Sahabatku, Maduku

Sahabatku, Maduku
Memberitahu


__ADS_3

Arts Cafe adalah salah satur resto yang ada pada sebuah hotel bintang 5 di Jakarta, yaitu Raffles Jakarta Hotel. Terletak di lantai satu gedung hotel Raffles.


Anand mulai masuk ke dalam bangunan mewah itu dan mencari tempat duduk yang kosong dan juga nyaman. Dia menempati meja di dekat kaca besar yang memperlihatkan lingkungan di luar ruangan.


Masih lima menit lagi dari jadwal yang telah ditentukan sebelumnya, tapi Anand beserta Max sekretaris sekaligus asisten pribadinya, sudah datang ke tempat tersebut.


"Max, menurutmu bagaimana keputusanku sekarang ini ?. Apakah ini sudah benar ?." Tanya Anand pada sekretarisnya.


Max yang memang sudah menemani Anand semenjak dia memegang perusahaan turun-temurun keluarganya selama lima tahun lebih, kadang menjadi tempat Anand untuk berbagi cerita baik itu masalah pribadi maupun pekerjaan. Dan Max juga kadang memberikan solusinya untuk masalah yang dihadapi oleh Anand.


"Iya, tuan. Menurut saya memang sudah seharusnya orang tua nona Keyya mengetahui keberadaan putrinya. Dia juga pasti sudah kelelahan mencaritahu keberadaan nona Keyya." Jawab Max memberikan pendapatnya.


Anand tiba-tiba terkekeh membuat Max bingung. "Kenapa tuan ?." Tanyanya pada sang bos.


"Apa kau tau Max?, Sebenarnya namanya bukan Keyya, tapi Chayra." Anand menjelaskan.


"Oh benarkah ?, Jadi selama ini kita salah memanggil namanya ya ?."


"Iya, begitulah. Waktu itu Keyya juga mengenalkan dirinya bernama Keyya. Mungkin karena dia masih kecil dan belum bisa menyebut namanya sendiri."


"Iya, kemungkinan seperti itu tuan." Max juga ikut terkekeh kecil.


Dua orang berbeda genre datang. Anand menatap sengit wajah wanita yang berjalan di belakang kliennya, begitupun sebaliknya. Dua makhluk yang selalu bersikap seperti Tom and Jerry jika dipertemukan.


"Permisi, tuan-tuan..." Ujar Aly saat sudah sampai di dekat meja yang ditempati Anand dan Max.


Anand segera bangkit dari duduknya dan menyalami tangan Aly sebagai basa-basi diikuti dengan Max dan juga Nareena.


"Silahkan, tuan Zuhally." Ujar Anand mempersilahkan dengan sopan.


Aly mengangguk lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Anand disusul dengan Nareena yang duduk disampingnya berhadapan dengan Max.


"Bagaimana ?, Apa kita langsung mulai saja atau mau makan dulu ?." Tanya Aly kemudian.


"Kita langsung aja, karena saya juga buru-buru mau pulang." Jawab Anand langsung. "Tapi, bisakah kita membicarakannya berdua saja ?." Ucap Anand lagi membuat Aly dan Nareena sedikit kebingungan tapi tidak dengan Max, karena dia sudah tahu.


"Eee maksudnya bagaimana ya tuan ?. Kenapa harus berdua saja ?."


"Tidak apa-apa, saya hanya ada perlu dulu sebentar dengan Anda, tuan Zuhally."


"Oh, baiklah." Aly menoleh ke arah Nareena dan tanpa mengucapkan sepatah katapun Nareena sudah faham dan langsung bangkit lagi dari duduknya lalu melangkah menuju meja kosong yang sedikit menjauh dari mereka. Max juga berdiri lalu menyusul Nareena dan bergabung di meja yang sama dengan Nareena.


Kini di meja itu hanyalah ada Aly dan Anand. Dua pria yang sama-sama ada di hidup Alsya. Yang satu sebagai masa lalu dan satunya lagi sebagai masa depan.


"Maaf sebelumnya, mungkin saya telah salah karena membuat pertemuan dengan alasan pekerjaan. Sebenarnya saya ada perlu pribadi dengan anda tuan Zuhally." Ujar Anand membuka percakapan.


"Perlu pribadi, maksudnya bagaimana yang tuan ?" Tanya Aly semakin penasaran.

__ADS_1


"Sebentar." Anand mengeluarkan ponselnya yang berada di saku celananya dan menyalakannya kemudian menyodorkannya ke hadapan Aly. "Apa anda kenal anak ini ?." Tanyanya kemudian.


Aly mengambil ponsel itu dan melihat gambar yang tertera di layarnya. "Charyra ?!." Pekiknya terlalu senang dengan saat melihat foto anaknya ada disana. "Maaf tuan, dari mana anda mendapatkan foto putri saya ?." Tanya Aly yang kini sudah beralih melihat ke arah Anand.


"Berarti benar anda adalah ayahnya dari anak ini ?." Bukannya menjawab, Anand malah balik bertanya.


Aly mengangguk yakin. "Iya, tuan. Dia anak saya, saya sudah mencarinya selama ini tapi belum juga ketemu. Apakah anda pernah melihatnya ?."


"Iya, dia bahkan sekarang tinggal bersama saya."


"Apa ?!, Jadi selama ini putri saya bersama anda ?." Aly tampak sangat syok mendengarnya.


Anand mengangguk. "Saat malam itu, saya tidak sengaja menabraknya dan saya membawanya ke rumah sakit lalu setelah sehat dia saya bawa pulang ke rumah kami." Ujar Anand menjelaskan.


Wajah Aly mulai terlihat murung. Entah apa yang ada dipikirannya saat ini yang jelas, Anand tidak tau sama sekali.


"Selama ini saya tidak pernah menemuinya, dia hidup dengan orang tua angkatnya." Ucap Aly lirih.


"Loh, kenapa dengan orang tua angkat ?, Kenapa tidak bersama anda ?." Tanya Anand mencoba menggali informasi tentang kisah hidup Aly. Sebab jika bertanya kepada Alsya, biasanya Alsya tidak akan menjelaskannya dengan detail.


"Saya tidak bisa merawatnya sendiri."


"Memangnya kemana ibunya ?." Tanya Anand lagi.


Aly menatap wajah Anand seolah sedang memastikan sesuatu dari mata Anand. Lalu kemudian dia kembali melanjutkan ucapannya. "Ibunya meninggal karena sakit setelah satu bulan melahirkannya." Lanjut Aly kemudian.


"Maaf, tuan Anand, dari mana anda tau bahwa itu adalah putriku ?." Tanya Aly akhirnya.


"Seseorang memberitahu saya jika anda sedang mencari anak anda yang hilang." Ucap Anand sekeluarnya.


Aly hanya mengangguk mengiyakan tanpa mau berpikir aneh-aneh lagi.


Keduanya saling terdiam dengan pemikiran masing-masing.


"Bisa saya melihat wajah putri saya ?, Maksudku saya ingin menemui putriku."


"Tentu saja, anda adalah ayahnya."


"Baiklah, apakah sore ini saya boleh menemuinya ?."


"Silahkan."


Aly tersenyum. "Sekali lagi terimakasih karena sudah merawat putri saya tuan Anand."


"Tidak masalah, lagian anak dan istri saya juga menyukai putrimu. Bahkan istri saya sangat menyayangi Chayra."


Aly langsung terdiam. Mendengar Anand yang menyebut anak dan istri rasanya hatinya seperti tertusuk duri tajam.

__ADS_1


Anand memperhatikan raut wajah Aly yang langsung berubah menjadi sendu. Bukan dia tak mengerti apa yang sedang dirasakan oleh Aly saat ini. Tapi, kelakuan Aly pada anak dan istrinya dulu sangatlah kurang ajar. Menyia-nyiakan wanita seperti Alsya adalah hal bodoh yang pernah dilakukan oleh Aly.


"Alsya sudah menceritakan semuanya pada saya." Ujar Anand akhirnya.


Aly semakin tertegun. Dia langsung melirik ke arah wajah Anand kemudian menunduk lagi.


"Saya memang bodoh selama ini."


"Iya, kau memang sangat bodoh Aly. Kamu telah menyia-nyiakan wanita sebaik Alsya hanya karena sikap kamu yang kurang tegas dalam prinsip sebagai seorang pria yang memiliki istri." Geram Anand mencoba menahan amarahnya.


Aly semakin menunduk penuh.


"Saya memang sangat menyesal, dan saya juga sudah merasakan balasan dari apa yang dulu pernah saya lakukan terhadap anak dan istri saya." Suara Aly terdengar sangat lirih. Dia kembali teringat akan perbuatannya dulu terhadap Alsya juga anak-anaknya.


"Iya, saya sudah mengetahuinya. Dan semoga apa yang dulu anda pernah lakukan tidak dilakukan lagi untuk kedepannya."


"Iya, saya tidak akan pernah melakukannya lagi. Sudah cukup saya menyakiti hati orang yang tidak bersalah." Ucap Aly yakin.


Anand tersenyum. Dia juga yakin jika Aly akan berubah dari sifatnya di masa lalu.


"Apa seseorang yang kau katakan itu adalah Alsya ?." Tanya Aly kemudian menatap wajah Anand.


Anand mengangguk mengiyakan. "Baiklah, saya akan pulang sekarang. Assalamualaikum."


"Iya, waalaikumsalam."


Anand bangkit dari duduknya di susul dengan Max yang juga mulai mendekat lagi kemudian mereka berdua melangkah pergi dari hadapan Aly.


Sesuai janjinya pada sang istri, sebelum pulang ke rumah Anand mampir ke pedagang martabak dulu. Martabak ketan spesial telah jadi dibuat setelah dia menunggu selama sepuluh menit. Anand kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah dengan perasaan yang kini sudah lebih lega, sebab pertemuannya tadi dengan ayahnya Keyya.


Sampai di rumah, dia melihat istri dan anak-anaknya sedang asik bermain di dekat kolam ikan di halaman rumah.


Melihat kedatangan suaminya, Alsya langsung melebarkan senyumannya dan menghampiri Anand.


"Assalamualaikum, sayang."


"Waalaikumsalam, A." Alsya menyalami tangan suaminya.


"Sesuai janji, aku pulang lebih awal dan membawakan pesanan istriku yang cantik ini." Anand mengangkat tangannya yang sedang memegang plastik yang berisi martabat untuk sang istri tercinta.


Senyuman Alsya semakin lebar. "Makasih, suamiku..." Alsya mengambil plastik itu dengan hati yang sangat senang.


"Sama-sama, sayang. Ya sudah aku masuk dulu ya ?, Mau ganti pakaian."


"Iya, A."


✓✓✓✓✓✓✓✓✓

__ADS_1


__ADS_2