istirahat gih, sudah waktunya untuk tidur siang." Ucap Aly melembut.
Alsya mengangguk mengiyakan lalu bangkit dari duduknya dan berjalan ke kamar.
"Yuk, anak Abi makan dulu." Aly menggendong tubuh mungil Hafidhz dan membawanya ke meja makan lalu mendudukkan tubuhnya di kursi.
"Abi kemana aja sih ?, Hafidhz nyariin nggak ketemu-ketemu ." Gerutu Hafidhz memperhatikan abinya yang sedang menyiapkan makanan untuknya.
"Abi habis ke pondok, nak."
"Tapi, Hafidhz nggak diajak ?!." Decak Hafidhz cemberut.
Aly mengusap lembut kepala putranya sambil meletakkan piring yang sudah diisi makanan di depan Hafidhz. "Kalau Hafidhz ikut Abi, nanti siapa yang nemenin ummi di rumah ?." Tanya Aly pada putranya.
"Ummi kan udah gede, ummi nggak papa di rumah sendirian."
"Hafidhz tega ninggalin umminya sendirian ?." Tanya Aly lagi membuat putranya itu langsung diam.
Hafidhz memang masih berumur tiga tahun, tapi kasih sayangnya pada Alsya sungguh luar biasa. Putranya itu sangat menyayangi umminya melebihi apapun. Bahkan tadi saat Aly pulang, dia melihat Hafidhz menemani Alsya yang sedang menyapu, dia tahu jika putranya itu sangat menjaga umminya apalagi sekarang Alsya sedang membawa adiknya, bertambahlah kasih sayang Hafidhz pada Alsya.
"Kasian ummi, Abi." Jawab Hafidhz akhirnya.
"Jadi, Hafidhz masih marah sama Abi ?."
Hafidhz menggeleng lalu tersenyum pada abinya. "Nggak." Jawabnya.
__ADS_1
Aly tersenyum. "Ya udah, sekarang kita makan ya, nanti nyusul ummi istirahat."
Hafidhz mengangguk antusias lalu memulai menyuapkan makanan ke mulutnya, begitupun dengan Aly. Kedua ayah dan anak itu menghabiskan makanannya lalu saling membantu membereskan bekas makananny ke tempat semestinya. Kali ini Hafidhz kebagian mengelap mejanya sedangkan Aly mencuci piring bekas makan mereka.
Kemana pegawai rumah ?. Jawabannya sudah tidak ada, sebab permintaan Alsya yang sudah tidak ingin menerima jasa orang lain untuk mengurus rumahnya, karena menurutnya dia bisa menyelesaikan semuanya sendiri, tepat setelah Hafidhz menginjak umur dua tahun.
"Abi, Hafidhz udah selesai."
"Abi juga udah. Yuk, kita ke kamar?!." Aly menggandeng tangan putranya menuju kamar utama.
Di dalam terlihat Alsya sedang tertidur pulas di atas tempat tidur. Kadang, Aly tidak tega melihat istrinya itu kesulitan untuk mencari posisi tidur yang nyaman disebabkan keadaannya yang sedang hamil besar. Alsya juga sering kali berganti posisi tidurnya.
"Abi." Panggil Hafidhz tiba-tiba.
Aly berjongkok di hadapan putranya. "Iya, Hafidhz ?."
"Abi, dedenya kapan keluar sih ?, Itu liat, ummi tidurnya susah." Ucap Hafidhz menunjuk, Aly mengikuti arah yang ditunjuk ke arah Alsya yang tidurnya seperti kurang nyaman karena bergerak-gerak terus.
"Mungkin bulan depan, nak." Jawab Aly lirih. Dia sungguh tak tega melihat Alsya dalam keadaan seperti ini.
Dulu, Aly kurang memperhatikan Alsya waktu hamil Hafidhz, mungkin, jadi dia tidak pernah sampai sekhawatir ini.
Memperhatikan perut Alsya lama, membuat Aly teringat pada satu istrinya lagi yang juga sedang hamil, apalagi kehamilan Halimah lebih dulu satu bulan dari Alsya yang berarti sekarang sudah usia sembilan bulan, yang berarti waktu menjelang kelahiran.
Ada perasaan khawatir untuk istrinya yang sering ditinggalnya itu. Di saat-saat sedang hamil dia malah jarang menemuinya, tepatnya jika menemui hanya sebentar di setiap pulang dari kantor. Memang selama kehamilan Halimah, Aly memiliki kebiasaan baru di kantornya, yaitu pulau sebelum ashar dan akan mengunjungi Halimah lalu akan pulang ke rumah sebelum adzan Maghrib. Dan untuk kemarin, dia memiliki inisiatif untuk tinggal bersama istri keduanya itu meski hanya semalam saja, sebab masih ingin menjaga perasaan Alsya, itupun karena Halimah yang selalu mewanti-wanti agar dia tidak sampai membuat Alsya menangis lagi.
Memang luar biasa hati istri satunya itu, dia lebih memilih sakit sendiri daripada menyakiti orang lain. Yah, dan hanya Aly lah yang malah tidak tau diri !.
_______
Halimah terus merintih kesakitan pada perutnya, hal yang wajar dialami oleh perempuan yang akan melahirkan. Ummi Nyai terlihat sangat panik dan langsung meminta khodamnya untuk mengantarkan Halimah ke rumah sakit.
"Fikri, Ummi titip Imah ya, Ummi akan menyusul nanti." Ucap ummi pada satu khodamnya yang telah dipanggilnya tadi.
Khodam yang bernama Fikri itu terlihat seperti kebingungan namun tetap mengangguk mengiyakan titah gurunya. Dengan hati ketar-ketir tak karuan, juga tangan gemetar, Fikri mengangkat tubuh Ning nya lalu membawanya ke mobil yang sudah dia siapkan sebelumnya. Fikri meletakkan Ning nya di jok belakang lalu dia memanggil salah satu khodam perempuan yang tak dikenal entah siapa namanya, untuk ikut menemaninya ke rumah sakit.
"Saya, kang ?." Tanya gadis itu yang terlihat kebingungan saat Fikri memintanya untuk ikut.
"Iya, mbak. Hanya mbak yang saya lihat sekarang. Ayo, cepetan masuk !." Ucap Fikri yang terlihat sangat panik.
Dengan tergesa gadis itu masuk ke mobil dan duduk disamping Ning nya. "Ya Allah, Ning Imah..." Pekik gadis itu saat melihat Ning nya sedang merintih kesakitan juga dengan wajah yang dibanjiri oleh keringat.
Dengan kecepatan tinggi, Fikri melajukan mobilnya. Dia tidak mengindahkan suara klakson mobil-mobil yang disalipnya tak terkendali. Namun itu berakhir saat mobilnya sudah sampai di lobi rumah sakit. Fikri segera turun dari mobil dan langsung menggendong lagi tubu Ning nya.
"Kang, ini apa ?!." Pekik khodam perempuan itu pada Fikri.
Fikri melirik tempat yang di tunjuk gadis tersebut. Terlihat disana seperti ada becek cairan kental berwarna putih, di jok yang tadi di duduki Ning Halimah.
__ADS_1
"Apa ini air ketuban ?." Ujar gadis itu masih memperhatikan cairan tersebut.
"Mungkin." Ujar Fikri tak ingin menghiraukan ucapan gadis itu lagi karena yang sekarang ada di pikirannya hanyalah membawa Ning Imah ke ruang persalinan.
Fikri berteriak memanggil pekerja rumah sakit untuk membantunya. Dan dengan sigap, ada dua suster yang langsung membantunya dan mengambil alih Ning Halimah dari gendongannya lalu dibaringkan di atas brankar. Fikri mengikuti suster-suster tersebut membawa Ning nya, tak jauh dibelakangnya juga gadis khodam tadi mengikuti.
Pintu yang di atasnya terdapat papan kecil dengan tulisan Ruang Bersalin terpampang jelas di penglihatan. Brankar terus di dorong masuk ke dalam ruangan tersebut, menyisakan Fikri dan gadis tadi yang masih berdiri di depan pintu yang kini ditutup rapat.
"Umminya kemana, kang ?." Tanya gadis itu akhirnya.
"Kurang tahu, tadi ummi bilang mau ada perlu dulu."
"Oh, terus Gus Aly ?." Tanya gadis itu lagi.
Fikri menatap gadis di hadapannya. "Kurang tahu." Ujarnya datar.
Keduanya memutuskan untuk duduk di kursi tunggu, menunggu ummi nyai namun ternyata belum juga datang.
"Kang, namanya siapa ?." Tanya gadis di samping Fikri.
"Fikri. Kalau namamu siapa ?."
"Nisa."
"Nisa sabyan ?." Seloroh Fikri asal.
Nisa terkekeh kecil. "Yah, bukan lah kang. Kalau saya Nisa sabyan, yang ada sekarang saya sedang manggung bukan di rumah sakit!." Ujar Nisa di sambut kekehan juga oleh Fikri.
Pintu ruangan itu terbuka membuat Nisa dan Fikri terkesiap lalu menghampirinya.
"Maaf, siapa yang akan menemani pasien nya di dalam ?."
"Kang Fikri, sana." Ucap Nisa tiba-tiba.
"Eh, kok saya mbak ?. Saya tidak mungkin menemani Ning Imah, takut jadi fitnah, mending mbak aja sana!." Tolak Fikri mentah-mentah.
"Insya Allah, nggak kang. Lagian kalau saya yang ada nanti saya jadi trauma, saya kan masih gadis, kalau kata ibu saya tidak boleh melihat orang lahiran. Bahaya." Tegas Nisa yang juga menolak.
Suster itu terlihat kebingungan menatap Nisa dan Fikri. "Sebenarnya kemana keluarganya ?." Tanyanya.
"Dia suaminya, Sus." Ujar Nisa menunjuk Fikri.
"Astaghfirullah, Nisa ?!." Fikri terbelalak kaget mendengarnya.
"Kang, cepetan sana. Kasian Ning Imah, nanti nggak jadi lagi lahirannya." Ucap Nisa lagi membuat Fikri nambah kesal saja sama tuh gadis.
"Oh, ya sudah. Mari, pak ?!." Ujar suster tersebut lalu berjalan masuk lagi ke dalam.
__ADS_1
Fikri menatap tajam wajah Nisa. Namun yang ditatap malah tersenyum aneh. Fikri segera masuk ke dalam, membuntut di belakang suster tadi.
__________