
Terlalu lelah menangis dalam keterpurukan, sampai membuat Aly tertidur pulas. Lalu-lalang orang yang selesai sholat sudah sepi, hanya meninggalkan dirinya sendiri yang masih duduk dengan punggung bersandar pada tembok di dalam masjid.
Aly menggeliat saat merasakan ada seseorang yang menepuk pundaknya berkali-kali, matanya mulai terjaga dan yang dia lihat di depannya adalah seorang pria tua yang melihatnya dengan senyuman ramah. Aly segera menegakkan posisi duduknya sambil tersenyum kaku melihat sosok yang ada di depannya.
"Kamu sudah lebih dari dua jam tidur."
"Astaghfirullah..." Aly mengusap kasar wajahnya sendiri lalu kembali melihat ke arah pria tua itu lagi.
"Hadapilah ujian yang Allah berikan dengan ikhlas dan sabar, itulah kuncinya." Ucap pria tua itu.
Aly menunduk tak kuasa menahan gejolak hatinya yang kembali bergemuruh hebat.
"Istri saya kecelakaan, pak. Kami kehilangan calon bayi kami..." Ucap Aly dengan suara lirih dan terdengar parau.
"Istighfar, nak." Pria tua itu menepuk-nepuk pundak Aly seolah memberikan ketenangan.
"Astaghfirullaahal adziim..." Gumam Aly.
Pria tua itu tersenyum dibalik jenggot dan kumis tebal berwarna putihnya.
Aly sudah lebih tenang setelah mengucap istighfar berkali-kali. Dia kembali mendongak menatap wajah pria tua itu.
"Kamu ingat kisah Rasulullah ?."
"Yang mana pak ?." Tanya Aly penasaran.
"Kisah Rasulullah yang dinamakan amul huzni, ingat ?."
Aly mengangguk. "Iya, ingat, pak."
"Lalu, apa yang kamu pahami dari kisah tersebut ?."
"Rasulullah melakukan isra mi'raj ?."
Pria tua itu tersenyum lagi lalu menggeleng. "Bukan, bukan itu yang harus kamu ingat pada saat ini. Tapi, hal lain. Kamu mau tau, nak ?."
__ADS_1
Aly mengangguk antusias.
"Pada masa itu, kenapa dinamakan amul huzni ?, Yang berarti hari kesedihan. Sebab masa itu, di dalam satu tahun, Rasulullah kehilangan sosok orang-orang yang dicintainya, yaitu wafatnya istri tercinta dan wafatnya paman beliau, Abi Thalib.
Pada saat itu Rasulullah memang terpuruk, bahkan sangat terpuruk. Dan apa yang Rasulullah lakukan setelahnya ?, Rasulullah bangkit untuk bangun dari kesedihannya, Rasulullah tanamkan dalam hatinya, bahwa semua adalah milik Allah yang kala masanya datang, Allah akan mengambilnya kembali, dan Rasulullah juga meyakinkan diri untuk selalu ikhlas dan sabar atas segala yang dikehendaki oleh Allah.
Intinya, sebagai hamba kita hanya cukup ikhlas dan sabar, nak. Percayalah, jika kamu ikhlas, hatimu akan kembali tenang dan damai." Pria tua itu kembali menepuk-nepuk pundak Aly.
Aly menarik nafasnya dalam-dalam lalu menghembuskannya perlahan. "Astaghfirullah..." Lirihnya lagi.
"Waktu Maghrib sebentar lagi, ambillah wudhu dan ikut sholat berjamaah, lalu pergilah, temui istrimu. Dia sangat membutuhkan kehadiran kamu di sisinya." Ucap pria tua itu sambil bangkit dari duduknya.
Aly mengangguk. "Makasih, pak." Ucap Aly tulus dan segera mengikuti langkah pria tua itu yang berjalan ke area tempat wudhu.
Sesaat kemudian, setelah Aly selesai melakukan sholat Maghrib berjamaah, Aly kembali ke rumah sakit dan berjalan menuju kamar inap Alsya.
Saat masuk, ternyata disana tidak ada siapa-siapa dan hanya menyisakan istrinya saja yang sedang tidur nyenyak di atas pembaringan. Aly duduk di kursi samping ranjang Alsya. Matanya memperhatikan kondisi Alsya yang membuat dirinya tidak tega melihatnya. Kedua siku Alsya diperban sebagian, juga kepalanya yang sedikit diperban di bagian belakang. Dia sangat bersyukur jika kecelakaan itu tidak sampai membuat Alsya kehilangan fungsi di bagian kepalanya karena luka pada kepalanya tidak terlalu dalam. Tangan Aly mengelus lembut tangan Alsya yang terlihat memucat dan ternyata sentuhannya itu membuat Alsya membuka matanya.
"Mas..." Panggil Alsya dengan suara sangat lirih hampir tak terdengar.
Alsya mulai terisak membuat tubuhnya bergetar hebat. "Mas, bayiku... Dia sudah tidak ada... Aku gagal menjaganya..." Ucap Alsya di sela-sela tangisnya.
Aly benar-benar tidak kuasa menahan air matanya melihat Alsya menangis pilu seperti itu. Aly bangkit dan segera memeluk erat tubuh mungil istrinya sambil tangannya mengusap lembut punggung Alsya. "Ikhlaskan, sayang... Sabar ya, sabar, Allah sedang menyiapkan yang terbaik untuk kita..." Ucap Aly yang sudah terdengar parau.
"Mas..."
"Hush sudah, ya..." Ucap Aly masih terus mengusap-usap lembut punggung Alsya agar lebih tenang.
Setelah lama menangis, akhirnya Alsya mulai tenang dan menghentikan tangisnya meski masih terisak-isak.
Aly mendaratkan kecupannya di kening Alsya berkali-kali lalu melepaskan pelukannya. Mata Aly menatap lekat wajah yang sudah banjir oleh air mata itu lalu menyeka air matanya.
"Mas."
"Hem ?."
__ADS_1
"Maafkan aku..." Mata Alsya kembali berkaca-kaca.
Aly mengangguk dan tersenyum manis, padahal di hatinya sedang sangat sakit. "Iya, sayang... Udah ya, kalau nangis terus nanti wajah cantiknya hilang." Seloroh Aly dan langsung mendapatkan pukulan ringan dari tangan Alsya.
Aly terkekeh dan kembali memeluk erat tubuh Alsya. Dia baru menyadari, jika sikapnya yang sering dia lakukan bersama Halimah ternyata keluar begitu saja. Menyebut nama Halimah, tiba-tiba Aly teringat pada istri cerewetnya itu yang entah sekarang lagi apa.
"Assalamualaikum..." Ujar seseorang bersamaan dengan pintu kamar yang dibuka.
"Waalaikumsalam..." Aly dan Alsya reflek menoleh ke arah pintu yang perlahan menampakkan sosok perempuan dengan pakaian syar'i sedang tersenyum ke arah keduanya.
Aly sedikit terkejut dengan kedatangan wanita yang sedang berjalan mendekat itu yang tidak lain adalah salah satu istrinya. Halimah tersenyum ke arah Aly dan memberikan kode melalui matanya agar Aly mengizinkan dirinya menemui sang sahabat.
Berbeda dengan Aly, Alsya malah langsung melebarkan senyumannya saat melihat kedatangan sahabat baiknya.
"Ning ?."
"Iya, Al. Aku datang menjengukmu." Halimah langsung memeluk tubuh Alsya yang berbaring setengah duduk.
Aly sedikit memberi ruang pada keduanya dengan menepi di ujung ranjang Alsya.
"Bagaimana keadaan kamu, Al ?." Tanya Halimah dengan tatapan mulai sendu sebab dia sudah mengetahui jika sahabatnya itu telah kehilangan calon bayinya dari orang tua Alsya yang sedang duduk di kursi luar kamar Alsya.
"Bayiku..." Suara Alsya tercekat di tenggorokan sehingga sangat susah untuk mengatakannya.
Halimah yang mengerti akan apa yang dirasakan oleh sahabatnya semakin mempererat pelukannya. "Sudah, jangan dilanjutkan." Pintanya karena tidak sanggup melihat sahabatnya terpuruk sedemikian.
Alsya mengangguk, sambil terisak di pelukan sahabat baiknya.
Halimah melirik ke arah Aly yang ternyata sedang menatap wajahnya. Tatapan mereka seakan menyiratkan sesuatu yang tak terbaca satu sama lain.
Halimah paham saat melihat wajah terutama mata suaminya itu terlihat kacau seperti habis menangis. Yah, dia sangat mengerti jika tidak ada seorang suami yang mampu melihat kondisi terpuruk istrinya sendiri apalagi satu hal yang lebih menyakitkan lagi yaitu kehilangan calon buah hati mereka.
_____________
__ADS_1